Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31_Tawaran menuju kebebasan
Setelah kejadian itu aku pergi bersama yang lainnya ke area kumuh untuk melakukan negosiasi. Aku menawarkan kepada mereka satu hal yang selama ini belum pernah mereka dapatkan. Sebuah kebebasan
Roth mengajakku melihat-lihat keadaan area kumuh. Alisnya mengerut, dia sedikit menundukkan kepalanya. Bau selokan dan besi karat menusuk hidung begitu kami masuk lebih dalam.
"Aku akan mengajakmu bertemu beberapa orang yang menjadi perwakilan tiap ras di area ini, akan tetapi..."
Aku menoleh ke arahnya dan mengerutkan dahiku. "Tetapi kenapa? Apa ada hal yang tidak boleh kulihat?"
Dia langsung menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya ke samping. "Tidak! Tidak! Akan tetapi... sepertinya akan jauh lebih mudah menunjukkannya secara langsung kepadamu."
Setelah berjalan cukup lama kami akhirnya sampai di sebuah rumah. Rumah itu terlihat cukup tua, kaca jendelanya pecah, atapnya bolong, dan cat dindingnya sudah banyak yang terkelupas. Dari dalamnya tercium bau oli terbakar dan bubuk mesiu yang menyengat.
Saat Roth membuka pintu rumah itu tiba-tiba saja terdengar suara perempuan berteriak panik dari dalam.
"JANGAN BUKA PINTUNYA!"
*BOOM!*
*Duarrr!*
Ledakan keras menggelegar dan semburan asap hitam pekat menyembur keluar.
"Ukhuk! Ukhuk!"
Aku dan Roth terbatuk-batuk sambil menutupi hidung.
Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam dengan merunduk. Lantainya berantakan penuh kertas formula dan serbuk kristal. Saat aku berjalan ke dalam, kakiku tidak sengaja menendang sesuatu.
*Klonk!*
Sebuah batu sihir tergeletak di lantai.
Dan secara tiba-tiba batu itu mengeluarkan cahaya. Cahayanya berdenyut tidak stabil.
Aku yang melihat itu langsung membelalak. "SEMUA CEPAT MENJAUH! ITU MAU MELEDAK!"
Batu itu menyala dengan cahaya yang lebih terang dan bergetar hebat. Aku langsung menyambarnya dan berlari ke arah luar.
Aku langsung menoleh ke arah sekitar, menatap tembok kota yang dekat dengan area kumuh. Tanpa pikir panjang aku melempar batu itu sekuat tenaga. Batu itu melesat cukup cepat dan tinggi, *Fiuuuuh!* sampai bisa melewati tembok kota, kemudian mendarat di dataran luar kota dan akhirnya...
*BOOOOMM!!!*
Tanah bergetar. Burung-burung beterbangan panik. Terjadi ledakan yang menggemparkan seluruh kota. Asap hitam membumbung tinggi sampai terlihat dari alun-alun.
"Apa ada pemberontakan di kota Megral? Mana mungkin, kota itu dijaga ketat oleh para ksatria suci."
Aku menatap asap hitam itu dengan dahi sedikit mengerut. Ledakan itu... sama persis seperti ledakan yang menghancurkan desa Stella dulu.
Roth dan Stella berlari ke arahku dengan wajah pucat dan keringat mengucur.
"Sora! Kau tidak apa-apa!?" Stella langsung menghampiriku dan memegang tanganku dengan erat.
Roth langsung memegang pundakku dengan erat. "Kau tidak apa-apa kan, bocah!?"
Aku langsung mengangguk pelan. "Hmm... aku tidak apa-apa."
Dari balik asap yang masih mengepul, terdengar suara langkah kaki kecil.
*Tap... tap...*
Seorang gadis dwarf muncul dari belakang Roth. Matanya berwarna abu-abu baja, rambut coklatnya cukup panjang berantakan karena ledakan, dia juga mengenakan kacamata yang retak. Dia langsung menunduk dalam di depanku, bahunya bergetar hebat.
"Maafkan aku! Aku sungguh menyesal!" Suaranya hampir menangis.
Aku sedikit tersentak lalu menatapnya dengan dahi mengerut. "Begitu ya, ternyata kau yang menaruh batu sihir sembarangan seperti itu."
Roth langsung berjalan ke arahku dan menundukkan kepalanya juga. "Mohon maaf atas kecerobohan adikku, bocah."
"Eh? Adikmu? Jadi... gadis ini adalah adikmu?" Aku menatap ke arahnya.
Gadis itu membuang muka ketika aku menatapnya, dan mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
Tiba-tiba saja Stella langsung menyikut pinggangku dengan keras.
*Duk!*
"Hmm... dasar lelaki!"
Roth langsung menghampiri dan memegang pundakku sambil menggeleng pelan. "Ahh... maaf."
Tiba-tiba saja sesaat setelah Roth melepaskan tangannya dari pundakku, ada sesuatu yang lembut memelukku dari belakang dengan pelan.
Aku langsung tersentak dan menaikkan bahu. Aku menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian ketat sedang menempelkan dadanya sambil menatapku dengan senyum tipis.
"Hehh... kau benar-benar sangat tampan ya. Bagaimana? Mau bermain denganku?~"
Dahiku mengerut. Aku menatapnya tajam. _Legacy Creation Mana._
*Sring!*
Aku langsung membuat pedang mana dan menebas sihir yang dia gunakan.
*SLASH!*
"Eh!?" Dia langsung membelalak. Tubuhnya yang tadinya samar mulai terlihat jelas. Seorang Dark Elf muncul di hadapanku.
"Ka-kau ini siapa? Bagaimana bisa kau memotong sebuah sihir?"
Aku menatap wajahnya dengan tatapan datar. "Dengar baik-baik. Jika kau melakukan itu lagi di depanku, aku akan menebasmu. Kau mengerti!?"
Dia langsung mengangguk cepat. "A-aku minta maaf. Aku kira kau adalah manusia menyebalkan yang sering datang ke sini."
Bahuku kembali menurun. "Begitu ya." Aku langsung menunduk sedikit. "Maaf karena sudah menakutimu."
Seorang Elf berjalan ke arah kami dengan langkah tenang.
*Tap... tap...*
Di pinggangnya terdapat sebuah pedang.
"Hehh... sepertinya kau membawa orang yang luar biasa ya, Roth."
Roth langsung menoleh. "Ohh... Dio ya?"
Elf itu berdiri di hadapanku sambil menatapku dengan senyum tipis. "Heh, jadi anak ini yang kau bilang kemarin."
Dia menarik pedang dari sarungnya.
*Sring!*
Dan menghunuskannya ke arahku. "Tidak hanya Roth, kau bahkan bisa membuat takut Syia yang dijuluki penyihir ilusi."
Aku melirik ke arah gadis Dark Elf itu.
Dia tersenyum lebar dan mulai mengerutkan dahinya. "Tapi... bukan berarti aku akan mengakuimu!"
*Wusss!*
Dia menerjang ke arahku. Aku langsung melompat ke samping dan mengambil posisi siaga.
Dia berlari mengitariku dan menyeret pedangnya ke tanah
*Srekkk!*
Debu-debu mulai terangkat tebal, pandanganku tertutup.
Saat aku menatap ke sekitar, tiba-tiba sebuah kilatan cahaya muncul di belakangku.
*Fwoosh!*
Elf itu maju ke arahku.
"Elemental Sword: Flamebrand! (melapisi pedang penggunaannya dengan sihir roh api)"
*FWOOOSH!*
Pedangnya langsung dibalut oleh api yang membara.
Aku langsung menghindar ke samping lalu berguling. Saat pedang itu hampir menyentuh tanah, api di pedang itu berdesis dan menghilang.
*Pussssh...*
Pedang itu hanya tertancap ke tanah saja.
*Thuk!*
Aku yang melihat itu langsung melotot. "apa yang terjadi?"
Roth maju ke arahku sambil merengutkan wajahnya. "Sebenarnya mereka bertiga ini adalah orang-orang yang memiliki sihir unik, akan tetapi..."
"Mereka tidak bisa menggunakannya sesuai kehendak mereka sendiri."
Roth dan semuanya langsung menunduk dalam diam.
Aku menatap ke arah mereka bertiga. "Tapi kenapa mereka tidak bisa menguasainya, terutama adikmu?" Aku menunjuk ke arahnya.
Dia langsung tersentak dan membelalak.
Aku langsung menoleh ke arah sang Elf. "Kau tadi melempar sebuah kertas yang berisi formula sihir kepada Elf itu kan?"
Dia mengangkat wajahnya, matanya melebar. "Kenapa... kenapa kau bisa tahu itu!?"
Aku mengerutkan dahiku. "Seseorang yang bisa mengumpulkan batu sihir dan bereksperimen seperti ini, sudah jelas bukan orang biasa. Sihir Formula yang memperkuat benda lewat formula, kan? Menarik."
Aku menatapnya lurus. "Jadi, apa saja yang sudah kau buat dengan sihir itu? Alat pemindah jiwa?"
Semua orang yang ada di situ langsung membelalak.
Roth mengepalkan tangannya dan mengambil kapak yang ada di punggungnya.
*Grekk!*
"Aku minta maaf, bocah. Sepertinya aku harus menutup mulutmu untuk selamanya."
Aku melirik ke arah Roth dengan tatapan datar. "Tenang saja Roth, aku tidak akan memberitahukan kepada siapapun. Hanya saja-"
"Kami ingin kau membantu kami untuk mengenali orang-orang yang jiwanya telah dipindahkan oleh alat itu!" Stella tiba-tiba datang dan menyela.
Aku menoleh ke belakang. "Ohh.. jadi kau sudah selesai?"
Dia tersenyum lebar. "Tentu saja!"
Roth langsung melangkah maju sambil berkeringat. "Bocah, sebenarnya apa yang kau rencanakan?"
Aku menatap mereka dengan wajah datar. "Ahh... aku hanya ingin menyelamatkan orang-orang seperti kalian. Hanya itu saja."
Dio langsung mencabut pedangnya dan menyarungkannya kembali.
*Cetak!*
"Jangan bercanda! Dengan kekuatan aneh seperti itu, kau bisa saja menundukkan kami secara paksa jika kau mau."
Aku menoleh ke arah Elf itu. "Memang benar aku bisa saja, tapi... tujuanku bertentangan dengan cara itu."
Dark Elf itu langsung memiringkan kepalanya. "Ya ampun, aku benar-benar tidak mengerti sama sekali tentang maksud rencanamu."
Aku memandangi mereka semua, lalu membuang nafasku. "Huhh... intinya aku ingin menyelamatkan takdir hidup kalian. Sebenarnya tujuanku adalah menghancurkan takdirku sendiri, tapi aku sadar untuk mencegah dampak tersebut, aku harus membantu orang-orang agar dapat merubah takdirnya. Hanya itu saja..."
Elf itu memandangi pedangnya dan mengepalkan tangannya dengan erat sampai berdarah menetes.
*Tes...*
Semua orang langsung tersenyum tipis dan berjalan ke hadapanku. Dark Elf itu menaruh tangannya di kepalanya sambil menatapku.
Mereka berdiri di hadapanku dan menjulurkan tangan mereka yang sudah mengepal.
"Kalau begitu... kami terima bantuanmu itu."
Dark Elf itu melangkah paling depan. Dia gak lagi pasang senyum goda. Tatapannya serius, tapi hangat. Dia menjulurkan tangannya paling dekat ke arahku.
"Hey, namau sora kan?... tadi kau marah karena aku memgerjaimu, tapi setelah itu kau langsung minta maaf padaku." Suaranya pelan. "Jujur aja, aku suka sifatmu yang itu"
Dia menghela napas kecil.
"Huhh.. Kau marah saat harus marah, dan tau kapan harus lembut. Di area kumuh ini... sudah lama sekali tidak ada manusia yang mau meminta maaf kepada ras seperti kami. Kebanyakan hanya main tunjuk-tunjuk saja. Tapi Kau berbeda. Itu kenapa aku mau ikut rencanamu. Bukan karena kau kuat... tapi karena kau benar-benar unik"
Dia lalu menepuk pundakku pelan,
*Tap.*
Aku menatap ke arah tangan mereka. "Kalau begitu, mari kita menjalankan rapat strategi kita!" Aku langsung membalas tos mereka.
*Tok!*