Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Su Qingxue menganggukkan kepalanya pelan, berdiri dengan lutut yang masih sedikit lemas, lalu berjalan keluar dari apartemen itu.
Klak.
Pintu tertutup, dan Jiang Ming menghela napas panjang melepas ketegangan.
'Satu masalah dari dunia fana berhasil dijinakkan,' batinnya lega.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menembus jendela kaca kantor Perusahaan Alam Hijau.
Jiang Ming sedang sibuk memasukkan sachet teh ginseng buatannya ke dalam kotak kardus kecil.
Kring kring.
Telepon kabel di meja kerjanya berbunyi dengan nyaring.
Itu adalah saluran telepon resmi perusahaannya yang baru saja dipasang kemarin.
Jiang Ming mengangkat gagang telepon itu dan menempelkannya ke telinga.
"Selamat pagi, Perusahaan Alam Hijau. Dengan Jiang Ming di sini," sapanya profesional.
"Direktur Jiang! Ini aku, Zao Ruan dari Klinik Zao Ruan!"
Suara dokter tua itu terdengar sangat bersemangat dan tergesa-gesa di seberang sana.
"Ada apa, Dokter Zao? Apakah pasien Anda mengeluhkan efek samping dari tehku?" pancing Jiang Ming dengan tenang.
"Efek samping? Astaga, pemuda ini! Tehmu itu benar-benar mukjizat!" teriak Dokter Zao kegirangan.
"Tiga pasien kronisku yang meminumnya kemarin langsung bisa berjalan hari ini. Sel kanker mereka bahkan menunjukkan tanda-tanda dormansi!"
Jiang Ming hanya tersenyum tipis, dia sudah tahu kehebatan tanah dari kebun dewa tidak akan pernah mengecewakan.
"Lalu apa yang bisa kubantu hari ini, Dokter?"
"Aku butuh lima puluh sachet lagi untuk minggu ini! Pejabat provinsi bersedia membayar dua kali lipat untuk pasokan eksklusif teh ini!"
Jiang Ming mengerutkan keningnya, otaknya langsung berhitung cepat.
Lima puluh sachet berarti dia harus menumbuk dan mengemas ginseng itu seharian penuh tanpa istirahat.
Sebagai seorang bos yang memegang keajaiban Tiga Alam, melakukan pekerjaan manual seperti buruh pabrik adalah hal yang sangat bodoh.
"Aku akan menyiapkan lima puluh sachet itu besok siang, Dokter Zao. Siapkan uang lima juta yuan di rekening Anda," jawab Jiang Ming menyetujui.
"Bagus sekali! Sampai jumpa besok, Direktur Jiang!"
Klik.
Jiang Ming meletakkan gagang telepon itu dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Perusahaan ini butuh tenaga kerja sungguhan agar terlihat nyata dan beroperasi normal."
Dia tidak ingin Hukum Dunia mencurigai sebuah perusahaan yang menghasilkan jutaan yuan tapi tidak memiliki satu pun karyawan.
Jiang Ming menyalakan komputernya dan membuka situs pencarian kerja lokal kota Jinhai.
Dia mengetikkan lowongan pekerjaan untuk posisi asisten administrasi merangkap staf pengemasan dengan gaji standar kota.
Hanya dalam waktu dua jam setelah lowongan itu ditayangkan, bel pintu kantornya berbunyi.
Ting tong.
Jiang Ming berjalan membukakan pintu dan melihat seorang gadis muda berkacamata tebal berdiri di luar.
Gadis itu mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam selutut, terlihat sangat gugup memeluk map berisi lamaran kerjanya.
"S-selamat pagi, Pak. Saya Li Na, datang untuk melamar posisi asisten administrasi," sapa gadis itu terbata-bata.
"Masuklah dan duduk di sana," ucap Jiang Ming mempersilakannya masuk.
Li Na masuk dengan hati-hati, matanya melirik ke sekeliling kantor yang masih sangat sepi dan kosong.
Pandangannya sempat tertuju pada patung kura-kura jelek di atas meja, namun dia segera menundukkan kepalanya lagi.
Jiang Ming duduk di seberangnya dan membuka map lamaran kerja gadis itu.
'Lulusan diploma administrasi bisnis, tidak punya pengalaman kerja, berasal dari keluarga pinggiran kota,' batin Jiang Ming membaca profilnya.
Latar belakang gadis ini sangat bersih, sederhana, dan jelas tidak memiliki niat buruk.
Karena Li Na tidak memiliki niat jahat sedikit pun, patung penolak hama itu sama sekali tidak bereaksi pada kehadirannya.
"Apakah kau keberatan melakukan pekerjaan kasar seperti menumbuk teh herbal dan memasukkannya ke dalam sachet?" tanya Jiang Ming menutup map itu.
"T-tidak, Pak! Saya akan melakukan apa saja asalkan pekerjaan ini legal dan gajinya dibayar tepat waktu," jawab Li Na penuh harap.
Kepolosan dan keputusasaan gadis ini mengingatkan Jiang Ming pada dirinya sendiri sebelum menemukan Toko Tiga Alam.
"Baiklah. Kau diterima. Gajimu tiga ribu lima ratus yuan per bulan, kau bisa mulai bekerja hari ini juga," putus Jiang Ming tanpa wawancara berbelit.
Li Na terbelalak tidak percaya, matanya langsung berkaca-kaca karena bahagia.
"T-terima kasih banyak, Direktur Jiang! Saya berjanji akan bekerja dengan sangat giat!"
Jiang Ming menganggukkan kepalanya dan membawa gadis itu ke sudut ruangan yang telah dia ubah menjadi area pengemasan sederhana.
Dia memberikan toples berisi akar ginseng kering yang sudah dia potong-potong semalam kepada Li Na.
"Tumbuk akar ini sampai menjadi bubuk halus, lalu kemas ke dalam sachet kecil ini. Jangan ada yang terbuang sedikit pun."
"Baik, Direktur. Saya akan menyelesaikannya dengan rapi," jawab Li Na langsung duduk dan mulai bekerja dengan tekun.
Tak tak tak.
Suara cobek kayu yang beradu terdengar konstan di dalam kantor itu.
Jiang Ming kembali duduk di meja kerjanya dan menatap gadis biasa yang sedang bekerja keras untuknya.
Pemandangan ini sangat aneh namun terasa sangat menenangkan.
Di satu sisi kehidupannya, dia adalah penguasa petir dan pemanen karma yang bisa menghancurkan konglomerat raksasa.
Namun di sisi lain, dia hanyalah seorang direktur muda yang baru saja menyelamatkan nasib seorang gadis pengangguran di dunia fana.
Jarak antara kedua identitasnya ini semakin melebar.
'Semakin aku menggunakan kekuatan Tiga Alam, semakin aku harus membaur dengan normalitas manusia biasa ini,' renung Jiang Ming.
Dia harus menjaga batas keseimbangan ini dengan sempurna.
Karena jika satu dunia saja hancur, dunia yang lainnya pasti akan ikut runtuh menimpanya.