"Kau dan aku hanya akan menjalani pernikahan ini selama 3 bulan saja dan jangan harap aku akan memperlakukanmu selayaknya istri. Ingat!, posisimu di rumah ini hanya pengasuh anakku!!."Tukas Alif tajam dan penuh penekanan kepada Dilara.
"Baik, Tuan. Saya akan pastikan akan pergi setelah kontrak ini berakhir" jawab Dilara enteng.
Teuku Alif dan Dilara Pramesti sama sama merasa terpaksa saat di jodohkan oleh orang tua Alif yang sekaligus majikan Dilara sebagai baby sitter di keluarga tersebut.
Alif membuat kontrak pernikahan yang menyatakan bahwa pernikahan mereka hanya selama 3 bulan saja dan Dilara menyetujuinya.
Namun, menjelang kontrak berakhir, Alif mengetahui sebuah rahasia Dilara.
Bagaimana kisah antara baby sitter dan majikan yang arogan dan dingin ini berakhir? apakah mereka benar benar berpisah setelah 3 bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oh_shaeE05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersedak
"Aku tidak mau di cap sebagai orang yang menindas pekerja ku. Dan kau tidak perlu bertindak selayaknya Nyonya di rumah ini dengan memenuhi segala keperluan di sini. lakukan saja peran mu sebagai pengasuh Ken dan jangan melewati batas" ucap Alif sarkas karena kesal Dila menolaknya yang ingin mengembalikan uang gadis tersebut, sekaligus dia tak suka karena Dila yang kembali menundukkan wajah sehingga ia tak bisa melihat lagi manik mata indah tersebut.
"Kalau begitu terserah Tuan saja. Tanpa di ingatkan pun, saya tau posisi saya di rumah ini. Bukan saya ingin memandai - mandai untuk memenuhi kebutuhan di sini, tapi karena Tuan yang tidak memperdulikan keadaan di sini selama ini. Saya minta maaf jika saya telah lancang" Dila membungkukkan punggungnya sebagai bentuk permintaan maafnya yang sebenarnya tidak perlu.
Namun, di sini dia adalah bawahan. Sudah menjadi hal umum jika bawahan akan selalu salah walau pun dia tak melakukan kesalahan dan atasan selalu benar.
Hati Alif kembali mencelos mendengar ucapan permintaan maaf itu. Perasaan aneh kian merayap di rasakannya setelah mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut sang baby sitter sekaligus istri yang tak di anggapnya.
"Mulai nanti malam aku akan makan di rumah, jadi pastikan memasak makanan yang sehat dan berkelas. Aku tidak menyukai makanan rumahan biasa. " ucapnya sengaja untuk menepis perasaan aneh itu.
"Kalau begitu, Tuan bisa membuat daftar makanan apa yang harus saya siapkan untuk Anda, sebab saya tidak tau makanan berkelas seperti apa yang Anda maksudkan supaya saya bisa belajar untuk membuatnya." pinta Dila. Dia memang tidak tau makanan apa yang di maksud sang majikan.
"Ck... Pokoknya jangan memasak makanan kampung dengan bahan seadanya. Aku tidak ingin tubuh ku jadi kurus seperti mu karena makan makanan yang tidak sehat" cibir Alif yang tak sadar jika dari tadi memperhatikan tubuh kurus Dila.
"Baik, Tuan" jawab Dila singkat dan patuh.
"Ken, Papa berangkat kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah dan jangan nakal, oke? " Alif mencium wajah anaknya sekaligus berpamitan. Setelahnya dia mengambil tas kerjanya lalu tanpa mengatakan apapun pada Dila dia keluar.
Setelah kepergian Alif, Dila menarik napas panjang. Sungguh lega rasanya. Sebab dari tadi dia merasa tercekik dengan keberadaan majikannya itu, apalagi mendengar omelannya yang tak berfaedah. Ingin protes tapi dia tak punya nyali.
"Huft.. Sabar, Dila. Hanya satu setengah bulan lagi perjuangan mu akan selesai dan kau akan terbebas dari penjara ini" gumamnya lirih.
Namun, saat netranya melihat Ken yang sedang asik bermain membuat hatinya nelangsa. Bagaimana jika nanti dia meninggalkan anak itu dengan sang ayah yang tak peduli padanya?
Sementara Ken tidak bisa dekat dengan sembarang orang? Apalagi dia yang masih dalam tahap perawatan akibat kesehatannya yang tidak stabil akibat lahir prematur waktu itu.
Dalam hati Dila berjanji akan membuat Alif menyayangi anaknya itu sebelum dia pergi nanti.
"Ma.. Ma"
Kata - kata yang keluar dari mulut Ken membuat hati Dila terenyuh. Apalagi ketika Ken melihatnya penuh binar saat mengatakan itu. Anak bayi itu pasti sangat menginginkan sosok ibunya sehingga hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Sabar ya, Ken. Suatu hari nanti, Ken pasti bertemu sama mama." ucapnya sendu sambil mengusap lembut wajah bayi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya Dila berkutat di dapur untuk membuatkan makan malam untuk sang majikan. Dia akan memasak Sup ayam dengan sayuran. Setelah memeriksa jika bahan yang di butuhkan ada dalam lemari es, Dila pun mengeksekusinya.
Mulai saat ini pekerjaannya menjadi bertambah lagi. Biasanya dia tidak ribet - ribet untuk memasak di sore hari karena untuk makan malamnya sendiri dia bisa memasak yang simpel yakni ceplok telur, dan yang lebih sering masak mi instan yang tidak memerlukan banyak waktu.
Sekitar satu jam akhirnya pekerjaannya sudah beres. Waktunya sekarang mandi lalu memberi makan Ken.
Sekitar jam 6,Alif memasuki rumahnya. Hal yang pertama di dengarnya adalah suara celoteh Ken dari ruang tengah.
Karena cuaca petang itu agak mendung, jadi Dila tidak membawa bayi itu ke taman samping takut jika Ken akan masuk angin.
"Hallo, Anak Papa..." Alif mendekat dan mencium wajah Ken yang wangi minyak telon. Dia begitu menyukai aroma itu belakangan ini serasa mengalahkan wangi parfum paling mahal.
"Ma.. Ma"
Celoteh Ken menanggapi ucapan sang ayah. Alif melirik Dila yang segera menjauh setelah kedatangannya. Masih nampak raut ketakutan di wajah gadis itu tiap berdekatan dengannya, dan Alif tau penyebabnya.
"Ken makan dulu ya. Papa mau mandi sebentar, trus kita bisa main - main nanti" ucapnya mengelus kepala Ken.
Alif menaiki tangga menuju kamarnya. Dia ingin segera bermain dengan Ken yang sekarang sudah makin aktif dan cerewet menjawab perkatannya walau kata - kata sang anak masih sekedar mama.
"Makan malam sudah siap? " tanyanya ketika kembali turun ke bawah.
"Sudah, Tuan" jawab Dila.
"Hmm.. "
Alif langsung bergabung dengan Ken yang telungkup di atas ambal.
Dila yang merasa risih karena Alif duduk di sebelahnya segera bangkit dan berniat pergi dari sana.
"Mau kemana? " tanya Alif.
"Ke kamar, Tuan. Masih ada pekerjaan yang belum selesai" dalih Dila padahal pekerjaannya sudah rampung dari tadi.
"Apa saja yang kau lakukan dari tadi sehingga jam segini belum selesai juga?" entah mengapa Alif kesal ketika Dila ingin beranjak.
Dila hanya diam dan menundukkan wajah. "Saya permisi, Tuan. Makanannya sudah saya siapkan di atas meja makan" ucapnya lalu berbalik.
Alif menatap punggung kecil itu hingga menghilang di balik pintu. Dia kemudian menghela napas untuk menghalau perasaan aneh yang kembali hadir setiap melihat Dila. Lalu dia pun mengalihkan pandangan kepada Ken yang ternyata sedang telungkup dan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya hingga membuatnya tersedak.
Ken megap - megap dan tak bisa mengeluarkan suara hingga wajahnya memerah. Alif panik dan memangku anaknya sambil memanggil - manggil nama Ken.
"Ken kenapa, Nak? Hey.. Ken..!! " pekiknya dengan suara kuat saking paniknya.
Dila yang sedang duduk di dalam kamar mendengarnya dan langsung berlari. Dia sungguh terkejut melihat Ken seperti itu, tanpa mempedulikan Alif, dia pun mengambil alih Ken dari pangkuan pria tersebut dan menepuk kasar punggung serta tengkuk anak itu sehingga keluar lah sebuah benda dari mulut Ken dan anak itu langsung menangis kuat serta memeluk Dila.
"Apa yang kau lakukan padanya!? " bentak Alif yang melihat dengan kepala sendiri saat Dila melakukan tindak tak terduga kepada Ken tadi.
"Dia tersedak sesuatu, Tuan dan saya mencoba mengeluarkannya" jawab Dila gemetaran. Lalu dia memungut sebuah biji kacang dari lantai.
Ya, rupanya Ken menelan biji kacang itu dan sangkut di tenggorokannya. Tadi Dila memang memakan kacang kulit di sana sambil menunggu bubur Ken masak dan tak menyangka jika ada yang terjatuh dan akhirnya di temukan Ken lalu di makannya.
"Apa itu? Kenapa kau begitu ceroboh sekali membiarkan benda seperti itu berada di dekat anak ku? " bentak Alif lagi melihat kacang itu.
"Maafkan saya, Tuan. Saya janji tidak akan melakukannya lagi." jawab Dila gemetaran melihat kilat emosi di wajah Alif.
"Apa selama ini kau selalu ceroboh melakukan pekerjaan mu?" tuding Alif lagi melampiaskan rasa kesal sekaligus rasa paniknya tadi.
"Maaf, Tuan. Kejadian seperti ini hanya terjadi hari ini saja dan saya berjanji tidak akan terjadi lagi. Saya akan lebih berhati - hati menjaga Ken ke depannya" balas Dila pelan dengan perasaan berkecamuk.
Di sini bukan hanya dia yang salah. Alif pun sebenarnya salah karena tidak memperhatikan apa saja yang di lakukan Ken tadi. Padahal baru saja 5 menit dia meninggalkan mereka berdua. Namun, kembali lagi pada statusnya jika sang atasan tidak akan pernah mau di salahkan.
Yang penasaran kelanjutannya kisah Alif dan Dila juga si ganteng Ken, langsung aja ke pf sebelah ya..
Thank you.. 🙂🙂🙂🙂