Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Batuk Asti 14
“Rani!” Lira berlarian masuk ke halaman rumah Rani, di sana Rani sedang berlarian, tidak dengan siapa pun, ibunya bahkan sedang sibuk menyiram tanaman di depan rumahnya yang sempat tidak terurus karena mereka ditawan di dalam rumah sendiri.
“Lira! Lira!” Rani juga ikut berteriak, seolah mereka tidak bertemu bertahun-tahun, seolah mereka adalah dua orang sahabat yang tidak bertemu setelah perang dunia kedua.
Padahal, baru beberapa hari mereka tidak bertemu karena disekap di rumah masing-masing.
“Aku rindu Rani.”
“Aku juga rindu Lira, terima kasih sudah datang ya, kamu sakit nggak kemarin.”
“Iya sakit juga kok.” Nyonya Yelak mewanti-wanti Lira untuk bilang kalau dia juga sakit, karena kalau dia tak sakit, nanti kabarnya akan menyebar aneh. Misalhnya, anak ajaib, semua temannya sakit, tapi dia tidak sakit.
Maka kemungkinan Jayabaya Kasipin akan datang semakin besar, karena mereka tahu, penyihir sangat sulit sakit, jika sakit pun, pasti karen dilukai.
Mereka percaya, kalau Dekekuoi kebal oleh penyakit, mereka punya semua ilmu tentang tanaman obat yang dimantrai, bahkan sejak kehamilan anak-anak Dekekuoi sudah dipersiapkan untuk kuat dan sehat melalui banyak mantra.
Ya, itu ada benarnya juga, tapi bukan berarti mereka menjual jiwa, mereka tahu ilmunya dan ilmu itu menjadikan mereka mampu melawan penyakit tanpa bantuan dokter atau medis.
Mereka selalu berselaras dengan semesta, tanah, tumbuhan dan bahkan benda mati, selalu bisa jadi media sihir, tidak bermain unsur, tapi seluruh wujud yang bisa dipegang dan dilihat, bisa dikendalikan dengan mantra, hanya saja, ada yang menggunakannya dengan baik, ada juga yang malah menyerang orang lain dengan banyak alasan.
Seperti mama dan papanya Lira yang dalam perjalanan, juga akan mencari pelaku dari pelepasan musang sihir itu.
“Kemarin sakit lemas sekali ya, Lira, seluruh badan rasanya lelah seolah kita habis larian dan selesai-selesai, batuk terus aku pikir aku akan menyusul Asti.”
“Ssst, Rani! Jangan bicara begitu, aku juga takut saat itu, takut kalau aku akan kehilanganmu.”
“Kau baik sekali Lira ....”
Lira menahan napas, apakah Rani ingat kemarin itu Lira membacainya mantra? Lira menatap Rani dengan sedikit berkeringat.
“Baik, kenapa?” Lira memberanikan diri bertanya, Rani menatapnya lekat, kalau memang benar Rani tahu, artinya itu bahaya dan mereka semua harus pergi dari desa itu.
Lira menunggu Rani menjawab dengan harap dan cemas.
“Baik karena lebih memikirkan diriku, takut kehilanganku, padahal kau sedang sakit juga.”
Lira menghela napas tanpa Rani sadari, pertanda kalau dia lega. Rani tidak ingat, dia hanya terharu karena Lira mengingatnya dalam sakit.
“Tentu saja aku takut kita tak bisa main lagi dan baca di perpustakaan.” Lira tertawa dipaksakan.
“Ngomong-ngomong soal itu, Dani jangan ditemani lagi ya, dia tidak menjenguk kita sama sekali, pokoknya dia kita keluarkan dari geng kita.”
“Rani, memang kita punya geng? Kan kita cuma bertiga, bukannya biasanya geng itu banyak orang di dalamnya?”
“Ya pokoknya itulah, aku nggak mau di main sama kita lagi, kita aja sakit saling memikirkan, dia pasti takut ketularan.”
“Tapi, terkadang kita harus paham juga Rani, kalau saja kita tahu akan ikut sakit, pasti kita menyesal datang ke rumah Asti kan? Bukannya itu manusiawi ya Rani?”
“Tidak ah! Aku tidak menyesal, karena kita datang itu, Asti tahu, sebelum dia meninggal dia tahu kita tetap menjenguknya, dalam kematiannya dia membawa rasa bahagia karena kita perhatikan. Memang Lira menyesal?” Lira lupa kalau Rani masih 10 tahun, tentu pemikirannya masih seputar sahabat dan solidaritas yang tinggi.
“Tidak menyesal, karena aku yakin kamu akan sembuh, tapi aku hanya mencoba memahami Dani saja, lagi pula, bahkan guru kita saja ketakutan pada kita saat tahu kita ke rumah Asti.
Jadi, jangan terlalu disalahkan seolah perbuatannya buruk sekali.”
“Kau membelanya Lira? Kau lebih sayang dia atau aku?”
Rani menjadi posesif, Lira tertawa mendengarnya.
“Kau itu nomor satu, setelah Tuhan, mama dan papa, jadi jangan ragukan kasih sayangku ya.”
Rani tersenyum senang mendengar itu, Lira jadi tertawa dalam hati, punya sahabat manusia yang tidak tahu apapun tentang dirinya, tidak memanfaatkannya dan benar-benar tulus hanya ingin bersahabat, itu sangat membahagiakan bagi Lira.
“Makan dulu ya, mamanya mana?” Mamanya Rani bertanya.
“Mama dan papa sedang ke rumah kerabat, ada keperluan, aku sama kakak sepupuku, ini kak Rino bu, terima kasih ya, tapi kami akan makan malam di rumah.” Lira menolak dengan sopan.
“Ih beneran nih nggak mau makan di sini aja?”
“Terima kasih bu, kakak sepupuku Ulis sudah memasak untuk makan malam kami, takut dia ngambek kalau kami makan di luar sementara dia sudah masak.”
Lira menolak, Rino juga mengangguk tanda setuju kalau lebih baik mereka pulang, karean Lira sudah bertemu dengan Rani.
Lira dan Rani berpelukan, berpamitan lalu Rino dan Lira berjalan pulang sebelum jam malam diberlakukan.
“Kau senang?” Rino bertanya.
“Senang, senang sekali.”
“Harusnya tadi kita makan di rumah Rani, Lira. Kau tahu, makanan Ulis itu sangat buruk.”
“Nggak enak?”
“Yah, kau rasakan saja nanti, seingatku, dia sangat tidak bisa masak, semoga dia sudah memperbaiki kemampuan memasaknya ya.” Rino berharap, tapi harapannya tidak akan terwujud.
Lira dan Rino sudah di meja makan, mereka berdua saling pandang saat suapan nasi dengan lauk telur dadar masuk ke mulut mereka, sangat asin dan tak karuan rasanya.
“Gimana, lumayan kan?”
“Ini Cuma telur dadar loh, kalau kau tidak yakin, jangan masukkan apapun, hanya telur saja, nanti kita bisa tambahkan cabe ulek dan lain-lain kalau mau. Tapi jangan kau tambahkan bumbu ke telur dadarnya!” Rino marah, Lira hanya tertawa karena Rino membuktikan omongannya.
“Aku hanya menambahkan garam dan gula, kata Nyonya Yelak nanti rasanya jadi gurih! Tapi sepertinya kebanyakan ya, dan tidak menyatu, terkadang terasa asin, terkadang terasa manis. Apa aku salah menaruhnya terpisah?”
“Ulis!!! Kau harusnya mencampurkan bumbunya sembali mengaduk telurnya sebelum masuk wajan, kau pasti menaruhnya terpisah, makanya rasanya jadi seenggak enak ini!”
“Kau peramal sekarang? Selain tukang sihir kau bisa ramal juga?” Ulis mencoba untuk bercanda agar Rino tidak mengamuk.
“Ah sudahlah! Tahu gitu tadi makan di rumah Rani saja!”
“Emang kalian tadi ditawarin makan di sana?” Ulis bertanya.
“Iya! Tapi Lira menolak, katanya nggak enak sama kamu yang pasti udah masak, tapi lihat, kami menyesal, kau menyesal kan Lira.” Rino meminta dukungan.
“Sedikit.” Lira memberi ukuran dengan jempol dan telunjuknya, seolah itu masih bisa dimaklumi dan telur yang Ulis buat masih bisa dimakan.
“Kau makanlah itu telurnya!” Rino menantang Lira.
“Aku sudah kenyang, aku mau cuci piringku ya, maaf Ulis, telur dadarnya aku kembalikan, nasinya kuhabiskan dengan kecap saja, terima kasih karena sudah berusaha.”
“Aku terharu, terima kasih Lira karena sudah percaya padaku, lain kali aku akan berusaha lebih baik lagi ya, maafkan aku karena malam ini kita gagal makan telur dadar.”
“Iya tidak apa-apa.”
Rino menatap mereka dengan kesal dan akhirnya ikut makan pakai kecap saja, sementara telurnya akan dibuang, karena benar-benar tak bisa dimakan.
Sementara musang di kandang sudah makan pisang dan tubuhnya tak kurus lagi, musang itu sehat dan sudah tak membawa mantra sihir lagi karena sihir telah dilepaskan oleh Lira kemarin malam itu saat mereka kembali dari rumah Rani setelah menyembuhkannya.
Musang itu akan dipelihara saja, nanti jika sudah siap, baru akan dilepas, itu pun jika dia mau pergi.
Musang yang ini tak menimbulkan penyakit lagi, tapi banyak musang lain yang sudah dimantrai dan membawa sihir pada aromanya, siap dilepas di tempat umum, apakah Nyonya dan tuan Yelak mampu menghalangi rencana Dekekuoi jahat itu?