Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Bisikan Prasangka
Langkah kaki Jane yang tegas bergetar menggelegar di atas lantai kayu restoran, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam ruangan VIP tersebut.
Pintu geser tertutup dengan dentuman halus, tetapi getarannya cukup untuk membuat cangkir ocha dingin di meja Ethan bergoyang tipis.
Ethan tertekan di kursinya. Kepalan tangannya di bawah meja perlahan mengendur, menyisakan jemari yang gemetar dan dingin. Udara di dalam ruangan itu terasa begitu berat, seolah-olah seluruh pasokan oksigen baru saja disedot keluar bersamaan dengan kepergian tunangannya.
“Mencari tahu siapa dia...” gumam Ethan lirih, suaranya parau dan bergetar.
Bayangan Mia terlintas begitu jelas di benaknya. Wajah wanita itu yang pucat, tatapannya yang terluka saat terakhir kali mereka bertemu, dan bagaimana Liam—pria dengan dominasi pekat dan tak tersentuh itu membawa Mia pergi dari jangkauannya.
Jika Jane benar-benar mengerahkan koneksi keluarga Besarnya untuk menyelidiki sosok Mia, bukan hanya kariernya yang akan hancur lebur, tetapi Mia juga akan terseret ke dalam pusaran bahaya. Jane bukan wanita yang bisa diajak berkompromi jika sudah menyangkut harga diri dan reputasinya.
Ethan meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengusap kasar parasnya yang biasa dipuja jutaan penggemar. Di balik kilau lampu sorot dan statusnya sebagai aktor papan atas, ia merasa amat kerdil dan tak berdaya.
Pernikahannya dengan Mia yang ia sembunyikan rapat-rapat selama empat tahun dari publik kini berubah menjadi bom waktu yang detikannya semakin cepat meski pernikahan itu telah berakhir.
Sementara itu, di penthouse megah yang terletak di pusat kota, Mia masih terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada pintu utama. Keheningan di dalam penthouse kini terasa begitu asing, tidak lagi mencekam oleh kehadiran Liam, tetapi meninggalkan kekosongan yang membingungkan.
Jejak hangat jemari Liam di pipinya seolah masih membakar kulitnya. Sentuhan yang tidak terduga itu lembut, lambat, namun sarat akan rasa kepemilikan terus membayangi pikirannya. Sebuah sentuhan yang membuat dadanya kini berdebar aneh.
“Besok, semua yang kamu butuhkan akan mulai berdatangan. Jangan menolak lagi.”
“Aku tidak ingin wanita yang aku sukai hidup dalam kekurangan.”
Kata-kata Liam bergema di telinganya. Pria itu tidak memberikan pilihan. Di balik kelembutan singkat yang Liam tunjukkan sebelum pergi, Mia tahu betul bahwa Liam adalah sosok yang terbiasa memegang kendali penuh.
Pria itu sedang membangun sangkar emas di sekelilingnya, dan celakanya, ia tidak punya kekuatan untuk melangkah keluar dari garis yang telah ditarik oleh Liam.
Di seberang sana, dunia luar terus bergerak cepat tanpa memedulikan kekacauan di dalam dirinya. Ethan dengan skandal dan tunangannya, serta Liam dengan dominasi dinginnya yang perlahan-lahan mengikis pertahanannya.
****
Derit papan petunjuk lokasi syuting dan kebisingan para kru yang menyiapkan pencahayaan tidak mampu menembus selubung kecemasan yang melingkupi Ethan.
Di dalam ruang rias pribadi yang tertutup rapat, Ethan berdiri gelisah di depan cermin, mengabaikan penata rias yang baru saja selesai memoles wajahnya.
Ia langsung berbalik begitu pintu ruangan terbuka dan menatap Marcus yang baru saja melangkah masuk dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
“Bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang Mia?” tanya Ethan cepat, suaranya sarat akan desakan yang hampir tidak tertahankan.
“Ponselnya masih tidak aktif sejak kemarin. Apa kamu sudah mencoba menghubungi tempat kerjanya atau memeriksa kontrakannya?” sambungnya semakin cemas.
Marcus mendesah berat, lalu mengunci pintu ruang rias dari dalam sebelum berjalan mendekati aktor utamanya tersebut.
“Tenanglah sedikit, Ethan. Jika ada kru yang mendengar kamu menyebut nama Mia dengan nada panik seperti ini, rumor baru akan meledak kembali,” tegur Marcus seraya merendahkan volume suaranya.
“Aku sudah menyuruh seseorang untuk memeriksa kontrakan Mia dan tempat kerjanya. Mia sudah berhenti bekerja dan tempat tinggalnya kosong. Tetangganya bilang Mia tidak terlihat sejak kemarin malam. Ponselnya pun tetap tidak dapat dihubungi hingga detik ini.”
“Kosong?” Ethan mengepalkan tangannya, rasa takut menyeruak hebat di dadanya.
“Dia tidak memiliki tempat tujuan lain di kota ini, Marcus. Kecuali...” Ethan memalingkan wajahnya, meraup rambutnya dengan frustrasi. Bayangan Liam yang membawa Mia dengan dingin dan penuh dominasi di malam itu kembali menghantuinya.
Ia menyandarkan tubuhnya ke tepi meja rias, tatapannya kosong menatap lantai marmer yang dingin.
“Bagaimana jika dia yang menyembunyikan Mia?”
Namun, hanya beberapa detik setelah kalimat itu terucap, Ethan menggelengkan kepalanya sendiri secara perlahan. Senyum sinis yang sarat akan keputusasaan terbit di bibirnya. Ia mengenyahkan pemikiran absurd itu dari benaknya.
Tidak, itu tidak masuk akal.
Liam adalah sosok yang berada di puncak hirarki sosial, seorang konglomerat berdarah dingin yang pergerakannya diukur dari angka, profit, dan pengaruh politik. Pria sekelas Liam, yang dikelilingi wanita-wanita dari kalangan elit dan bangsawan, tidak mungkin menaruh perhatian pada wanita sederhana seperti Mia. Mia hanyalah mantan istrinya yang hidup tenang, jauh dari kemewahan, dan selalu berusaha menyembunyikan diri dari sorotan.
Bagi pria seperti Liam, Mia mungkin tak lebih dari sekadar gangguan kecil yang tak sengaja melintas di jalurnya. Sangat tidak masuk akal jika pria itu mau merepotkan diri untuk menculik atau menyimpan Mia di dalam kehidupannya.
“Tidak... tidak mungkin, aku pasti sudah gila,” gumam Ethan, berusaha merasionalkan ketakutannya sendiri.
“Pria seperti dia tidak mungkin punya alasan untuk peduli pada Mia. Mereka hidup di dua dunia yang terlalu jauh berlawanan,” gumamnya lagi berbicara pada diri sendiri.
Marcus memegang bahu Ethan, menepuknya pelan untuk memberikan ketenangan yang rapuh.
“Abaikan semua pikiran burukmu, Ethan. Fokuslah pada syuting hari ini. Jika Jane sampai tahu kamu tidak fokus hanya karena memikirkan keberadaan Mia, situasi ini akan makin tak terkendali,” nasehat Marcus.
Ethan mengangguk pelan, meski kepalan tangannya yang tersembunyi di dalam saku celana masih gemetar hebat. Di balik pembenarannya bahwa Liam tidak mungkin menyukai Mia, ada bisikan kecil di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah prasangka yang terus berbisik bahwa dunia yang ia takuti itu telah benar-benar menelan Mia bulat-bulat.
Marcus menghela napas panjang, tatapannya menajam saat menatap langsung bola mata Ethan yang diliputi kekacauan. Ia mencengkeram kedua bahu aktor itu lebih erat, mencoba menyalurkan ketegasan agar Ethan tidak runtuh oleh kecemasannya sendiri.
“Dengar baik-baik, Ethan,” ucap Marcus dengan nada rendah namun sarat penekanan.
“Tugas utamamu saat ini adalah bertahan. Kamu sudah melangkah terlalu jauh untuk hancur sekarang. Jangan biarkan rasa bersalahmu pada Mia merusak semua hal yang sudah kita bangun bertahun-tahun.”
Ethan hendak menyela, namun Marcus mengangkat satu tangannya, menghentikan sang aktor sebelum sempat berucap.
“Bukan cuma syuting hari ini yang dipertaruhkan, tapi juga seluruh masa depanmu. Rencana pernikahanmu dengan Jane sudah menjadi perhatian besar media. Jika kamu menunjukkan gestur ragu sedikit saja di depan media atau di depan Jane, dia akan langsung mencium ketidaksetiaan itu. Kamu tahu betul betapa mengerikannya koneksi keluarga Jane jika mereka sudah mulai menggali masa lalumu.”
“Tapi Marcus, Mia—”
“Mia bukan lagi urusanmu!” potong Marcus tegas, menatap Ethan tanpa belas kasihan.
“Pernikahan rahasiamu dengannya sudah berakhir. Kalaupun Mia tiba-tiba menghilang atau pindah, itu adalah jalan yang dia pilih untuk menjauh dari rumitnya kehidupanmu,” imbuh Marcus.
Marcus melangkah mundur, merapikan kerah kemeja yang dikenakan Ethan dengan gerakan cepat dan teratur. Ia menatap pantulan Ethan di cermin besar di hadapan mereka, sosok pria tampan yang dipuja jutaan orang, namun tampak rapuh di balik lampu sorot.
“Ingat, Ethan. Di luar sana, kamu adalah bintang utama. Pasang kembali topengmu. Jagan sampai citra yang sudah kamu bangun selama ini hancur hanya karena penyesalanmu yang datang terlambat,” pungkas Marcus menatap lekat bola mata Ethan.
Ethan menatap bayangannya di cermin. Tatapan matanya yang semula rapuh dan cemas perlahan membeku, melapisi dirinya kembali dengan topeng kesempurnaan yang dituntut oleh dunianya.
–tbc–