Indonesia
NovelToon NovelToon
NITIH

NITIH

Status: tamat
Genre:Kutukan / Kumpulan Cerita Horror / Matabatin / Reinkarnasi / Horor / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Saputra

"Ini takdir kita! Menghancurkan Nitih"

Seorang siswi di duga membuka pintu terlarang yang seharusnya tidak boleh dibuka, hingga keesokan harinya ia di temukan tewas di dalam kelas. Ruangan itu ialah ruang sanggar kesenian sekolah yang sudah sangat tua dan tidak terjarah. Yang mana, sebenarnya ruangan tersebut merupakan tempat dikurungnya se sosok makhluk jahat selama ratusan tahun.

Iyan yang merupakan siswa baru di sekolah itu merasa ada yang ganjal mengenai kematian siswi tersebut. Pasalnya, ia sempat bertemu dengan korban sebelum kematian menjemputnya. Dan siswi tersebut mengucapkan sebuah kalimat yang menurutnya aneh.

Namun tanpa Iyan sadari, kalimat itulah yang akan menjadi petaka bagi Iyan. Hingga mau tak mau dirinya harus memecahkan misteri ini demi keselamatannya dan teman-temannya.

"mikul nduwur, mendem jero"
.
.
selamat membaca dan semoga terhibur
Update setiap hari ya, soo stay tone🙊
follow ig : @dwisa_putraaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Kami di ikat

"Apa-" aku terbatuk. "Apa yang udah terjadi" suaraku pelan. Nafasku tertahan sesak dengan pusing yang rasanya sangat sakit. Aku berusaha melepaskan ikatan tali berwarna biru di kedua tangan dan kaki, namun semua itu hanya sia-sia. Aku merasa semakin sakit ketika mencoba melepaskan diri.

"Bakwan, lo gak papa?" Hans bertanya seakan khawatir, ia menengok ke arahku dengan mukanya yang nampak lesu dan rambut yang acak-acakan.

"Gue-" aku kembali terbatuk "gue mau dimakan harimau" jawabku datar. Aku bingung harus bersyukur atau mengeluh karena ternyata diriku masih hidup sampai sekarang. Aku melihat kondisi kaki yang ternyata baik-baik saja, bukankah tadi aku sedang di terkam harimau besar berwarna putih sebelum pingsan. Siapa yang menolongku.

Hans nampak terkejut lantaran mendengar jawaban ku barusan. Sepertinya ia juga bingung atas apa yang terjadi pada kami.

"Kita dimana si?" Aku bertanya dengan sisa suara. Badanku begitu lemas seperti kekurangan protein.

"Rumah Sunandar" balas Hans sambil memalingkan muka. Aku terkejut bukan main dengan yang ia katakan, apa jawaban itu memang benar dan bisa di percaya.

Aku melihat Iko yang masih terbaring lemas. Aku mencoba memanggil namanya beberapa kali namun tetap saja anak itu tidak kunjung sadar. Apa yang harus aku lakukan, di posisi lemah begini aku tidak bisa melepaskan ikatan sekuat baja. Benar-benar sangat merepotkan, kalau benar ini ulah Sunandar.

Apakah Sunandar benar-benar orang yang jahat, bahkan mungkin ia seorang psikopat. Jika benar ini ulahnya maka bisa aku pastikan ia benar-benar orang yang tak baik.

"Kenapa lo masuk ke dalam hutan?" Tanya Hans dingin. Aku bingung seketika, mengapa ia menanyakan hal itu jika yang membuat ku masuk hutan adalah dirinya.

"Gue denger lo manggil gue" jawabku jujur.

"Shit, itu bukan gue bangke" umpat Hans.

"Diem deh jutek, mending kita cari cara buat lepas dari sini. Mana iko gak bangun-bangun" aku mencoba mengalihkan obrolan.

"Gak bisa bakwan, lo harus tau aja kalo Sunandar itu-" ucapan Hans terhenti lantaran pintu di sebelah kanan kami terdengar berderit.

Kreeeet

Dadaku berdegup kencang menunggu kehadiran orang itu, aku melongok beberapa kali dengan muka pucat dan khawatir.

"Satu lagi sudah bangun ternyata, tinggal menunggu satu lagi kita akan memulainya" sebuah suara besar dan berat menggema. Ia berjalan di antara kami bertiga.

Seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun dengan jenggot panjang dan kumis tebal bisa aku lihat. Matanya bulat dengan rambut panjang se punggung yang ia ikat. Ia tidak memakai baju, hanya memakai celana jeans yang terlihat sudah usang dan kotor membuat roti sobeknya terlihat begitu saja. Apa benar dia Sunandar.

"Lepasin gue bangsat!" Gerutu Hans.

Orang itu beralih ke sebuah meja di sebelah kiri ruangan dan mengambil sesuatu di laci. Entah apa yang sedang ia lakukan di sana, ia tengah memunggungi kami bertiga.

"Mulut kamu itu, seperti tidak pernah di sekolah kan saja" Balasnya sambil sedikit menggeleng.

"Siapa kamu?" Tanyaku penasaran.

"Saya? Karena kamu sedikit sopan jadi saya akan menjawab. Saya adalah Sunandar, pemilik pulau ini" jawabnya sambil fokus melakukan sesuatu hal yang tak bisa ku lihat. Ternyata memang benar dia adalah Sunandar.

"Apa yang kamu lakukan pada kita? Kenapa kamu mengikat kita seperti ini?" Aku kembali bertanya, aku mencoba mengimbangi bahasanya yang terkesan baku.

"Apa para warga bodoh itu tidak memberitahukan kalian? Dasar manusia dungu. Dua bulan lalu dua turis yang datang untuk bermalam, seminggu lalu lima orang anak sekolah. Dan sekarang kalian. Orang-orang bodoh" ia terdengar kesal. Apa maksudnya.

"Maksud lo apa!" Hans membentak. Apa dia tidak bisa lebih sopan sedikit.

"Pulau ini adalah rumah saya, kalian tidak boleh bermalam di pulau ini. Karena kalian telah berniat bermalam, ya sudah akan aku makan bersama harimau ku" orang itu memandangi wajahku dan Hans dari kejauhan. Aku bergidik ngeri, ternyata benar dia seorang yang jahat. Dia berniat tak baik pada kami.

"Argh, lepasin guee!!" Hans berontak.

"Lepasin kita!" Aku ikut memberontak.

"Ais ais tidak semudah itu, saya sudah seminggu tak memakan daging manusia. Mungkin yang sebelah kiri itu enak, tapi dia belum bangun. Saya ingin mendengar nya berteriak kesakitan" ucapnya. Aku begitu ketakutan mendengar kalimat nya itu, ia akan membunuh kami hidup-hidup.

"Gak please, tolong lepasin kita. Tolong..." Pintaku, sedangkan Hans masih berontak membuka ikatan di kaki dan tangannya.

"Ah sudahlah, saya mau berburu dulu. Siapa tau kalian tidak hanya bertiga, saya permisi..." Ia berjalan pergi dan kembali menutup pintu.

"Aaaah sial sial sial!" Kecam Hans.

Aku masih diam sambil menahan rasa ingin menangis, aku benar-benar tak menyangka kami akan bertemu Sunandar karena kesalahan warga. Seharusnya kami tak boleh bermalam di pulau ini, karena Sunandar sudah mengakui pulau ini miliknya. Tapi, apa masih ada kesempatan menemukan Kujang itu? Apa benar Sunandar yang di maksud adalah orang tadi? Apa ini, kenapa semua ini rumit.

"Hans" Aku memanggil anak itu dan mencoba menenangkan nya. "Lo bisa lebih sopan gak si?" Lanjutku.

"Sopan? Lo kira apaan hah, lo gak bisa liat apa kita mau di bunuh sama dia. Gue mah sorry" Hans menggerutu.

"Hans, lo ingat Kujang kita. Kita harus nemuin benda itu, kalo lo gak mau mati lo diem aja ketika orang itu balik ke sini" ucapku. Aku yakin ia akan memberontak.

"Hah apa? Diem aja?, Gak gue harus ngelawan! Enak aja dia makan kita dengan semudah itu" Hans menggerutu. Ia nampak marah dan tak setuju. Padahal aku hanya ingin menenangkan nya, aku takut Iko semakin histeris setelah ia bangun nanti karena Hans yang terlihat takut.

"Heh jutek, nurut kek. Gue punya cara!" Ucapku bohong.

"Apa cara lo" tanya nya.

"Ya, ya ada lah" aku menjawab berusaha meyakinkan.

"Oke fine" balasnya singkat, ia menjadi diam di tempat.

Tak lama diantara diam ku dan Hans, sebuah suara batuk keluar dari sebelah kiri ku. Iko batuk di sertai air yang mulai keluar dari mulutnya.

"Khokk, aduh biyung. Gue udah mati" gumam Iko masih menutup matanya.

"Ikoo!" Panggilku padanya.

"Iyan? Lo udah mati juga?" Iko terlihat membuka matanya perlahan. Kacau sekali omongannya.

"Awalnya iya, tapi ternyata belum" balasku. "Iko bangun!"

"Gue masih hidup? Untung-untung" ia mungkin berniat akan mengelus dadanya, namun hanya berujung bingung setelah menyadari tangannya terikat. "Loh loh, kok gue di ikat sih?" Ia mulai memberontak.

"Iko diem, lo gak boleh panik!" Aku berusaha menenangkannya.

"Iyan? Kenapa kita di ikat gini?" Ia menatapku bingung.

"Diem Ik, kita di rumah Sunandar. Kita mau di makan sama dia, lo katanya keliatan enak" Hans kini menjawab.

"Bocah goblok" aku menatap Hans tajam. Bisa-bisanya ia mengucapkan kalimat itu dengan nada slow nya, padahal aku melarang keras.

Dan sekarang lihatlah Iko, ia sedang berteriak tak jelas sambil membabi buta mengeluarkan diri dari ikatan tali di tangan dan kakinya. Ia berteriak lebih dari lima belas menit, membuat telingaku sakit dan berdenging. Tak lama setelah itu ia mulai tenang dan pasrah sembari menangis. Ia memang begitu cengeng.

"Nanti gak ada yang bantu ibuk beli sayur di pasar..." keluhnya sambil tersedu.

"Diem deh Ik, kita gak bakal mati di sini selama lo diem" geramku membuatnya diam seketika dari keluhannya yang tak jelas. Di saat seperti ini bukannya mencari solusi malah mengeluh dan menangis.

"Gue pikir, gue udah mati karna di bawa ombak. Mana sakit semua ni badan. Tapi kok sekarang udah gak sakit ya" Iko bergumam. Ia juga mengalami apa yang ku alami kah.

"Lo kenapa emang?" Tanyaku.

"Gue jatuh Yan dari tebing, gue masuk ke laut. Dan gue gak bisa berenang" Iko mendesah pasrah. Ia nampak bersyukur karena masih hidup sampai sekarang.

"Kok bisa sih" aku penasaran.

"Gue denger lo teriak dari arah hutan, makanya gue cari lo" Iko menatapku. "Lo gak papa?" Tanyanya, ia masih saja memikirkan ku.

"Gue mau di makan harimau putih" ucapku datar.

"Hah harimau? Ngaco deh. Mana ada harimau di pulau kek gini" ia justru tak percaya.

"Beneran Iko, harimaunya-"

"Harimau putihnya milik Sunandar" potong Hans pada kalimat ku.

"HAH?" Aku dan Iko kaget. Sunandar memelihara harimau? Bagaimana bisa ia mendapatkan nya, bukankah itu terlarang.

"Hah hoh hah hoh" gumam si jutek.

Iko kembali menangis tersedu membuat ku hanya bisa pasrah dengan keluhannya. Anak ini begitu sentimental. Hingga sebuah suara kembali mengejutkan kami, pintu itu terbuka lagi. Namun anehnya kali ini bukan Sunandar yang beranjak masuk. Aku mencari keberadaan nya ada di mana.

Sedang bingung mencari keberadaan sunandar, kami di kagetkan dengan seekor harimau putih yang tengah menatap kami di ujung kaki. Iko semakin histeris dengan kehadiran harimau itu hingga kemudian ia kembali pingsan, aku ketakutan sendiri dan berusaha melepaskan ikatan. Aku berteriak kencang sambil menggoyangkan tubuh.

...Bersambung....

1
muslikah likah
sayaqng kak... gk di lanjutin
penasaran dong yg baca kak...
Fitriyani
deg2an, asikk,
Isnaaja
tetap semangat otor
Isnaaja
kalau dipikir dengan logika gak mungkin nemuin muning yang notabenenya seorang jin,apalagi waktunya hanya sebentar.
Isnaaja
jadi apa alasan temannya mas sun meninggalkannya di pantai?
Isnaaja
meskipun terlena tapi mas sun tidak bodoh.legaaaa....
Isnaaja
cinta membutakan mas sun,,udah jelas itu si muning bukan manusia.
Isnaaja
kalau orang sunda "muning" itu artinya kerbau 🤭
Isnaaja
kayanya di sini ada kata yang kurang deh.
"hari dimana kami bertiga menjadi teman". bukankah di awal sudah dikatakan bahwa mereka bertiga berteman.?
Isnaaja: kak otor sehat?
kapan up lagi
total 3 replies
Isnaaja
kalau mau diambil lagi berarti bukan memberi,tapi menitipkan.kamu salah paham sun 🤭😁
Isnaaja
semua orang juga seperti itu ketika mengetahui kematiannya.
Risa Ratnayulita
bgus
Isnaaja
dasar goblog /Facepalm//Facepalm/
Isnaaja
jangan jangan mereke....
Isnaaja
ik,ternyata kamu sombong juga ya.
oursugar
swmangat authorrrr
ms. Ella
lanjut Thor, semangat 💪💪💪
Isnaaja
indah dan sejuk,jadi hayang kadinya
Isnaaja
jadi si jurig nitih ini gak bisa keluar dari sekolahan?
Isnaaja
mending motor iyan tinggalin aja,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!