Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liciknya Meri
"Hahaha sehat apanya, kamu itu jelek, kurus dan anak nakal, Daddy dan mommy kamu saja tidak mau mengurus kamu" sinis Meri
"Mommy dan Daddy sibuk kerja untuk Dean juga, jadi Dean harus kuat supaya bisa jaga mereka setelah besar nanti" jawab Dean
"Anak kecil seperti kamu mau jaga orang dewasa? nggak ngaca" sinis Mumun
Mumun baru saja selesai memotong buah untuk sarapan majikannya, jika pagi, Anthony dan Tiffany memang hanya akan makan sandwich saja dan buah, setelah itu mereka akan berangkat ke kantor dan menitipkan Dean pada para asisten rumah tangga di sana terutama pada Meri.
"Gue mau panggil si Mudin dulu ya, katanya dia sudah hapus rekaman CCTV kemarin, yang Lo dorong ini anak ke kolam renang" bisik Mumun
"Iya gih sana, nanti gue kasih bonus kalau gue udah jadi nyonya di rumah ini, gue punya rencana bagus buat jebak pak Anthony" jawab Meri
Prang.
Gelas susu yang di pegang Dean tiba tiba saja jatuh dan pecahan setelah sebelumnya tumpah mengenai paha Dean karena susunya panas. Dean mendengar obrolan keduanya dan terkejut karena Meri akan menjebak ayahnya.
"Hiks... Panas, mommy!" pekik Dean tapi langsung di bekap Meri
"Diam! dasar anak sialan! kalau kamu teriak lagi nanti akan suster buang ke kolong jembatan!" ancam Meri
"Hiks... Dean akan laporkan suster dan Bi Mumun sama Daddy, Daddy pasti akan tolong Dean" ucap Dean turun dari kursinya untuk menemui orang tuanya yang masih bersiap di kamar mereka tapi langsung di tarik Meri dan di pukul dengan teflon.
Dean memekik kesakitan tapi dia masih berusaha bangkit, Meri yang melihat ada pisau di atas meja langsung meraihnya dan akan melukai kepala Dean, tapi Dean menghindar dan pisau itu melukai telinga Dean sampai hampir putus.
"Aakhhh mommy! Tolong Dean!" teriak Dean
"Dean!" pekik Tiffany yang sudah turun dan terkejut melihat Dean sudah bersimbah darah dengan pisau di tangan Meri.
"Meri apa yang kamu lakukan pada anak saya!" Bentak Tiffany meraih tubuh Dean yang sudah tak sadarkan diri.
"Dean sayang, bangun nak..."
"I.. Itu.."
Meri bingung dengan apa yang harus dia lakukan selanjutnya, tadinya dia ingin membuat Dean terluka dan mengatakan kalau Dean bermain main dengan pisau, tapi Tiffany malah turun lebih awal dari melihat apa yang di lakukan Meri pada Dean.
Niat licik mulai terbersit di pikirannya, Meri menyeringai dan mengambil tongkat bisbol yang tersimpan di balik kulkas, dia mendekati Tiffany yang masih sibuk mengusap darah di telinga Dean sambil menangis, dan dalam sekali hantaman di kepala, Tiffany langsung tak sadarkan diri.
"Rasakan!"
Meri segera membersihkan pisau yang dia gunakan, dia juga mengacak rambutnya dan menampar pipinya berkali kali, kemudian setelah itu menyimpan pisau ke tangan Tiffany, bahkan teflon yang dia gunakan untuk memukul dean juga sudah dia bersihkan dan di buat seolah olah Tiffany yang melakukannya, Meri melakukan semua siasat itu dengan bantuan Mumun.
Setelah semuanya selesai dan terencana, Mumun berpura pura histeris dan memanggil Anthony yang saat itu belum bangun setelah lembur semalaman memeriksa berkas berkas kantor. Anthony panik dan tanpa pikir panjang dia langsung menyelamatkan Tiffany juga Dean, dia sempat marah pada Meri tapi Meri mengatakan kalau Tiffany lah yang melakukan itu dengan bukti pisau di tangan Tiffany dan Dean yang seolah sedang dia lindungi.
Anthony yang marah tidak langsung menuduh Tiffany, dia melaporkan kasus itu ke polisi agar di tangani dengan benar, tapi keterangan saksi dan bukti semuanya memberatkan Tiffany, apalagi ada rekaman CCTV di mana Tiffany mengambil tongkat bisbol malam malam ke dapur, padahal tongkat itu adalah hadiah untuk Dean yang sebelum insiden itu menginginkan tongkat dan juga bola bisbol setelah mereka menonton acara olah raga di televisi.
Flashback off
"Aku tidak melakukan itu kan? Aku tidak mungkin menyakiti anakku sendiri?" tanya Tiffany bangkit dari kursi rodanya dan mendekat ke arah Meri.
"Tapi memang kamu yang melakukannya, kamu memukul anakmu sendiri dan melukainya dengan pisau, kamu pantas mati" jawab Meri
Ceklek.
"Meri apa yang kamu lakukan di sini! Pergi dan jaga Dean!" perintah Anthony ketika dia membuka pintu ruangan Tiffany.
"Tadi saya lewat di depan tuan, dan saya pikir nyonya ingin kabur, tadi dia sempat memanggil nama tuan muda Dean" jawab Meri meyakinkan
"Tiffany apa kamu sudah ingat sesuatu? Kenapa kamu melakukan itu pada anak kita? Dia masih sangat kecil dan rapuh, kalau kamu lelah bekerja, kamu bisa berhenti tapi kenapa melampiaskan itu pada Dean!" bentak Anthony
"Siapa kamu? aku tidak ingat, kalau aku ingat aku menyakiti anakku sendiri, aku pasti akan melompat dari sana, tapi aku tidak ingat" jawab Tiffany kembali ke kasur miliknya dan merebahkan badannya di sana.
"Tuan, sepertinya nyonya kena karma dari perbuatannya, dia seperti orang kurang waras sekarang" ucap Meri mendekati Anthony yang terlihat lelah karena mengurus perusahaan dan juga anaknya yang masih koma di rumah sakit.
"Pergilah, polisi sudah berjaga di luar, Tiffany tidak akan bisa kabur" ucap Anthony dan Meri segera keluar dari sana.
"Kamu pasti senang, dia terlihat seperti seorang jalan*, seorang bawahan rendah, tapi gayanya mirip sekali dengan wanita penghibur di club ataupun di tempat karaoke" sinis Tiffany lalu memejamkan matanya.
Kata kata itu masih bisa di dengar Anthony, dan itu adalah kata saat Tiffany melihat sekertaris Anthony yang terjatuh ke pangkuan Anthony, Anthony masih ingat karena saat itu dia tertawa dengan sifat cemburuan Tiffany yang begitu besar, tapi sekarang, dia sedang marah dan bingung karena anaknya sedang terbaring koma yang menurut saksi juga bukti, itu dalah perbuatan Tiffany.
"Katakan kalau semua ini tidak benar Tiffany, aku masih berharap kamu tidak melakukan itu pada Dean kita, kita berjuang begitu lama agar dia bisa lahir" gumam Anthony sebelum dia keluar dari ruangan Tiffany.
Saat membuka pintu, di depannya Kaivalya sudah berdiri bersama Zaki, ada beberapa anggota polisi juga yang berjaga di depan pintu ruangan Tiffany.
"Om Anthony, bisa bicara sebentar?" tanya Kaivalya yang sudah sampai bersama Zaki dan di belakangnya ada sosok Dean yang langsung berlari untuk memeluk Anthony tapi tak bisa karena terus menembus tubuhnya.
"Papa, Dean tidak bisa peluk Daddy Dean, padahal Dean bisa peluk papa" ucap Dean
"Maaf, pak Zaki ada perlu apa ya? Saya sedang kurang sehat saat ini, sedang banyak pikiran" ungkap Anthony
"Saya ingin bicara mengenai Dean anak kamu" jawab Zaki
"Dean anak saya semakin kritis kondisinya" jawab Anthony terlihat lesu.
"Mommy"
Dean langsung masuk ke dalam ruangan Tiffany, tubuhnya terlihat samar sekarang dan itu membuat Kaivalya khawatir, bahkan saat Kaivalya membuka pintu ruangan Tiffany, Kaivalya sama sekali tidak bisa menemukan Dean.
"Om, Dean nggak ada di dalam Om, dia menghilang" panik Kaivalya