Indonesia
NovelToon NovelToon
Terror Dog!!

Terror Dog!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Lain / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Action / Fantasi / Barat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: rederni

Sebuah dunia, pernahkah kalian berpikir bahwa dunia itu tidak hanya satu? melainkan ada banyak, di dunia yang satu mungkin kita akan bahagia dan mungkin juga sengsara dan dunia lainnya adalah kebalikan, namun pikirkanlah dunia yang kau tempati sekarang adalah yang terbaik untukmu, bersyukurlah kamu berada di duniamu berada.

Cerita ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang pergi ke dunia lain, yang mana di dunia itu terjadi sebuah tragedi yang mengerikan. Dia pertama pasrah dengan nasibnya, namun kemudian dia mencoba untuk mencari kebenaran dan pulang ke tempat asalnya berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rederni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 32

Aliran darah telah mengalir keluar dengan derasnya, pisau yang tadi dipegang oleh Sang Anak, kini telah berada di dalam perut Sang Ayah. Wajah Sang Ayah menjadi pucat, darah terus keluar tanpa henti. Sang Jalang berteriak histeris minta pertolongan, namun apakah ada yang akan mendengarkan? Jawabannya tidak?! Tidak akan ada yang mendengarkan di malam yang sunyi itu. Tak perlu, tak harus menunggu waktu yang lama, kini Sang Ayah sudah tidak berdiri pada porosnya, pertanda dirinya sudah sampai pada batasnya.

Sang Anak melepas pegangannya, namun tidak untuk pisau yang masih tertancap di perut Sang Ayah. Sang Anak menjadi berkeringat, rasa takut akan tindakan yang ia lakukan itu. Bagaimanapun tindakan itu sudah termasuk upaya pembunuhan, padahal ia hanya ingin memberi perlindungan. Perlindungan untuk Sang Ibu yang selalu dengan ikhlas merawatnya. Sang Ibu mengerti ... Sang Ibu sangat mengerti, bahwa Anaknya itu tidaklah melakukan kesalahan. Namun, dia--Anaknya itu tak berhenti gemetar, disaat itulah Sang Ibu mendekapnya untuk memberi ketenangan batin.

Sang Jalang lari! Sang Ayah terbaring di lantai dan sebentar lagi menemui ajalnya. Namun, di tengah sekaratnya itu, tak pernah terlintas di pikirannya untuk meminta maaf kepada keluarga kecilnya. Yang ada hanya, cacian dari mulut busuknya ....

"Ka-kau a-anak ha ... ram. Ma-ma ... ti!" Disaat itu juga tak terdengar lagi, cacian dari Sang Ayah. Itulah pertanda tak tersisa nya nafas daripadanya, jantungnya telah berhenti untuk berdenyut, suhu tubuhnya telah dingin, inilah yang disebut dengan kematian! Malam kini telah berubah warna merah, darah yang kini telah menodai lantas rumah. Akan tetapi, semua itu disembunyikan ... disembunyikan oleh Sang Ibu itu sendiri. Sang Ibu pamit setelah menenangkan anaknya. Untuk apa? Hanya untuk memberi pemakaman yang layak kepada suami brengseknya itu! Tak ada polisi, tak ada orang lain, tak ada yang menemani, hanya Sang Ibu sendiri yang melakukan pemakaman itu. Tangannya dia genggam, memulai untuk berdoa di atas pemakaman.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun silih berganti, dan kejadian itu perlahan memudar di dalam keluarga itu. Yang tertinggal hanyalah kenangan bersama Sang Ayah, lewat potret yang ada di ruang keluarga. Sang Anak ingin mengakhiri, tapi dia tidak bisa, pasalnya Sang Ibu yang tak rela akan dibuangnya potret satu-satunya itu. Sang Anak pun menyerah, menyerah untuk membuang kenangan. Namun timbul lah suatu sifat, sifat yang tidak bisa percaya kepada siapapun kecuali Ibunya tercinta. Entah mengapa? Mungkin karena trauma akan ayahnya.

Hingga Sang Anak semakin tumbuh, dan terjadilah percakapan hangat diantara keduanya.

"Hector, kamu gak mau sekolah?" tanya Sang Ibu dengan lembut.

"Gak perlu, Ma. Lebih baik Hector bantu mama cari uang. Kalau Hector sekolah, takutnya nanti malah jadi membebankan mama buat cari uang. Hector sudah cukup bahagia, walaupun tidak sekolah, Ma," jelas Sang Anak kepadanya Ibunya. " Hector pergi cari kerja dulu, Ma." Sang Anak mencium tangan dari ibunya, dan segera pamit untuk mencari pekerjaan.

Dia akhirnya berada di luar, di dunia para orang dewasa mengendalikan dunia. Hanya dengan satu tujuan, yaitu mencari uang. Tetapi itu semua tak semudah membalikkan telapak tangan, jerih payah dia lakukan, hanya untuk mencari dan mencari keberadaan. Keberadaan akan ketersediaannya pekerjaan.

Sampai tiba pada waktunya dia menemukan pekerjaan. Pekerjaan yang sekiranya bisa membantu untuk menambah penghasilan, penghasilan dari Sang Ibunya yang bekerja sebagai penghibur malam. Namun, pekerjaan Sang Anak juga tak kalah hinanya, dia bekerja sebagai pembantu dalam menyelundupkan barang berupa senjata maupun narkoba. Walaupun begitu tetap mereka bekerja hanya untuk sesuap nasi dan kebutuhan lainnya. Demi hidup damai dan tenang, pekerjaan berbahaya pun tidak apa untuk dilakukan. Sang Anak mungkin takut ... dirinya selalu dihantui rasa was-was setiap kali dia bekerja.

Tetapi, walaupun pekerjaan itu sangat hina, namun tak pernah sekali pun mereka mendapati adanya masalah. Semua berjalan dengan lancar, tanpa adanya hambatan. Mungkin itu semua belum waktunya saja, mungkin saja nanti mereka akan menemui suatu masalah dari pekerjaan hina mereka tersebut.

......~~~......

"Hector," panggil seseorang yang sepertinya adalah bos dari Hector.

"Iya, pak!" respon Hector dengan sigap.

"Hari ini kita mendapatkan sebuah pesanan dari pelanggan, dengan jumlah pesanan 50 AK-47, 50 M-16, 50 Night Hawk, 3 AW-50. Titik pengantaran di Gang Asteria, pada pukul 16.00. Pastikan kamu tiba tepat waktu. Leonardo dan Mona akan menemani kamu di sana," jelas Sang Bos.

"Siap, pak!" Hector kini berlalu dan segera untuk menyiapkan pesanan. Tangannya sudah terbiasa untuk memegang senjata api yang dingin. Mungkin rasa cemas akan datang ketika dia dalam perjalanan. Pasalnya tak sedikit orang yang akan mencari masalah di tengah perjalanan. Entah itu sabotase, pencurian, dan pembunuhan yang tentu berasal dari perintah Sang Klien. Hector tentu tidak sendiri, dia ditemani oleh Leonardo beserta 5 orang bawahannya yang tersebar di sepanjang jalan. Serta Mona yang telah siap siaga berada di puncak tertinggi kota dengan melihat menggunakan sniper. Percakapan kecil pun tak jarang terjadi antara Hector dan Leonardo.

"Bagaimana kabarmu Hector?" tanya Leonardo.

"Gue baik-baik saja."

"Sepertinya kamu sudah terbiasa dengan pekerjaan ini."

"Lumayan, gue sudah lumayan terbiasa."

"Tapi, ya. Cara bicaramu masih sama saja. Ya, itu bukan hal yang mudah untuk diubah. Aku juga tidak mempersalahkan itu. Asal jangan berbicara dengan nada yang tidak sopan kepada Bos, bisa gawat kita," jelas Leonardo.

"Siap!" Dengan lantang Hector menjawab.

"Fufu, seperti biasa kalian sangat akrab." sambung Mona lewat Earpiece (alat komunikasi jarak jauh yang dipasang pada daun telinga).

"Mona, bagaimana keadaan di sepanjang jalan?" tanya Leonardo.

"Sejauh ini baik-baik saja," jawab Mona.

"Apakah klien kita sudah berada di titik?"

"Hmm, biar aku liat ... oh sudah ada tiga orang dengan pakaian rapi di titik!" jelas Mona.

"Sepertinya kali ini pun, tidak akan ada gangguan dari mereka," lega Leonardo.

"Kau benar! Ngomong-ngomong Hector." Hector mendengarkan. "Kemampuan kamu sangat hebat, tiba-tiba bisa mengeluarkan senjata yang entah darimana. Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya lagi!" kagum Mona kepada Hector.

"Hehe, gue bisa tunjukkan nanti setelah mengantar pesanan," respon Hector.

"Siap! Ditung--" Tiba-tiba suara Mona hilang dari sambungan.

"Mona?! Bisa kau dengar?!" Hector panik.

"Apa yang terjadi, Mona. Jawab aku!" Leonardo tak kalah paniknya. "Tim A, segera lihat keadaan, Mona. Aku ulangi segera lihat keadaan, Mona."

"Roger!" Tim A merespon dengan baik. Mereka berlari, melompat, memanjat, dan sampailah mereka di atas perumahan, menggunakan teropong tangan, lalu mencari letak Sang Sniper--Mona. Dan apa yang telah dia lihat?

"Bu-buruk, ini buruk kapten!"

"Kenapa?! Apa yang terjadi?!"

"Mona sudah terbunuh!" Dan ternyata Sang Sniper telah terkapar tak berdaya dengan darah yang sudah melumuri tempatnya itu. Hector menjadi cemas mendengar percakapan.

"Dekati dia! Cari tahu penyebab kematian!"

"Laksanakan, kapten!" kembali berlari, melompat-melompat di atas perumahan, serta memanjat, dan sampailah dia di tempat kejadian perkara. Menelentangkan mayat Mona dan melihat kepala yang ternyata telah ada lubang di sana.

"Lubang di kepala. Mona terkena tembakan dari Sniper lain, Kapten!" Lalu,

BUM!

"Suara apa itu?! Kau dengar aku, tim A jawab!" Kini Tim A sudah tidak menjawab panggilan Leonardo.

"Apa yang terjadi?!" Hector dengan cemas berbicara.

"Ini buruk kita harus segera kembali, Hector!" ajak Leonardo. Namun, mereka tak akan sempat, pasalnya ....

BOOM!

BERSAMBUNG ...........................

1
Nomor XY
gilak banget hidupnya..
Anonim
next-next ceritanya menggila, kerenn
Ra Ok
pengen dong digoda fleta hehe
Anonim
nicee
apaaja
nice story, lanjut terus
apaaja
Ekhem-ekhem
apaaja
akhirnya up/Drool/
Anonim
good
Anonim
next thor
Ra Ok
nah loh ke dunia lain
Ra Ok
kasian banget hajime/Whimper/
rederni
first dariku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!