Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Entah siapa yang benar.
Bang Dante menatap gadis itu tajam, napasnya berat karena kesal. "Kamu dengar saya atau tidak? Kamu ikut saya..!! Tidak ada bantahan."
Gadis itu mengangkat wajah perlahan, ia balik menatap tanpa ada rasa takut sedikitpun. Tangannya masih basah karena tidak ada tissue disana. "Kau ini siapa, seenaknya mengatur saya? Saya datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk diatur-atur seperti ini."
"Saya sudah bilang, saya Letnan Wira.. penanggung jawab keamanan dan operasional tim ini. Dan daerah itu rawan, bukan sekadar gertakan. Ada jalur yang tidak masuk dalam catatan pemetaan, warga yang belum terbiasa dengan orang luar, dan kabar bahwa kelompok bersenjata sesekali lewat di sana. Saya tidak bisa membiarkan warga sipil, terutama perempuan, masuk tanpa pengawalan ketat." Suaranya rendah namun berat, penuh wibawa yang membuat siapa saja yang mendengarnya menunduk hormat.
Tapi gadis itu sudah jengkel sejak awal, apalagi selentingan masalah dari ketua team membuatnya sangat muak.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak melarang orang lain yang pergi ke sana? Kenapa hanya aku saja??" Gadis itu mengusap tangan di celana kerjanya yang sudah kusam dan berdebu. Matanya merah menantang, tak kalah tajam dari mata pria di hadapannya. "Aku sudah tau info disini. Aku tau jalurnya, saya tau warganya, aku juga bisa jaga diri. Dan kalau kau pikir aku butuh kau untuk melindungi saya, kau salah besar. Aku bisa silat."
Bang Dante terdiam sesaat. Selama ini belum ada wanita yang menantangnya seperti ini. Tapi gadis ini, dengan rambut berantakan, baju yang ternoda tanah, oli dan wajah tanpa riasan sama sekali. Gadis itu kini malah menatapnya tegas seakan ia yang harus memberi penjelasan padanya. Dadanya berdebar aneh, campuran antara kesal, jengkel sekaligus penasaran.
"Okee.." Bang Dante akhirnya bicara, nada berubah lebih dingin. "Kalau begitu, besok pagi jam enam. Berkumpul di depan tenda komando saya, jangan terlambat..!! Pakai sepatu bot yang layak, bukan sepatu karet tipis yang bisa sobek di semak-semak..!!!"
Gadis itu mengendikan bahunya, lalu ia kembali fokus pada kegiatannya. "Terserah kau saja. Yang penting pekerjaanku selesai." Ia menyibukkan diri seolah tidak peduli, membiarkan Bang Dante yang masih berdiri terpaku di tempat, namun pria itu berlalu hingga hilang tak tertangkap mata.
***
Pagi tiba. Gadis itu datang dengan percaya diri melewati tenda ketua team. Keningnya berkerut melihat nama Letnan Dua Faisal. Langkahnya semakin jauh sampai pada salah satu tenda.
Ketua penanggung jawab utama :
Letnan Satu Wira.
"Laah.." Gadis itu menggaruk kepalanya. Hatinya mendadak resah, takut 'salah lawan'.
"Bian.. Cepat ke depan tenda komando utama. Dantim lima sudah disana." Tegur salah seorang relawan.
Gadis bernama lengkap Andinata Syabian itu masih terpaku melihat papan nama itu dengan pikirannya yang masih melayang terbang.
Tapi karena waktu berjalan semakin cepat, ia pun segera berjalan menuju tenda komando.
~
Benar saja, pengarahan hari ini turun langsung dari Letnan Faisal. Ekor matanya mencari pria yang menemuinya semalam tapi sosok itu tidak ada disana.
"Bagaimana, Bian. Sudah paham??" Tegur Letnan Faisal karena ia melihat Bian tidak fokus dengan arahannya.
"Paham, Pak." Jawab Bian dengan pikiran berantakan.
Tak berapa lama, sosok yang ia cari tiba. Pria itu sibuk memastikan bibit pohon di hadapannya.
"Ijin, Pak. Apa sudah sesuai?" Tanya salah seorang anggota.
"Ya, sudah cukup baik. Apa yang bisa kita harapkan dari tanah karang seperti ini. Tanah yang akan kita olah pasti juga bercampur kapur. Tapi tanah yang akan kita tanami sudah di olah di beri pupuk beberapa waktu yang lalu, pasti ada lah tingkat kesuburannya." Jawab Bang Dante.
"Siap."
Tak hanya Bian yang tiba-tiba melirik, tapi Bang Dante pun juga mengarahkan mata elangnya untuk mencuri pandang menatap gadis itu.
Bian yang tau arah pandang itu, segera menyibukan diri, ia menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, memainkan kaki untuk menghilangkan rasa gelisahnya.
Bang Faisal memberi hormat pada seniornya.
Bang Dante pun mengangguk pelan. "Bagaimana hari ini, apa sudah siap mengemban tugas sebagai relawan??"
"Siap, Pak."
"Baiklah, hati-hati dengan apapun. Ini bukan tempat asli kalian.. dimana bumi di pijak, di situlah langit di junjung. Hargai warga setempat, sopan santun di jaga dan tetap waspada..!! Silakan lanjut..!!" Bang Dante mengarahkan agar team tanam pohon segera berangkat.
Dari balik tenda komando, Mama Phia mengintip, ia sengaja menyusun jadwal tugas sedemikian rupa, memastikan Bang Dante dan Bian selalu berada di tim yang sama, bekerja berdekatan, dengan pembagian tugas yang saling berkaitan namun perintah yang diberikan sengaja berbeda. Sejak tadi, ia sudah mengatur sedetail mungkin, membiarkan arahan yang diterima keduanya sedikit berbeda, cukup untuk memicu perdebatan, tapi tak cukup untuk berpisah.
Mama Phia tau, Bian tidak seberapa pintar dalam hal baru, ceroboh dan paham gadis itu hanya modal nekat semata, sedangkan Bang Dante begitu pintar, detail, terarah, sigap dan waspada dalam setiap tindakan.
...
"Pohon ini harus ditanam berjarak dua meter, tidak boleh lebih rapat..!!" Salah seorang anggota sambil melihat petunjuk yang di berikan.
"Dua meter terlalu renggang, tanah di lereng ini mudah longsor. Kalau terlalu jarang, akarnya takkan saling menguatkan. Satu setengah meter sudah cukup." Jawab Bian tenang, sambil memegang bibit pohon kecil di tangannya. Wajahnya lembut, matanya penuh keyakinan.
"Semua salah. Jarak yang tepat setidaknya per tiga meter. Hutan ini adalah hutan produktif, kalau jarak terlalu dekat.. Batang pohon tidak bisa tumbuh lurus. Kanopi pohon juga tidak boleh dekat karena akan mempengaruhi proses pertumbuhan." Tangan Bang Dante menancapkan tongkat kayu ke tanah sebagai penanda.
"Bapak tidak menurut aturan yang di berikan pusat??" Oceh Bian menegur Bang Dante.
"Penanaman pohon seperti ini sudah baku, dengan jarak seperti ini, kita juga bisa memperkirakan tingkat kemiringan lereng dan curamnya medan." Jawab Bang Dante.
"Bapak mau melanggar??"
"Kenapa kamu ngeyel sekali. Sebelum kamu tangani masalah hutan, saya sudah terjun lebih dulu. Saya rasa, kamu tidak perlu menguji ilmu saya." Kata Bang Dante.
"Saya ikut arahan dari pusat." Ujar Bian.
Bang Dante menarik nafas panjang berhadapan dengan gadis yang usianya bahkan di bawah Sea dan Cherry. "Dalam laporan teknis yang saya pahami, jaraknya tiga meter. Saya tidak menyimpang dari prosedur." Bang Dante menatapnya tajam, keningnya berkerut. Ia tidak suka ada yang membantah perintahnya, apalagi hal yang berkaitan dengan keselamatan.
"Prosedur yang bapak dapatkan belum tentu semua cocok dengan tanah di sini, Pak." Bian menunduk menyentuh permukaan tanah yang lembap. "Lihat sendiri, tanahnya lunak di lapisan atas tapi keras di bawah. Kalau jaraknya tiga meter, hujan pertama akan mengikis tanah di antaranya. Saya sudah menanam di lereng seperti ini sejak kecil. Satu setengah meter, itu yang paling aman."
"Kau menantang keputusan saya?" Bang Dante melangkah maju, suaranya merendah namun menekan lebih berat.
"Saya hanya memberikan saran yang lebih baik, Pak. Bukan menantang." Bian menatapnya lurus, tanpa rasa takut sedikitpun, meski jantungnya sebenarnya berdebar kencang. Ia sebenarnya gadis yang lembut, tak pernah suka bertengkar. Tapi soal pekerjaan, ia tak bisa diam saja.
Bang Dante membuang napas kasar, ia kesal tak ingin berdebat apalagi dengan seorang gadis kecil. "Baiklah. Sementara ikut caramu. Tapi kalau sampai ada yang salah dalam perhitunganmu, kau terperosok di dalam jurang, kau sendiri yang bertanggung jawab dan jangan harap saya akan menolongmu..!!" Bukan tanpa alasan Bang Dante kesal. Di dua lapis tanah yang di perdebatkan, masih ada tanah subur bagaian bawah yang bisa menghidupkan tanaman, batu karang hanya terletak di permukaan tapi Bian tidak memahami hal itu.
"Nggak akan.. Nggak akan..!!!!! Saya bisa sendiri."
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara