(Tolong, Jangan ditulis ulang Novel ini! Mendapatkan sebuah ide di dalam pikiran dan menuangkan ide dalam bentuk tulisan itu butuh perjuangan. Jadilah manusia yang bijak! Jika tulisan Novel saya ditulis ulang maka hukum bertindak!)
[Sekuel dari novel "LDR"]
Diki Reandi adalah seorang anggota TNI AU Internasional, memiliki sikap dingin dan irit bicara. Ia berumur 28 tahun dan saat ini, ia dilibatkan untuk memecahkan permasalahan di masa lalu yang dimana semua berawal dari kekecawaan yang dialami oleh seorang pria bernama Kenzo Albert.
Di tengah acara pernikahan bersama istrinya. Ia harus mengalami kehilangan yang mendalam. Wanita yang baru 1 menit menjadi istrinya meninggal di hadapannya. Keluarga beserta teman-temannya pun tewas di tempat dimana seharusnya menjadi kabar bahagia berubah menjadi kabar duka.
"Tidakkkk!" teriak Kenzo saat mendapati tubuh istrinya tidak lengkap di hadapannya.
Di sebuah mension mewah bermodel klasik, terlihat seorang wanita cantik tengah duduk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Izma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diki Kecelakaan
Beri ⭐ pada cerita.
Beri ❤️ di setiap episode.
Beri komentar baik Pada Novel Ini.
Dukung Author ya.
Follow akun Author agar dapat membaca kumpulan novel Author.
Setiap dukungan dari kalian dapat membuat Author menjadi tetap semangat.
"Daniel! Diki! Ayo tambah lagi makanannya. Tenang saja, masih ada stok makanan yang lain jadi kalo bisa kalian habiskan saja makanannya." imbuh Dila.
"Aku sudah kenyang, Ma." jawab Diki dengan wajah datarnya.
"Sedikit sekali kamu makan, sayang. Tolong, ekspresi wajahnya biasa saja. Jangan ditekuk seperti itu nanti ketampanannya hilang lagi." sindir Dila yang membuat Dissa, Daniel dan Dedi tertawa keras.
"Kalo kak Diki sudah lama kehilangan wajah tampannya dan kini hanya tersisa kenangan wajah ketampanannya saja,hahaha..." ejek Dissa.
"hahaha..." gelak tawa Daniel dan Dedi yang semakin keras.
"Diamlah!" titah Diki dengan menatap tajam ke arah mereka.
"Sudahlah kak, jangan seperti itu. Aku tahu kau itu kecewa dengan perkataanku dan aku harap kamu terima apa adanya, hahaha..." ucap Dissa yang berhasil memancing emosi Diki. Diki berdiri dari duduknya dan membiarkan makanannya yang masih setengah dari atas piringnya.
"Diki, mau kemana?" tanya Dedi yang hanya diam dan imut tertawa saja tanpa adanya pembelaan terhadap anak sulungnya.
Diki terus berjalan dan tak menghiraukan teriakan Dedi yang terus memanggilnya.
"Dasar anak itu, keras sekali wataknya. Ini pasti keturunan kamu, Pa. Dulu kamu selalu begitu," celetuk Dila kesal.
"Sudahlah, Ma, Pa. Jangan saling menyalahkan, semua itu saya kalian berdua." jawab Dissa santay.
"Kamu sudah berani mengatai orang tua," ujar Dedi dan Dila secara bersamaan.
"Heh! Sepertinya aku sedang bercanda,hehehe," ucap Dissa dengan menampilkan gigi putihnya di depan Dedi dan Dila.
"Oh iya, kami sudah selesai sarapan pagi dan kami pamit berangkat kerja dulu. Assalamualaikum," ucap Dissa dengan mengulurkan tangannya dan disambut tangan Dila yang bersedia Dissa cium punggung tangan Dila. Dissa juga mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Dedi. Begitupun, diikuti oleh Daniel.
Saat Dissa melangkah kakinya tiga langkah dari tempat, ia menoleh ke arah Dedi dan Dissa yang berdiri di belakangnya.
"Ma, Pa, kalo mau bisa dilanjutkan adegan tadi," ucap Dissa yang membuat senyuman manis di wajah Dila dan Dedi seketika pudar dan kini digantikan dengan tatapan mematikan.
Dissa yang tahu betul, mama dan papa sedang menahan marahnya. Dissa berinisiatif menarik lengan Daniel agar segera berjalan cepat dan meninggalkan mension milik keluarga Richard.
***
"Selalu saja, aku kena getahnya. Salah aku apa coba, hingga aku menjadi subjek yang ditertawakan." gumam Diki kesal.
"Aku tahu, kehadiranku pasti membuat dirimu merasa dirugikan karena aku dikira mencuri perhatian mama sama papa. Bukankah, aku juga anak kandungnya." lanjut Diki yang saat ini sedang mengendarai mobilnya.
"Rasanya, aku ingin mati saja." ucap Diki yang terus melajukan mobilnya Dena kecepatan tinggi.
Setelah mengucapkan perkataan itu, Diki terus menyetir tanpa arah dan rambu lampu merah menyala ke arah jalur jalannya tetapi ia tetap melajukan mobilnya dan dari arah samping mobil tronton yang mengikuti rambu lalu lintas berwarna hijau yang berarti menyala. Mobil tronton itu melajukan mobilnya dan dewa fortuna tidak berpihak kepada Diki. Saat yang bersamaan, mobil yang dikendarai oleh Diki ditabrak dari arah samping kiri.
Bruk!
Mobil tronton itu menghantam mobil sport biru yang dikendarai oleh Diki. Mobil Diki terseret ke samping kanan dan menyebabkan mobil Diki tak terkendali hingga menyebabkan mobilnya terbalik.
Semua orang yang berlalu lalang di jalan raya pun menghentikan laju kendaraannya. Mereka berlarian menuju mobil Diki yang terlihat tidak berbentuk lagi.
"Tolong, siapapun bantu dia," ucap Seorang bapak yang telah berdiri di depan mobil Diki.
Akhirnya, 5 orang berjalan ke arah mobil Diki dan membantu mengeluarkan Diki dari dalam mobil.
Di dalam mobil mewah yang terlihat hampir hancur, di sana lah Diki berada dan kondisinya sangat prihatin. Kepala Diki penuh dilumuri dengan darah dan tangan kanannya pun terlihat ada luka lecet. Kedua kaki Diki terjepit di antara bagian mobil yang mengakibatkan semua orang kesulitan mengeluarkan Diki keluar dari dalam mobilnya.
"Cepatlah! Bantu keluarkan dia. Dia butuh pertolongan," titah seorang Bapak yang berusaha menarik tubuh Diki agar keluar dari mobil.
5 orang pria itu masih berusaha mencari cara untuk mengeluarkan Diki dan ternyata usaha tidak mengkhianati hasil. Diki berhasil dikeluarkan dari dalam mobil.
Tidak lama dari itu, mobil ambulans datang untuk mengangkut tubuh Diki masuk ke dalam mobil ambulans agar dapat ditangani dengan cepat.
"Suster Rani, cepat pasang infus dan alat oksigennya." titah seorang dokter wanita yang masih muda.
"Dan kau, suster Ceri tolong bantu aku untuk membersihkan beberapa luka pada kepala, tangan dan kaki pria ini." lanjut Novi.
"Baik Dokter." jawab Ceri cepat.
Setelah membersihkan darah yang menempel di tubuh Diki, Novi mulai menjahit kepala Diki dengan metode manual dengan benang jahit khusus kulit manusia.
"Dok, sepertinya pasien mengalami denyut jantung lemah," ucap Rani yang sudah memasangkan infus dan alat oksigen.
"Rani, tolong ambilkan alat pacu jantung dan tolong hubungi keluarga korban." jawab Novi cepat, ia mulai menaruh alat pacu jantung di tubuh Diki dan ia berusaha menyelamatkan keadaan Diki.
***
"Daniel, jangan begitu nanti aku malu." jawab Dissa cepat yang langsung keluar dari mobil dan tidak lupa menutup pintu mobil.
"Dia lucu sekali, hahaha..." gelak Daniel melihat ekspresi wajah Dissa yang mulai memerah.
"Sejak dulu hingga sekarang masih saja begitu, belum ada tanda berubah sampai sekarang." gumam Daniel pelan.
Daniel pun mulai menstarter mobilnya dan mobil mulai berjalan ke arah luar pekarangan perusahaan milik keluarga Richard.
***
Di sepanjang jalan menuju ke arah rumah, Novi terus memantau keadaan pasien yang mengalami kecelakaan tunggal dan ia tidak ingin seorang pria muda terbaring lemah di hadapannya terjadi hal yang tidak diinginkan. Ia menyuruh supir mobil rumah sakit agar memasang suara khas mobil ambulans agar pengendara jalanan mau mengalah dan memberikan jalan kepada mereka.
Benar dugaannya, tidak membutuhkan waktu yang lama. Mobil ambulans yang membawa Diki menuju rumah sakit Mutiara telah memasuki gerbang rumah sakit dan mobil berhenti tepat di depan pintu rumah sakit.
"Tolong! Panggilkan dua perawat lelaki untuk membantu mendorong tempat tidur pasien ini." titah Novi di depan perawat bernama Ceri.
"Baik Dok." jawab Ceri cepat dan ia membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat menuju masuk ke dalam ruangan rumah sakit.
Kedua perawat lelaki dan satu perawat wanita berjalan menghampiri Novi dan tempat baring Diki.
Beberapa perawat yang ditugaskan oleh Dokter Novi mendorong tempat pembaringan Diki.
Sekarang mereka telah masuk ke dalam ruangan UGD. Dua dokter yang ditugaskan untuk berjaga di ruangan UGD membantu Novi untuk mengecek keadaan Diki yang tak sadarkan diri.
"Nafasnya hampir melemah dan sepertinya dia dalam keadaan koma," ucap dokter spesialis bedah yang bernama Alex Ligerhan.
Delapan Pusaka : Amarah Harimau
lanjutkan...
Terpaksa menikahi Kepsek kejam
&
Siamiku berubah karena mantan hadir member like....
di tunggu feedbacknya...
salam ANGKASA
Bom like disini juga kakk 🥰
Mari saling dukung Thor! 🤗🤗