Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
[maklumi kalau ceritanya masih kurang, karena author masih belajar, dan meski udah berpengalaman, tetaplah belajar, karena dengan belajar, kalian tetap bisa rendah hati, dan janganlah sombong meski sudah berpengalaman]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Di Kandang Singa
Pintu kayu mahoni raksasa berukiran rumit itu didorong kasar dari luar. Fajar terhuyung beberapa langkah ke depan saat tangan kekar sang polisi gadungan mendorong punggungnya tanpa ampun. Suasana ruang direksi di lantai tertinggi itu terasa luar biasa mencekam, didominasi furnitur berwarna gelap dan suhu pendingin ruangan yang sengaja diatur pada tingkat terendah hingga menusuk tulang.
Brak!
Laptop dan ponsel milik Fajar dilempar begitu saja ke atas meja kaca tebal.
Di balik meja kebesaran itu, Pak Ardi duduk menyandar dengan angkuh. Kursi kulit mewahnya diputar perlahan. Senyum bengkok yang memuakkan tercetak jelas di wajah pria paruh baya itu, memperlihatkan aura predator yang merasa menang karena telah memojokkan mangsanya. Ia memberi isyarat kecil dengan dagunya. Tanpa banyak bicara, ketiga polisi gadungan itu langsung keluar dari ruangan dan mengunci pintu rapat-rapat dari luar, membiarkan mereka berdua terisolasi.
Fajar berdiri tegak di tengah ruangan, membenarkan kerah jasnya yang sedikit kusut dengan gerakan perlahan. Di balik wajah tenangnya, roda gigi di kepalanya berputar cepat menganalisis situasi.
'Tak percaya, dia bisa lakukan itu!' batin Fajar dengan rahang sedikit mengeras. 'Menyewa preman dan memakaikan mereka seragam reserse palsu demi menyita aset kerjaku tanpa memicu alarm keamanan gedung? Pria tua ini benar-benar tidak peduli lagi pada aturan. Gue harus cari cara lain untuk mengulur waktu sampai pertunjukan utamanya siap.'
"Selamat datang di kandang singa, Nak Fajar," sapa Pak Ardi memecah keheningan. Suaranya serak, berat, dan dipenuhi ancaman berlapis. "Kau tahu, butuh keberanian luar biasa—atau kebodohan mutlak—untuk berani mengirim kuda troya ke sistem komputerku."
Pak Ardi mencondongkan tubuhnya ke depan, menautkan jemarinya di atas meja sambil menatap Fajar dengan sorot meremehkan. "Sekarang, kau terkurung. Tidak punya senjata, tidak punya akses sistem, dan sebentar lagi... kau tidak akan punya masa depan di industri mana pun. Jadi, mari kita persingkat penderitaanmu. Berapa kata sandi untuk mematikan pelacak di file itu?"
Mendengar ancaman pemusnahan karir itu, Fajar menundukkan kepalanya. Bahunya perlahan mulai bergetar pelan. Ia memundurkan langkahnya sedikit, seolah pesona intimidasi Pak Ardi baru saja sukses meruntuhkan seluruh pertahanan mentalnya.
"P-Pak Ardi... tolong, saya mohon jangan hancurkan masa depan saya," suara Fajar mendadak terdengar parau dan bergetar, memalsukan kepanikan dengan presisi tingkat dewa. Ia meremas ujung jasnya, menghindari kontak mata langsung dengan sang bos mafia kantoran. "Saya... saya cuma analis biasa. Saya tahu saya salah karena terlalu ikut campur."
Pak Ardi tertawa keras. Tawa bariton yang menggema memenuhi ruangan kedap suara itu, memancarkan kesombongan yang tak tertandingi.
"Bagus. Akhirnya kau sadar di mana posisimu berdiri. Di dunia korporat ini, ikan kecil tidak akan pernah bisa menelan hiu, Fajar!" cemooh Pak Ardi sambil memukul meja kacanya. "Berikan password-nya sekarang. Jika kau kooperatif, aku mungkin akan sedikit berbaik hati membiarkanmu keluar dari gedung ini dengan sepeser uang pesangon, alih-alih dijemput mobil tahanan yang sesungguhnya."
Fajar perlahan mengangkat wajahnya yang sengaja ia buat tampak pucat pasi. Matanya melirik ragu ke arah laptopnya yang disita. "S-sandinya... itu enkripsi alfanumerik tingkat tinggi, Pak. Saya harus mengetikkannya sendiri di terminal command. Kalau salah input tiga kali, file-nya otomatis terkunci permanen dan virus pelacaknya akan langsung terkirim ke server kejaksaan."
Pak Ardi mengerutkan dahi, matanya memicing tajam mencoba mencari kebohongan. Namun, melihat gestur Fajar yang tampak begitu menyedihkan dan gemetar ketakutan, kewaspadaan pria tua itu menurun drastis. Kesombongan selalu menjadi titik buta terbesar bagi seorang tiran.
"Jangan macam-macam denganku," desis Pak Ardi memperingatkan. Ia menggeser laptop itu ke ujung meja, memberikan ruang bagi Fajar. "Ketik sekarang, dan biarkan aku melihatnya."
Fajar maju dengan langkah gontai. Namun di dalam batinnya, ia menyeringai sangat dingin.
'Tiga... dua... satu... umpan berhasil ditelan mentah-mentah.'
Tangannya yang berakting gemetar mulai menyentuh tuts keyboard. Namun, yang ia ketik bukanlah kata sandi untuk mematikan pelacak, melainkan deretan kode backdoor rahasia. Itu adalah sinyal pemicu, tanda bahwa ia telah berhasil mengakses kembali jaringannya dari dalam ruangan Pak Ardi, sekaligus memberi lampu hijau bagi sosok bayangannya yang sedang menunggu di bawah.
Sementara Fajar masih memainkan sandiwara kepanikannya di lantai teratas, jauh di kedalaman lantai basemen gedung, udara dingin menderu kencang dari kipas pendingin ruang Server Utama. Barisan rak server raksasa menjulang tinggi layaknya pilar-pilar monolit, memancarkan kedipan lampu indikator hijau yang berirama dalam ruangan berpencahayaan redup tersebut.
Di antara lorong rak besi itu, berdiri sosok pria jangkung berpakaian serba gelap. Bayangan pinggiran topi menyembunyikan separuh wajahnya, namun gurat rahang dan senyum tipisnya merupakan replika sempurna dari wajah Fajar.
Tiba-tiba, layar ponsel khusus di genggamannya bergetar dan menyala terang. Sebuah notifikasi hijau masuk: [Backdoor Access Granted - F-Terminal].
"Tepat waktu," gumam pria misterius itu. Suaranya terdengar sangat tenang, seringainya sedingin es.
Ia melangkah mantap mendekati konsol terminal utama perusahaan—jantung digital yang mengendalikan seluruh lalu lintas data gedung ini. Tanpa ragu, ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah flashdisk hitam polos—senjata asli yang mati-matian dicari oleh polisi gadungan di lantai atas tadi—lalu menancapkannya dengan kasar ke port utama server.
Jemari pria itu seketika menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengerikan, meretas masuk melewati sistem keamanan perusahaan menggunakan jalur belakang yang baru saja dibuka oleh Fajar.
"Selamat tinggal, PT arunika jaya" bisiknya pelan.
Ia menekan tombol Enter dengan satu sentuhan mematikan.
Dalam hitungan detik, rentetan malware pelumpuh menyebar seperti wabah. Bunyi peringatan sistem berdering saling bersahutan. Lampu indikator hijau di puluhan rak server itu berkedip panik menjadi merah menyala, sebelum akhirnya mati total satu per satu beriringan dengan suara dengungan mesin yang terputus paksa. Shutdown.
Sosok itu tidak hanya mematikan jaringan Pak Ardi, tetapi juga mengunci seluruh basis data perusahaan dari sistem pusat dan memutus jalur komunikasi enkripsi lantai direksi ke dunia luar. Sang tiran kini terisolasi, buta, dan tuli di dalam ruangannya sendiri.
Di lantai atas, Pak Ardi masih mengira Fajar sedang mengetik password di laptop sambil gemetar ketakutan. Tapi tiba-tiba, layar komputernya mati. Lampu indikator Wi-Fi di ruangannya terputus.
Di ruang direksi yang kedap suara itu, Pak Ardi mengerutkan kening saat layar monitor di mejanya tiba-tiba berkedip panik, lalu mati total menyisakan layar hitam pekat. Indikator jaringan dan Wi-Fi di sudut ruangan yang tadinya menyala hijau kini padam sepenuhnya. Ia mencoba mengklik mouse komputernya dengan kasar berulang kali, namun tidak ada respons sama sekali.
"Apa yang kau lakukan pada sistemku, sialan?!" bentak Pak Ardi, kepanikannya mulai menyembul menembus topeng kesombongannya.
Di saat itulah, bahu Fajar yang sedari tadi bergetar ketakutan perlahan berhenti. Pemuda itu menarik napas panjang, lalu menegakkan punggungnya dengan santai. Ekspresi pucat pasinya menguap tak berbekas dalam hitungan detik, digantikan oleh tatapan sedingin es dan seringai tajam yang meremehkan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap bos besarnya itu layaknya seorang pemburu yang melihat mangsanya masuk perangkap.
"Ahh, kepancing juga lu, Pak Tua!" ejek Fajar dengan nada suara yang kembali tenang dan penuh dominasi. Ia menendang pelan meja kaca itu agar menjauh. "Semua server utama Anda sudah mati total. Bukti pencucian uang pt arunika jaya sekarang sedang dalam perjalanan menuju email kepolisian dan kejaksaan. Waktumu habis. Mari ke polisi sekarang."
Wajah Pak Ardi seketika memerah padam, urat-urat di lehernya bermunculan menahan amarah yang meledak-ledak. Ia baru sadar akting ketakutan Fajar hanyalah ilusi untuk mengulur waktu!
Namun, sebagai rubah tua yang licik, Pak Ardi tidak akan menyerah begitu saja. Menolak pasrah, pria paruh baya itu dengan cepat merogoh bagian bawah mejanya, menekan sebuah tombol darurat analog yang memicu bunyi alarm internal yang memekakkan telinga.
Bersamaan dengan itu, rak buku raksasa di belakangnya bergeser membuka sebuah pintu lift rahasia.
Pak Ardi menyambar telepon satelit darurat dari lacinya. "Blokir semua akses lobi dan lantai direksi! Tahan anak itu! Siapkan helikopter di atap sekarang!" teriaknya memberi perintah kepada sisa anak buahnya yang setia.
"Kau pikir bisa menangkapku semudah itu, anak ingusan?!" geram Pak Ardi.
Sebelum Fajar sempat melompati meja untuk menangkap kerahnya, Pak Ardi sudah melesat mundur dan masuk ke dalam lift darurat tersebut. Pintu baja itu tertutup rapat dengan dentuman keras yang menggema, mengunci Fajar sendirian di dalam ruang direksi.
Sang tiran memang berhasil kabur dengan ekor di antara kedua kakinya, namun genderang perang yang sesungguhnya baru saja ditabuh.
[Bersambung]