Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 HARUMI SANG WADAH RORO JONGGRANG

Detak jarum jam dinding berukuran besar di sudut ruang tengah keluarga Zaki terus berayun memecah keheningan malam.

Tik... Tok... Tik... Tok...

Suaranya terdengar begitu konstan, seolah menjadi metronom bagi sebuah tarian kematian yang sedang berlangsung di dalam rumah yang terkunci rapat tersebut.

Cahaya lampu ruang tengah yang sengaja diredupkan menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding. Udara di dalam rumah itu tak lagi terasa seperti udara di kawasan pinggiran Yogyakarta pada umumnya.

Hawa dingin yang membekukan tulang merayap naik dari lantai keramik, membawa serta aroma pekat bunga melati yang telah lama layu, bercampur dengan bau kemenyan basah dan anyir darah yang menusuk hingga ke dasar paru-paru.

Aura kematian di rumah itu semakin pekat, mengendap di setiap sudut ruangan bagaikan kabut beracun yang tak kasatmata.

Di tengah ruang keluarga yang kosong itu, Harumi terus melangkah.

Kaki telanjangnya menyapu lantai keramik dengan gerakan mancak yang teramat halus dan gemulai.

Berjingkat perlahan, memutar pergelangan kaki, lalu mengayunkan tubuhnya dengan postur tegap yang memancarkan keangkuhan absolut.

Ujung jari-jarinya yang lentik melengkung ke atas, bergerak mengikuti irama gaib yang hanya bergaung di dalam kepalanya.

Gadis itu tidak lagi terlihat seperti Harumi, mahasiswi ceria yang gemar tersenyum.

Wajahnya sepucat pualam. Matanya terbelalak lebar, namun kosong melompong tanpa setitik pun kilau kehidupan. Bibirnya yang bergetar pucat terus melantunkan tembang duka dari masa lalu.

.....

"Sun anom~ anom~ pinasti ing wengi~~~" (Aku yang muda... yang muda... ditakdirkan di malam hari...)

.....

Suara Harumi menggema merdu namun mematikan. Nyanyian itu mengalun lambat, menembus dinding-dinding sepi.

.....

"Siro ingkang cidro~ siro ingkang sirno~" (Engkau yang berkhianat... engkau yang akan musnah...)

.....

Di kedalaman alam bawah sadarnya, jiwa asli Harumi sedang menjerit histeris.

Ia bisa melihat apa yang dilihat oleh matanya, ia bisa mendengar apa yang dinyanyikan oleh bibirnya, namun ia sama sekali tidak memiliki kendali. Ia seperti seorang tawanan yang dirantai di sudut tergelap di dalam otaknya sendiri, dipaksa menjadi penonton sementara sebuah entitas purba mengambil alih kemudi atas raga dan suaranya.

Langkah gemulai Harumi terhenti tepat di depan layar televisi layar datar berukuran besar yang sedang dalam keadaan mati. Layar hitam mengilap itu memantulkan siluet tubuhnya yang berdiri mematung di tengah keremangan ruang tengah.

Harumi menatap pantulan dirinya sendiri.

Namun, pantulan di dalam layar televisi itu tidak mengikuti gerakannya.

Sementara tubuh fisik Harumi berdiri tegak dengan tangan terkulai di sisi tubuh, pantulan di layar kaca itu justru perlahan mengangkat wajahnya.

Rambut pantulan itu tampak lebih panjang, kusut, dan meneteskan air berwarna kehitaman. Sepasang mata di layar kaca itu bukanlah mata cokelat terang milik Harumi, melainkan sepasang bola mata yang seluruhnya berwarna hitam legam, memancarkan aura dendam yang telah membusuk selama ribuan tahun.

Entitas di dalam cermin itu menyeringai lebar, menatap lurus menembus jiwa Harumi.

"Tubuh yang sangat indah... Tulang yang sangat wangi..."

Sebuah suara bisikan parau tiba-tiba bergema di dalam batok kepala Harumi.

Suara itu begitu berat, dingin, dan mengiris layaknya pecahan kaca yang digoreskan pada logam.

Itu bukan suara dari luar, melainkan suara entitas yang kini telah berbagi tempat di dalam kepalanya.

Jiwa Harumi yang terkurung meronta.

Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran spiritual yang ia miliki, Harumi memaksa pita suaranya untuk menjawab. Bibir fisik Harumi bergetar hebat, mencoba melawan dominasi makhluk tersebut.

"K-keluarlah..." rintih Harumi dengan suaranya sendiri, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang dingin. "Keluarlah dari tubuhku, Iblis... Apa salahku padamu...?"

Pantulan di layar kaca itu tertawa.

Tawa yang terdengar tanpa suara, namun getarannya membuat kepala Harumi berdenyut hebat hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan.

"Salahmu? Kau bertanya apa salahmu, Anak Manusia?" bisik entitas itu lagi, suaranya kini mengalun lambat, menikmati setiap detik penyiksaan mental yang ia lakukan.

"Salahmu adalah kau terlahir dengan darah itu. Salahmu adalah kau melangkah ke pelataranku, menginjak bebatuan yang memenjarakanku, dan menyanyikan mantra pemanggil jiwaku. Kau yang mengundangku masuk, Anak Manusia. Dan sekarang... aku telah menetap."

"Aku tidak sengaja! Aku hanya bermain drama! Aku tidak tahu kau ada di sana!" jerit Harumi di ruang tengah yang sepi itu.

Ia mengangkat tangannya sendiri, mencoba mencengkeram kepalanya, namun tangannya berhenti di udara, ditahan oleh kekuatan yang tak terlihat.

"Tidak sengaja?" desis entitas itu, raut wajah di pantulan layar TV itu seketika berubah menjadi sangat beringas.

"Ribuan tahun aku membeku dalam gelap. Darahku mengering. Jiwaku dipaksa menjadi saksi bisu atas keangkuhan manusia pengkhianat itu! Aku tidak peduli pada ketidaksengajaanmu. Alam telah menyajikan ragamu sebagai ganti atas penderitaanku. Dan aku tidak akan melepaskannya hingga seribu nyawa tuntas kubayar!"

Air mata Harumi mengalir semakin deras. Ketakutan yang ia rasakan sudah melampaui batas kewarasan manusia. Ia menyadari bahwa makhluk ini tidak memiliki belas kasihan. Makhluk ini adalah perwujudan murni dari dendam dan sihir hitam.

"Kumohon..." isak Harumi, suaranya melemah, memelas dengan keputusasaan yang meremukkan hati.

"Jika kau menginginkan nyawa... bunuh saja aku. Hentikan detak jantungku sekarang juga. Cabut nyawaku, tapi kumohon... jangan gunakan tanganku untuk menyakiti keluargaku lagi. Jangan ganggu Kak Haruma..."

Mendengar nama Haruma disebut, seringai di wajah pantulan itu semakin melebar.

Ujung selendang merah gaib yang membalut bahu pantulan itu melayang-layang perlahan.

"Kakakmu... ah, perisai yang menyebalkan itu," bisik entitas itu dengan nada mengejek.

"Tadi siang, aku nyaris meremas habis udara dari paru-parunya. Tanganku sudah berada di lehernya, Anak Manusia. Jiwanya sudah berada di ujung kuku-kukuku. Sungguh sangat lezat merasakan denyut nadinya yang memudar."

"TIDAK! KAU BOHONG!" jerit Harumi histeris. Ia mencoba memukul layar TV itu, namun tubuhnya mematung, benar-benar lumpuh di bawah kendali sang Panglima Jin.

"Kakek bilang Kak Haruma aman! Kak Haruma sudah melewati masa kritisnya! Kau tidak mungkin bisa menyentuhnya!"

"Kakek tua yang rapuh itu..." entitas itu kembali tertawa meremehkan.

"Dia memang memiliki secuil cahaya Tuhan di hatinya. Dia memukul mundur pengikutku. Dia memasang pagar gaib untuk menyembunyikan wangi darah kakakmu. Tapi kau pikir sihir doa manusia berumur pendek bisa menandingi dendam yang telah berkarat selama berabad-abad?"

Pantulan entitas itu mendekatkan wajahnya ke layar kaca dari sisi dalam, seolah ingin menembus batas dimensi untuk mencium ketakutan Harumi secara langsung.

"Pagar itu akan runtuh, Harumi. Hanya masalah waktu sebelum dinding tipis itu hancur lebur. Dan ketika waktu itu tiba... aku sendiri yang akan berjalan menggunakan kakimu ini, menyusuri lorong tempat kakakmu bersembunyi. Aku akan menggunakan tanganmu yang cantik ini untuk menancapkan belati ke jantungnya. Kau akan melihat darah kakakmu membasahi tanganmu untuk kedua kalinya, dan kau tidak akan bisa menutup matamu saat itu terjadi."

"HENTIKAAAN!!!" raung Harumi, seluruh urat di lehernya menegang. Rasa sakit di kepalanya semakin tak tertahankan. Bayangan kematian kakaknya yang diucapkan dengan begitu detail oleh makhluk itu membuat jiwa Harumi seakan diremukkan.

"JANGAN SENTUH HARUMA! BUNUH AKU! BUNUH AKUUU!!!"

Harumi mencoba menggigit lidahnya sendiri, mencoba mengakhiri hidupnya dengan sisa kendali fisik yang mungkin masih ia miliki. Namun rahangnya seketika terkunci rapat. Gigi-giginya bergemeretuk, dikendalikan oleh kekuatan yang membekukan otot-otot wajahnya.

"Kau tidak berhak menentukan kapan kau mati, Wadahku," desis entitas itu dengan suara yang menggemakan otoritas mutlak.

"Tubuh ini milikku. Darah ini milikku. Nyawamu adalah milikku untuk kupermainkan. Kau hanya akan mati setelah semua orang yang kau sayangi mati di depan matamu!"

Tiba-tiba, suara nyanyian gending Jawa itu kembali keluar dari mulut Harumi tanpa bisa ia cegah.

.....

"Getih mili ing suti~ ngruwat sukmo kang mati~" (Darah mengalir di tanah... meruwat jiwa yang mati...)

.....

Harumi kembali menari.

Tubuhnya berputar dengan sangat anggun melintasi ruang keluarga.

Tetesan air mata terus mengalir dari matanya yang kosong, menciptakan kontras yang sangat mengerikan antara gerakan gemulai penari keraton dan penderitaan batin seorang gadis muda yang sedang disiksa.

Hawa dingin di dalam rumah itu semakin mematikan.

Bau kemenyan terasa semakin pekat hingga nyaris membuat Harumi tercekik, meskipun paru-parunya terus menghirup dan mengembuskan udara dengan ritme yang teratur.

Saat tubuh Harumi berputar dan kembali menghadap ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke halaman depan rumah, langkahnya tiba-tiba terhenti secara mendadak.

Entitas di dalam tubuhnya merasakan sesuatu.

Sebuah fluktuasi energi yang terjadi jauh dari rumah itu, namun resonansinya menembus jaring-jaring gaib yang telah ditebar oleh sang iblis.

Di dalam kepala Harumi, makhluk itu menggeram rendah. Suara geramannya terdengar seperti gesekan dua buah batu besar.

"Ada yang mencoba melawan takdir..." bisik entitas itu. Suaranya tidak lagi bernada mengejek, melainkan sarat akan kewaspadaan dan kemurkaan yang mulai mendidih.

"Ada yang mencoba mencari penawar dari tidur abadiku..."

"Apa... apa maksudmu?" tanya jiwa Harumi yang merintih lemah di dalam penjara otaknya.

Pantulan entitas itu muncul di kaca jendela yang gelap, menutupi pemandangan halaman depan tempat Pak Darman berjaga di pos satpam.

Sepasang mata hitam legam itu menyipit, menatap jauh menembus batas ruang dan waktu, meraba arah datangnya ancaman yang baru saja ia rasakan.

"Pemuda itu..." desis sang Panglima Jin. Suaranya bergema penuh kebencian.

"Pemuda yang kau cintai itu. Dia tidak hanya diam menangisi nasibmu. Dia sedang bergerak. Dia membawa keberanian yang sangat bodoh dan berbahaya."

Jantung batin Harumi melonjak.

Yuda. Makhluk ini membicarakan Yuda.

Harapan kecil seketika mekar di tengah keputusasaannya.

Yuda belum menyerah. Kekasihnya itu sedang mencari cara untuk menyelamatkannya.

"Yuda..." bisik Harumi tanpa sadar, senyum tipis nyaris terbentuk di bibirnya yang pucat sebelum ditarik paksa oleh kekuatan iblis itu.

"Jangan sebut namanya dengan bibirku!" bentak entitas itu di dalam kepala Harumi, membuat telinga gadis itu berdenging hebat seolah baru saja didekatkan ke pengeras suara yang meledak.

"Pemuda bodoh itu sedang berada di tanah kekuasaanku! Dia sedang mengendus jejak masa lalu. Dia mencari darah sang penakluk, darah keparat yang telah mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu!"

Entitas itu menggeram, aura hitam memancar dari tubuh fisik Harumi, membuat lampu ruang tengah berkedip-kedip liar sebelum akhirnya mati total.

Ruang tengah keluarga Zaki kini hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang menembus awan dan bias lampu jalanan dari luar.

Kegelapan menyelimuti Harumi, namun mata kosongnya menyala oleh kebencian sang entitas.

"Pemuda itu... pemuda bernama Yuda itu, dia memiliki tekad yang sangat menyebalkan. Tekad seorang ksatria yang mencoba menyelamatkan putrinya," bisik iblis itu, nada suaranya berubah menjadi sangat dingin dan penuh perhitungan.

"Dia tahu terlalu banyak. Dia sedang mencari pedang untuk menebas leherku, Harumi. Jika dia berhasil menemukan darah itu... jika dia berhasil membawa pusaka berkarat itu kembali ke pelataranku... maka segel ini akan kembali tertutup, dan aku akan kembali membeku dalam kegelapan yang menyiksa."

"Biarkan dia! Jangan sentuh Yuda!" jerit Harumi, kepanikannya kembali memuncak. Kekuatan yang tersisa di jiwanya memberontak dengan hebat.

"Kau sudah mendapatkan tubuhku! Kau sudah menyiksa Haruma! Biarkan Yuda pergi!"

"Membiarkannya pergi sama saja dengan membiarkan diriku dibunuh untuk kedua kalinya," balas entitas itu dengan tawa sinis.

"Aku tidak akan pernah kembali ke dalam batu itu! Tidak akan pernah! Ribuan tahun aku membusuk dalam diam, dan sekarang setelah aku merasakan hangatnya darah dan udara... tidak ada satu manusia pun yang bisa mengembalikanku ke sana!"

Tangan kanan Harumi perlahan terangkat.

Jari-jarinya bergerak dengan sendirinya, membentuk posisi seperti sedang menggenggam sebuah benda tajam.

Makhluk itu menatap pantulannya di kaca jendela.

Sepasang mata hitam legam itu kini menatap lurus ke arah jiwa Harumi.

Sebuah seringai mematikan terbentuk di bibir yang tak kasatmata itu.

"Kau mencintainya, bukan?" bisik iblis itu perlahan, meracuni pikiran Harumi dengan ide yang sangat gila dan biadab.

"Kau sangat mencintai pemuda bernama Yuda itu. Begitu pula dengannya. Cintanya padamu adalah kelemahannya yang paling fatal. Dan aku... akan menggunakan kelemahan itu untuk menghancurkannya."

"Tidak... tidak... apa yang akan kau lakukan...?" rintih Harumi, tubuhnya mulai gemetar ketakutan melihat pergerakan tangannya sendiri.

"Aku akan memberikan sebuah tugas untukmu, Wadahku yang cantik," titah sang Panglima Jin. Suaranya menggema bagaikan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati.

"Sebuah tugas yang akan membuat pengorbananmu terasa jauh lebih bermakna."

"Tidak! Aku tidak mau! Jangan perintahkan aku apa-apa!" Harumi meronta di dalam kepalanya, menangis sejadi-jadinya memohon belas kasihan yang tidak akan pernah datang.

Entitas itu mengabaikan rintihan Harumi. Kekuatannya semakin menekan kesadaran sang gadis, menenggelamkan sisa-sisa jiwa Harumi ke dasar lautan hitam yang tak berujung.

"Dengar baik-baik, Anak Manusia," bisikan itu kini terdengar tepat di telinga Harumi, seolah ada bibir dingin yang menempel di daun telinganya.

"Pemuda itu akan kembali. Dia akan kembali menemuimu, mencoba membawamu keluar dari rumah ini. Dia akan datang dengan membawa harapan palsu bahwa dia bisa menyelamatkanmu."

Tangan kanan Harumi yang terangkat itu perlahan diayunkan ke depan, menirukan gerakan menusuk yang sangat cepat dan bertenaga.

Srek!

Udara kosong seolah terbelah oleh gerakan tajam itu.

"Dan saat dia datang... saat dia lengah karena dibutakan oleh cintanya padamu... saat dia memelukmu untuk menenangkan tangisan palsumu..."

"JANGAN! KUMOHON, JANGAN!" jerit Harumi histeris. Air mata membanjiri wajahnya. Rasa mual yang luar biasa mengocok perutnya saat ia menyadari apa yang akan diperintahkan oleh iblis tersebut.

"Kau akan mengambil senjata terdekat yang bisa kau temukan," entitas itu melanjutkan titahnya tanpa ampun, membiarkan setiap suku katanya meresap ke dalam daging dan darah Harumi.

"Kau akan membalas pelukannya. Kau akan membisikkan kata-kata cinta di telinganya. Dan kemudian..."

Seringai iblis di pantulan kaca itu semakin melebar, memamerkan deretan gigi hitam yang meneteskan darah imajiner.

"Kau akan menggorok lehernya."

"TIDAAAAAAKKKKK!!!"

Raungan Harumi meledak di dalam kepalanya. Rasa sakit yang luar biasa menghantam tengkoraknya seolah kepalanya baru saja dibelah dengan kapak. Penolakan yang sangat kuat dari jiwa Harumi berbenturan langsung dengan perintah absolut dari sang iblis.

"AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBUNUH YUDA! LEBIH BAIK AKU MATI! MATI KAU, IBLIS! MATI!!!"

Harumi mengerahkan seluruh kekuatan spiritualnya yang tersisa, mencoba mengambil alih kendali atas lengan kanannya, mencoba mengarahkan tangannya sendiri untuk mencekik lehernya sendiri agar ia mati sebelum bisa menyentuh Yuda.

Namun, perlawanan itu sia-sia.

Energi tulang wangi reseptif milik Harumi terlalu lemah untuk menandingi kekuatan Panglima Jin yang telah berumur ribuan tahun. Entitas itu hanya mendengus meremehkan.

Dengan satu sentakan energi gelap yang luar biasa masif, iblis itu menghancurkan sisa-sisa perlawanan Harumi.

BZZZZTT!

Gelombang hitam menyapu seluruh kesadaran Harumi.

Pandangan mata batin gadis itu seketika menjadi gelap gulita. Suara jeritannya terputus paksa.

Jiwa Harumi benar-benar ditenggelamkan ke dasar jurang ketiadaan, dirantai dengan sihir kuno, dan dibungkam sepenuhnya.

Tubuh fisik Harumi tersentak ke belakang, lalu kembali berdiri tegak lurus.

Air mata yang sejak tadi mengalir di pipinya mendadak berhenti.

Napasnya yang tersengal-sengal kembali menjadi sangat tenang, lambat, dan memancarkan aura predator yang mematikan.

Hawa dingin di ruang tengah itu berpusar mengelilingi tubuhnya, menyatu dengan darah dan dagingnya.

Metamorfosis itu telah selesai.

Harumi, mahasiswi yang penuh tawa, telah tiada.

Yang berdiri di tengah kegelapan ruang keluarga Zaki saat ini adalah wadah murni dari Roro Jonggrang, yang dikendalikan secara mutlak oleh sang Panglima Jin.

Bibir Harumi melengkung ke atas, membentuk senyuman asimetris yang sangat mengerikan.

Mata kosongnya menatap tajam ke arah pintu utama rumah, seolah bisa melihat Yuda yang sedang berpacu dengan waktu di Klaten sana.

Dengan gerakan lambat dan sangat terukur, Harumi memutar tubuhnya. Ia melangkah menuju dapur yang gelap gulita.

Kakinya tidak menimbulkan suara sekecil apa pun saat menyentuh lantai keramik.

Sesampainya di dapur, tangannya yang pucat meraba meja pantry, lalu bergerak ke arah blok penyimpanan pisau milik ibunya.

Sring...

Suara gesekan logam terdengar nyaring di tengah keheningan malam saat tangan Harumi mencabut sebilah pisau daging berukuran besar yang paling tajam. Bilah stainless steel itu memantulkan kilatan cahaya rembulan dari luar jendela.

Harumi mengangkat pisau itu sejajar dengan wajahnya. Ia menatap bayangannya sendiri pada bilah logam yang mengilap tersebut. Sepasang matanya kini benar-benar telah berubah menjadi hitam legam seutuhnya.

Ia mengusap punggung pisau itu dengan ibu jarinya yang lentik.

"Aku akan menunggumu, Ksatria Kecil," suara parau nan berat meluncur dari bibir Harumi, bergema menembus kesunyian dapur yang membeku.

"Pulanglah. Pulanglah ke dalam pelukanku, agar aku bisa memotong nadimu dan membiarkan darahmu menyirami kebebasanku."

Setelah mengucapkan janji berdarah itu, bibir Harumi kembali menyenandungkan tembang gending Jawa kunonya.

.....

"Pati~ pati~ kabeh kudu mati~~~" (Mati... mati... semua harus mati...)

.....

Sambil terus bernyanyi dengan suara yang menyayat hati, Harumi berjalan kembali ke ruang tengah, menggenggam pisau daging itu erat-erat di balik piyamanya. Ia duduk dengan anggun di atas sofa, bersila dengan postur tegak paripurna, menatap lurus ke arah pintu depan.

Di luar sana, Pak Darman masih berjaga di pos satpam, tak menyadari bahwa di balik pintu rumah yang ia lindungi, maut telah bersiap dengan sebilah pisau tajam.

Sang iblis telah menempati singgasananya.

Kini, ia hanya perlu duduk dalam diam, merajut teror di dalam bayang-bayang, dan menunggu mangsa terbesarnya datang menyerahkan lehernya sendiri.

1
SecretS
sungguh membuat terkejut kak 🫨aku baru baca lengkap sinopsisnya 😔 aku pikir kutukan nya itu nyata looh, tapi alurnya bagus sih udah serem sih hampir mirip tirakat 3 pas pertemuan Nisa sama gendis. lanjut lagi kak 😄😄
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Satu langkah lagi puncaknya brarti ya... mangats bwt kalian, semoga bisa menyelamatkan rumi dari panglima jin kerajaan baka
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ini kek doa naik kendaraan apa bepergian yaa, tawaf ruwat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ya zaky nya juga knpa kudu di kunci gitu kamarnya trs percaya aja sama Rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sabar ya Rumi, orang orang terdekat mu sedang berusaha untuk menyelamatkan mu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku kira bakalan ketauan Zaky atw membangunkan panglima jin yg ada di dalam tubuh Harumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo yudha nggak ada keturunan garis darah Bandung Bondowoso, bisa dipastikan dia udah nggak selamat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
jangan jangan bener yuda masih ada turunan darah bandung
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo semisal rumah nggak nyelametin Rumi, masa iya Rumi mo di kurung trs, nunggu apa? nunggu sii yudha itu kah?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kata panglima jin yg di tubuh Rumi
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mangsa yang nyamperin umpan... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
berat yaa perjuangan sblom berperang berpacu dengan waktu juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh bener tuh kata mbah kliwonn jangan nunggu keajaiban murahan tapi... berperang langsung. tapi dengan segala persiapan saya dan upaya ya yud wkwkwk nggak asal perang.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semoga mbah klien tidak dibelakang kan iblis prambanan itu juga, klo iya ntar nggak ada yg nolongin
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
tebakan aku dari awal ya yudha ini
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : iyaa serem
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!