Pernikahan yang terjadi tanpa ada cinta di antara keduanya. Karena suatu alasan, membuat keduanya harus menikah.
Bagaimana?, seiring waktu apakah mereka bisa saling jatuh cinta?, atau malah berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olan tari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah Perasaan
Berubah Perasaan
Dirga kembali masuk ke dalam kelambu dan berbaring di samping Kinara. Kinara pun mengalihkan wajahnya ke arah suaminya.
"Kenapa kembali?, sana bersama tunangan mu!," Ucap Kinara. Wanita tersebut menatap ke arah Dirga dengan tatapan yang penuh kekesalan dan ketidak Sukaan.
"Kenapa kau selalu ingin ikut campur urusan ku mm?," Tanya Dirga dengan mengangkat satu alis menatap Kinara di samping nya.
"Aku tidak ikut campur. Aku hanya sekedar mengingatkan saja agar kau tidak melupakan tunangan mu yang cantik itu," Protes Kinara yang terdengar semakin kesal.
"Jangan bilang kau cemburu?," Terka Dirga sambil menunjuk ke wajah Kinara.
"Cemburu jidatmu." Balas Kinara sambil membalikan tubuh nya membelakangi Dirga.
"Baguslah jika kau tidak cemburu." Gumam Dirga.
"Justru aku ingin kau cepat-cepat menikah dengan Shana agar aku bisa bebas dan tidak tinggal di kehidupan seperti ini lagi!," Gerutu Kinara. Kinara berkata dengan suara yang terdengar jelas di telinga Dirga. Perkataan yang ia ucapkan entah mengapa sedikit meragukan di dalam hatinya.
"Maaf ya," Balas Dirga dengan suara serak nya.
"Maaf atas hal apa?," Tanya Kinara.
"Maaf karena aku tidak bisa menceraikan mu," Jawab Dirga sambil tersenyum senang menghadap punggung istrinya. Kinara yang mendengar pun akhirnya kembali mengalihkan tubuh nya dan kemudian tanpa segan mencubit perut suaminya dengan sangat keras hingga membuat Dirga terdiam menahan sakit.
"Ini balasan untuk mu!," Teriak Kinara sambil terus mencubit.
"Lepaskan, ini terlalu sakit. Kuku mu melukai ku," Ucap Dirga dengan tenang. Namun Kinara tetap terus mencubit dan membiarkan Dirga kesakitan.
Dirga dan Kinara sibuk di dalam kelambu. Kinara yang masih mencubit perut roti Dirga, dan Dirga yang berusaha meminta istrinya itu untuk melepaskan nya. Kehebohan yang terjadi di dalam kelambu, tanpa mereka sadari membuat Shana yang baru saja masuk ke dalam rumah memperhatikan bayangan di dalam kelambu dan juga kehebohan yang terjadi di dalam sana membuat Shana beranggapan jika Dirga dan Kinara sedang melakukan sesuatu yang berbau romantis. Melihat hal itu membuat Shana meneteskan air mata sambil melangkah perlahan masuk ke dalam kamar.
"Secepat itu kah kau melupakan aku, Dirga?," Shana berkata sambil menghapus air matanya yang sudah terlanjur jatuh di kedua pipi nya.
* * * * *
Waktu pagi kembali menyapa. Matahari sudah mulai menampakan sinar hangat nya. Di pagi-pagi sekali, Ibu mertua Kinara membangunkan Kinara yang masih tertidur dengan lelap.
Ibu mertuanya berteriak meminta Kinara untuk bangun dan memasak untuk nya pagi ini. Dirga yang baru saja keluar dari kamar mandi pun, akhirnya berjalan ke arah ibu nya dan meminta ibunya untuk tidak berteriak begitu keras.
"Mah, ada apa?, jangan berteriak. Tidak enak di dengar oleh orang-orang di luar," Ucap Dirga sambil memegang handuk.
"Ini lihat istrimu!. Semua orang sudah bangun dan dia masih tertidur di dalam sana!," Ibu Dirga berkata sambil menunjuk ke dalam kelambu. Memperlihatkan Kinara yang baru saja membuka mata yang sepenuhnya belum benar-benar berada di alam sadar.
"Ini aku bangun," Kinara berjalan sempoyongan keluar dari kelambu.
"Masak sana!. Aku dan Shana lapar, dan suami mu juga pasti lapar," Titah ibu mertua nya sambil memangku kedua tangan nya di hadapan Kinara yang masih mengerjap-ngerjapkan kedua mata nya yang sebenarnya sangat mengantuk.
"Mah, aku tidak bisa memasak. Mamah tau sendiri," Jawab Kinara sambil menguap.
"Dirga!, jadi begini istrimu?, bagaimana bisa kau menikah dengan perempuan yang modelan begini?," Ucap ibunya sambil melihat ke arah Dirga yang juga masih berdiri di sana. Dirga hanya terdiam tidak membalas ucapan ibu nya.
"Tidak apa-apa. Biar Shana saja yang akan memasak," Shana mengambil alih peran. Kesempatan kali ini cukup membantu nya semakin dekat dengan ibu Dirga.
"Baguslah. Akhirnya ada Shana yang bisa memasak," Kinara berkata sambil memberi jempol pada ibu mertua nya sambil tersenyum. Dirga ikut tertawa melihat kelakuan istrinya tersebut.
"Saya tidak butuh orang seperti kamu!," Ketus ibu mertua nya sambil berlalu pergi bersama Shana menuju dapur. Kinara tetap tersenyum sampai ibu mertua nya menghilang di balik pintu.
"Kau harus sopan pada ibu ku," Ucap Dirga sambil memberikan handuk pada istrinya.
"Aku berusaha sopan, tapi ibu mu selalu mencari kelemahan ku untuk menghinaku," Balas Kinara sambil melempar handuk basah pada suaminya.
"Belajar lah memasak," Pinta Dirga.
"Ada syarat nya," Balas Kinara yang berjalan mengikuti Dirga yang masuk ke dalam kamar.
"Apa?," Tanya Dirga sembari membuka lemari dan memilih pakaian yang ingin ia pakai.
"Aku ingin berkerja di kota. Jika berkerja, itu artinya aku harus tinggal di kota juga," Ucap Kinara.
"Persyaratan yang tidak bisa di terima," Tolak Dirga sambil menarik kaos dan memakainya.
"Kenapa?,"
"Coba pikirkan lagi, aku berkerja di kota. Shana di sini bersama mu dan itu kesempatan mu untuk bersama nya," Tutur Kinara.
"Kau selalu menyangkutkan semuanya dengan Shana. Memang nya kau siapa?," Ucap Dirga dengan dingin. Dirga merasa agak sedikit marah dengan istrinya yang selalu mengaitkan wanita lain.
"Bukan kah yang ku katakan sudah benar?, apa salah nya?," Tanya Kinara. Dirga hanya terdiam dan keluar dari kamar tanpa mengacuhkan istrinya.
* * * * *
"Masak apa mah?," Tanya Dirga sambil masuk ke dalam dapur dan melihat ibunya yang sedang membantu memotong sayuran.
"Masak makanan kesukaan mu. Sebenarnya Shana yang memasak dan ibu hanya membantu saja," Jelas ibunya sambil memuji Shana. Shana pun tersenyum ke arah Dirga.
"Ehem. Kinara membantu piring," Ucap Kinara yang entah dari mana tiba-tiba sudah ada di dapur. Kinara membawa piring kotor menuju wastafel dan mencucinya.
"Sekalian ini juga," Shana meletakan sendok dan juga pisau untuk di cuci. Kinara hanya mengangguk sambil tetap tersenyum.
"Nak, ini kita makan nya di mana?, tidak ada meja makan yang luas di sini," Ibunya memperhatikan meja makan kecil yang terlihat memang tidak cukup untuk mereka makan bersama di sana.
"Makan di kursi ruang tamu saja mah," Jawab Dirga sembari membawa air dan juga gelas menuju ruang tamu.
"Shana, mama keluar dulu. Jangan tinggalkan makanan kita di dapur ya. Takutnya ada seseorang yang berniat meracuni kita berdua," Ucap ibu Dirga sambil melirik ke Kinara yang masih sedang mencuci piring.
"Baik Tante," Jawab Shana yang ikut melirik dengan julid ke arah Kinara.
"Siapa juga yang ingin meracuni orang yang sudah jelas-jelas biang racun," Gumam Kinara sambil menahan tawa.
"Siapa yang kau katakan?," Tanya Shana dengan tatapan kemarahan.
"Siapa yang menyadari saja."Jawab Kinara dengan santai