Pernahkah Kalian bertemu dengan seseorang yang membuat kalian seolah merasa seluruh emosi harus keluar, baik itu marah, sedih, kecewa, sesal, tapi juga bahagia?
Jika pernah, bisa jadi mereka itu adalah kembaran jiwamu.
Ya, konon, dulu jiwa kita adalah satu, lalu begitu terlahir ke bumi, jiwa itu menempat pada dua fisik yang berbeda.
Ada beberapa orang yg dipertemukan dengan kembaran jiwanya, dan ada juga yang sama sekali tidak.
Ya, seperti yang dialami Bunga dan Nathan. Saling jatuh cinta tapi juga saling menyakiti, karena memang begitulah cara kerja hubungan dari kembar jiwa, membuat jiwa tua dari keduanya terbangun.
Lalu...
Bisakah Bunga dan Nathan meraihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Jelas Terlihat
Nathan tampak membungkuk memberi salam kepada Eyang Putri terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar Bunga karena dipersilahkan masuk oleh eyang,
"Baru pulang Nak Nathan?"
Tanya Eyang,
Nathan mengangguk sambil berjalan menghampiri Eyang dan Bunga,
Di atas tempat tidur, Bunga yang semula duduk selonjor kini berusaha memperbaiki duduknya,
Ia terlihat gugup dan sedikit tak nyaman karena ada laki-laki masuk ke dalam kamarnya,
"Sejak siang turun hujan, tadi pulang pakai ojek atau naik taksi?"
Tanya Eyang pula,
Nathan yang kemudian telah sampai di dekat tempat tidur Bunga lebih dulu meletakan oleh-olehnya untuk Bunga di atas kursi kayu dekat tempat tidur, baru setelah itu dijawabnya pertanyaan Eyang Putri,
"Iya Eyang, hujan turun sejak siang, makanya saya akhirnya memutuskan mulai pakai mobil kantor sejak hari ini, karena sepertinya hujan akan sering turun,"
Kata Nathan,
"Oh ada mobil dari kantor juga?"
Tanya Eyang terlihat kagum,
Nathan mengangguk seraya tersenyum,
Pandangan mata Eyang putri ke arah Nathan jelas terlihat berubah langsung lebih berbinar dari biasanya,
"Ngg... dik Bunga sudah mendingan?"
Tanya Nathan kemudian perhatian pada Bunga,
Tampak Eyang tersenyum seraya menepuk-nepuk lembut kedua kaki Bunga yang ditutupi selimut berwarna biru dan bergambar kura-kura.
"Sudah baikan sekali ini nak Nathan, semua jelas karena pertolongan pertama dari nak Nathan, kalau tidak, aduh entah apa yang terjadi pada cucu Eyang yang satu ini,"
Kata Eyang,
Bunga terlihat' tersenyum malu-malu, wajahnya tertunduk menghindari tatap mata Nathan yang meskipun lembut namun selalu bisa terasa menghujam ke dalam hati Bunga,
"Wah, tidak begitu Eyang, semua jelas karena Bik Siti dan juga Eyang yang sigap sekali memanggil dokter datang,"
Ujar Nathan berusaha untuk merendah,
"Dokter Imam itu masih keponakan Nak Nathan, seumuran dia sama Singgih dan mungkin juga dengan nak Nathan berarti,"
Kata Eyang,
"Iya Eyang, tadi sempat ngobrol katanya satu angkatan di sekolah dengan Mas Singgih,"
"Betul, memang mereka dulu satu sekolah, kalau ini si Bunga adik kelas,"
Tutur Eyang,
Nathan yang tentu saja sudah menyangka Bunga berada beberapa tingkat di bawahnya tampak mantuk-mantuk,
"Monggo Nak Nathan, barangkali mau mengobrol dengan Bunga, Eyang mau minum teh, atau mau menemani Eyang minum teh saja?"
Tanya Eyang seraya berdiri dari duduknya di tepi tempat tidur di samping Bunga duduk,
"Terimakasih Eyang, kebetulan saya baru pulang jadi ingin cepat mandi,"
Kata Nathan,
"Begitu to? Sayang sekali, padahal hujan begini enak ini minum teh terus nanti Eyang minta Mbok Siti buat gorengan,"
Ujar Eyang Putri,
Nathan pun tersenyum mendengar kata-kata Eyang,
Memang dibayangkan juga rasanya pasti enak, tapi Nathan memang ingin mandi saja, karena rasanya sudah gerah sejak tadi di kantor,
"Cepat sembuh dik Bunga, cukup istirahat,"
Kata Nathan pada Bunga,
"Nah dengar itu Bunga, kamu ini kalau Eyang yang nasehati mana mau dengar, kemarin saja sudah langsung terima pesanan, sekarang belum apa-apa sudah sakit,"
Mendengar Eyang berkata begitu jelas Bunga langsung mengerucutkan bibirnya,
"Itu kan lain Eyang, nanti juga udah sehat lagi kalau mau ngerjain,"
Kata Bunga,
"Kalau belum sembuh banget jangan dipaksain dik,"
Kata Nathan lagi,
Jelas sekali ia perhatian pada Bunga, dari sikap, tatap mata dan cara bicaranya, Nathan menampakkan posisi Bunga tak biasa saja di matanya,
Bunga terlihat berusaha tersenyum sekilas pada Nathan, meski terlihat sekali ia canggung,
Nathan pun kemudian pamit pada Eyang untuk kembali ke kontrakannya, sedangkan Eyang tampak mengantar Nathan sampai teras.
Hujan kini berganti menjadi gerimis tipis, Nathan berjalan menuju mobil kantornya,
Eyang memperhatikan sambil tersenyum penuh arti.
**--------------**
Hidup itu hanya sekali, kebahagiaan tdk lah bs dicari, tp hrs kita sendiri yg menciptakan rasa bahagia dlm hidup.
Pernikahan adlh perjalanan panjang yg membutuhkan kesabaran jg saling pengertian jg hrs slalu trs mnrs belajar memahami diantara keduanya. Bkn hanya ttg ssorg tp keduanya jg keluarga bsr yg saling mendukung.
Maaf Thor bs sempat mampir tuk koment, lg malas ketak ketik tulis koment.
Lanjut ya Thor, jgn mandek ceritanya.
Semangat 💪🏻💪🏻..