Indonesia
NovelToon NovelToon
Reborn To Be An Eye

Reborn To Be An Eye

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Xgrim

Hidup selalu diselimuti kepura-puraan, tipu daya, dan pengkhianatan — itulah kenyataan pahit yang harus dirasakan Fauzan dalam satu hari yang menjadi paling kelam dan menyakitkan seumur hidupnya.

Tunangan yang dicintainya berselingkuh di belakangnya. Keluarga angkat yang ia percayai ternyata hanya memanfaatkannya, bahkan berusaha membuangnya seolah ia tak berharga. Bahkan teman-teman yang dianggapnya dekat pun diam-diam menjebaknya demi keserakahan semata.

Baginya, kehidupan ini sudah terasa lebih kejam dan menyiksa dibandingkan neraka sekalipun. Ia meninggal dunia dengan hati yang hancur, dipenuhi dendam dan keputusasaan — hingga sebuah suara asing terdengar menawarkan satu harapan: kesempatan kedua untuk meninggalkan dunia yang busuk ini, dan memulai hidup baru di tempat yang sama sekali berbeda.

Ikuti perjalanan Fauzan saat ia terlahir kembali di dunia lain, untuk membuktikan bahwa ia tidak akan lagi menjadi orang yang bisa diinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xgrim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH-31. TURNAMEN DIMULAI KEMBALI

SATU MINGGU KEMUDIAN

“996… 997… 998… 999… 1.000!”

Suara hitungan Fauzan bergema jelas di seluruh penjuru goa yang luas dan lembap. Dengan gerakan terakhir yang mantap dan stabil, ia mengangkat tubuhnya tegak sempurna, lalu perlahan berdiri. Seluruh pakaiannya basah kuyup oleh keringat, napasnya terengah namun tetap teratur dan terkendali — tanda jelas bahwa daya tahan tubuhnya kini telah meningkat pesat dibandingkan seminggu sebelumnya.

“Sudahi latihan fisikmu itu. Kemarilah,” panggil Geha dari jarak beberapa meter, suaranya tenang namun tegas, seolah telah menunggu momen ini tiba.

Fauzan mengambil handuk kasar yang tergantung di dinding bebatuan, lalu menyeka wajah dan lehernya yang berkeringat deras. Ia berjalan menghampiri Geha dengan langkah yang ringan, mantap, dan tanpa sedikit pun tanda kelelahan berlebih. “Ada apa, Guru? Apakah ada latihan yang lebih berat lagi yang harus kujalani sebelum berangkat?” tanyanya sambil tersenyum tipis.

“Tidak. Seluruh rangkaian pelatihan yang telah aku rancang selama tujuh hari terakhir telah berakhir sepenuhnya,” jawab Geha sambil menatap matanya dalam-dalam, seolah ingin memastikan tidak ada hal yang terlewat. “Sekarang, saatnya kau kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda. Saatnya kau kembali mengikuti Turnamen Under Fight yang telah ditunggu-tunggu.”

“Benar juga! Turnamen itu… aku sampai hampir melupakannya sepenuhnya, karena terlalu fokus dan tenggelam dalam setiap gerakan dan pelajaran yang kau berikan,” ucap Fauzan sambil menepuk dahinya sendiri, seolah baru teringat akan kewajibannya itu.

Geha mengangguk perlahan, sorot matanya memancarkan rasa bangga yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. “Selama seminggu ini, kau telah menyerap dan memahami inti seni berpedang dengan kecepatan yang benar-benar luar biasa. Bahkan, kau berhasil meniru seluruh teknik, pola serangan, hingga aliran tenaga yang aku miliki sampai ke detail terkecilnya. Namun yang lebih mengagumkan lagi — kau tidak berhenti hanya sekadar meniru buta.”

Ia melangkah sedikit mendekat dan melanjutkan penjelasannya dengan nada penuh kekaguman. “Kau berhasil menggabungkan prinsip-prinsip itu, lalu menyesuaikannya dengan gaya dan naluri bertarungmu sendiri, hingga akhirnya menciptakan gaya baru yang jauh lebih unik, fleksibel, dan sangat cocok dengan karaktermu.”

“Kau benar sekali,” sahut Fauzan dengan sorot mata yang berbinar penuh keyakinan. “Aku menggabungkan dua aliran utama yang aku miliki. Kekuatan, ketajaman, dan presisi tebasan yang mematikan itu berasal dari teknik berpedangmu. Sedangkan kemampuan membaca gerakan lawan, mengikuti alur serangan, dan membalikkan kekuatan mereka untuk menyerang balik, itu berasal dari naluri dan dasar yang telah aku miliki sejak awal. Aku menamainya… Counter Strike Swordmanship.”

“Nama yang tepat dan penuh makna,” gumam Geha sambil tersenyum tipis. “Ternyata penilaianku selama ini tidak salah sama sekali. Bakat yang kau miliki ini bukan sekadar biasa saja. Bahkan, kau jauh lebih berbahaya dibandingkan mereka yang mengaku dirinya jenius sejak lahir.”

Ia terdiam sejenak, seolah menelusuri kenangan masa lalunya sendiri. “Sejujurnya, jika diriku di masa muda dulu harus bertarung melawan dirimu yang sekarang ini… aku mungkin bisa memenangkan pertarungan yang singkat dan mendadak. Namun, jika pertarungan itu berlangsung lebih lama, dipastikan akulah yang pada akhirnya akan tumbang. Sebab semakin lama kita bertarung, semakin cepat kau akan merekam, memahami, dan menemukan celah yang aku miliki.”

Geha menatapnya tajam, menekankan setiap kata yang diucapkannya. “Memiliki tiga kelebihan luar biasa sekaligus — kemampuan memahami sesuatu dengan sangat cepat, beradaptasi di tengah situasi yang berubah dengan lincah, serta memiliki daya ingat yang nyaris sempurna — itu adalah hal yang sangat langka dan mengerikan. Satu saja sudah cukup untuk menjadikan seseorang hebat, apalagi jika ketiganya bersatu dalam satu tubuh yang sama.”

“Sudahlah, tak perlu terlalu banyak memuji. Sekarang pergilah. Bukankah para peserta dan penonton sudah pasti menantikan kehadiranmu?” ucap Geha sambil melambaikan tangan, memberi isyarat agar Fauzan segera berangkat.

“Baiklah, aku pamit dulu! Terima kasih atas segalanya, Geha! Pelajaran ini tidak akan pernah kulupakan!” seru Fauzan dengan senyum lebar, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan goa dengan langkah yang penuh percaya diri dan semangat baru.

Begitu sosok Fauzan menghilang dari pandangan, Geha menengadah ke langit-langit goa yang gelap, lalu memanggil dengan suara lembut namun jelas.

“Poseidon.”

Dari celah-celah bebatuan dan aliran air yang mengalir tenang di dalam goa, muncul wujud air yang perlahan menyatu membentuk sosok megah itu. “Ada apa? Apakah seluruh rangkaian pelatihan telah selesai dilaksanakan?” tanya Poseidon dengan nada beratnya yang dalam.

“Sudah selesai sempurna. Hapus lapisan sihir kedap suara dan perintang yang menyelimuti tempat ini. Kita akan segera kembali ke Kota Misto untuk menyaksikan kelanjutan dari perjalanan anak muda itu,” perintah Geha dengan tenang.

“Baiklah, akan kulakukan.”

Segera, lingkaran sihir tak kasat mata yang menyelimuti seluruh goa itu hancur perlahan. Cahaya alami mulai kembali masuk, dan suara dari luar pun kembali terdengar jelas. Sosok Poseidon berubah menjadi butiran air halus yang kemudian terbang masuk dan menyatu sempurna ke dalam tubuh Geha.

“Sepertinya, aku tidak akan melewatkan momen penting ini. Aku akan menyaksikan sendiri seberapa jauh ia telah berkembang,” gumam Geha pelan.

Ia memejamkan matanya sejenak, seolah berbicara pada seseorang yang tak terlihat di tempat itu. “Apakah kau melihat ini, kekasihku? Akhirnya aku berhasil mewariskan gaya pedangmu. Dengan begitu, meski suatu hari nanti nyawaku melayang, seni ini akan terus hidup melalui dirinya. Semoga kau tetap tersenyum tenang dan damai di sana…”

Suara itu perlahan hilang terbawa hembusan angin, menyisakan kesunyian yang penuh makna di dalam goa itu.

 

Di tempat lain, tepatnya di dalam arena pertarungan luas yang berada di pusat Balai Kota Misto. Suara riuh ribuan penonton memenuhi seluruh penjuru tempat itu, menciptakan suasana yang meriah sekaligus menegangkan.

“Selamat pagi dan selamat datang kembali, hadirin sekalian, di ajang bergengsi Turnamen Under Fight!” seru pembawa acara, kali ini diisi oleh seorang wanita dengan suara lantang, merdu, dan mampu terdengar jelas hingga ke barisan penonton paling belakang sekalipun.

“Seperti yang telah diumumkan sebelumnya, karena adanya insiden kecil yang mengganggu kelancaran pertandingan seminggu yang lalu, panitia penyelenggara telah memutuskan untuk mengubah aturan babak selanjutnya. Mulai saat ini, kita akan langsung melompat melewati babak penyisihan yang panjang dan memasuki babak final secara terbuka sekaligus!” lanjutnya dengan antusias yang menular.

Ia tersenyum tipis lalu menjelaskan alasan perubahan aturan tersebut. “Selain itu, para peserta dari ronde kedelapan hingga kesepuluh telah memutuskan untuk mengundurkan diri secara sukarela. Trauma yang mendalam akibat kejadian minggu lalu membuat mereka merasa belum memiliki mental yang cukup kuat untuk bertarung kembali. Hal ini membuat keputusan panitia untuk mempercepat jalannya pertandingan menjadi semakin masuk akal dan disetujui bersama.”

“Baiklah, tanpa berlama-lama lagi! Tanpa basa-basi… izinkan aku mempersilakan ketujuh peserta yang tersisa untuk segera masuk dan mengambil posisi di tengah arena!” serunya dengan suara yang ditinggikan. “Masuklah ke ARENA!”

Tujuh sosok berjalan beriringan dari pintu masuk yang berbeda, lalu menginjakkan kaki mereka di atas tanah lapang yang luas. Udara seketika berubah menjadi dingin, kering, dan penuh tekanan. Setiap peserta saling memandang satu sama lain dengan tatapan tajam dan penuh kewaspadaan, menilai kekuatan dan keahlian lawan masing-masing yang kini berkurang jumlahnya namun kualitasnya jauh lebih teruji.

“Ini adalah kesempatan yang paling tepat untuk menguji seberapa jauh kekuatan dan teknikku telah meningkat setelah seminggu ditempa keras,” gumam Fauzan pelan di dalam hati, matanya berkilau penuh semangat bertarung yang tidak dapat disembunyikan.

DING!

Sistem memberikan pemberitahuan misi baru!

Suara mekanis yang hanya dapat didengarnya sendiri tiba-tiba bergema jelas di dalam kepalanya.

“Wah, jarang sekali kau mengeluarkan suara dan memberikan tugas khusus seperti ini, Sistem,” gumam Fauzan pelan sambil tersenyum tipis. “Baiklah, coba aku lihat misi apa yang kali ini kau berikan padaku.”

Sebuah tulisan samar berwarna keemasan muncul di hadapan pandangannya:

 

[MISI KHUSUS: Menguji Hasil Latihan]

Deskripsi: Buktikan bahwa tujuh hari latihan keras tidaklah sia-sia.

• Syarat Khusus: Level akan diturunkan sementara dari 200 menjadi 50. Seluruh atribut tubuh akan disesuaikan sepenuhnya sesuai batas level tersebut. Semua keterampilan aktif, pasif, dan sihir akan disegel total — termasuk kemampuan Battle Copy. Peserta wajib bertarung mengandalkan kekuatan fisik murni, insting bertahan hidup, serta teknik berpedang yang telah benar-benar dikuasai, diperbolehkan untuk menggunakan pedang apapun.

• Hadiah: Sistem akan ditingkatkan menjadi Versi 2 dengan fitur, fungsi, dan analisis yang jauh lebih lengkap dan akurat.

• Konsekuensi Gagal: Dilarang memegang atau menggunakan senjata jenis pedang selama tujuh hari ke depan.

“Persyaratannya cukup berat dan menantang… tapi justru inilah yang paling aku butuhkan,” gumam Fauzan dengan senyum yang semakin lebar. “Tanpa bantuan angka level tinggi, tanpa kekuatan sihir tambahan, dan tanpa kemampuan menyalin. Hanya apa yang benar-benar ada di dalam diriku sendiri. Waktu yang sangat pas untuk melihat apakah latihanku membuahkan hasil nyata.”

Ia mengangguk mantap dan penuh keyakinan. “Aku sama sekali tidak merasa keberatan meski kekuatanku dikurangi dan dibatasi sedemikian rupa. Sebab pada akhirnya, seni bertarung yang sesungguhnya tidak bergantung sepenuhnya pada angka atau sihir semata.”

“Dan apapun situasinya… akulah yang akan berdiri sebagai pemenang di akhir pertarungan ini,” ucapnya tegas, lalu ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Seolah terbentuk dari udara, sebuah pedang panjang yang terbuat dari darah pekat berwarna merah gelap perlahan terbentuk sempurna di genggamannya, memancarkan kilauan samar yang tenang namun menyimpan bahaya besar, ini memang sebuah skill, ini tak melanggar aturan karena tetap lah sebuah pedang.

Baiklah, hadirin sekalian! Pertarungan babak final ini akan dimulai dalam hitungan mundur! Satu… dua…”

Suara pembawa acara menggema keras, disusul oleh keheningan mendalam yang menyelimuti seluruh arena. Ribuan pasang mata tertuju hanya pada ketujuh sosok di tengah lapangan. Suasana menjadi tegang, penuh harap dan rasa ingin tahu yang membara.

Semua orang bisa merasakan aliran energi yang mulai bangkit dari tubuh setiap peserta. Tekanan yang muncul membuat udara terasa berat, hingga bulu kuduk para penonton ikut meremang merasakan suasananya.

“TIGA! Mulai!”

Begitu kata itu terucap, aura yang luar biasa kuat meledak keluar dari tujuh arah sekaligus, menciptakan hembusan angin kencang yang menerbangkan debu dan pasir di sekitarnya.

“Pertarungan ini pasti akan sangat seru! Mari kita mulai dari sini!” seru Fauzan dengan sorot mata yang membara penuh semangat, lalu ia melesat berlari cepat tepat menuju arah Habi yang berdiri tenang di sisi berlawanan.

Melihat sosok yang mendatangi dengan kecepatan mengejutkan itu, Habi menyeringai lebar. Ia mengangkat kedua telapak tangannya, dan seketika api berwarna jingga menyala terang mengelilingi tubuhnya, memancarkan panas yang terasa hingga jarak beberapa meter. Sebagai penyihir api yang andal, ia memiliki kendali luar biasa atas elemennya, serta daya jangkau dan kekuatan serangan yang mengerikan.

“Datanglah, Fauzan! Aku sudah menunggu kesempatan ini untuk membalas rasa maluku minggu lalu! Rasakan panasnya api yang tidak akan padam!” seru Habi, lalu menyiapkan sihir pertamanya dengan gerakan tangan yang lincah dan percaya diri.

 

Bersambung...

1
Xgrim
/Sob//Sob//Sob//Sob/
Adi Alexer
kembalilah,Fauzan
Adi Alexer
KENAPA DENGAN
KAU FAUZAN?
Xgrim: dia sedang bingung
total 1 replies
Adi Alexer
lanjutkan thor
Adi Alexer
gak ngotak`
Adi Alexer
TRIO MONSTER JIRRR
urr🍈
pd tingkat dewa 🗿
urr🍈
sombong sombong kali kau zan😭😭
urr🍈
suka banget sama bahasanya ,, mangatt authorrr
kiovia
baik lahir dan batin, mohon maaf lahir dan batin
kiovia
wth
Adi Alexer
ANJAY SEKALI NIH CERITA
Baca Novel
hmmm, gaya pedang yang termasuk kuat ini kan?
Baca Novel
ada yang mesraan tuh🤭
Baca Novel
bwakakaka🤣🤣🤣
Baca Novel
bener juga kata-kata nya
Baca Novel
ada heroine nih🥰
Baca Novel
waspada sosok hitam🤭
Baca Novel
jago juga nih orang🤣
Baca Novel
gitu dong, MC nya harus pintar sedikit🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!