Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGKAH TANPA ARAH
# PELET LAKNAT 2
## Bab 32: Langkah Tanpa Arah
Di waktu yang bersamaan, beberapa kilometer dari pesantren, langkah kaki Dea bergerak tersendat-sendat menyusuri jalanan desa yang mulai ramai oleh warga yang berangkat ke peternakan dan pesawahan. Kaki telanjang dan kaku itu menghentak tanah dengan ritme janggal, tak ubahnya sebuah boneka kayu yang digerakkan oleh benang gaib.
Orang-orang yang berpapasan dengannya menatap heran seraya menghentikan langkah. Biasanya Dea selalu memakai hijab rapat tiap kali melangkah keluar rumah. Namun kali ini, rambut hitamnya terurai berantakan tertiup angin pagi. Gaun merah melambai yang dikenakannya tampak sangat mencolok di tengah suasana pedesaan, berpadu dengan tatapan matanya yang lurus menusuk tanpa berkedip sedikit pun.
Kendati tubuhnya bergerak dingin, air mata bening masih menetes perlahan menelusuri pipi pucat dari sudut matanya yang kian memar kehitaman. Lehernya menegang, membentengi sisa jiwa aslinya yang tengah menangis pilu di balik jeruji kesadaran—meratapi perlakuan kasar yang baru saja ia lakukan pada ibu kandungnya sendiri.
Sapaan ramah dari beberapa warga dan teman sebaya yang mengenalnya di sepanjang jalan diabaikan begitu saja. Kepala Dea tak sedikit pun menoleh; dagunya terangkat kaku dengan bibir mengatup rapat, seolah sosok yang bersemayam dalam tubuhnya kini tengah menuntun langkah sang gadis menuju sebuah tujuan misterius yang mengerikan.
Di dalam pikiran yang kian terkikis itu, hanya ada satu nama yang terus bergema: Jaka. Setelah hampir satu jam berjalan tanpa henti menempuh jarak berkilometer-kilometer, langkah kaku Dea akhirnya terhenti di depan sebuah rumah kayu sederhana. Rumah Jaka.
Tanpa mengucap salam ataupun mengetuk pintu, Dea melangkah masuk begitu saja. Engsel pintu depan yang tak terkunci berderit pelan saat didorongnya. Tanpa ragu sedikit pun, ia berjalan lurus menerobos masuk, langsung menuju kamar pribadi Jaka.
Jaka, yang kala itu masih terlelap dalam tidur pulasnya, mendadak tersentak bangkit saat merasakan jemari dingin dan kaku membelai lembut pipinya. Matanya membelalak kaget mendapati Dea berdiri tepat di samping ranjangnya dengan gaun mencolok dan rambut terurai. Namun, di balik rasa terkejut yang melintas singkat di raut wajahnya, tersimpan sunggingan senyum puas dan rasa bahagia luar biasa yang membuncah di dalam benak Jaka—rencana liciknya akhirnya membuahkan hasil.
"Hah! Kenapa ada Dea di kamarku? Apa ini yang dimaksud Mbah Usman? Berarti ritual yang aku lakukan telah berhasil!" gumam Jaka dalam hati, matanya membelalak penuh antusias.
Sementara itu, Dea masih terus membelai lembut wajah Jaka. Jari-jemarinya yang dingin bergerak kaku merambat ke tengkuk, hingga akhirnya ia menjatuhkan tubuhnya, memeluk Jaka erat-erat seakan tak ingin kehilangan pemuda itu seumur hidupnya.
"S-sudah, Dea! Jangan begini... kamu ngapain main masuk kamarku begitu saja?" seru Jaka berpura-pura terkejut, meski tangannya perlahan mulai membalas selipan pelukan itu.
"Kita pacaran... tubuhku kini jadi milikmu, tubuhmu jadi milikku," sahut Dea dengan suara datar, dingin, tanpa ada sedikit pun riak emosi di raut wajahnya.
"Sudah, kita ngobrol di luar saja, jangan di sini. Nanti kalau ketahuan Ibu bisa bahaya, bisa-bisa kita digerebek warga," ujar Jaka seraya bangkit dari ranjangnya. Ia memegang jemari dingin Dea dan menuntunnya keluar menuju teras depan.
Langkah kaki mereka beriringan menuju teras. Namun, di dalam benak Jaka mendadak muncul rasa mengganjal. Matanya tak berhenti memperhatikan raut wajah Dea yang pucat pasi serta perubahan fisiknya yang merosot drastis.
"Kamu sakit ya, Dea? Wajahmu pucat banget... terus kenapa tubuhmu jadi kurus begini?" tanya Jaka heran seraya mendaratkan duduknya di atas kursi kayu teras.
"Tidak penting. Sekarang aku milikmu, kamu milikku," sahut Dea datar, tanpa kerlip mata sedikit pun.
Tanpa mau ambil pusing lebih jauh, Jaka memilih untuk langsung menikmati masa-masa bahagianya bersama Dea. Ia sepenuhnya tak menghiraukan lagi perubahan janggal pada tubuh gadis itu. Namun, tiap kali Dea bersentuhan fisik dengannya, lelehan air mata bening selalu menetes perlahan menelusuri pipi pucat sang gadis—sebuah tanda dari sisa kesadaran jiwanya yang menjerit, menolak takdir kelam yang dipaksakan padanya.
Sementara itu, Ibu Nengsih berlari tergesa-gesa menyusuri jalanan desa menuju pesawahan. Dadanya turun-naik menahan napas yang tersengal, didorong niat kuat untuk segera menyusul sang suami dan memberitahukan perubahan mengerikan pada putri mereka—sebuah tingkah aneh yang ia yakini sudah di luar nalar manusia.
Dengan jemari gemetar menyingkap sedikit ujung kain sampingnya, langkah kaki Ibu Nengsih bergerak lincah menyusuri galengan sawah yang licin dan becek. Beberapa kali ia hampir kehilangan keseimbangan, namun rasa panik mengalahkan ketakutannya untuk terjatuh.
"Pak!... Pak!..." teriak Ibu Nengsih serak, melambaikan tangannya tinggi-tinggi di udara.
Namun, Pak Wawan yang kala itu tengah sibuk menaburkan pupuk kompos di tengah petak sawah tak mendengar teriakan sang istri. Terhalang riuh angin pagi dan fokus pekerjaannya, ia tetap tekun melanjutkan aktivitasnya tanpa menyadari kehadiran Ibu Nengsih yang makin mendekat.
Sampai akhirnya Ibu Nengsih tiba di tepi petakan sawah milik mereka. Berdiri dengan napas terengah-engah di atas galengan, wanita itu kembali berteriak memanggil sang suami seraya melambaikan kedua tangannya.
"Pak!... Pak, ke sini dulu, Pak!" panggil Ibu Nengsih berulang kali, suaranya terdengar serak dan bergetar panik.
Suara teriakan yang samar-samar itu akhirnya menembus pendengaran Pak Wawan. Pria itu menghentikan gerakan tangannya, mendongak, lalu menatap heran ke arah tepi sawah tempat istrinya berdiri.
"Ibu ngapain ke sini?" tanya Pak Wawan setengah berteriak, menutupi keningnya dari terik matahari.
"Berhenti dulu, Pak! Sini, ada yang mau Ibu sampaikan penting!" seru Ibu Nengsih kembali, melambaikan tangannya meminta sang suami segera mendekat.
"Ada apa, sih, Ibu ini? Mengganggu saja!" gerutu Pak Wawan pelan seraya membuang napas kasar.
Melihat raut wajah istrinya yang penuh kebingungan dan kepanikan, Pak Wawan meletakkan karung komposnya di atas pematang. Ia mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya, lalu melangkah perlahan melintasi beceknya petakan sawah menuju ke tepi menghampiri sang istri dengan rasa penasaran yang membuncah.