Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Persiapan Lomba

Persiapan lomba mading berlangsung setiap pulang sekolah selama dua minggu berikutnya, mengambil tempat di ruang kelas yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Bu Retno. Raka bertugas menyusun kerangka dan tata letak, Adit menyumbang ide-ide kreatif yang kadang absurd tapi sering kali brilian, sementara Naya menulis narasi dan puisi—bakat yang selama ini ia sembunyikan dari teman-teman sekelas.

"Naya, ini kamu yang nulis?" tanya Raka takjub, membaca salah satu puisi pendek yang Naya buat untuk mengisi sudut mading tentang makna persahabatan.

Sahabat bukan tentang selalu ada,

tapi tentang selalu kembali,

walau dunia memisahkan untuk sementara.

Naya tersipu, buru-buru mengambil kertas itu dari tangan Raka. "Itu... masih draft, jangan dibaca dulu!"

"Bagus banget, kok," Raka membela, tersenyum tulus. "Serius, kamu harusnya percaya diri sama tulisanmu."

Untuk sesaat, mata mereka bertemu, dan suasana ruang kelas yang kosong itu terasa lebih hening dari biasanya. Adit, yang sedang sibuk menggunting kertas warna di sudut ruangan, diam-diam memperhatikan momen itu—dan sesuatu di dadanya terasa berat, meski ia tak sepenuhnya mengerti kenapa.

Malam itu, persiapan berlangsung hingga larut karena esok adalah tenggat pengumpulan. Bu Retno sudah pulang duluan, mempercayakan kunci ruangan pada mereka bertiga untuk dikembalikan ke satpam.

Di tengah kesibukan, ponsel Naya berdering berkali-kali. Ia mengecek layar, wajahnya berubah pucat, lalu buru-buru mematikan panggilan tanpa menjawab.

"Siapa?" tanya Adit, penasaran.

"Bukan siapa-siapa," jawab Naya cepat, terlalu cepat hingga terdengar mencurigakan.

Namun beberapa menit kemudian, ponsel itu berdering lagi, dan kali ini Naya terpaksa menjawabnya karena panggilan tidak berhenti. Suara di seberang telepon terdengar keras, meski tidak jelas kata-katanya, hingga Raka dan Adit bisa menangkap nada marah dan tangisan yang bercampur aduk.

Naya berjalan menjauh ke sudut ruangan, mencoba bicara pelan, namun tangannya gemetar hebat memegang ponsel. Ketika panggilan berakhir, ia berdiri mematung, air mata sudah menggenang di matanya yang berusaha ia tahan.

Raka dan Adit saling pandang, lalu mendekat bersamaan.

"Naya," panggil Raka lembut, "ada apa?"

Untuk pertama kalinya sejak mereka kenal, pertahanan Naya runtuh. Ia menangis, bukan tangisan pelan, tapi tangisan yang seolah menumpahkan semua beban yang selama ini ia pendam sendirian.

"Orang tuaku... mau cerai," isaknya di sela tangis. "Udah dari lama sebenernya, tapi baru sekarang mereka bilang ke aku. Katanya... aku harus milih ikut siapa."

Adit, yang biasanya selalu punya candaan untuk mencairkan suasana, kali ini hanya diam, duduk di sebelah Naya dan membiarkan bahunya dijadikan sandaran. Raka duduk di sisi lain, menggenggam tangan Naya yang gemetar tanpa berkata apa-apa—kadang, diam adalah bentuk dukungan yang paling nyata.

"Aku nggak tau harus gimana," lanjut Naya, suaranya parau. "Aku takut... aku takut kalian juga bakal ninggalin aku kayak gini."

"Kita nggak akan ke mana-mana," jawab Raka tegas, menatap mata Naya yang basah. "Berapa pun lama masalahnya, kita bertiga tetap di sini."

Adit mengangguk mantap, meski matanya sendiri memerah menahan haru. "Bener kata Raka. Kita udah kayak keluarga sendiri, kan? Keluarga nggak pernah beneran ninggalin satu sama lain."

Malam itu, di ruang kelas yang sepi diterangi lampu neon yang sedikit berkedip, ketiga anak SMP itu duduk berdekatan, saling menguatkan satu sama lain tanpa tahu bahwa momen kerapuhan inilah yang akan menjadi fondasi dari janji yang akan mereka ucapkan tak lama lagi—janji yang kelak akan diuji hingga batas paling menyakitkan.

Namun sebelum mereka sempat pulang malam itu, satpam sekolah tiba-tiba mengetuk pintu dengan wajah panik. "Anak-anak, cepat keluar! Ada... ada kebakaran kecil di gudang belakang, dekat ruang mading kalian!"

Ketiganya terlonjak berdiri, saling berpandangan dengan wajah pucat, sebelum berlari keluar—tanpa sempat menyelamatkan hasil kerja keras dua minggu mereka yang tersimpan di ruang sebelah gudang itu.

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!