Menceritakan tentang seorang gadis yatim piatu yang pekerja keras dan sangat mandiri, menjalin cinta dengan pria Tunanetra berkaca mata hitam dan bersikap penyayang namun dingin benci pada Wanita.
mampu kah mereka menjalani cinta yang unik dan penuh derama? Yuk, langsung dibaca aja! Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian dengan like, vote, dan komen ya! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Ana anggini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. cemburunya Aira.
Sesampainya Dani di dalam kamarnya, dia langsung menutup pintu kamarnya dengan cukup keras.
Dengan rasa kecewa dan sedih, dani pun langsung pergi menuju ruangan rahasia yang berada di dalam kamarnya.
Sebab, ruangan itu adalah ruangan tempat di mana dia harus membuang rasa pusing dan seterusnya.
Ruangan rahasia itu, cuman assistantnya, Rayan dan dia yang tahu.
Bukan hanya dia yang memiliki kamar rahasia, Rayan juga punya.
Mereka bertiga menyembunyikan rahasia itu dari Dian.
Di dalam ruang rahasia tersebut, Dani meraih satu botol minuman keras untuk menemaninya di malam hari yang sangat membuat dia pusing dan sekaligus lelah dengan semua apa yang telah terjadi kepadanya.
Pada waktu dia meminum satu teguk kan, dia mengingat-ingat apa yang telah diucapkan Dian kepada mereka, bahwasanya Dani itu bukanlah anak kandung nya Dian.
Flash back
"25 tahun yang lalu, ada seorang wanita yang sedang menggendong anak bayi yang masih baru lahir. Wanita itu menitipkan anaknya untuk aku rawat. Padahal, waktu dia menitipkan anak itu aku masih belum memiliki suami. Bahkan dia memperkenalkan namanya berserta anak yang sedang dititipkan yang kepadaku. Anak itu bernama Dani."
Flashback off
"Ahahaha! Gila! gila! gila! Apakah mungkin ada seorang ibu yang tega menitipkan anaknya kepada orang lain? Hahhh aku sangat sulit untuk mempercayai nya."
Ujar Dani dalm hatinya sambil menghela nafas dengan berat.
Dia tidak menyangka bahwa, di dalam kehidupannya dia memiliki misteri yang tak terduga.
Dia juga tidak menyangka bahwa dirinya selama ini bukanlah anak kandung dari Dian.
Bahkan saat ini dia sangat sulit untuk mempercayai ucapan mamanya. namun, apa daya, itulah kenyataan yang harus diterima untuk saat ini.
Setelah berucap demikian, Dani terus-terusan meneguk minumannya sampai habis satu botol.
Sesudah Dani menghabiskan minuman tersebut, dia pun melampiaskan amarahnya dengan cara, dia memecahkan botol minuman yang telah habis di minumnya.
Tuparlenglenglengleng.
Suara pecahan botol minuman yang kosong tersebut nyaring di dalam ruangan.
Walaupun Dani sudah menghabiskan minumannya 1 botol, akan tetapi itu tidak memuaskan hatinya.
Dengan keadaan yang penuh kekecewaan, dia pun kembali mengambil minuman itu dan langsung meminumnya setengah botol.
"Oh Tuhan! Rasi yang tulus mencintai aku dan menerima aku apa adanya, begitu cepat engkau panggil dia. Demikian juga Vita, aku sudah buka hati kembali namun aku harus menerima kenyataan bahwa dia selama ini selingkuh. Oh tuhan! Aku kembali mencoba untuk buka hati kepada Rada namun aku harus kembali lagi merasakan perih di hatiku. Saat ini juga aku baru tahu Tuhan bahwa, aku bukanlah anak kandung Mama. Lebih sakitnya lagi Tuhan! Aku mengetahui bahwa diriku ini bukan anak kandungnya mama setelah bapakku telah kau panggil beberapa tahun yang lalu. Hahhhhhh. Apa lagi misteri kehidupanku keesokan harinya? Apakah tiba-tiba? Rada hidup kembali?"
Dani mengatakan itu dengan suara lirih dan sedikit meneteskan air matanya.
Waduh! Kayaknya Dani mulai gangguan jiwa deh. Hahaha. Masa yang mati bisa hidup kembali!
Maaf ya Dani! Aku sedikit meledek.
Kembali ke topik cerita.
Dibalik setiap perkataannya, dia selalu meminum minuman nya sampai habis tak tersisa.
Dengan keadaannya yang sudah mulai sempoyongan dan mabuk, dia kembali melanjutkan meminum minuman nya sampai dia tertidur di ruang rahasia tersebut.
Sedangkan di tempat yang berbeda, di rumah keluarga besar Sudirman, setelah mereka semua selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga sebelum beristirahat.
Kegiatan itu mereka lakukan bukan hanya disaat ada hal yang penting untuk dibicarakan, atau ada tamu di malam hari, melainkan kegiatan tersebut sudah hal yang biasa mereka lakukan setiap harinya.
"Fan! Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
TaNya fatan memecahkan keheningan di malam hari.
"Pekerjaanku Pi aman. Bahkan kerjasama kita telah diterima oleh perusahaan Wijaya grup."
Jawab Erfan jujur.
"Ia lah aman, soalnya kan abang dapat pelukan hangat dari orang lain."
Ujar Adel sinis sambil memandang Putri dengan tatapan tajam.
Sebab dia masih mengingat ingat kejadian tadi pagi di depan live.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?"
Sindi bertanya to the point.
Sebab sedari tadi dia merasa bahwa Adel menyimpan rasa amarah yang begitu dalam. Serta sepulangnya sindi dari kantor, Adel tidak banyak bicara dan tatapannya menyiratkan dendam terselubung.
"Tanya aja tuh sama Bang Erfan dan kak Putri Mi."
Adel menjawab dengan ketus sambil memandang Erfan dan Putri secara bergantian.
"Aduh! Pasti Adel masih salah paham tentang tadi pagi."
Ucap Erfan dalam hatinya.
Sebab, dia merasa bahwa yang dilakukannya tadi pagi itu hal yang wajar saja.
"Apa yang adik kamu maksud Fan? Mengapa dia begitu marah kepada kamu dan kakak kamu Putri?"
Tanya fataN dengan tegas sambil memandang anak sulung itu dengan tatapan menyelidik.
"Adel hanya salah paham saja Pi."
Erfan menjawab dengan jujur.
Dia benar-benar tidak memiliki perasaan cinta kepada Putri. Cintanya hanyalah untuk Aira seorang.
"Apaaaaa! Apa abang bilang! Aku hanya salah faham saja?"
Tanya Adel mebentak abangnya, sambil matanya menyala nyala menyiratkan amarah yang begitu dalam.
Bagi Adel saat ini, Putri itu seorang pelakor, serta saat ini dia sedang menjalin hubungan kepada abangnya.
"Adel! Kamu yang tenang! Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa kamu marah marah kepada abang kamu?"
Sindi bertanya sambil mengusap-usap bahu Adel untuk menenangkan putri bungsu nya.
Mendengar ucapan Sindi, Adel hanya diam, dia sambil mengepalkan tangan nya dengan erat sampai kuku-kuku nya berubah warna menjadi putih.
Dia menahan amarah nya sekuat tenaga untuk memberi kesempatan abangnya menjelaskan apa yang telah terjadi di live di pagi hari.
"Biar Erfan saja yang menjelaskan kepada kita mi!"
Ujar Fatan tak terbantahkan.
"Pi! Adel hanya salah paham saja. Tadi pagi, di rumah kita ini terjadi insiden kecil. Kak Putri dan Mirna terjebak di dalam live. Untung saja Mirna langsung menelpon pak Parjo."
Ujar Ervan tanpa ada yang harus ditutupi.
Hafff.
Erfan menghela nafas sebelum kembali lagi melanjutkan ceritanya.
"Sesampainya aku dan Pak parjo di sana, aku berusaha membuka pintu live nya. Ketika pintu live terbuka, Kak Putri kelihatan sangatlah ketakutan dan dia pun langsung memeluk aku. Setelah itu, akupun membalas pelukannya dan mengecup keningnya kak Putri supaya dia bisa sedikit lebih tenang"
Ucap erfan kembali melanjutkan ceritanya.
Di dalam cerita Erfan, Aira hanya diam menahan rasa cemburu nya.
Dia tidak menyangka bahwa Erfan akan mengecup kening nya Putri.
Setelah Erfan menceritakan apa yang telah terjadi hari ini, mereka semua menatap Putri dengan khawatir, terkecuali Erfan, Aira dan Adel.
Aira sama sekali tidak khawatir dengan keadaan Putri, sebab kali ini dia benar-benar cemburu akibat Refan yang telah mengecup gening kakak angkat mereka.
"Put! Kamu tidak apa-apa kan?"
Sindi bertanya dengan suara lembut.
"Ia Mi! Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya sedikit troma di dalam live."
Jawab Putri.
"Baguslah kalau begitu."
Ujar fatan merasa sedikit lebih lega.
"Ra! Maafkan aku."
Ujar Putri lirih.
Dia saat ini benar-benar merasa bersalah.
Apa lagi tadi pagi dia tanpa sadar langsung memeluk Ertan setelah keluar dari live.
"Apa kakak bilang!? Kakak minta maaf setelah mendapatkan kecupan dari suamiku?"
Ujar Aira sedikit membentak.
Aira benar-benar tidak terima bahwa kecupan sang suami mendarat di kening orang yang baru dikenal beberapa bulan yang lalu.
"Sayang! Kamu yang tenang, ini cuman salah faham doang kok."
Ujar Erfan lembut sambil memegang erat tangan sang istri, namun tangan Ervan langsung di hempaskan begitu saja.
Melihat Aira yang sedang cemburu, Adel merasa senang.
"Mampus loh Put, aku yakin, malam ini pasti kamu keluar dari rumahku."
Adel berkata dalam hatinyq sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Apa abang bilang!? Aku hanya salah paham dan harus tenang?"
Tanya Aira dengan penuh tekanan.
Tatapan matanya begitu tajam bagaikan silet yang ingin menusuk jantung sang suami yang menurutnya saat ini sudah berkhianat di rumah mereka sendiri.
"Hiks...hiks...hiks. apakah aku harus senang mendengar cerita abang yang telah memeluk dan mencium wanita lain di rumah ini? Kalau Adel abang memperlakukan seperti itu, mungkin aku tidak akan marah dan tidak merasa cemburu. Sebab, Adel itu adik kandung abang sendiri. Hiks...hiks...hiks. sedangkan Putri, dia bukanlah adik kandung abang! melainkan, dia itu pendatang baru di dalam kehidupan kita."
Aira berkata sambil menangis sesegukkkan.
Dia saat ini merasa marah dan kecewa kepada sang suami yang sudah berkhianat secara terang-terangan.
Apapun alasannya, pastilah kita merasa cemburu bila pasangan kita memeluk dan mencium orang lain di hadapan kita sendiri.
Pasti teman-teman yang membaca cerita ini merasakan apa yang telah dirasakan Aira.
Next. Kita kembali ke topik ceritanya.
Hafffff.
Fatan, sindi, dan Erfan menghela nafas berat.
Mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi kepada Aira untuk menenangkan.
Dibalik kejadian ini, adel sangat menikmati sinetron dihadapannya.
"Ra! Maafkan kakak! Kakak yang salah."
Putri berkata sambil menggenggam kedua tangan Aira.
"Emang loh yang salah!!!"
Ujar Aira Sinis.
Mendengar ucapan sang putri, Sindi hanya bisa menggenggam tangan Adel dengan lembut untuk menenangkan.
Sebab, rasa-rasanya, kalau Adel emosi, bisa-bisa perang dunia ke-2.
"Sudah cukup drama ini kak!"
Ucap Aira dingin sambil mengempeskan tangan Putri.
"Dek!aku mohonnn! Maafkan kesalahanku! Hiks...hiks...hiks."
Lagi-lagi Putri berkata sambil menangis serta berlutut, dan memegang pergelangan kakinya Aira.
Dia benar-benar merasa bersalah telah memeluk Erfan di depan live.
Namun, apalah daya. Aira hanya melihat putri dengan sinis.
Selembut lembut nya sang istri, kalau dia di dalam api cemburu, kelembutan nya itu pun perlahan-lahan pastilah pudar.