Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu hati
Brak
lagi - lagi, Gala kepergok. Kali ini, langsung oleh ayahnya.
"Bagus!"
satu kata beranda sarkas itu langsung membuat kedua orang yang berada di atas ranjang menciut.
Tubuh Gala bergulir. Sementara, perempuan yang semula berada di bawahnya malu dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tak mengenakan apa - apa.
"Siapa lagi wanita ini?"
Yang jelas, wanita ini bukan Vania. Gala sudah membuang perempuan itu jauh - jauh.
Perlahan, Restu mendekati mereka dan duduk di sofa dengan melipat kedua kaki.
Sofa itu tepat berada di depan ranjang, sehingga ia dapat dengan mudah memperhatikan mereka.
Restu melirik pada perempuan cantik yang sebelumnya sedang melayani putranya
Ia memang sengaja datang tiba - tiba. Hanya ingin mengetahui aktifitas putranya saja.
"Ini Larisa."
Gala menatap perempuan itu dan beralih pada ayahnya.
Restu tersenyum miring sambil menggosok - gosok dagunya yang tak berbulu. Tatapan pria paruh baya itu tampak berbeda. Padahal, Gala sudah takut setengah mati.
"Bertemu dia di mana?"
Gala dan Larisa saling bertatap.
"Jadi, kau sudah melupakan Fiona? Semudah itu ya. Katanya, kau mencintainya."
Gala mengusap wajahnya kasar. "Kebutuhan tetap berjalan, Pa."
"Anak muda." Restu tertawa. "Padahal, Papa sudah bilang berulang kali. Untuk hal ini, jangan mirip dengan Papa. Cukup kepintaran Papa saja yang diturunkan untukmu."
Gala bangkit. Dia memakai boxer nya dan ikut tertawa. "Itu sudah sepaket, Pa."
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan buah itu jatuh pasti tidak kulitnya saja. Semua buahnya. Iya kan?"
Restu tertawa kencang. "Kalau urusan ini, kau pintar."
"Tapi, urusan lain tidak. Mencari Fiona saja tidak becus!"
Kalimat yang kemudian dilontarkan sang ayah membuatnya cemberut.
Gala tidak terima. Usai mengenakan pakaian, Gala memberi isyarat pada Larisa untuk pergi dengan mengibaskan tangannya.
Namun, saat perempuan itu bangkit dan hendak memungut pakaian. Tiba - tiba, tahannya di tahan.
"Mau ke mana?"
Restu bangkit dan sudah mengendurkan dasinya.
"Sekarang, giliran aku yang harus kamu layani!"
mendengar perintah gila itu, Gala hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
Beruntung, Fiona diselamatkan dan tidak menjadi bagian dari keluarga gila ini.
***
Di kediaman Gio yang sengaja Gio beli untuk harinya kelak ketika memiliki keluarga, Gio keluar dari kamar mandi. Kini, tubuhnya jauh lebih segar dari kemarin. Bahkan, kini ia sudah bersiap untuk beraktifitas.
sambil menggosok rambutnya yang basah, bibirnya tersenyum. Ia melihat sang istri yang sedang melayani dengan menyediakan pakaian kerja yang akan ia pakai hari ini.
"Kamu ingin menggunakan dasi yang mana?" tanya Fio tanpa menoleh ke arah suaminya.
Gio tidak langsung menjawab. Dia sedang menikmati pemandangan istri yang melayani. Ditambah, pakaian Fio yang terbilang sexy. Saat menunduk, aset yang belum pernah disentuh itu pun terpampang.
Namun, Gio diam saja. Dia tetap mengeringkan rambutnya sambil menatap ke arah sana.
"Gio, kamu mau dasi yang ..."
Kalimatnya tercekat. Bukan karena suaminya yang sedang menatapnya tapi ...
"Oh, dada kotak - kotak itu!" ujarnya dalam hati.
Tiba - tiba, isi kepala Fio traveling dan langsung memalingkan wajah.
Gio mendekat. Kedua tangannya membekap tubuh itu dengan melingkar erat di pinggang Fio.
"Mana saja, yang penting kamu yang memilihkan."
Suara bariton itu tepat berada di belakang telinga. Seketika, bulu kuduk Fio meremang dan sentuhan kembali datang.
"Terima kasih, aku memang ingin memakai warna ini hari ini," ucapnya dengan sekilas menatap pakaian yang sudah Fio letakkan di atas ranjang.
"Ternyata, kita sehati," ucapnya sekali lagi.
Lalu, Gio mengambil pakaian yang sudah disiapkan itu dan beralih ke ruang ganti.
Dada Fio berdegup kencang. Ia khawatir akan jantungan jika terjebak dalam situasi seperti ini setiap hari.
Untuk menghindari, Fio segera keluar dari kamar ini dan beralih ke dapur.
Langkahnya cepat, seiring jantungnya yang masih tidak aman dan berdegup cepat.
tiba - tiba ...
Bruk
Fio menubruk seseorang hingga terjatuh dan buah yang ditangannya menggunakan nampan, berhamburan.
"Suci!"
"Kalau kerja yang benar!"
Suara Bibi menggelegar memarahi orang yang baru Fio lihat di rumah ini.
Tidak.
Fio pernah melihatnya kemarin di teras.
"Nyonya, ini yang saya bilang. Dia teman sekampungnya Bi Ida yang akan menggantikannya di sini."
untung fio ga jdi tuh....eh jgn2 tuh bunda ny fio lagi...
ayah anak sama bejatnya...
Alhamdulillah up...
kan secara dia udah lama gak ketemu mama nya
ih tanggung trs sih k? fio ktm sm ibunya
ketemu sama bunda nih ..
lnjut kk...aq ampe.ngebut baca saking ketnglan bnyak😁