Demi membalas budi kepada kedua orang tua angkatnya, membuat Tristan Abimanyu— terpaksa menyetujui perjodohan yang di rencana oleh kedua orang tuanya.
Anjani Putri—seorang gadis yatim pintu yang akan dijodohkan dengan Tristan. Hingga akhirnya mereka pun menikah, namun status suami istri mereka hanya sebatas di atas kertas.
Menikah tanpa cinta, membuat Tristan bersikap sangat buruk pada Jani, di mata Tristan istrinya itu selalu salah, terlebih Tristan tahu jika istrinya itu pernah berkerja di salah satu Bar, pekerjaan yang selalu dipandang sebelah mata dan rendah oleh orang-orang.
Akankah pernikahan mereka akan bertahan?
follow IG @Ar_Inthan99
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naffia Inthan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. IBB
Setalah berbicara panjang lebar dengan Jani, Dokter Irena pun berpamitan pulang. Jani dan Bunda Sutti sangat berterima kasih padanya, kerena sudah menyempatkan waktu untuk datang.
“Sekali lagi terima kasih, Dok. Sudah berkenan datang dan berbicara dengan Jani,” ucap Bunda Sutti.
“Sama-sama, Bunda. Kalau begitu saya permisi,” pamitnya.
Bunda Sutti dan Jani menganggukkan kepalanya, setalah itu Dokter Irena pun berlalu dari sana.
“Bunda,” panggil Jani.
“Iya, Nak,” sahut Bunda Sutti seraya berjalan menghampirinya.
“Menurut Bunda, apa yang sekarang harus Jani lakukan? Apa Jani harus memaafkan Tristan?”
“Keputusan ada di kamu, Jani. Bunda memang kecewa pada Tristan, tapi Bunda sadar, Bunda tidak seharusnya mencampur urusan rumah tangga kalian. Dan sekarang, apa pun keputusan kamu, Bunda akan mendukung kamu, Bunda yakin kamu sudah dewasa, kamu pasti bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak,” jawab Bunda Sutti.
“Tapi, untuk urusan kamu dan Pak Abimanyu, maaf Bunda harus turun tangan Jani, Bunda akan tetap menjalankan rencana awal, Bunda sudah mendapatkan uang dari Pak Yoga,” lanjutnya.
“Terus anak-anak di rumah gimana, Bun?”
“Tenang saja, Pak Yoga memberi waktu pada Bunda, beliau sangat baik mengizinkan dulu kita untuk tinggal di sana, sebelum Bunda mendapatkan tempat baru untuk kita semua,” jelas sang Bunda.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Oh iya, tadi Pak Yoga juga titip salam sama kamu, capet sembuh katanya.”
Jani hanya tersenyum sambil menganggukkan menanggapinya.
“Ya sudah sekarang kamu istirahat ya,” pinta sang Bunda.
Jani kembali menganggukkan kepalanya, ia pun kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang tersebut.
Bunda Sutti mengelus lembut kepala putrinya itu, walaupun ia tidak melahirkan Jani, tapi ia sangat menyayanginya. Jani terlihat mulai memejamkan matanya, sentuhan lembut sang Bunda memang tidak ada tandingannya, selalu membuat Jani tenang dan nyaman.
Bunda tersenyum saat melihat Jani mulai terlelap itu. Entahlah, sebenernya ada yang ingi Bunda tanyakan pada Jani, tapi ia marasa tidak enak hati untuk menanyakan hal tersebut.
Mendengar obrolan Jani dengan Dokter Irena, membuat sesuatu terasa mengganjal di hati Bunda Sutti.
Apakah itu tandanya Jani akan memaafkan Tristan? Memaafkan itu memang harus, setiap manusia memang pernah melakukan kekhilafahan atau pun kesalahan.
Tapi, kenapa rasanya Bunda Sutti tidak rela jika Jani kembali bersama dengan Tristan? Ia takut, takut Jani kembali diperlakukan semena-mena oleh Tristan. Tapi apalah daya, apa mungkin ia bisa melarang itu semua terjadi? Apa mungkin ia bisa meminta Jani untuk tetap berpisah dengan Tristan? Bolehkah kali ini Bunda Sutti egois?
‘Jani, bolehkan kali ini Bunda egois? Rasanya Bunda tidak rela jika kamu memaafkan Tristan, dia sudah membuat kamu menderita seperti ini, Nak. Bahkan dia sudah memandang kamu sebelah mata, memfitnah kamu,’ batin Bunda Sutti yang masih menatap Jani yang sudah tertidur lelap itu.
Sebagai orang yang sangat menyayangi Jani, tentu saja hal itu wajar, Bunda takut, takut jika Jani terluka lagi oleh pria yang bernama Tristan itu.
***
“Apa jadi tempat itu sudah dia jual lagi?” tanya Pak Abimanyu pada lawan bicaranya lewat sambungan telepon tersebut.
“Iya benar, Pak. Tempat itu Bu Sutti jual pada Pak Yoga, Pak Yoga menawarkan harga yang sangat tinggi, kabar ini sudah tersabar pada warga-warga sekitar sana. Dan mereka sudah berniat ingin menjual tanah mereka pada Pak Yoga,” jelas seseorang di sebrang sana.
“Baiklah, biarkan saja meraka menjual tanah itu pada Yoga, tapi ingat jangan sampai orang-orang yang sudah melakukan transaksi pada kita, ikut-ikutan juga! paham kamu?”
“Baik, Pak.”
Pak Abimanyu pun langsung mengakhiri sambungan telepon tersebut.
“Yoga, kau benar-benar keterlaluan!” geramnya penuh amarah.
“Ada apa sih, Pa? Kok marah-marah gitu?” tanya Mamah Sarah. Wanita itu terlihat berjalan menghampiri suaminya membawa secangkir teh.
“Biasalah, Mah, urusan proyek. Oh iya apa Tristan udah pulang?”
“Kayanya belum pulang,” jawab Mamah Sarah. “Di minum dulu teh-nya.” Mamah Sarah memberikan secangkir teh hangat tersebut pada suaminya itu.
“Terima kasih, Mah.” Pak Abimanyu mengambil dan meneguk teh tersebut.
“Udah deh, lebih baik untuk saat ini Papa itu jangan ikut-ikutan ngurusin perusahan, biarkan saja Tristan yang urus. Masih banyak masalah lain yang harus kita selesaikan, Pa. Salah satunya Jani, kita belum dapat jalan keluarnya. Jujur Pa, Mamah gak mau kalau sampai Jani dan Tristan berpisah, Mamah tahu kalau apa yang sudah dilakukan Tristan itu sangat fatal, tapi Mamah gak mau sampai itu terjadi. Mana resepsi pernikahan mereka sebentar lagi akan diselenggarakan, dan Mamah juga sudah menyebar undangan,” paparnya.
“Apa? Kenapa Mamah tidak bilang dulu sama Papa, kenapa langsung di sebar? Ya ampun Mah, udah tahu kondisinya seperti ini, kenapa Mamah main sebar-seber undangan sih?”
“Mamah emang sengaja, gak bilang sama Papa, Mamah juga sengaja menyebar undangan lebih awal. Mamah tahu rencana ini sangat licik, tapi dengan begitu Mamah akan mencoba membujuk Jani, dan undangan sudah tersebar ini, bisa dijadikan satu alasan juga. Mamah akan memohon pada Jani,” jawabnya.
“Tapi tidak begini juga caranya, Mah. Kita bisa peka cara lain! harusnya kalau mau apa-apa itu dipikirkan juga dampaknya, Mah. Gimana kalau Jani tetap gak mau? Mau di taro dimana muka keluarga kita, Mah!” geram suaminya.
“Ya namanya juga usah toh, Pa. Pokoknya Mamah mau coba dulu rencana ini, semoga saja Jani mau menuruti keinginan Mamah ini,” sahutnya sengit.
Pak Abimanyu benar-benar tak habis pikir. “Terserah Mamah sajalah, Papa pusing!” ucapnya sambil beranjak dari sana.
Mamah Sarah hanya mendengus kesel menatap kepergian suaminya itu.
Hingga beberapa saat kemudian, terdengar bell rumah meraka berbunyi.
Mamah Sarah pun langsung beranjak untuk membukakan pintu rumah tersebut.
Ceklek!
Saat pintu rumah terbuka, nampak Bunda Sutti sudah berdiri di depan pintu tersebut.
“Eh, Bunda Sutti, saya kira siapa, mari masuk,” ujar Mamah Sarah dengan ramah.
Bunda Sutti tersenyum tipis dan mengangguk. “Terima kasih, Bu,” ucapnya.
Setalah itu Mamah Sarah mempersilahkan besannya itu untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu tersebut.
“Maaf jika kedatangan saya mendadak ini membuat, Bu Sarah merasa tidak nyaman. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan sama Ibu dan Pak Abimanyu.” Bunda Sutti mulai membuka percakapan, mengatakan maksud dan tujuannya itu datang ke sana.
“Tidak kok, Bunda Sutti. Sama sekali tidak mengganggu, justru saya senang Bunda datang ke sini. Oh iya, gimana kabarnya Jani? Apa sudah lebih baik?” tanya Mamah Sarah.
“Keadaan Jani sudah lebih baik. Oh iya, Bu. Saya kesini ingin mengambilkan uang yang sudah Pak Abimanyu berikan pada Jani.” Bunda Sutti terlihat mengambil sebuah amplop berwarna coklat, yang sudah bisa ditebak, jika isi amplop itu adalah uang.
“Tunggu, maksudnya gimana ya Bu?”
Bersambung ...
anak nya yaitu Jani...
gitu ya Thor ?
sedangkan Tristan hanya anak angkat pak Abimanyu
Jani telah menyelamatkan nyawa ayah nya sendiri donk
AQ curiga nya sama Tara....
Ntar kalo dah tau kebenaran nya juga nyesal
semoga nanti Tristan jadi bucin akut