Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembalasan Mantan Istri

Pembalasan Mantan Istri

Status: tamat
Genre:Cerai / Reinkarnasi / Chicklit / Tamat
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erisha Larasyati

Lucy Malvia, umur 26 tahun. Lucy adalah wanita yang sudah pernah menikah dan tahu pahit manisnya dalam rumah tangga. Mungkin dulu Lucy berpikir jika menikah mudah itu sangatlah menyenangkan, apa lagi jika segera diberikan momongan. Namun pikirannya berubah dimana mertuanya yang selalu membahas anak dalam pernikahannya, sudah lima tahun Lucy berumah tangga akan tetapi belum juga diberikan keturunan. Saat itu juga sang suami berubah dan terkadang suka menyiksanya, sampai akhirnya Lucy mengetahui kenyataannya yang sebenarnya jika suaminya berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri. Lebih parahnya Lucy mengetahuinya di depan matanya sendiri. Namun takdir tidak sampai disitu saja, Lucy harus tertabrak oleh mobil, tubuhnya melayang begitu saja dan setelahnya semuanya gelap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisha Larasyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Posesif

Setelah menikah dengan Ethan, Florensia merasa bahagia dan bersyukur. Bagi dia, Ethan adalah sosok yang sangat istimewa dan sempurna. Mereka saling melengkapi dan saling mendukung dalam segala hal. Florensia selalu merasa aman di dekat Ethan dan merasa bahwa dia dapat mengatasi segala jenis tantangan bersamanya.

Ethan selalu memberikan dukungan dan motivasi, tidak hanya pada pekerjaan Florensia di Flower Garden, tetapi juga dalam semua aspek kehidupan mereka. Dia memberikan perhatian yang optimal dan merupakan pendengar yang baik ketika Florensia membutuhkan pendamping dalam menyelesaikan masalah.

Saat mereka menjadi pasangan yang semakin lengket, Florensia merasa bahwa pernikahan mereka adalah kunci untuk menciptakan kehidupan bahagia yang penuh kasih. Mereka berencana untuk memiliki anak dan merencanakan semuanya bersama, termasuk tempat tinggal mereka di masa depan.

Ketika Florensia merasa sedih atau tertekan, Ethan selalu ada di sampingnya dan mencari tahu apa yang membuat Florensia merasa sedih. Dia selalu memberikan dukungan, membimbing Florensia untuk memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.

Suatu hari, Florensia dan Ethan berbicara tentang keinginan mereka untuk memiliki anak. Mereka merencanakan masa depan mereka sebaik mungkin dan mengambil langkah awal dengan merancang kamar bayi dan daftar belanja semua perlengkapan bayi.

Mereka merasa bahwa keluarga mereka sudah siap untuk menjadi orangtua, dan mereka tidak sabar untuk melihat kehidupan dengan tambahan baru dalam keluarga mereka. Florensia sibuk merancang kamar bayi dan mempersiapkan semua kebutuhan, sementara Ethan sibuk bekerja untung memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.

Florensia dan Ethan duduk bersama di sofa ruang tamu mereka dengan senyum lebar di wajah mereka. Mereka telah lama memimpikan untuk memulai keluarga mereka sendiri, dan saat ini mereka sedang membahas rencana mereka untuk memiliki anak.

“Bagaimana kalau kita memulai masa subur bulan depan?” tanya Florensia sambil memandangi Ethan.

Ethan tersenyum dan meraih tangannya, “Kamu tahu, aku selalu siap untuk menjadi orangtua. Kita banyak berbicara tentang masa depan, dan aku yakin kita siap untuk memulai keluarga kami sendiri.”

Florensia merasa bahagia mendengar kata-kata itu dan dia mulai membayangkan bagaimana kehidupan mereka nanti dengan kehadiran anak. Dia membayangkan kenangan indah bersama anak mereka, mengajarinya berjalan, berbicara, dan bahkan hal-hal kecil seperti membantu anak yang baru belajar mengikat tali sepatu.

“Pasti akan ada banyak hal yang akan kita pelajari dan banyak tantangan yang akan kita hadapi,” ujar Florensia sambil tersenyum. “Tapi aku tahu bahwa dengan dukunganmu, kita akan mampu melaluinya bersama-sama.”

Ethan menjawab dengan ciuman lembut di dahi Florensia, “Aku akan selalu bersamamu, aku janjikan.”

Tidak lama setelah itu, Florensia merasa gembira ketika ia mendapat kabar dari dokter bahwa dia sedang hamil. Dia tidak sabar untuk memberitahu Ethan, dan ketika ia memberi tahu Ethan, Ethan memeluknya dengan erat dan mengucapkan selamat kepadanya.

Mereka mengumumkan kabar kehamilan mereka kepada keluarga Dillbert dan semua orang sangat senang mendengarnya. Mereka semua bersukacita karena adanya tambahan baru dalam keluarga dan mereka segera mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kelahiran bayi.

Dalam beberapa bulan ke depan, kebahagiaan keluarga semakin meningkat ketika mereka mengetahui bahwa Florensia mengandung dua bayi sekaligus. Mereka sangat bahagia dan senang akan kehadiran dua bayi dalam keluarga mereka.

Florensia dan Ethan pun terbangun malam-malam untuk merebahkan diri di atas tempat tidur dan merenung tentang masa depan mereka. Mereka memikirkan tentang bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikan segala masalah yang mungkin akan muncul dan merencanakan masa depan untuk keluarga mereka.

Selama waktu kehamilan Florensia, keluarga Dillbert semakin dekat dan mereka semua bersatu untuk memberikan dukungan dan cinta pada Florensia dan Ethan.

Waktu berlalu dan Florensia sudah memasuki trimester kedua kehamilannya. Selama beberapa waktu yang lalu, Ethan mulai bersikap sangat posesif dan melarang Florensia melakukan pekerjaan apapun yang terlalu melelahkan. Awalnya Florensia merasa bahwa itu adalah wajar dan baik-baik saja, tetapi seiring berjalannya waktu, dia merasa terkekang oleh sikap posesif Ethan.

Mereka telah mencapai kesepakatan bahwa Florensia harus menjaga dirinya dengan lebih baik selama kehamilan, tetapi Florensia merasa bahwa Ethan sedang membatasi dirinya terlalu jauh. Dia merasa bahwa Ethan sudah memperlakukan dirinya seperti anak kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa tanpa izin terlebih dahulu.

Florensia sudah berusaha untuk menjelaskan bahwa dia masih mampu melakukan beberapa pekerjaan, seperti mengurus Flower Garden, tetapi Ethan tetap tidak merestui hal itu. Ketika Florensia mencoba untuk berbicara dengan Ethan dan memintanya untuk memberi dirinya sedikit lebih banyak kebebasan, dia selalu mendapat jawaban yang sama, "Aku melakukan ini semua hanya karena kusayang kamu dan bayi kita."

Meski begitu, Ethan masih tetap merawat Florensia dengan baik. Dia selalu membelikan makanan yang sehat, membuatkan teh hangat, menggosok punggungnya dan memijat kakinya setiap malam, dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Florensia. Tetapi dalam hati Florensia, dia merasa ada yang salah.

Suatu malam, ketika Florensia sedang tertidur, Ethan memeriksanya dan menggosok perutnya. Dia lalu membisikkan pada bayi-bayi mereka yang belum lahir tentang bagaimana dia tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada mereka dan betapa dia mencintai Florensia. Florensia merasa bahagia dengan sikap Ethan, meski begitu Florensia sangat bahagia walau suaminya sangat posesif padanya.

Sikap posesif Ethan semakin menjadi-jadi dan dia berusaha untuk melarang Florensia melakukan aktivitas apa pun di luar rumah. Hal itu membuat Florensia merasa terkekang dan tertekan. Dia mulai merenung tentang apa yang bisa terjadi jika sikap posesif Ethan terus berlanjut. Dia merasa bahwa dia harus memberitahu Ethan bahwa dia tidak bisa terus memperlakukannya seperti ini.

Pada suatu malam, Florensia akhirnya mengambil inisiatif untuk berbicara dengan Ethan dengan jujur dan langsung. Dia memberitahu Ethan bahwa dia merasa terkekang dan sangat tidak nyaman dengan sikap posesifnya, dan meminta dia untuk memahami kalau dia masih mampu melakukan beberapa pekerjaan seperti biasa.

Namun, Ethan tidak menerima hal itu dengan baik, dia mulai merasa bahwa Florensia sedang mengatur dia ke arah yang salah. Dalam beberapa hari kemudian, Ethan mulai berpikir bahwa dia mungkin sedang kehilangan kendali atas kehidupannya dan memutuskan untuk mengisolasi diri dari keluarga dan teman-temannya.

Ethan mulai memberikan tuntutan-tuntutan yang sulit untuk Florensia dan terus membatasi gerakan mereka bersama. Dia tidak mendengarkan apa yang ingin dikatakan Florensia, dan memperlakukannya seperti musuh bila dia berbicara terlalu banyak. Florensia merasa semakin khawatir dan takut.

Dia merasa dia tidak bisa membicarakannya dengan keluarga Dillbert karena mereka semua sudah begitu bahagia melihat kelahiran bayinya. Meskipun dia sudah mencoba untuk berbicara dengan Ethan, tetapi perkataannya tidak pernah didengar dengan baik.

Hal itu membuat Florensia merasa semakin sedih dan merindukan kehidupan yang terbuka dengan Ethan seperti dulu kala. Dia merindukan kebebasan dan merasa bahwa dia perlu mencari tempat untuk berbicara dengan seseorang yang sepertinya hanya bisa mendengarkan dan memahaminya.

Akhirnya, Florensia pergi ke temannya untuk melepaskan diri dan berbicara tentang semua masalah yang dia alami. Dengan dukungan temannya itu, Florensia merasa lebih kuat dan terpilih untuk mengatasi masalah dengan Ethan. Dalam beberapa hari kemudian, Florensia kembali membicarakannya dengan Ethan, dan kali ini dia bisa mengatakan hal-hal yang ingin dia sampaikan dan tuntutan mereka dipulihkan menjadi normal.

Ethan akhirnya memahami kekuatiran dan kebutuhan Florensia sebagai seorang ibu hamil. Dia memberikan dukungan dan kasih sayang nya seperti yang selalu dia lakukan, dan mereka berdua kembali bahagia seperti sebelumnya. Mereka akhirnya melihat kelahiran kedua anak mereka dengan penuh sukacita dan bahagia, dan keluarga mereka pun semakin lengkap dengan kehadiran bayi kembar.

Mereka belajar dari pengalaman yang sulit itu, dan bersama-sama merencanakan masa depan yang lebih baik dan lebih terbuka untuk keluarga mereka. Akhirnya, mereka bisa melihat bahwa kepercayaan dan komunikasi adalah kunci untuk menjaga hubungan mereka erat dan bahagia, dan mereka siap mengalami hal-hal yang indah dan sulit bersama-sama di masa depan.

1
mama wahyu
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!