Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Raynor
Mata Vivian melotot sempurna, ketika Raynor kembali menunduk perlahan. Kali ini tak ada lagi alasan tersembunyi, tak ada lagi sandiwara kecoak untuk dijadikan dalih. Tatapannya lekat, penuh kehangatan sekaligus kerinduan yang lama tertahan.
Jemari besarnya menyentuh sisi wajah Vivian, mengusap pelan pipi yang merona merah padam. Napas mereka beradu pelan, menyatu di udara yang terasa semakin hangat dan mendebarkan.
Tanpa terburu, Raynor kembali melakukan penyatuan. Ciuman yang yang penuh kelembutan, hangat, dalam, dan penuh perasaan.
Bukan lagi sekadar kecupan sekilas atau tak sengaja seperti dulu. Kali ini ia menumpahkan segala rasa yang selama ini ia simpan rapat, secara sadar, tak bersembunyi lagi. Kasih sayang yang tak terucap, kerinduan yang menggebu, dan keinginan untuk selalu melindungi gadis ini apa pun yang terjadi.
Vivian sempat terkejut, tubuhnya menegang, namun perlahan ia menyerah pada rasa yang sama. Matanya terpejam rapat, tangannya yang semula menekan dada Raynor kini melingkar pelan di leher pria itu, membalas kehangatan dengan segala ketulusan hatinya.
Di detik itu, segala keraguan, rasa takut, dan luka masa lalu seolah menguap begitu saja, hanya ada mereka berdua, terbungkus dalam kedekatan yang terasa begitu nyaman, hanya milik mereka.
Penyatuan yang cukup lama, namun terasa sekejap, kelembutannya cukup membuat dunia di luar seolah berhenti berputar.
Raynor menarik wajah sedikit, kening mereka saling bersentuhan, napas mereka masih memburu beradu.
"Aku tidak butuh alasan lagi untuk mendekatimu, Vivian," bisik Raynor lirih, suaranya penuh getaran kejujuran. "Kamu seperti pelangi yang mewarnai hidupku, di saat semuanya abu-abu. Tetap di sampingku, Vi. Kamu adalah satu-satunya alasan aku merasa hidup."
Vivian tak mampu berkata-kata, hanya air mata haru yang hampir menetes di sudut matanya. Ia menatap manik hitam Raynor dalam-dalam, dan di sana ia melihat masa depan, di mana ia tak lagi harus berjalan sendirian.
Namun keheningan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba ketukan pintu sebelah terdengar cepat dan keras, disusul suara Stella yang melengking dari luar.
"Sayang! Kamu udah siap belum? Kalau lama kita bisa telat naik pesawat!"
Dunia hangat mereka seketika pecah. Raynor menghela napas panjang, mencium kening Vivian sekali lagi sebagai penenang, lalu tersenyum tipis namun tegas.
Ia merapikan sedikit rambut dan pakaian gadis itu, sebelum berjalan membuka pintu kamar, menghadapi kenyataan yang masih harus mereka jalani.
...****************...
Udara kabin pesawat terasa sejuk, tapi Vivian merasa kepanasan, dadanya sesak tak beraturan. Pikirannya terus berputar, dipenuhi bayangan ciuman Raynor barusan, lembut, mendalam, dan begitu penuh makna yang tak berani ia terima sepenuhnya.
Jantungnya masih berdebar kencang tiap kali ingatan itu kembali menyergap. Ia menatap ke luar jendela, awan putih berlalu begitu cepat, namun perasaannya tertahan di tempat yang sama.
Di sebelah sana, Stella bersandar manja di lengan Raynor, kepalanya menyandar nyaman di bahu pria itu. Sesekali Stella berbisik sesuatu yang membuat Raynor mengangguk pelan, jawabannya singkat dan datar.
Vivian menatap mereka sekilas, ada rasa perih yang halus menyelinap, namun ia segera membuang jauh pandangannya. Ia tahu posisinya, Raynor adalah kekasih Stella, sekaligus kakak tirinya. Semua yang terjadi di antara mereka seharusnya tak pernah ada.
Perjalanan pulang terasa begitu singkat sekaligus begitu panjang. Ketika pesawat akhirnya mendarat dan mereka keluar dari bandara, Raynor memanggil taksi untuk Stella lebih dulu.
"Hati-hati," ucap Raynor datar saat Stella hendak masuk ke dalam taksi.
Stella tersenyum manja, menarik leher Raynor sedikit ke bawah dan mengecup pipinya sekilas. "Kamu juga sayang. Sampai ketemu lagi besok." Pintu taksi tertutup, dan kendaraan itu perlahan melaju meninggalkan mereka.
Giliran Vivian yang menaiki taksi, sendirian, karena kakaknya ada urusan pekerjaan. Di dalam mobil, suasana hening. Vivian menatap jalanan kota yang berkelebat di luar kaca, pikirannya masih kacau balau.
Sesampainya di rumah, suasana terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara langkah kakinya menggema di lantai bawah. Vivian langsung berjalan menuju tangga, naik ke kamarnya di lantai dua.
Ketika melewati pintu kamar sebelah, kamar Satria, telinganya menangkap suara grasak-grusuk barang yang dipindahkan, koper yang ditarik, dan lemari yang ditutup pelan.
Langkah Vivian terhenti sejenak. Dadanya berdebar lagi, kali ini bukan karena cinta, melainkan karena kenangan pahit dan perpisahan yang tak terucap.
Ia tak berniat menoleh lagi, tak sanggup melihat wajah pria yang dulu begitu ia cintai namun kini harus ia lupakan. Vivian mempercepat langkahnya, berjalan lurus menuju pintu kamarnya sendiri.
Namun di detik terakhir, saat pintu kamar Satria sedikit terbuka, Satria sempat menoleh dan menangkap sosok Vivian yang berjalan memunggunginya. Matanya membelalak spontan, tangannya segera berhenti bergerak.
"Vivian, tunggu..." serunya cepat, suaranya penuh kerinduan sekaligus keputusasaan.
Tapi terlambat. Vivian tak menoleh sedikit pun. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dengan pelan namun tegas di belakangnya. Klik. Suara kunci pintu terdengar jelas di keheningan lorong.
Satria terpaku berdiri di tempatnya, tangan masih terangkat hendak memanggil lagi, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Hatinya terasa perih luar biasa. Ia tahu, pintu hati Vivian untuknya kini telah tertutup rapat, sama rapatnya dengan pintu kamar yang baru saja ia lihat di depannya.
Waktu bergulir begitu cepat. Pagi itu tampak cerah, dipenuhi semangat baru yang membara di dada Vivian. Gadis itu sudah tampil rapi dan segar, siap menyambut hari pertamanya di kantor pusat. Bahkan sarapannya pun ia lewatkan, terlalu antusias dengan semangat yang berkobar.
Ia langsung menarik lengan Raynor yang masih tenang menyeruput kopi hitamnya di meja.
"Masih pagi banget, Vivian. Kamu juga belum sarapan," ucap Raynor lembut, namun tetap menurut berdiri dan mengikuti langkah adik tirinya.
"Aku lagi semangat banget nih, Kak! Sarapannya nanti aja di jalan," jawab Vivian riang, terus menarik tubuh besar pria itu menuju pintu depan.
Namun langkah Raynor tiba-tiba terhenti di ambang pintu. Vivian masih menarik lengannya kuat-kuat, tapi tubuh Raynor tak bergeser sedikit pun.
"Kak, ayo dong!" rengek Vivian tak sabar.
Raynor tersenyum tipis, lalu seketika mendekap tubuh mungil gadis itu dan mengecup bibirnya sekilas. Lembut namun penuh perasaan. Vivian tertegun, matanya membelalak sejenak sebelum mereka saling bertatapan lekat. Jantung Vivian berdebar hebat.
"Kak..." Vivian menyentuh bibirnya dengan gemetar.
"Mau lagi?" Raynor tersenyum menggoda, lalu kembali mengecupnya, kali ini lebih lama, dengan lumatan halus yang membuat napas Vivian tercekat.
"Kak, emang boleh begini? Kita kan kakak adik..." gumam Vivian polos, dadanya masih bergemuruh kencang.
"Memangnya siapa yang melarang, hmm?" Raynor mencolek hidung Vivian gemas, tatapannya begitu dalam.
"Tapi... Kakak kan pacarnya Stella..."
Seketika senyum di wajah Raynor lenyap. Ia terdiam, mendengkus kesal ketika nama itu disebut. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia langsung meraih tangan Vivian dan menariknya menuju mobil.
Wajahnya kembali datar, dingin, dan tertutup rapat, seolah topeng profesionalnya kembali terpasang sempurna.
Perjalanan ke kantor berlangsung dalam keheningan. Mereka menuju kantor cabang terlebih dahulu, beberapa urusan administrasi masih harus diselesaikan sebelum Vivian benar-benar pindah ke kantor pusat.
Vivian menatap Raynor dari samping yang tampak fokus mengecek dokumen sambil berdiri.
Di luar matahari pagi bersinar terang, namun di dalam hati Vivian masih terselip tanya besar, di mana posisi dirinya sebenarnya di hati Raynor, dan kapan badai bernama Stella akan datang menghantam mereka.