Tidak ada cinta yang abadi. Cinta abadi dan cinta sejati itu hanya ada terhadap cinta orang tua kepada anaknya dan cinta kita kepada Tuhannya. Tanpa pamrih, tulus dan ikhlas.
Almeera gadis berusia 25 tahun ini tumbuh di antara 2 ayah dan juga 2 ibu dengan perbedaan keyakinan diantara ke dua orang tuanya. Setelah perceraian kedua orang tuanya, Meera ikut bersama ibunya dan memeluk keyakinan yang sama dengan ibunya yaitu Nasrani.
Perceraian yang dialami kedua orang tuanya membuat Almeera dan ke empat kakaknya mengalami dampak yang cukup besar.
Akankah perbedaan keyakinan dan perceraian yang di alami kedua orang tuanya membuat silahturahmi keluarganya merenggang? Akankah Almeera menemukan cinta sejati yang selama ini ia cari?
Lantas, dengan kehadirannya Adrian yang berbeda keyakinan dengannya akankah menggoyahkan keyakinannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kayinkayinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidayah
Meera masuk ke dalam rumahnya dengan jalan tergontai. Ia menutup pintu kamarnya dengan perlahan. Ia terjatuh dan duduk membelakangi pintu kamarnya dengan air mata yang mulai membanjiri kedua pipinya.
Tangisannya pecah. Semua kenangan singkatnya bersama Adrian mulai bermunculan. Walau perkenalan ini begitu singkat, tapi Meera benar-benar tulus mencintai Adrian tanpa meminta balasan apa pun.
Cintanya murni. Ia tidak pernah mencintai pria seperti Adrian seperti ia mencintai dirinya sendiri. Di mata Meera, Adrian adalah pria yang baik dan nyaris sempurna. Namun, di dunia ini tidak pernah ada yang namanya kesempurnaan.
Sejak awal, Meera tahu resiko hubungannya dengan Adrian akan seperti apa. Tapi, ini benar-benar membuat hatinya sakit. Meera memegang begitu erat kalung salib miliknya.
Beberapa hari ini, fikirannya benar-benar melayang kemana-mana. Apalagi semenjak pertemuannya kemarin dengan ibunya Adrian. Ia tidak ingin Adrian menjadi anak yang durhaka. Ia tidak ingin Adrian mengingkari pesan yang diamanatkan almarhum ayahnya.
Meera juga tidak ingin agama menjadi permainan cintanya. Ia tidak ingin hanya karena ingin menikah dengan Adrian, keyakinannya menjadi pertaruhannya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk berpisah dengan Adrian walau ia tahu itu sangat menyakitkan keduanya.
"Maaffkan aku, Ian. Maafkan aku yang telah mencintaimu," tangisnya dalam kegelapan malam.
Keesokan harinya, Adrian terlihat begitu murung. Sambil mengambil piring nasi miliknya di ruang makan, Adrian membuat ibunya dan juga adiknya tampak khawatir.
"Kak Ian kenapa?" tanya Dian tampak khawatir.
"Kakak memutuskan untuk berpisah dengan Almeera, Dian," jawabnya murung.
"Kakak serius?" tanya Dian yang begitu terkejut mendengarnya.
Adrian menganggukkan kepalanya dan kembali memakan makanannya tak bersemangat.
"Kami sudah membicarakannya kemarin. Meera tak bisa dengan mudah berpindah keyakinan hanya untuk menikah dengan kakak, Dian. Meera gadis yang baik dan mencintai Tuhannya. Dia gadis yang religius."
"Kak . . ."
Adrian tersenyum simpul sambil memegang kepala adiknya lembut seraya menatap wajah adiknya lirih kemudian memakan makanannnya.
"Keputusan Meera sudah baik, Nak. Percayalah, Meera tidak ingin membuatmu bersedih karena keluargamu." Sang ibu muncul dan duduk di samping anaknya.
"Ian tahu, ko, Mam."
"Mamah minta maaf atas kesalahan mamah saat bertemu dengan Meera. Mamah mungkin sangat keras kepadanya. Namun, sejujurnya mamah sangat menyukai Almeera, Ian," ujar sang ibu lirih
"Iya, Mam. Adrian tahu itu. "
Sang ibu menggenggam tangan anaknya seraya menatapnya dengan tatapan sendunya.
"Maaffkan mamah, yah, Ian."
"Mamah nggak salah. Adrian yang salah karena sudah mengecewakan mamah dan papah. Maaffin Ian, yah, Mam."
"Kamu anak yang baik, Nak. Semoga kamu selalu mendapat kebaikan dan berumur panjang, Nak."
"Aamiin."
Meera terlihat baru saja selesai berdoa di Gereja tempat biasanya ia sering beribadah. Saat baru saja keluar dari Gereja dan hendak untuk pulang, ia tidak sengaja melihat Jonathan yang baru saja hendak masuk ke dalam Gereja.
"Jonathan?"
"Meera?"
Setelah pertemuan mereka secara tak terduga, Meera memutuskan untuk menunggu Jonathan beribadah. Setelah selesai, mereka berdua bertemu dan duduk bersama di sebuah bangku taman tak jauh dari Gereja.
"Elo sering banget ke Gereja, Meer. Pasti, lagi ada masalah, yah?" katanya membuka suara.
"Elo tahu juga, Jo." Meera menundukkan kepalanya.
Jonathan tersenyum tipis. "Gue tahu kebiasaan lo kalau lo lagi ada masalah, Meer."
"Kayanya, cuma elo yang tahu gue seperti apa, yah?" tutur Meera sambil menatap wajah Jonathan.
"Elo kenapa, Meer? Kalau lo butuh temen cerita, elo bisa cerita sama gue."
Meera menatap ke arah langit yang tampak mendung. Matanya seolah seperti sedang menerawang sesuatu. Melihat Meera menatap ke arah langit, Jonathan pun mengikuti ke mana arah matanya menatap.
"Gue berpisah dengan Adrian, Jo."
Jonathan kembali menatap ke arah Meera dengan terkejut.
"Ternyata susah ya kalau mau berhubungan serius dengan perbedaan keyakinan. Keluarganya Adrian meminta gue untuk berpindah keyakinan jika gue ingin menikah dengan Adrian. Tapi, tak semudah itu berpindah keyakinan, Jo. Semua butuh proses."
"Proses? Elo ada berencana berpindah keyakinan?" tanya Jonathan.
"Beberapa hari lalu, bahkan saat gue memulai hubungan dengan Adrian, gue sering kali bermimpi, Jo. Gue bermimpi ayah dan bunda kembali tinggal bersama. Bahkan, kami sholat bersama dan mengaji bersama. Dan, yang lebih anehnya lagi gue naik haji bersama kedua orang tua gue.
"Dan, mimpi itu sering banget terjadi akhir-akhiri ini. Gue tak mengerti apa maksud dari mimpi ini."
"Sepertinya, elo mendapatkan hidayah itu, Meer."
Meera menundukkan kepalanya dan kembali memegang kalung salib miliknya dengan tatapan lirihnya.
"Elo orang pertama yang tahu soal rahasia gue, Jo. Gue belum cerita sama siapa-siapa. Bahkan, Adrian atau keluarga gue pun belum tahu soal ini."
"Kenapa, Meer? Kenapa elo menceritakan hal ini sama gue?"
Meera menatap wajah Jonathan dengan lekat.
"Gue percaya sama lo, Jo. Karena lo adalah sahabat terbaik gue yang gue miliki setelah Sesil."
"Apa ini rencana Tuhan?"
"Maksud lo?"
Jonathan memperdekat jarak duduknya dengan Meera. Ia menggenggam tangan Meera dan menatapnya dengan sebuah tatapan penuh harap.
"Apa tidak ada kesempatan sekali lagi untuk gue, Meer?" tanya Jonathan kembali.
"Jo, bukankah sudah jelas jawaban gue waktu itu? Walau gue berpisah dengan Adrian bukan berarti kita bisa bisa menjalin suatu hubungan lebih dari seorang sahabat. Sekarang, gue hanya menganggap lo sebagai sahabat baik gue."
"Jadi, kesempatan itu benar-benar sudah tidak ada?"
Meera melepaskan genggaman tangan Jonathan seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Carilah wanita baik yang bisa mencintai lo setulus hatinya, Jo. Gue bukan wanita yang baik itu."
"Di mana gue harus mencari perempuan seperti itu, Meer?"
"Akan ada, percayalah."
Setelah pertemuannya dengan Jonathan. Meera terlihat berada di sebuah toko buku. Di sana, ia mencari beberapa buku tentang ajaran Islam. Entah apa yang ia fikirkan saat ini, hanya saja Meera mengikuti apa kata hatinya.
"Kamu serius?" tanya Rizky; kakak Meera saat ia dan Meera bertemu di sebuah Resto dekat rumah sakit tempat Rizky bekerja.
"Iya, Kak. Kakak bisa membantu aku mencarikan seorang ustadz yang mau membantuku?"
"Subhanallah, Dek. Kamu dapat hidayah?"
"Aku nggak ngerti, Kak. Tapi, beberapa bulan ini aku sering banget bermimpi seperti itu. Tapi, aku juga sudah mempelajari islam sejak aku berusia 15 tahun walau belum begitu jauh juga."
"Kenapa kamu gak pernah bilang sama kakak kalau kamu sudah mempelajari islam secara diam-diam?"
"Belum saatnya, Kak. Meera masih ragu untuk mengatakannya."
"Ayah pasti sangat senang jika mendengarnya."
Meera tersenyum dan menggenggam tangan kakaknya.
"Kak, bantu Meera, yah? Meera takut salah ambil langkah. Jadi, bantu dan bimbing Meera, yah?"
Rizky membalas genggaman tangan adiknya dan, membelai rambut adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Selalu, Dek. Kakak juga masih belajar banyak hal. Kita belajar sama-sama, yah?"
"Jangan bilang ayah dan yang lainnya dulu, yah, Kak. Sebelum Meera siap semuanya, kakak rahasiakan ini dulu dari semuanya."
"Iya, kakak ngerti, Meera. Semoga istiqomah, yah, Dek."
"Makasih banyak, Kak Rizky. Doakan Meera, yah?"
"Selalu, Adikku. Doaku selalu menyertaimu."
salam dari
RINDUKU DI UJUNG SURGA
😄😄
yuk mampir di karya aku yang berjudul " My Teacher Is Mine" menceritakan kisah cinta murid dan gurunya.
tinggalkan jejak ya kk🥰🥰💙💙💙
pasti aku feedback 😇😇😇