Indonesia
NovelToon NovelToon
Noda Hitam Perkawinan

Noda Hitam Perkawinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Obsesi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Alvaro Tantrum

Suzan menuntun Alvaro berjalan keluar dari tempat bermain anak- anak. Sedangkan Alvaro yang kesal hanya diam sambil cemberut dan sesekali menghentak- hentakkan kakinya ke lantai. Iya, bagaimana Alvaro tidak kesal, pertama, dia mengajak ke mall untuk bermain di tempat permainan bersama sang papi agar lebih seru seperti anak- anak lain yang semangat sekali ditemani papa mereka.

Namun ternyata sang papi justru pergi dan lama tak juga kembali untuk menemani Alvaro main. Dan yang ke dua, ketika Alvaro sudah dapat teman bermain yaitu Arsya, dan juga Bintang yang mengajak main bersama, sang papi menelponnya agar menyudahi mainnya dan segera menyusulnya ke restauran untuk makan siang.

"Sayang... Jangan gitu dong..." ucap Suzan menyadari bahwa sang putra sedang kesal.

"Varo nggak suka ini mami...!'' Alvaro teriak sambil menghempaskan tangan Suzan dengan kasar.

"Sayang... Kok kamu gitu sih teriak- teriak, malu lho, itu banyak orang..." ucap Suzan sambil melihat ke sekeliling di mana banyak pengunjung mall yang menoleh ke arah Alvaro karena mendengar teriakannya.

"Tapi Varo masih ingin main mami...! Kenapa mami memaksa Varo udahan...! Hik...hik..." seru Alvaro yang tak bisa menahan rasa kesal bercampur sedih.

"Sayang... Tapi papi minta kita buat makan siang, papi nungguin kita di restauran..." Suzan mengusap kepala sang putra.

"Nggak mau...! Varo masih mau main...! Varo nggak mau makan...! Varo mau main...! Mami sama papi bohong...! Tadi mami bilang papi mau main sama Varo, tapi mami bohong...! Papi juga...! Papi malah pergi...! Varo benci sama papi sama mami....!'' Alvaro terus berteriak marah pada sang mami.

"Sayang... Tolong jangan marah- marah kayak gitu sama mami, mami sedih jadinya..." sahut Suzan yang akhirnya meneteskan air matanya karena sedih melihat Alvaro tantrum di tempat umum.

"Maafin mami ya...oke...oke...kita samperin papa dulu di restauran. Abis makan, kita ke tempat permainan lagi. Nanti Varo main bareng sama papi... Gimana...? Mau ya sayang..." Suzan berusaha membujuk Alvaro.

Iya, tentu saja dalam posisi ini perasaan Suzan sudah tidak karuan. Antara malu karena menjadi pusat perhatian para pengunjung mall akibat Alvaro tantrum, dan juga kesal pada Bagas yang menghilang entah ke mana. Padahal pamitnya hanya ke toilet, tapi sudah hampir satu jam dia tidak kembali, dan tidak jadi menemani Alvaro bermain. Dan alhasil Alvaro pun mengamuk dan susah untuk ditenangkan.

"Ayo sayang, kita ke papi dulu ya..." ucap Suzan dengan sedih.

Dan begitu Alvaro melihat wajah sedih sang mami, kemarahannya pun mulai mereda. Perlahan hatinya luluh dan mulai nurut pada Suzan untuk menyusul Bagas yang sudah terlebih dulu pergi ke restauran di mall tersebut. Walaupun tak dapat dipungkiri Alvaro masih saja jengkel karena apa yang terjadi hari ini tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.

Sesampainya di restauran Suzan mencari tempat duduk Bagas, yang ternyata ada di tempat paling pojok. Suzan mengepalkan tangan begitu melihat sang suami yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.

Dengan perasaan yang masih sama- sama jengkel,Suzan dan Alvaro menghampiri Bagas yang sudah duduk sambil di meja nomor lima dengan segelas orange jus yang sudah dia pesan.

"Mas...!'' ucap Suzan dengan suara pelan namun tegas yang menandakan dia kesal.

Bagas yang sedang sibuk dengan ponselnya pun terperanjat.

"Sa...sayang..." sahut Bagas sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.

Melihat wajah sang istri yang nampak kesal, tentu saja Bagas merasa heran. Ditambah lagi, Alvaro yang berdiri di sebelah Suzan juga masih saja memasang wajah manyun, dan bekas air mata yang tersisa di kedua pipinya.

"Lho sayang...Alvaro kenapa...?" tanya Bagas sambil menoleh ke arah Suzan dan Alvaro secara bergantian.

"Dia seperti abis nangis...?" sambung Bagas yang tidak sadar bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab utamanya.

"Duduk sayang..."ucap Suzan menuntun Alvaro dan membantunya duduk di kursi tepat berhadapan dengannya.

Kemudian Suzan duduk di samping Alvaro.

"Kamu dari mana saja mas...!" tanya Suzan pelan namun suaranya terdengar mengintimidasi Bagas.

"A...aku...

"Alvaro nungguin kamu untuk main bersama, tapi kamu yang katanya cuma pamit ke toilet malah nggak datang- datang. Hampir satu jam lho mas aku dan Alvaro nungguin kamu..." ucap Suzan dengan dada naik turun.

"Kamu ke mana aja sih...! Masa cuma ke toilet aja lama banget...! Ngapain aja kamu di toilet...! Hah...! Toilet mana yang kamu datangi mas, sampai satu jam kamu nggak balik- balik...! Alvaro nungguin kamu, dia ingin main bareng sama kamu mas... Kamu lihat Alvaro kan mas, dia kecewa sama kamu...!" sambung Suzan yang masih berusaha mengendalikan emosinya serta mengontrol suaranya agar tidak terlalu keras, karena dia tidak mau pengunjung restauran mendengar amarahnya.

"Sa...sayang..." sahut Bagas yang tentu saja merasa bersalah.

Namun belum sempat Bagas menjelaskan pada Suzan, pelayan restauran datang menghampiri meja mereka.

"Permisi..." ucap pelayan sambil membawa makanan pesanan Bagas.

Iya, sambil menunggu Suzan dan Alvaro datang, Bagas memesan minuman dan makanan terlebih dulu karena dia merasa sangat lapar setelah berbagi peluh dengan Casandra di bilik toilet.

"Sayang... Nanti kita bicarakan lagi ya..." ucap Bagas sambil mengusap lengan Suzan.

"Silahkan..." Bagas mempersilahkan pelayan untuk meletakan makanan di hadapannya.

Pelayan itu pun menyuguhkan makanan pesanan Bagas tepat di hadapannya.

"Sayang, kamu mau pesan apa...?" tanya Bagas pada Suzan.

Bagas juga menanyakan hal yang sama pada Alvaro. Namun keduanya hanya diam tidak menjawab. Iya, bagaimana Suzan dan Alvaro mau menjawab, mereka berdua sedang kesal dan tentu saja sudah tidak lagi berselera untuk makan.

"Ehm...mbak , tolong buatkan dua gelas orange jus saja dulu ya..." ucap Bagas pada pelayan toko.

"Baik pak, mohon ditunggu...." jawab pelayan restauran dengan sopan.

"Sayang..." ucap Bagas sambil menggenggam tangan istri dan anaknya.

"Maaf ya..." ucap Bagas sambil menatap Suzan.

Lalu Bagas beralih menatap Alvaro.

"Maafkan papi ya...'' Bagas merasa bersalah.

"Tadi papi...ehm...iya tadi di toilet antri... Dan setelah papi dari toilet, papi nggak sengaja ketemu sama teman papi. Trus papi diajak ngobrol dan ngopi bareng, sampai papi lupa kalau papi ada janji mau main sama anak papi yang paling ganteng..." sambung Bagas mulai mengarang cerita sambil menatap Alvaro yang masih manyun.

"Maafkan aku juga ya sayang..." Bagas beralih menatap Suzan yang juga masih jengkel padanya.

Suzan menghela nafas, lalu mengatur nafasnya. Iya, Suzan adalah orang yang paling jago dalam urusan mengendalikan amarahnya agar tidak meledak. Walaupun sebenarnya Suzan begitu jengkel, tapi tidak mungkin juga dia akan marah- marah di tempat umum.

"Kau tahu mas, Alvaro kecewa banget sama kamu, dia ingin seperti anak- anak lain yang bisa bermain didampingi oleh papinya. Alvaro ingin main bersama, biar lebih seru. Tapi kamu malah kayak gitu. Alvaro jadi ngambek, dan tantrum..." ucap Suzan sambil menoleh ke arah sang putra yang sedang manyun sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Iya...iya ... Aku memang salah, makanya aku minta maaf sama kalian..." sahut Bagas sambil menatap Suzan dan Alvaro secara bergantian.

"Maafkan papi ya sayang... Ehm... Papi ngaku salah. Dan papi janji, papi nggak akan melakukan hal itu lagi..." ucap Bagas sambil menunjukkan kedua jarinya pada Alvaro pertanda ingin berdamai.

Namun lagi- lagi Alvaro masih diam.

"Ehm....gini aja... Kita makan dulu, abis itu kita ke tempat bermain lagi. Nanti papi akan menemani Alvaro main sampai Alvaro puas, bagaimana, mau ya...?" Bagas mencoba membujuk sang putra.

"Mamiiiii.... Varo mau pulang..." rengek Alvaro yang tidak perduli dengan permintaan maaf sang papi.

"Varo nggak mau makan dulu...? Makan dulu ya, abis itu kita pulang..." sahut Suzan.

"Nggak mau....! Varo nggak mau makan...! Varo mau pulang...!'' Alvaro kembali berteriak di depan Suzan.

"Alvaro...! Kenapa kamu berteriak seperti itu di depan mami, itu nggak sopan...!'' ucap Bagas merasa kesal dengan sikap sang putra yang menurutnya tidak sopan.

"Mas...! Kenapa kamu menyalahkan Alvaro, dia jadi seperti ini , itu karena kamu, mas...!'' kini giliran Suzan yang menyalahkan Bagas.

Iya, Suzan paham betul bagaimana sifat Alvaro. Selama ini dia adalah anak penyayang. Tapi Alvaro tidak bisa diam jika sudah merasa dikecewakan.

"Iya, tapi tidak dibenarkan seorang anak kecil membentak orang tuanya..." Bagas tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Suzan yang terkesan menyudutkannya.

Padahal Bagas merasa kalau apa yang dikatakan olehnya terhadap Alvaro adalah sesuatu yang baik agar Alvaro tidak bersikap melampaui batas. Namun Bagas justru mendapat tanggapan lain dari Suzan.

"Kalau kamu tidak ingin Alvaro bersikap seperti itu, ya kamu sebagai orang juga jangan suka mengecewakan anak dong. Kamu harus bisa menepati janji kamu, jangan suka bohong sama anak. Alvaro masih anak- anak, dan di mata anak- anak, janji adalah hutang yang akan terus ditagih sampai janji itu bisa dipenuhi...." sahut Suzan sambil menatal lekat wajah Bagas.

"Dan jika kamu merasa tidak dapat menepati janjimu,maka jangan menyalahkan Alvaro kalau dia memberontak..." sambung Suzan yang terus menyalahkan Bagas.

"Kok kamu jadi menyalahkan aku terus sih. Iya, aku sadar aku salah, dan aku juga sudah minta maaf. Dan sebagai gantinya, setelah kita makan aku akan temani Alvaro bermain. Tapi dia malah menolaknya..." lanjut Bagas sambil menunjuk Alvaro.

"Trus aku harus gimana lagi...?'' tanya Bagas yang tidak tahu harus berbuat apa.

"Ya jelas Alvaro nggak mau lah mas, dia sudah terlanjur kecewa..." sahut Suzan yang akhirnya terlibat perdebatan.

"Ya trus aku harus apa...! Apa yang harus aku lakukan sekarang...!" Bagas akhinya tersulut emosi.

"Varo mau pulang...!'' Seru Alvaro langsung lari keluar dari restauran.

"Alvaro tunggu...!'' panggil Suzan panik.

"Ini semua gara- gara kamu mas...!'' ucap Suzan sambil menunjuk wajah Bagas, kemudian dia lari mengejar Alvaro.

Bagas mengusap wajahnya dengan kasar. Iya, tentu saja Bagas bingung, kesal, marah dan merasa bersalah bercampur menjadi satu.

"Permisi... Ini minumannya..." ucap pelayan restauran mengantar minuman pesanan ke meja Bagas.

Bagas hanya melirik sekilas ke arah dua gelas orange jus yang ada di nampan yang dipagang oleh pelayan tersebut. Dan tanpa mau membuang waktu, Bagas mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya kepada si pelayan tersebut untuk membayar makanan dan minuman yang sudah dia pesan tadi. Dan tanpa bicara apapun lagi ,Bagas segera menyusul istri dan anaknya.

"Sayang...sayang tunggu sayang..." Bagas menarik tangan Suzan karena dia hendak naik ke dalam taksi.

"Ngapain kamu naik taksi, kita pulang bareng saja. Tadi kan kita berangkat bareng, kenapa jadi pulangnya pisah- pisah kayak gini...." sambung Bagas mencoba membujuk Suzan agar turun dari taksi.

"Lepaskan tangan aku mas...!'' Suzan yang sudah duduk di mobil taksi di jok belakang bersama dengan Alvaro menghempaskan tangan Bagas.

"Alvaro nggak mau pulang bareng sama kamu mas, dia sudah kecewa sama kamu..." ucap Suzan yang juga tidak mau pulang bareng Bagas.

"Tapi aku juga nggak bermaksud untuk mengecewakan Alvaro.Kan tadi aku sudah menjelaskan kalau aku tidak sengaja bertemu teman, dan dia ngajak aku ngobrol sambil ngopi. Aku kan nggak enak kalau menolaknya..." sahut Bagas yang masih saja mencari alasan.

"Oh jadi menurut kamu, ngobrol sama teman lebih penting, dari pada nemenin anak sendiri main...?" ucap Suzan sambil menatap tajam wajah Bagas.

"Ya udah, kalau gitu aku dan Alvaro pulang duluan, silahkan kalau kamu mau melanjutkan ngobrol sama teman kamu itu..." Suzan langsung menutup pintu mobil taksi.

"Arrkkhh.... Sial...!" Bagas kesal setelah Suzan dan Alvaro lebih memilih pulang menggunakan taksi dan meninggalkannya sendiri.

Bersambung....

1
Dini Anggraini
Kak greget banget sama bagas dia saja zina sama orang lain berkali kali Suzan dekat mantan saja gak boleh padahal ini demi kerja sama perusahaan egois kamu bagas. Kapankah ketahuannya bagas itu selingkuh dengan Cassandra kak dan susan balikan sama bintang setelah bercerai dengan bagas. 🥰🥰
Dini Anggraini: ya kak 😄😄😄
total 2 replies
Asmara
Gilaaa.... Bagas, Casandra kalian gilaaa 😡😡😡😡 Thor kpn perselingkuah mereka terbongkar, pokoknya Suzan harus menceraikan Bagas... jijay bgt sama kelakuan suami nggak tahu diri 😡😡😡😡😡
Sri Darmayanti: obral barang ... cinta ngak cinta bisa ya begitu selingkuh
total 2 replies
Salsa
Curiga nyonya Hartanto sama Darma ada hubungan khusus, gila sih kl iya 🤭
Asmara
Suzan disuruh menjaga kehormatan keluarga Hartanto ... lah elu sendiri sebagai keluarga inti Hartanto PD selingkuh , dasar keluarga edan 😅... itu lagi si ulet bulu segala nyusul ke mall, mau ngapain coba ngajak Bagas ke toilet😡
Asmara
Gila sih ini, emaknya, bapaknya, anaknya PD selingkuh semua😅😅
Sri Darmayanti
sonia haryanto
Dini Anggraini
Suzan kamu sih terlalu polos bagaimana ya bila suatu saat semua kebusukan tuan hartanto, nyonya hartanto dan bagas yang suka banget selingkuh apa kamu akan syok ya kak. 🥰🥰
Dini Anggraini: betul kak 👍👍🥰🥰
total 3 replies
Dini Anggraini
Kamu selalu kalah sama bagas Suzan kenapa ketemuan selalu di kafe tempat langganan keluarganya bagas jadi ketahuan kan. Dasar suami jahat dia selingkuh saja boleh sedangkan istrinya ketemuan sama laki2 lain di larang egois banget kamu bagas. 😡😡🥰
Dini Anggraini: betul kak 👍👍🥰🥰
total 2 replies
Asmara
Penasaran siapa sih pacarnya Sonia, jgn" tuan Hartanto
Asmara
Siapa kira" selingkuhan Sonia KL bukan Bagas...?
Sri Darmayanti
jelg selingkuh semua,,, ketahuan semua busuknya... sisan pergi ya
Mommy Almira: Keluarga selingkuh 🤭
total 1 replies
Asmara
lanjut thor
Wang
Ceritanya menarik 😍
Salsa
Suami kurang ajar 🤬🤬🤬🤬
Asmara
Semoga Suzan cepet tahu siapa selingkuhan Bagas, lalu gugat cerai, trus CLBK deh sama di Bintang 😍😍
Mommy Almira: Semoga ya kak 🥰🥰
total 1 replies
Asmara
Siapa kira" pacarnya Sonia...?
Dini Anggraini
Kak kapankah bagas dan Cassandra ketahuan selingkuh kak enak banget papanya bagas suruh2 Suzan harus dapat proyek besar terus kerjanya bagas apa dong kak enak2 kan saja. Dan Suzan bila suatu saat nanti kamu akhirnya keluar dari perusahaan itu bangunlah perusahaanmu sendiri tanpa bantuan siapapun aku mau lihat apa perusahaan keluarga bagas masih bisa berdiri tegak saat Suzan sudah pergi? 🥰
Mommy Almira: Nanti ya kak, masih proses... kan Bagas anak nggak guna, nggak bisa kerja 😄🤭
total 1 replies
Asmara
.Keren🥰🥰🥰🥰
Asmara
Suzan bloon bgt sumpah.... Bagas gila, semoga cepat ktahuan , biar dicerai sama Suzan, 😡😡
Asmara
Sonia selingkuhannya siapa ya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!