Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Apa kamu bilang, Nak? Kamu dan Mia sudah bercerai?!" Edo menjauhkan ponsel Ohang dari lubang telinganya, suara sang ibu di seberang membuat gendang telinganya sakit.
"Iya, Ma. Tadi malam kami bertengkar hebat. Mia menuduh aku selingkuh. Dia ngamuk dan melempar HP-ku hingga retak. Makanya sekarang aku nelepon pakai nomor Ohang." Mulutnya amat pintar bersilat lidah. "Dan aku sudah menjatuhkan talak tiga sekaligus ke dia. Tak sudi lagi aku berumah tangga dengan wanita macam dia."
Dedah terdiam beberapa detik. Kabar bahwa putranya sudah bercerai tentu saja membuatnya terkejut. "Talak tiga sekaligus?" ulang Dedah.
"Iya, Ma. Aku sudah nggak mau lagi berumah tangga dengan Mia. Aku sudah nggak sanggup menghadapi sikapnya."
Nurhan yang sejak tadi duduk di samping Dedah langsung ikut bicara. "Kalau memang sudah seperti itu, ya sudah. Jangan kamu pikirkan lagi."
Edo mengembuskan napas lega. "Aku sebenarnya sudah berusaha mempertahankan rumah tangga ini, Pak. Tapi Mia semakin sulit diajak bicara. Sedikit-sedikit marah, menuduh, dan membuat masalah."
Dedah langsung menyahut, "Mama sudah sering bilang, jangan terlalu lama bertahan kalau rumah tangga hanya membuat kamu tidak tenang."
"Benar," kata Nurhan. "Kamu sudah mengambil keputusan yang benar. Jangan menyesalinya."
Edo terdiam sejenak. Ia sama sekali tidak menyangka kedua orang tuanya akan menerima keputusannya semudah itu. Namun, memang begitulah Dedah dan Nurhan. Selama ini, mereka selalu punya alasan untuk membela Edo, bahkan ketika putra mereka melakukan kesalahan.
"Terima kasih, Ma. Pak," ucap Edo.
Dedah menghela napas. "Sudahlah, Do. Mulai sekarang jangan pikirkan Mia lagi. Pernikahan kalian sudah selesai."
"Iya, Ma."
"Dan Mama yakin," lanjut Dedah, "Kamu nanti bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik."
Edo mengangkat alis. "Lebih baik bagaimana?"
"Ya dalam segala hal." Dedah menjawab tanpa ragu. "Lebih muda, lebih cantik, lebih bisa menghargai suami. Kamu masih muda, Do. Masa depanmu masih panjang."
Nurhan mengangguk. "Jangan merasa hidupmu selesai hanya karena perceraian. Kamu masih punya banyak kesempatan untuk membangun rumah tangga baru."
Edo tersenyum kecil. "Jadi Mama dan Bapak benar-benar mendukung aku?"
"Tentu," jawab Dedah cepat. "Mama nggak mau kamu terus-terusan hidup dalam rumah tangga yang membuatmu tidak bahagia."
Nurhan menepuk bahu istrinya pelan. "Yang penting sekarang kamu tenangkan diri. Kalau nanti keluarga Mia datang dan mempertanyakan keputusanmu, jangan takut. Bapak dan Mama akan membelamu."
Edo semakin tenang mendengar ucapan itu. "Iya, Pak."
"Dan kalau suatu hari kamu menemukan perempuan yang lebih cocok, jangan ragu untuk menikah lagi," kata Dedah.
Edo tersenyum. "Iya, Ma."
Percakapan itu berakhir. Edo dan Ohang langsung bertos ria dan tertawa puas.
"Lo emang pandai bersilat lidah, Do. Keren pisan euy!" puji Ohang seraya bertepuk tangan.
Edo menepuk dadanya sendiri. "Siapa dulu, dong... Edo Perwira gitu lho."
"Sip! Sip!" Ohang mengacungkan jempol. "Berarti lo nggak usah murung lagi, Do. Tinggal nikmati masa duda lo. Happy-happy kita," lanjutnya berjoget.
"Iya, Hang. Gue bebas! Hahaha...!" Edo memukuli kasur yang didudukinya.
"Nah, kalau gitu... mulai sekarang lo nggak usah ngontrak. Lo tinggal di sini aja sama gue, gimana?"
Mata Edo berbinar cerah. "Serius, Hang, gue boleh tinggal di sini?"
Ohang mengangguk, "Serius lah."
Edo tersenyum lebar. Namun, beberapa saat kemudian ia menggaruk tengkuknya. "Tapi..." Edo terlihat sedikit malu. "Masa gue numpang terus di rumah lo, Hang?"
Ohang terkekeh cepat. "Emang kenapa? Gue nggak keberatan."
"Tapi tetap aja, gue malu, Hang."
"Kenapa lo harus malu segala sih?" Ohang menepuk bahu Edo. "Gue kan tinggal sendiri di rumah ini. Orang tua gue tinggal di rumah yang satunya lagi. Jadi rumah ini juga sering kosong."
Edo menatap sekeliling ruangan. Meskipun selama ini ia sering menginap di rumah Ohang, tapi tak menyangka akan diajak tinggal bersama. "Serius lo nggak keberatan?"
"Serius. Daripada lo bingung mau tinggal di mana setelah cerai."
Senyum Edo kembali mengembang. "Kalau begitu..." Ia tiba-tiba bangkit dan memeluk Ohang erat. "Makasih, Hang!"
"Iya, santai, santai!" Ohang tertawa sambil menepuk punggung Edo. "Jangan berlebihan, Do."
Edo melepaskan pelukannya dengan wajah sumringah. "Iya, Hang. Gue nggak berlebihan. Gue senang banget."
Ohang tertawa.
Setelah tawa mereda, ingatan Edo tertuju pada satu hal. "Oh iya, Hang."
"Apa?"
"HP gue gimana?"
Ohang mengernyitkan dahi. "Hp? Kenapa emang?"
"Kan HP gue rusak. Terus cicilan HP gue ke lo juga masih belum lunas."
Ohang langsung melambaikan tangan santai. "Alah, itu mah gampang."
"Gampang gimana?"
"Nanti kalau HP lo sudah bagus lagi setelah diservis, baru lo lanjut cicilannya ke gue."
Edo menatap Ohang beberapa detik. Wajahnya langsung berubah cerah. "Serius?"
"Iya, serius. Gue nggak bakal nagih sekarang."
Edo mengembuskan napas lega. "Makasih, Hang. Lo emang sahabat terbaik gue."
Ohang terkekeh. "Udah lah, jangan banyak drama." Ia kemudian berdiri dari kasur dan berjalan menuju lemari. Tak lama kemudian, Ohang kembali sambil membawa sebuah ponsel BlackBerry. "Nih."
Edo menerima benda itu dengan kedua tangan. "Kenapa lo kasih ke gue?"
"Buat lo pake sampai HP lo bagus lagi," jawab Ohang sambil duduk lagi di samping Edo.
"Lo serius meminjamkan HP BB ini buat gue?" Mata, Edo melebar, setengah tak percaya.
"Iya."
Edo tersenyum lebar. "Wah, makasih banget, Hang!"
"Iya, iya. Sama-sama."
"Makasih, Hang."
"Iya."
"Makasih banget."
"Iya, Do."
"Gue serius, Hang. Makasih."
Ohang akhirnya tertawa melihat Edo yang terus mengucapkan terima kasih. "Iya, iya! Gue dengar! Udah ah, kagak usah bilang makasih terus!"
Edo memeluk BlackBerry itu. "Akhirnya gue bisa bertukar kabar lagi sama Yayang Bela."
"Huuuu...!" Ohang menyoraki Edo.
_____
Dedah dan Nurhan masih membicarakan perceraian putra bungsu mereka. Erma, anak kedua mereka yang berprofesi sebagai guru, baru saja tiba di rumah dan langsung terkejut setelah mendengar kabar tersebut. "Apa?" Erma menatap kedua orang tuanya dengan wajah tak percaya. "Edo sama Mia sudah bercerai?"
Dedah mengangguk. "Iya, Er. Tadi Edo menelepon. Katanya mereka bertengkar hebat tadi malam. Edo akhirnya menjatuhkan talak tiga kepada Mia."
Erma mengembuskan napas panjang. Ia masih sulit mencerna kabar tersebut. "Terus sekarang Mia-nya gimana, Ma, Pak?"
Dedah menjawab, "Kata Edo, si Mia tadi pagi pulang ke rumah orang tuanya di Pasir Hurang."
Erma mengerutkan kening. "Kenapa Edo tidak mengantarnya?"
Nurhan yang duduk di samping Dedah langsung menjawab ketus. "Buat apa diantarkan? Wanita kurang ajar seperti si Mia tidak perlu dihargai. Biar dia pulang sendiri. Toh, dia punya kaki."
Erma sontak beristigfar pelan. "Astagfirullah..." Ia menatap ayahnya beberapa saat. "Pak, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Kalau aku ada di posisi Mia, lalu A Iman menceraikanku dan menyuruh aku pulang sendiri dalam keadaan seperti itu..." Erma berhenti sebentar. "Bapak sama Mama akan sakit hati, tidak?" Dedah dan Nurhan terdiam.
Erma melanjutkan dengan suara lebih lembut. "Kalian pasti sakit hati, kan?" Tidak ada jawaban. "Dulu Mia datang ke keluarga ini baik-baik. Dia menjadi istri Edo juga dengan cara baik-baik. Seharusnya kalau memang harus berpisah, dia dipulangkan dengan cara yang baik juga." Dedah menundukkan wajah. "Dan kalian pasti membela Edo," lanjut Erma. "Iya, kan?" Kedua orang tuanya tetap diam. Erma memijit pelipisnya. "Bapak sama Mama terlalu memanjakan Edo."
Dedah langsung mengangkat wajah. "Erma..."
"Selama ini Edo selalu dibela, bahkan ketika dia salah. Setiap ada masalah, Bapak dan Mama selalu mencari alasan untuk membenarkan dia."
"Tapi adikmu memang tidak salah, Er," sanggah Dedah. "Yang salah itu Mia. Edo sendiri yang cerita."
Erma menatap ibunya lekat-lekat. "Tapi aku tidak percaya."
"Erma!" Nurhan menegur.
"Aku tahu seperti apa Edo, Pak." Erma menghela napas. "Dan aku juga tahu seperti apa Mia. Dia beberapa kali curhat kepadaku."
Dedah mulai terlihat gelisah. "Curhat apa?"
Erma menatap kedua orang tuanya bergantian. "Mia pernah bilang kalau Edo sudah tidak memberinya nafkah sejak sekitar satu tahun lalu. Edo juga sudah jarang pulang ke kontrakan, Ma, Pak." Dedah terdiam. "Edo juga..." Perkataan Erma terputus.
Dari arah pintu depan terdengar suara seseorang. "Assalamu'alaikum!" Ketiga orang itu langsung menoleh serempak.
Erma mengerutkan kening. Kemudian ia berbisik pelan, "Itu seperti suara Bapak Ayep?"
Dedah dan Nurhan saling berpandangan. Wajah keduanya seketika berubah.
Suara salam itu kembali terdengar dari depan rumah. "Assalamu'alaikum!" Kali ini terdengar lebih jelas.
Erma perlahan bangkit dari duduknya.
Sementara Dedah dan Nurhan masih terpaku di tempatnya.
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅