Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARUHAN SANG IBU TIRI
Dari tempatnya berdiri di tengah kerumunan, Sutami samar-samar melihat Kirana menapaki tangga dalam rangkulan Reylan. Bahkan sesekali tangan pria itu merangkul dengan tidak sopan di tubuh Kirana. Sialnya Kirana tampak pasrah, langkahnya sempoyongan, kepalanya terkulai di bahu Reylan.
Darah Sutami berdesir panas. High heel pinjaman Bu Wati yang mengganggu geraknya ia lepas. Lalu ia pegang erat-erat di dua tangannya, seolah sedang menggunakannya sebagai senjata darurat.
Namun saat ia harus membelah kerumunan orang mabuk, langkah Sutami sedikit tersendat saat seorang pria menggodanya, mencekal lengannya dengan kasar.
"Hei seksi... mau kemana?" tanya pria mabuk penuh tato di lengannya itu. Bau alkohol menyengat dari mulutnya.
Sutami menoleh bergidik ngeri, jantungnya pun semakin berdegup kencang. 'Jika aku menjawab kasar, pasti akan ada keributan. Semua akan melihatku, Reylan akan kabur,' pikir Sutami cepat. Lalu ia melempar senyum manis yang dipaksakan. "Biarkan aku ke toilet sebentar," katanya pelan.
"Tapi toilet ada di sana, kenapa kau mengarah ke sana?" Pria itu menunjuk ke arah berlawanan. Matanya menatap curiga ke arah tangga.
Deg!
Sutami tak menyangka itu. Sementara sudut matanya mengawasi Kirana dan Reylan yang sudah tiba di ujung atas tangga dan menapaki lantai dua.
"Ups! Apa kau tidak tahu, ada toilet khusus untukku di sana! Kau tahu maksudku kan?" ujar Sutami dengan nada dibuat semanja mungkin, ia berusaha keras agar terdengar seperti salah satu wanita di bar itu.
"Ah, baiklah-baiklah... ternyata kau sudah dipesan seseorang." Gelak pria bertato itu lalu tertawa keras.
Sutami tersenyum simpul, "Ya begitulah, aku buru-buru... dia sudah menungguku!" Sutami mencoba menarik tangannya.
Tapi tak semudah itu, pria itu justru mencengkeram lengan Sutami lebih erat. Tatapannya berubah. "Kau dipesan dengan harga berapa? Akan kuberikan dua kali lipat!" bisiknya dekat di telinga Sutami.
"Dua kali lipat?" tanya balik Sutami, otaknya berpikir keras mencari cara melepaskan diri dari pria itu. Tangannya yang memegang high heels mencengkeram semakin erat.
Sementara itu dari sudut matanya, Reylan dan Kirana sudah masuk ke sebuah ruangan. Ruangan ke empat dari tangga. Begitulah Sutami menghitung dengan panik. 'Aku harus cepat mencari alasan! Tapi apa?' pekiknya dalam hati semakin khawatir dan takut.
.....
Di kamar itu, Reylan bukan lagi menjadi kekasih yang berjanji menjaga, melainkan mengukuhkan diri sebagai pemangsa.
Ia mendorong tubuh Kirana yang sudah sangat lemas ke tepi ranjang.
Kirana yang mabuk berat dan tidak sadar penuh justru tertawa kecil, tidak mengerti bahaya yang ada di depannya, seolah ia sedang bermimpi indah.
Reylan tersenyum miring lalu mengunci pintu. "Akhirnya..." gumamnya pelan sambil mendekati Kirana yang terbaring setengah sadar. "Kesombonganmu akan terbakar di sini bersamaku, gadis bodoh!" seringainya.
........
Sutami sangat bingung. Jika mengukur besar tubuh, sudah jelas ia tak sanggup melawan pria itu sendirian. Pria bertato itu dua kali lebih besar darinya. Meskipun ia pernah ikut bela diri, itu pun hanya bagian dari ekstrakurikuler sewaktu SMA dan sudah lama sekali ia tidak latihan. Tapi ia tak punya banyak waktu.
'Berapa gelas yang harus kubayar agar pria ini pingsan ya?' batinnya mengukur sambil melirik botol-botol di meja bar. "Ikut aku!" serunya lalu bergerak cepat, sengaja tidak melawan arah cengkeraman itu, membuat pria itu mengikuti langkahnya.
'Mungkin ini saatnya aku menggunakan uang Waluyo!' pikirnya lalu mengambil kartu yang pernah diberikan suaminya itu.
Sutami berhenti tepat di depan meja bartender yang tinggi. Dengan napas terengah, ia mengebrak meja kecil.
"Duduk!" Perintah Sutami terdengar tegas, suaranya berubah. Ia sangat panik hingga lupa ia sedang menyamar sebagai wanita genit.
Pria bertato itu terkejut, lalu tertawa. Ia duduk di kursi bar, tepat di sebelah Sutami yang berdiri. "Galak juga kau," katanya.
Sutami menoleh ke bartender. "Bartender! Yang paling keras di sini, satu botol. Cepat!"
Bartender menatapnya ragu, lalu mengambil sebuah botol hitam dari rak atas. Harganya jelas mahal.
Sutami meletakkan tas branded Bu Wati di atas meja. "Botol ini aku yang bayar, habiskan secepat yang kau bisa, baru aku akan kembali ke sini!"
Pria bertato itu melotot melihat botol itu. "Secepat yang aku bisa?" tanyanya dengan mata berbinar. Ia memang sudah mabuk berat.
"Ya!" jawab Sutami mantap dan tegas, ia tahu minuman itu memang keras. Ia yakin belum juga setengah botol itu ditenggak dalam kondisi pria itu yang sudah mabuk, tubuhnya akan menyerah. "Jika kau bisa menghabiskannya sebelum aku turun dari atas, aku akan ikut kemana pun kau mau. Tapi jika tidak... jangan pernah sentuh aku lagi!"
Itu tantangan yang tidak akan ditolak oleh pria mabuk yang harga dirinya tinggi.
"Berani! Kau lihat saja!" seru pria itu langsung meraih botol dan menuang ke gelas dengan tangan gemetar.
Tanpa menunggu lagi, Sutami berbalik. Ia tidak lagi berjalan, tapi berlari membelah kerumunan dengan dua high heels kembali erat di tangan, menapaki tangga dengan cepat menuju ke lantai dua.
Satu... dua... tiga... empat.
Ruangan ke empat. Pintu tertutup rapat. Dari dalam terdengar musik yang teredam dan suara Kirana lirih, seperti mengigau.
Sutami mencoba memutar gagang pintu tapi terkunci, lalu ia menempelkan telinganya. "Kirana!" teriaknya sekencang yang ia bisa sambil menggedor pintu sekeras yang ia mampu. "Kirana! Sadar!"
Didalam, Reylan tersenyum licik merasa menang. Ia sengaja mendaratkan ciuman-ciuman penuh napsunya di sekitar telinga Kirana agar gadis itu tak mendengar, "Dengarkan aku dan nikmati waktu bersamaku, malam ini akan panjang, jadi bebaskan dirimu, Kirana," bisiknya.
"Mph...." sialnya Kirana justru tersenyum seolah mengijinkan tubuhnya dijelajahi pria yang dicintainya itu. "Kita nikmati bersama, aku mencintaimu, Rey..." racaunya.
...****************...
Bersambung....
nyeselmu tak ada guna🙄🙄...
nikmati racun yg ditebar oleh perempuan yg km anggp malaikat arka😅😅😅
msa pelaku bebas berkeliaran...
biar si lita lngsung di pecat jdi istri pak joko....