Indonesia
NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Suasana halaman belakang vila yang menyatu langsung dengan bibir pantai Seminyak malam itu benar-benar meriah. Pendar lampu tumblr kekuningan yang digantung melingkar di antara batang pohon kelapa menciptakan atmosfer yang hangat. Asap mengepul wangi dari pemanggang BBQ besar, membawa aroma gurih udang galah mentega, cumi madu, dan kerang bakar yang membakar selera makan. Suara deburan ombak malam berpadu seru dengan riuh obrolan konvoi keluarga besar yang duduk melingkar di meja kayu panjang.

Di tengah sesi makan malam yang lahap itu, Gino yang sudah menghabiskan potongan ikan bakar pertamanya, langsung menopang dagu dengan cengiran buaya andalannya. Insting kompor maba satu ini seketika meronta-ronta begitu melihat Bang Edward duduk di seberangnya, sibuk mengupas kulit udang untuk Kak Anita dengan gaya protektif.

Gino sengaja mengetuk gelas es jeruknya dengan garpu, memotong keriuhan meja. "Ehem! Om Wira, Om Crish, Tante Ellen... gue mau nanya nih. Sebagai maba yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, gue agak prihatin sama hasil pemotretan estetik di pantai tadi sore ."

Aurel yang sedang mengunyah cumi bakarnya langsung menghentikan gerakan sendoknya. Firasatnya mendadak tidak enak. Ia melotot tajam ke arah Gino, namun cowok itu mengabaikannya dengan wajah tanpa dosa.

"Maksud lo apa, Gin?" todong Bang Edward langsung menaikkan sebelah alisnya, masih dengan pisau makanan di tangan.

"Aduh, Kapten... pura-pura amnesia lagi," pancing Gino makin menggebu-gebu, memicu senyuman lebar dari Mommy Zeline dan Mama Olivia di ujung meja. "Gue tadi dapet laporan valid dari intel ruang tengah, katanya ada kating siaga satu yang motret adeknya tapi posesifnya sampai level kuadrat! Masa Aurel mau foto hadap ombak, tas ransel lo sengaja dipasang di punggungnya biar cowok pantai lain nggak bisa lirik? Sampai bayangan badan lo aja ikut nge-block jalur angin karena lo nempel terus jagain dia! Hahaha!"

Seketika itu juga, seisi meja makan langsung meledak dalam tawa terbahak-bahak. Papa Crish dan Daddy Wira bahkan sampai menepuk meja dengan penuh semangat, ikut menertawakan pembongkaran kartu keposesifan anak mereka malam itu.

"Hahaha! Bener itu, Edward! Om tadi juga lihat fotonya sampai heran, kamu itu mau bikin pas foto pengawasan atau gimana?" ledek Daddy Wira renyah, membuat wajah Aurel dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam sempurna akibat salah tingkah gila-gilaan. Rasa deg-degan parah kembali bertalu-talu keras di dalam rongga dadanya.

Bang Edward langsung menegakkan punggungnya, melotot jenaka ke arah Gino. "Wah, bener-bener ya lo, Gino! Mulut lo lemesnya minta gue karungin pakai jaring nelayan ya! Itu namanya protokol pengamanan aset dinasti keluarga besar, paham lo?!"

Kak Anita yang duduk di sebelah Bang Edward langsung mencubit pelan pinggang kekasihnya itu hingga sang kating mengaduh manja. "Udah, Edward! Dimakan itu udangnya, makin diledek Gino makin menjadi-jadi kamu."

"Aduh, iya, Sayang, ampun," ringis Bang Edward langsung melunak pasrah di bawah kendali Kak Anita, memicu tawa riang dari Shirin yang puas menonton karma untuk Gino dari arah seberang.

Aurel terpaksa menyembunyikan rona merah di pipinya di balik kerah jaket tebal pemberian Kak Anita, menunduk dalam-dalam demi menyembunyikan debaran jantungnya yang masih bergemuruh hebat. Namun, saat ia melirik ke arah samping meja, sepasang mata teduh milik Reyhan langsung menangkap pandangannya.

Reyhan yang duduk tenang mengenakan kemeja kasualnya hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat hangat, teduh, dan penuh kesabaran yang besar di bibirnya. Cowok berjaket denim itu sama sekali tidak ikut memanaskan situasi atau menunjukkan binar cemburu. Kedewasaan Reyhan yang memilih bersabar dan membiarkan Aurel menikmati dunianya tanpa perlu merasa tertekan oleh perasaannya, terbukti menjadi pelindung sunyi yang teramat menenangkan hati Aurel malam ini.

Aurel mengembuskan napas panjang yang hangat dengan senyum tipis yang tulus. Di bawah riuhnya suasana makan malam BBQ di tepi pantai Bali yang penuh tawa dan kehebohan keluarga besar mereka, labirin buntu masa lalunya perlahan terasa jauh lebih ringan untuk dihadapi, siap menyambut indahnya petualangan liburan mereka.

Di tengah riuhnya ledakan tawa seisi meja akibat ledekan Gino, Bang Edward mendengus jenaka sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, bukan Bang Edward namanya jika perhatian manisnya sebagai abang siaga satu bisa teralihkan begitu saja.

Pria itu mengabaikan sisa-sisa tawa Gino. Tangan kekarnya langsung meraih capit besi di dekat panggangan, mengambil sepotong daging iga bakar premium saus madu yang ukurannya paling besar dan teksturnya paling empuk—daging potongan eksklusif yang sejak tadi sengaja ia balik-balik dengan telaten di atas bara api karena tahu itu adalah makanan kesukaan Aurel.

Tanpa ba-bi-bu, Bang Edward mencondongkan tubuhnya melewati meja, lalu meletakkan daging iga yang mengepul harum itu tepat di atas piring Aurel.

"Nih, Bocil. Dimakan daging kesukaan lo," ucap Bang Edward dengan nada suara baritonnya yang mendadak melembut drastis—sebuah perhatian manis yang seketika membuat dada Aurel berdesir hangat. "Nggak usah dengerin omongannya si Gino. Yang penting lo makan yang banyak biar pipi lo nggak tirus, terus asupan gizi maba lo terpenuhi selama di Bali. Paham?"

Mendengar kalimat perhatian yang begitu tulus dari cowok yang selama ini dicintainya dalam diam, jantung Aurel seketika melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan parah yang luar biasa hebat langsung bergemuruh bertalu-talu di dalam rongga dadanya. Wajahnya yang tadi sudah memerah akibat ledekan Gino, kini bener-bener berubah menjadi merah padam sempurna sampai ke hulu telinga akibat salah tingkah kuadrat.

Aurel terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap potongan daging iga hangat di piringnya dengan senyum manis yang merekah lebar tanpa bisa ia bendung lagi. "I-iya, Bang... makasih banyak ya," sahut Aurel lirih, mencoba meredakan debaran jantungnya yang gila-gilaan.

Kak Anita yang duduk di sebelah Bang Edward langsung tersenyum penuh kasih sayang melihat betapa Edward selalu memanjakan Aurel. "Tuh, Rel, dimakan ya. Edward tadi sengaja jagain daging itu dari serbuan Gino murni buat kamu, lho."

"Wah, porsi asmara kuadrat kating emang nggak pernah gagal merusak estetika piring jomblo!" celetuk Gino lagi yang langsung dihadiahi lemparan sepotong tisu dari Shirin di sebelahnya.

Di seberang meja, Reyhan yang duduk tenang menikmati makan malamnya, menyaksikan seluruh perhatian manis itu dengan sepasang mata teduhnya. Namun malam ini, samudera kesabaran dan keikhlasan di dalam dada cowok berjaket denim itu membuatnya tetap stabil. Reyhan hanya mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat hangat dan tulus dari kejauhan. Kedewasaannya untuk tetap tinggal menjadi partner terbaik yang suportif terbukti menjadi pelindung sunyi yang menenangkan hati Aurel, membiarkan gadis itu menikmati kebahagiaannya malam ini.

Di bawah pendar lampu tumblr halaman belakang vila dan sapuan angin malam pantai Bali, Aurel menikmati setiap suapan daging pemberian Bang Edward dengan perasaan yang campur aduk antara kebahagiaan yang manis sekaligus getir yang mendalam.

Di seberang meja kayu panjang, di antara riuhnya tawa Gino dan kepulan asap BBQ yang wangi, Shirin perlahan menurunkan garpunya. Sepasang matanya menatap lekat pada Aurel yang saat itu sedang menunduk kaku dengan wajah merah padam, menatap potongan daging iga bakar pemberian Bang Edward.

Melihat bagaimana sahabat karibnya itu tampak begitu bahagia namun sekaligus diliputi kecanggungan yang kentara, Shirin hanya bisa menghela napas panjang yang teramat pelan.

Dada Shirin berdesir diselimuti rasa empati yang mendalam. Sebagai satu-satunya orang yang tahu persis rahasia terbesar Aurel—tentang bagaimana gadis itu mendekap erat cinta sepihak yang getir dan luka mendalam akibat mencintai abang asuhnya sendiri—Shirin paham betul apa yang sedang bergolak di hulu hati Aurel. Perhatian manis Bang Edward malam ini memang terasa sangat indah dan sukses membuat Aurel deg-degan setengah mati. Namun, Shirin juga tahu, kebahagiaan itu hanyalah sebuah kebahagiaan semu yang dibatasi oleh sekat kejam bernama hubungan kakak-adik. Di depan mata mereka, Kak Anita duduk dengan begitu anggun, menjadi pemilik sah dari ruang asmara di hati Bang Edward.

Shirin melirik sekilas ke arah Reyhan yang duduk lempeng di sebelah Gino. Cowok berjaket denim itu tetap bersikap luar biasa dewasa, mengulas senyum tipis yang sarat akan kesabaran dan keikhlasan tanpa ada riak cemburu sedikit pun.

Shirin kembali menghela napas, lalu diam-diam mengulurkan tangan kirinya di bawah meja marmer, menggenggam pelan jemari Aurel dan memberikan remasan lembut yang menenangkan—sebuah bahasa isyarat tak tersirat seorang sahabat yang seolah berkata, 'Gue tahu lo sakit, Rel. Tapi lo nggak sendirian di sini.'

Aurel tersentak pelan dari lamunannya, lalu mendongak menatap Shirin. Mendapati tatapan hangat penuh pengertian dari sahabatnya, Aurel mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat tulus. Rasa sesak akibat labirin buntu hatinya perlahan melunak di bawah pendar lampu tumblr pantai Bali malam itu. Didampingi oleh kesetiaan Shirin yang selalu paham isi hatinya, dan dikawal oleh samudera kesabaran dari Reyhan, Aurel tahu bahwa ia akan tetap kuat melangkah maju melewati setiap lembaran hidupnya yang pelik ini.

Keesokan paginya, langit di atas Pulau Dewata bersinar begitu cerah tanpa awan. Angin pesisir yang hangat membawa wangi laut yang khas, menyapu pelataran vila mewah tempat dinasti keluarga besar mereka menginap. Suasana di lobi depan sudah riuh sejak pukul delapan pagi. Dua unit mobil van pariwisata berukuran besar sudah terparkir rapi, siap mengantarkan rombongan besar ini memulai agenda jalan-jalan pertama keliling tempat wisata Bali, dengan tujuan utama: Pantai Pandawa.

Di dekat pintu mobil, Gino sudah berdiri tegap dengan kemeja pantai bermotif bunga kembang sepatu merah menyala, lengkap dengan kacamata hitam yang bertengger angkuh di hidungnya. Cowok buaya premium itu menyengir lebar begitu melihat Shirin turun dari tangga lobi mengenakan topi pantai lebar.

"Waduh, Tante Ellen! Lihat nih, calon istri dinasti korporasi saya pagi ini visualnya bersinar banget, silau!" seloroh Gino dengan volume suara lantang, langsung memancing cubitan maut tersembunyi dari Shirin di lengan kirinya yang untungnya berhasil dihindari Gino dengan lompatan taktis.

"Gino! Mulut lo bener-bener ya, baru pagi udah minta dihanyutin ke laut!" semprot Shirin dengan wajah yang dalam hitungan detik langsung merah padam akibat salah tingkah kuadrat karena ledekan perjodohan purba orang tua mereka.

Mama Ellen dan Tante Sarah yang berjalan di belakang mereka hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah sekaligus terhibur melihat tingkah ajaib anak-anak mereka.

Sementara itu, Aurel berjalan santai di samping Bang Edward dan Kak Anita. Pagi ini, Aurel tampak sangat ceria dan segar. Pikirannya tentang rasa cemburu semalam sudah tersamarkan oleh antusiasme liburan pantai. Namun, bukan Bang Edward namanya jika tidak mengaktifkan mode protektif tingkat tinggi.

"Bocil, lo pakai sunscreen nggak tadi?" todong Bang Edward ketus sembari membetulkan letak topi rajut di kepala Aurel dengan gerakan alami yang teramat manis—sebuah perhatian spontan yang seketika membuat jantung Aurel melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan parah kembali bergemuruh bertalu-talu di dalam rongga dadanya, memicu rona merah merona di pipinya.

"Udah, Bang Edward! Cerewet bener bumbu dapur satu ini," sahut Aurel salah tingkah, buru-buru menyembunyikan senyum manisnya di balik kacamata hitamnya.

Kak Anita yang berjalan beriringan sembari menggandeng lengan Bang Edward hanya tertawa renyah, lalu mengelus lembut pundak Aurel penuh kasih sayang. "Biarin aja, Rel. Abang kamu ini emang dari kemarin mode intel siaga satunya nggak mati-mati.

"Di dekat pintu mobil kedua, Reyhan berdiri tenang mengenakan kaus kasual putih dan jaket denim andalannya. Sepasang mata teduh milik cowok denim itu menangkap seluruh interaksi manis dan debaran gila di dada Aurel dari kejauhan. Namun, samudera kesabaran dan keikhlasan di dalam dada Reyhan membuatnya tetap stabil. Ia hanya mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat hangat dan tulus, ikut merasa lega melihat Aurel bisa sebahagia itu hari ini. Kedewasaannya untuk tetap tinggal sebagai partner terbaik yang suportif terbukti menjadi pelindung sunyi yang menenangkan sepanjang awal perjalanan liburan mereka.

"Ayo semuanya masuk mobil! Kita meluncur ke pantai sekarang!" seru Daddy Wira dan Papa Crish kompak memberikan instruksi keberangkatan.

Konvoi dua mobil besar itu akhirnya perlahan bergev vvrak meninggalkan vila, membelah jalanan Bali yang eksotis menuju keindahan pasir putih Pantai Pandawa. Di dalam mobil yang dipenuhi riuh candaan dan lagu santai, Aurel mengembuskan napas panjang yang hangat.

Sesampainya di Pantai Pandawa, pemandangan pasir putih yang luas dan air laut berwarna gradasi hijau toska langsung menyambut rombongan dinasti keluarga besar. Angin pesisir berembus segar, memayungi keceriaan para maba dan orang tua yang mulai berpencar menikmati indahnya pantai.

Namun, ketenangan pantai siang itu seketika terusik oleh rencana taktis tingkat dewa dari Mama Ellen dan Tante Sarah. Berdiri di dekat tempat penyewaan wahana air, kedua ibu itu kompak tersenyum penuh kemenangan sembari melambai-lambaikan dua buah dayung kano di udara.

"Shirin, Gino! Sini, Nak!" panggil Mama Ellen dengan nada suara yang teramat manis namun tidak menerima bantahan. "Mama sama Tante Sarah sudah menyewakan satu kano khusus berkapasitas dua orang buat kalian. Ayo buruan pakai pelampungnya, mumpung ombaknya lagi tenang banget buat mendayung berdua!"

JEDARRR!

Mendengar instruksi maut tersebut, Shirin yang sedang membetulkan letak topi pantainya langsung membeku kaku. Wajahnya dalam hitungan detik berubah menjadi merah padam sempurna akibat salah tingkah gila-gilaan karena jebakan perjodohan para ibu. "Hah?! Tapi, Ma! Shirin nggak mau main kano berdua sama buaya kompleks ini! Nanti kalau kanonya kebalik gimana?!"

Gino yang biasanya bermulut lemes pun kali ini ikut melotot kaku, menatap kano plastik berwarna kuning menyala di depan mereka dengan pandangan pasrah. "Waduh, Tante Ellen, Mami... ini namanya simulasi kerja rodi di laut Bali. Radius kedekatan begini bisa membuat lengan Gino membiru permanen kena dayung Shirin!"

"Nggak ada tapi-tapi. Buruan naik, kalian berdua kan satu kelompok tugas, harus kompak mendayung masa depan!" potong Tante Sarah kompor, menyiram bensin ke kobaran api salah tingkah anak-anak mereka.

Mau tidak mau, dengan langkah kaku dan wajah yang ditekuk habis-habisan, Shirin terpaksa naik duduk di posisi depan kano, sementara Gino menyusul mendaratkan bokongnya di posisi belakang sebagai pengemudi kemudi dayung. Begitu kano mulai didorong satpam pantai ke tengah riak air laut yang tenang, atmosfer canggung bercampur kocak langsung meledak di antara mereka.

"Heh, buaya! Mendayungnya yang bener ya! Jangan sampai kano ini oleng ke kanan!" semprot Shirin ketus tanpa menoleh ke belakang demi menyembunyikan wajahnya yang sudah panas layaknya kepiting rebus kuadrat.

"Yaelah, Rin! Tenang aja, calon menantu spek dewa kesayangan nyokap lo ini punya sertifikat taktis mendayung asmara, kok!" balas Gino yang urat jahilnya mendadak kembali ke permukaan demi menutupi rasa deg-degan jantungnya sendiri yang berpacu gila-gilaan. "Satu, dua, dayung! Pegangan yang kuat, Calon Istri!"

"GINOOO! Mulut lo bener-bener ya!" pekik Shirin salah tingkah tingkat tinggi, refleks mengayunkan dayungnya dengan asal hingga cipratan air lautnya sukses membasahi wajah ganteng Gino, menciptakan kepanikan kecil yang teramat kocak di tengah laut.

Aurel yang berdiri di tepi pantai bersama Bang Edward dan Kak Anita, langsung menyaksikan live action komedi tersebut dengan mata membelalak sempurna. Pertahanan urat tenang Aurel runtuh total untuk kesekian kalinya.

"BHUHAHAHAHA! ADUH! AMPUN, DRAMA KANO INDOSIAR MABA KAMPUS! HAHAHAHA!"

Tawa cempreng nan lantang dari Aurel langsung meledak hebat memenuhi sepanjang garis Pantai Pandawa. Aurel tertawa terbahak-bahak sampai terpingkal-pingkal di atas pasir putih, memegangi perutnya yang kram karena terlalu geli melihat bagaimana kano Gino dan Shirin berputar-putar tidak jelas di air akibat mendayung dengan arah yang berlawanan penuh salah tingkah.

Bang Edward yang sedang memegang kamera ponselnya ikut tertawa renyah, merangkul gemas pundak Aurel dengan lengan kekarnya. "Hahaha! Bener, Rel! Si Gino biasanya gencar modus, sekarang udah kayak nelayan pemula yang kehilangan arah kompas! Taktik Mami Sarah emang juara parah!"

Dipeluk erat dalam jarak dekat oleh Bang Edward di bawah pendar matahari pantai yang cerah, jantung Aurel mendadak melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan parah kembali bergemuruh di dalam dadanya, memicu rona merah manis di pipinya. Namun, saat ia melirik ke arah stan payung pantai, sepasang mata teduh milik Reyhan langsung menangkap pandangannya dari kejauhan.

Reyhan yang duduk tenang sembari memegang kelapa mudanya, menatap kehebohan pantai itu dengan sebuah senyuman tipis yang teramat hangat, teduh, dan penuh kesabaran yang besar di bibirnya. Cowok denim itu tidak menunjukkan binar cemburu atau risi sama sekali. Kedewasaan Reyhan yang selalu memilih bersabar dan membiarkan Aurel menikmati tawanya dengan aman, terbukti menjadi pelindung sunyi yang menenangkan jiwa Aurel siang ini. Sembari menyeka air mata akibat terlalu banyak tertawa menunjuk kano Gino, Aurel mengembuskan napas panjang yang hangat, siap melanjutkan hari pertama petualangan Bali mereka yang teramat indah dan penuh warna komedi.

Di tengah sisa ledakan tawa Aurel yang masih menyaksikan kano Gino dan Shirin berputar-putar di tengah laut, Daddy Wira yang sejak tadi ikut menonton dari balik kacamata hitamnya mendadak menghentikan tawanya. Pria paruh baya itu menatap anak gadisnya, lalu beralih melirik ke arah Reyhan yang sedang duduk tenang di bawah payung pantai seberang.

Sebuah ide taktis dan jenaka seketika melintas di kepala sang kepala keluarga. Daddy Wira menoleh ke arah Mommy Zeline dan Papa Damian yang berdiri tidak jauh darinya, lalu menepuk meja pantai dengan pelan."Nah, kalau melihat si Gino sama Shirin sudah dapat lampu hijau konspirasi begitu, gimana kalau Aurel kita pasangin sama Reyhan saja, Mom?" sahut Daddy Wira santai dengan suara baritonnya yang lantang, sukses memecah keheningan di sela deburan ombak pantai.

Deg.

Kalimat blak-blakan yang meluncur bebas tanpa aba-aba dari mulut sang ayah seketika bagai hantaman ombak besar yang membekukan seluruh tubuh Aurel. Tawa cemprengnya terhenti di tenggorokan dalam sekejap. Jantung Aurel mendadak melompat dari ritme normalnya, berdegup dengan sangat keras hingga dentumannya bertalu-talu gila-gilaan di dalam rongga dadanya. Rasa deg-degan parah bercampur salah tingkah tingkat tinggi langsung merajai dirinya. Wajahnya dalam hitungan detik berubah menjadi merah padam sempurna hingga ke hulu telinga.

"Daddy! Apaan sih! Kok malah bawa-bawa Aurel sama Reyhan?!" protes Aurel dengan volume suara yang naik satu oktav demi menyembunyikan kepanikan batinnya yang mendadak meroket.

Mommy Zeline langsung meledak dalam tawa renyah, matanya berkedip jenaka menatap sang suami. "Wah, Papi visioner bener ya! Mommy sih setuju-setuju saja. Reyhan kan anaknya dewasa, lempeng, dan pinter banget jagain Aurel dari matkul Pak Baskoro kemarin. Gimana, Jagoan? Kamu siap tidak jadi menantu spek dewa di keluarga kita?" goda Mommy Zeline ikut menyiram bensin ke kobaran api salah tingkah putrinya.

Bang Edward yang tadinya merangkul pundak Aurel langsung melepaskan rangkulannya, membelalakkan matanya dramatis sembari memotong pembicaraan. "Wah, tidak bisa, Mom, Dad! Radar intel siaga satu Edward langsung mendeteksi adanya sabotase dinasti keluarga malam-malam! Jarak aman satu meter tetap berlaku permanen ya buat Reyhan!"

Di bawah stan payung pantai, Reyhan yang mendengar namanya diledakkan dalam rencana perjodohan spontan itu perlahan menurunkan kelapa mudanya. Di seberang sana, ia bisa melihat bagaimana Aurel sedang sibuk menunduk kaku, meremas ujung jaket tebalnya demi menutupi rasa salah tingkah gila-gilaannya.

Sebagai cowok yang memiliki samudera kesabaran dan keikhlasan yang teramat luas, dada Reyhan tidak bergejolak penuh ambisi. Ia tahu betul isi hati Aurel yang sebenarnya masih terkunci rapat di dalam labirin buntu bersama Bang Edward. Namun, alih-alih ikut panik atau menolak kaku, Reyhan justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat hangat, teduh, dan penuh ketulusan di bibirnya.

Dengan gerakan yang luar biasa tenang dan lempeng tanpa dosa, Reyhan menatap Daddy Wira lalu mengangguk takzim dengan nada suara beratnya yang stabil. "Reyhan sih aman-aman saja, Om, Mom. Tergantung partner kelompok saya saja nanti, apakah dia siap draf hatinya saya analisis sampai akhir semester atau tidak."

"BHUHAHAHA! Denger tuh, Wir! Anak gue udah kasih lampu hijau taktis!" seru Papa Damian ikut meledak dalam tawa bangga, melakukan gerakan high-five bersama Daddy Wira di atas pasir putih.

Aurel refleks membekap wajahnya yang sudah panas sempurna dengan kedua telapak tangan, tidak kuat menahan gempuran salah tingkah dari balasan lempeng nan jahil milik Reyhan barusan. Di bawah terik matahari Pantai Pandawa yang cerah siang itu, di tengah riuhnya tawa para orang tua dan gerutuan posesif dari Bang Edward, Aurel merasakan sebuah debaran baru yang aneh namun menyejukkan mulai merayap pelan di hatinya.

1
falea sezi
😒 heran liat Edward ini serakah
falea sezi
kenapa aurel di buat murahan sih😒 buat. move on donk🤣
falea sezi
aurel. move on pergi jauh lagh kuliah pindahan ja bodoh bgt km ini🤣
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
my queen 👸: makasih sarannya kk ❤️🙏
total 1 replies
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!