Indonesia
NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30. Respect

Keesokan paginya, suasana rumah Ranti dan Yanto kedatangan tamu spesial. Alfian bersama sang istrinya, Suci, datang untuk menjenguk Acha yang kemarin dikabarkan sempat masuk UGD akibat sesak napas.

Setelah berbasa-basi sejenak dan memastikan kondisi lambung serta pernapasan Acha sudah jauh lebih membaik, Alfian dan Suci mulai melancarkan kebiasaan usil mereka untuk menggoda sang adik.

Suci melirik ke arah ranjang Acha sambil tersenyum penuh selidik, lalu melontarkan godaan.

"Wah, kembarannya mana nih, Cha? Kok sendirian aja? Tumben banget pacar barunya yang lagi diagung-agungkan itu nggak kelihatan nungguin di sini?" tanya Suci dengan nada meledek.

Alfian yang duduk di sebelah istrinya langsung ikut menimpali sambil terkekeh geli.

"Iya, nih. Biasanya kan nempel terus kayak perangko. Nggak ada yang ngelus-ngelus kepala kamu lagi, ya? Kasihan deh, pacar kamu kan sekarang lagi sibuk banting tulang nyablon tatak sandal demi masa depan!"

Mendengar ledekan sang kakak dan iparnya itu, pipi Acha langsung merona merah karena malu. Dia mendengus kecil sambil melempar bantal sofa ke arah Alfian.

"Ih, Aa sama Teteh kerjaannya dateng-dateng malah ngejek mulu! A Nathan kan kerja, bukan nggak mau kesini," bela Acha dengan nada cemberut yang dibuat-buat,

Meski dalam hatinya dia memang sedikit merindukan kehadiran sang kekasih yang sedang sibuk mengurus usahanya.

Melihat Acha yang sedang salah tingkah diledek oleh Fitri yang sejak tadi ikut duduk di kamarnya tiba-tiba teringat kejadian seru sehari sebelumnya.

Dia merasa gemas dan ingin ikut membongkar kelakuan bucin Acha dan Nathan.

"Ih, Teteh sama Aa belum tahu sih seberapa parah bucinnya A Nathan!" celetuk Fitri dengan mata berbinar-binar penuh antusias.

Suci dan Alfian langsung menoleh, tertarik mendengar cerita Fitri. "Emang kenapa, Fit? Ceritain dong!" desak Suci penasaran.

Sambil tertawa kecil, Fitri pun menceritakan kejadian kemarin sore saat Nathan menghubunginya lewat video call.

"Kemarin kan teh Acha lagi tidur pulas, terus A Nathan tiba-tiba minta tolong aku buat videoin teh Acha yang lagi tidur karena katanya takut kangen kalau nggak bisa dihubungi!"

Mendengar cerita itu, Suci langsung membelalakkan matanya, tak menyangka sama sekali. "Hah? Yang benar kamu, Fit? Nathan minta divideoin pas tidur?!" tanyanya takjub.

Suci menggelengkan kepala, benar-benar dibuat terkejut. "Wah, gila sih... Teteh nggak nyangka cowok seimut dan seserius Nathan bisa sebucin itu."

Bukan tanpa alasan Suci berkata demikian. Selama ini, di lingkungan keluarga besar maupun tetangga, Nathan dikenal sebagai sosok pemuda yang teramat cuek dan kaku kepada perempuan.

Dia tidak pernah terlihat centil atau mendekati wanita sembarangan, sehingga perubahan drastisnya setelah berpacaran dengan Acha sukses membuat siapa saja geleng-geleng kepala.

Alfian yang mendengar cerita tersebut ikut terkekeh geli. "Wah, parah sih, kalau umi Nani tahu Nathan bisa bucin tingkat akut begini pasti bakal nggak percaya," komentar Alfian sambil melirik Acha yang wajahnya sudah semakin memerah seperti kepiting rebus akibat malu dibahas terus-menerus.

Suasana kamar Acha seketika riuh oleh gelak tawa dan godaan tiada henti dari Alfian, Suci, dan Fitri.

Semakin Acha merajuk dan menutupi wajahnya dengan selimut karena menahan malu, semakin gencar pula mereka meledek tingkat kebucinan Nathan yang tak pernah disangka-sangka.

Meski pipinya terasa panas dan dia sesekali mengomel gemas untuk menghentikan mereka, jauh di lubuk hatinya, Acha merasakan gelombang kehangatan yang luar biasa menyelimuti dadanya.

Dia tidak pernah menyangka akan dicintai dan diperlakukan sedemikian rupa oleh seorang pria, terutama setelah pengalaman pahit yang dia lalui bersama mantannya di masa lalu.

Dirinya merasa begitu beruntung dan bersyukur bisa merasakan ketulusan cinta yang begitu mendalam dari Nathan.

Di balik rasa malunya digoda habis-habisan oleh keluarganya, Acha hanya bisa memanjatkan satu harapan tulus dalam hatinya.

Semoga Nathan akan selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang seperti ini, tetap konsisten pada pendiriannya, dan tidak akan pernah berubah hingga waktu yang memisahkan.

Di tengah riuhnya suasana kamar, Suci perlahan meredakan tawanya lalu menatap Acha dengan pandangan yang lebih serius namun tetap hangat.

Dia ingin memberi tahu Acha beberapa fakta penting mengenai latar belakang keluarga Nathan yang mungkin belum sepenuhnya diketahui oleh sang adik ipar.

"Tapi beneran deh, Cha, wajar kalau Nathan itu jadi sosok yang baik banget sama kamu. Asal kamu tahu ya, almarhumah tante Siska, bundanya Nathan itu bibinya Umi Nani, jadi Nathan sama keluarga kita itu sebenarnya masih ada hubungan saudara dekat," ungkap Suci menjelaskan silsilah keluarga mereka.

Mendengar penjelasan itu, mata Fitri langsung membelalak kaget. Belum sempat mereka bertanya lebih jauh, Suci melanjutkan cerita tentang latar belakang keluarga Nathan yang membuat rasa kagum Acha semakin berlipat ganda.

Umi Nani sendiri bahkan sudah sejak lama menganggap Nathan sebagai anak angkatnya sendiri karena kedekatan keluarga mereka.

Suci kemudian mengenang kembali sosok almarhum Surya, ayah kandung Nathan. Semasa hidupnya, almarhum Surya dikenal luas oleh warga sekitar sebagai orang yang sangat baik hati, dermawan, dan rajin beribadah.

Yang paling membuat warga kagum, di tengah kesibukannya bekerja sebagai pegawai kantoran di PLN.

Almarhum Surya tidak pernah gengsi untuk meluangkan waktu secara sukarela membersihkan area pemakaman umum dan merawat masjid sekitar, serta sering mengumandangkan adzan ketika tiba waktu sholat.

Tentu saja Suci tahu persis semua detail kebaikan keluarga Nathan tersebut, karena Suci sendiri adalah anak kandung dari Umi Nani.

Mendengar cerita tersebut, Acha terdiam meresapi setiap kata yang diucapkan oleh kakak iparnya. Hatinya merasa semakin sejuk dan tenang.

Kini dia mengerti mengapa Nathan memiliki kepribadian yang begitu tulus, pekerja keras, dan bertanggung jawab, ternyata dia diturunkan dari didikan orang tua yang sangat mulia, dan hebatnya lagi, dirinya dan Nathan ternyata masih terikat dalam hubungan kekerabatan keluarga.

Di tengah riuhnya suasana kamar, Suci perlahan meredakan tawanya lalu menatap Acha dengan pandangan yang lebih serius namun tetap hangat.

Dia ingin memberi tahu Acha beberapa fakta penting mengenai latar belakang keluarga Nathan yang mungkin belum sepenuhnya diketahui oleh sang adik ipar.

Mendengar cerita tersebut, Acha terdiam meresapi setiap kata yang diucapkan oleh kakak iparnya. Hatinya merasa semakin sejuk dan tenang.

Kini dia mengerti mengapa Nathan memiliki kepribadian yang begitu tulus, pekerja keras, dan bertanggung jawab.

Ternyata dia diturunkan dari didikan orang tua yang sangat mulia, dan hebatnya lagi, dirinya dan Nathan ternyata masih terikat dalam hubungan kekerabatan keluarga.

Mendengar cerita Suci mengenai latar belakang keluarga Nathan, Alfian yang duduk di sebelah istrinya ikut tersenyum bernostalgia. Dia teringat kembali pada masa-masa lalunya sebelum menikah dengan Suci.

"Iya, benar banget apa kata Suci," sahut Alfian menyambung cerita sang istri.

"Dulu waktu Aa masih pacaran sama Suci dan sering main ke rumahnya Nathan, Aa lumayan dekat sama Tante Siska mamahnya Nathan sebelum beliau meninggal."

Alfian mengenang kembali obrolan hangatnya dengan almarhumah Tante Siska di masa lalu. Rupanya, almarhumah pernah menitipkan sebuah pesan khusus kepada Alfian.

"Dulu Tante Siska sempat pesan ke Aa, minta dicarikan perempuan yang baik untuk dijadikan pendamping Nathan, karena beliau pengen banget melihat anaknya tenang dan punya pasangan yang tulus," kenang Alfian sambil tersenyum simpul.

"Beliau bahkan sempat nanya ke Aa, 'Kamu punya saudara perempuan atau adik nggak, Fian?'."

Mendengar cerita itu, Acha, Suci, dan Fitri langsung tertegun sejenak, sebelum akhirnya serempak tertawa kecil menyadari kebesaran takdir.

Siapa sangka, permintaan dan doa almarhumah Tante Siska di masa lalu kini benar-benar dijawab oleh semesta dengan cara yang begitu indah.

Jodoh memang tidak ada yang bisa menebak wanita baik-baik yang dulu dicarikan atau ditanyakan oleh almarhumah kini justru jatuh kepada adik kandung Alfian sendiri yaitu Acha.

Kenyataan itu membuat Acha merasa semakin terharu. Rasanya seolah ada restu yang tak kasat mata dari almarhumah bundanya Nathan, yang menuntun langkah mereka berdua hingga akhirnya bisa bersatu seperti sekarang.

Di tengah obrolan hangat dan gelak tawa yang masih menghiasi kamar Acha, tiba-tiba suara motor yang sangat familiar terdengar berhenti di halaman depan.

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu dan salam mengalun, disusul kemunculan Nathan yang melangkah masuk ke dalam rumah.

Awalnya Nathan mengira dia hanya akan menemui Acha, Ranti, atau Fitri saja. Namun, begitu dia menjejakkan kaki ke dalam kamar Acha, langkahnya seketika terhenti.

Sontak dia mendapati Alfian dan Suci kakak serta ipar Acha sudah duduk santai di sana.

Sempat ada rasa kaget dan salah tingkah sesaat di wajah Nathan, mengingat dia baru saja dibahas habis-habisan sebagai sosok yang bucin.

Namun, dengan sopan Nathan tetap masuk, menyalami Alfian, dan menebar senyum ramah kepada semuanya.

Suasana canggung itu langsung mencair berkat keakraban mereka yang memang masih memiliki hubungan kekerabatan.

Suci yang penasaran lantas membuka obrolan sambil tersenyum usil.

"Nah, panjang umur nih orangnya baru dateng! Ngomong-ngomong, Nathan... Teteh penasaran deh, kalian berdua kan dulunya tetanggaan dan masih sodaraan juga, emangnya gimana sih awal mulanya kamu bisa kepincut terus deket sama si Acha?" tanya Suci memberondong dengan nada menggoda.

Nathan tersenyum simpul sambil melirik sekilas ke arah Acha yang pipinya sudah kembali merona merah karena malu.

"Wah, kalau diceritain mah panjang, Teh," jawab Nathan jujur sambil terkekeh pelan.

"Dulu tuh gara-gara aku sering bolak-balik ke minimarket tempat Acha kerja. Sengaja bolak-balik berkali-kali biar bisa ketemu dan ngobrol, tapi dapetin hatinya Acha tuh susah banget, Teh. Perjuangannya berat, bolak-balik ditolak terus awal-awalnya!"

Mendengar pengakuan blak-blakan itu, seisi kamar langsung tertawa ngakak. Fitri bertepuk tangan kecil, sementara Suci menggeleng-gelengkan kepala takjub mendengar totalitas perjuangan Nathan.

Alfian yang mendengar cerita itu ikut tersenyum lebar, lalu menepuk bahu Nathan dengan gestur akrab.

"Haha, wajar kalau kamu kewalahan, Na. Emang adiknya Aa ini terkenal paling susah kalau urusan jatuh cinta sama orang baru," timpal Alfian membela sang adik.

Meski begitu, Alfian kemudian menatap Acha dan Nathan bergantian dengan tatapan hangat.

"Tapi, biarpun Acha itu susah banget dibuka hatinya, kalau dia sudah benar-benar sayang dan nempel ke satu orang, dijamin dia bakal setia dan nggak mau berpaling ke lain hati lagi."

Acha yang mendengar ucapan kakaknya hanya bisa menunduk malu sambil menggigit bibirnya, sementara hatinya melonjak kegirangan.

Di hadapan keluarga yang kini merestui dan mendukung hubungan mereka, ikatan antara Acha dan Nathan terasa semakin nyata dan kokoh.

Menjelang malam hari, suasana kamar Acha kembali kedatangan seorang tamu penting. Seorang dokter langganan keluarga dipanggil datang langsung ke rumah untuk memeriksa ulang kondisi kesehatan Acha.

Memastikan apakah lambungnya sudah benar-benar mereda dan pernapasannya sudah stabil pasca-kejadian beberapa hari lalu.

Di dalam kamar, Acha didampingi penuh oleh kedua orang tuanya, Ranti dan Yanto, yang tampak cemas namun mulai merasa tenang melihat sang dokter memeriksa detak jantung serta tekanan darah putri bungsu mereka dengan teliti.

Di luar kamar, Nathan, Alfian, dan Suci menunggu dengan sabar. Tak lama kemudian, dokter keluar dari kamar Acha dan menyampaikan kabar baik bahwa kondisi Acha sudah jauh lebih membaik dan tinggal memerlukan waktu istirahat yang cukup untuk pemulihan total.

Mendengar kabar tersebut, rasa khawatir yang sempat menggelayuti benak mereka langsung menguap.

Namun, menyadari waktu yang sudah semakin larut malam ditambah kondisi Acha yang membutuhkan ketenangan untuk tidur Nathan, Alfian, dan Suci sepakat untuk tidak tinggal lebih lama lagi agar tidak mengganggu waktu istirahat sang gadis.

Nathan lantas melangkah mendekati pintu kamar untuk pamit secara langsung kepada Acha, Ranti, dan Yanto.

"Om, Tante, Acha... Karena keadaannya sudah dicek dokter dan alhamdulillah baik-baik saja, saya, A Alfian, dan Teh Suci pamit pulang dulu ya, biar Acha bisa istirahat total malam ini," pamit Nathan dengan sopan.

Alfian dan Suci turut mengangguk sambil berpamitan kepada Ranti dan Yanto. Setelah mendapat restu dan ucapan terima kasih dari orang tuanya Acha.

ketiganya pun melangkah keluar rumah, meninggalkan Acha yang kini bisa beristirahat dengan tenang di bawah pengawasan ayah dan mamahnya.

Malam itu, selepas mengantar Alfian dan Suci pulang serta memastikan Acha sudah beristirahat dengan tenang di rumahnya, Nathan langsung meluncur menuju rumah Umi Nani.

Mengingat Umi Nani sudah menganggap Nathan seperti anak kandungnya sendiri, rumah tersebut sudah seperti rumah kedua bagi Nathan untuk sekadar singgah dan berkumpul bersama keluarga besar.

Sesampainya di sana, Nathan mendapati beberapa anggota keluarga Umi Nani sedang duduk santai di ruang tengah sambil menikmati secangkir teh hangat. Suasana langsung ramai begitu Nathan bergabung di tengah-tengah mereka.

Tentu saja, topik pembicaraan malam itu tidak jauh-jauh dari kabar yang sedang hangat dibicarakan di kalangan keluarga besar status baru Nathan yang kini sudah resmi berpacaran dengan Acha.

Umi Nani yang duduk di kursi utama menatap Nathan sambil tersenyum penuh selidik, sementara beberapa saudara yang lain langsung memberondong Nathan dengan rasa penasaran.

"Nah, ini dia orangnya yang lagi viral di keluarga! Sini-sini duduk, Na," panggil Arif salah satu anggota keluarga sambil tertawa kecil.

"Umi sama yang lain tuh dari tadi pada penasaran banget. Jujur ya, kita-kita di sini tuh sama sekali nggak tahu kapan, di mana, dan gimana ceritanya kamu tiba-tiba bisa dekat sama Acha sampai jadian begitu. Tahu-tahu sudah pacaran aja!"

Umi Nani mengangguk setuju dengan mata berbinar-binar penasaran. "Iya, betul tuh, Na. Kamu kan biasanya kalau sama perempuan kaku banget, tiba-tiba gercep gandeng adiknya Alfian dan Suci. Coba ceritain ke Umi, awal mulanya gimana sih sampai bisa kepincut sama Acha?"

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari keluarga Umi Nani, Nathan hanya bisa tersenyum salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Suasana ruang tengah langsung dipenuhi gelak tawa dan sorakan usil dari para saudara yang ingin mendengar cerita lengkap di balik layar kisah cinta pemuda pendiam itu dengan sang gadis pujaan.

Di saat yang lain sibuk memberondong Nathan dengan berbagai pertanyaan penasaran, Umi Nani justru hanya duduk tenang sambil tersenyum penuh arti.

Wanita paruh baya itu sama sekali tidak kelihatan kaget ataupun penasaran seperti yang lainnya.

Bukan tanpa alasan Umi Nani bersikap demikian. Jauh sebelum kabar kedekatan ini menjadi bahan pembicaraan hangat di antara keluarga besar, Nathan ternyata sudah sering datang secara khusus untuk berkeluh kesah dan curhat kepadanya.

Kepada Umi Nani, Nathan kerap menceritakan betapa berat dan melelahkan perjuangannya demi bisa merebut hati Acha.

Mulai dari bolak-balik minimarket sampai rasanya hampir menyerah karena selalu ditolak di awal-awal pendekatan.

Umi Nani lah yang selama ini mendengarkan setiap keluh kesah Nathan, sekaligus memberikan petuah, semangat, serta doa-doa terbaik agar niat baik pemuda itu dilancarkan.

Berkat dorongan, nasihat, serta doa yang tulus dari Umi Nani pula, Nathan akhirnya tidak pernah patah semangat hingga perlahan-lahan berhasil meluluhkan hati Acha, bahkan sukses mendapatkan lampu hijau serta restu penuh dari kedua orang tua Acha.

Melihat Nathan yang kini sudah resmi berpacaran dan tampak jauh lebih bahagia, Umi Nani merasa sangat bersyukur.

Di dalam hatinya, dia merasa bangga melihat anak angkat kesayangannya itu kini telah menemukan pelabuhan hati yang tepat.

Malam semakin larut dan rumah Acha terlelap dalam keheningan. Di dalam kamarnya yang temaram, Acha tidur dengan nyenyak di bawah selimut hangatnya.

Namun di dalam tidurnya, kesadaran Acha tiba-tiba membawanya ke sebuah dimensi mimpi yang terasa begitu nyata dan menenangkan.

Dalam mimpinya, Acha mendapati dirinya berada di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga terang dengan cahaya keemasan yang lembut.

Di hadapannya, berdiri sesosok wanita paruh baya berwajah sangat teduh dan penuh kehangatan.

Senyuman manis terukir di bibir wanita itu, memancarkan aura keibuan yang langsung membuat siapa saja merasa aman di dekatnya.

Tanpa perlu diberi tahu, hati kecil Acha langsung mengenali siapa wanita tersebut dari cerita-cerita yang sering dia dengar dari Suci, Alfian, maupun Nathan sendiri. Beliau adalah almarhumah Siska, ibunda tercinta Nathan.

Almarhumah Siska melangkah mendekat secara perlahan, lalu dengan penuh kelembutan meraih tangan Acha dan menggenggamnya hangat. Tatapan mata beliau begitu tulus menyapa Acha.

"Acha..." panggil almarhumah dengan suara yang begitu lembut menyejukkan hati.

"Terima kasih ya sudah datang di hidup Nathan dan membuat anak itu bahagia."

Acha yang berada dalam mimpi merasa takjub bercampur haru, dia hanya bisa mengangguk pelan dengan senyuman gugup di hadapan wanita yang begitu dihormati kekasihnya itu.

Sebelum bayangan beliau perlahan-lahan memudar ditelan cahaya hangat, almarhumah Siska menyampaikan sebuah pesan terakhir yang langsung meresap ke dalam lubuk hati Acha paling dalam:

"Tante titip Nathan ya, Nak... Jaga dia, sayangi dia, dan dampingi terus kebaikannya."

Seketika itu juga, mimpi tersebut perlahan membuyar, meninggalkan kehangatan yang luar biasa di dada Acha bahkan hingga menjelang pagi hari.

Be to continued

1
falea sezi
dua dua nya 🤣 goblok
falea sezi
g suka karakter aca yg menye lemah semua di fikir🤣🤣🤣 oon apalagi karakter nathan beeehhh lemah bgt jd cowok. pake rok aja lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!