( upload senin - Sabtu= 6× )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 }:{secret journey }
Aksar tiba di tempat latihannya, menatap ke sekeliling.
"Guru."
"Aku sudah sampai, guru..."
"Dimana guru, katanya akan berlatih."
Aksar terus memanggil-manggil gurunya. "Aku sudah jauh dari kerajaan, ke pantai tapi guru gak ada." "Aku akan berlatih sendiri aja."
Napasnya berat, kecewa gurunya tidak ada. Aksar mengepalkan tangannya, memfokuskan pandangannya ke arah air laut. Bau air laut, angin pantai membuatnya tenang. Angin menuntun gerakan tangannya, tetesan keringat membasahi tubuhnya.
"Serrr!"
Serangan angin mengarah ke arah Asar dengan cepat. Aksar berhasil menghindar dengan cepat...
"Apa yang sebenarnya terjadi..."
"Kenapa angin ini, berbeda dengan angin biasanya."
Belum sempat Aksar berpikir serangan berikutnya, melesat cepat dari arah yang berbeda.
"Tunjukan siapa dirimu!"
Jari-jarinya mengepal keras.
"Aksar."
Suara halus memanggilnya. Matanya berbinar mendengar suara itu. Tanpa berpikir Aksar berbalik. Seketika serangan keras menghantam dadanya. Tubuhnya terpental menghantam pohon. Dedaunan dan pasir berterbangan.
"AAA!"
Lengannya membiru, giginya menggigit mulutnya. Rasa sakitnya seperti menembus tulang punggungnya.
"Siapa kamu, apa maumu!"
Debu yang berterbangan mulai memperlihatkan bayangan yang begitu besar. Debu itu mulai menghilang.
"Apa itu?"
Napasnya masih terengah-engah. Seketika tentakel melesat cepat mengikat pergelangan kaki Aksar. Langsung menarik Aksar ke arah air.
"AAH, AHH!"
Aksar menghantam tentakel yang mengikatnya.
"Lepaskan aku!"
Tubuhnya diangkat.
"Apa ini?"
Mata Aksar menatap monster laut. Aksar panik, tanpa sengaja sihir Aksar menyerang mata monster itu. Raungan terdengar keras, hingga rambut Aksar berantakan. Aksar dilemparkan ke atas langit.
"Ibu..."
Teriakannya menggema dalam kesunyian. Tubuhnya meluncur bebas di atas udara. Perlahan tubuhnya membeku.
Rambutnya berubah warna biru muda dan putih. Dalam keadaan membeku, ingatan melintas di benaknya. Aksar melihat saat ibunya menyanyikan lagu tidur.
"Aksar bangun, cepat!"
"Kenapa ibu, Aksar rindu ibu!"
Dalam bayangan itu, ibu Aksar mendorong tubuhnya dari atas kasur. Tubuhnya meluncur bebas di udara. Aksar kembali tersadar sebelum tubuhnya menghantam air.
"Duwasss!"
Percikan air menyebar ke setiap arah. Tubuhnya melayang, matanya terbuka memancarkan cahaya biru. Langsung melesat meninju monster itu.
"HE HAA..."
Mengeluarkan energi topan disertai petir. Energi itu membuat langit menjadi gelap. Air mengerumu.
"Dearr.. Dearr..."
Suara petir. Monster itu mengaung keras. Kini empat mata saling bertatapan. Dalam hati Aksar, "Kini giliran aku yang akan melemparmu."
Aksar mengira monster itu hanya menggunakan fisiknya untuk menyerang. Aksar terlalu, terlalu fokus menatap monster itu tanpa menyadari sebagian tentakel monster itu berada di belakangnya.
Saat monster itu akan menyerangnya, Aksar memutar tubuhnya ke atas. Monster itu langsung mengeluarkan hawa panas dari mulutnya, menyemburkan uap panas.
"Cukup. Kali ini aku akan akhiri!!"
Aksar terbang langsung menyerang ke arah tentakel monster itu, mengangkat tentakel itu ke atas langit. Perlahan tubuh monster itu terangkat.
"Maafkan aku, kamu yang memulainya."
Pusaran di bawah air semakin membesar. Angin di disertai petir menyambar ke dalam pusaran.
Rambut Aksar dan matanya menyala. Langsung memutar monster itu di udara dan melemparkan ke dalam pusaran yang terbuka lebar di bawahnya.
"Maafkan aku."
Tubuhnya melayang perlahan ke tempat bebatuan,menghembuskan nafas yang terasa berat di dadanya. Perlahan cuaca kembali lagi cerah.
Getaran kembali muncul di permukaan. Tanpa disadari Aksar, monster itu kembali membuka mulutnya lebar, langsung melahap Aksar dan tempat yang diduduki oleh Aksar.
Tubuhnya melayang di dalam perut monster itu. Oksigen mulai menipis.
"Ibu, Ayah, Guru, maafkan aku telah gagal menjadi calon raja di masa depan untuk menjaga negeri angin."
Dalam hatinya, sebelum semuanya menjadi gelap total. Gelembung mulai memenuhi tubuh Aksa, napasnya mulai stabil. Sepasang tangan kuat membawa Aksa dari perut monster itu.
canda ea
canda ea... 🤣🤣