"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Mobil yang dikendarai Erlangga akhirnya melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang hampir larut malam.
Sejak masuk ke dalam mobil tadi, Kara sama sekali tidak berisik seperti biasanya. Saat Erlangga menoleh sekilas, ia mendapati Kara yang sudah tertidur pulas dengan kepala yang menyandar pada kaca mobil.
Erlangga hanya mendengus pelan. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyuman samar saat menatap lekat-lekat wajah Kara yang tampak begitu damai dalam lelapnya.
Tak lama kemudian, mobil itu berbelok memasuki halaman rumah pribadi milik Erlangga dan berhenti mulus di sana.
Erlangga langsung membuka pintu dan turun dari mobil. Lalu ia melangkah memutari kap depan dan langsung membuka pintu penumpang.
Dengan gerakan perlahan, ia mulai menyelipkan lengannya di bawah leher dan lutut Kara, lalu mengangkat tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.
Kara sempat menggeliat kecil sebelum akhirnya menyerukkan wajahnya ke dada bidang Erlangga.
Begitu sampai di dalam kamar, Erlangga langsung menurunkan tubuh Kara ke atas kasur dengan gerakan perlahan. Ia sempat merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Kara sebelum akhirnya melangkah menjauh ke arah sofa.
Mendengar langkah kaki Erlangga yang mulai menjauh, kelopak mata Kara bergerak sedikit. Ia membuka matanya perlahan, mengintip lewat celah untuk memastikan posisi pria itu sudah menjauh.
Di sudut ruangan, Erlangga tampak sedang memunggungi kasur. Ia sibuk melonggarkan dasi dan melemparkan jasnya ke atas sofa.
Seketika itu juga, senyum penuh kemenangan langsung merekah di bibir Kara.
"Untung gue tadi pinter, pakai ide pura-pura tidur. Kalau enggak, bisa habis gue ditagih janji mulu sama dia," batin Kara bersorak girang.
Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sedetik. Begitu mendengar langkah kaki Erlangga yang berbalik arah menuju ranjang, nafas Kara langsung tertahan. Jantungnya berdegup sangat kencang. Dengan gerakan cepat ia kembali menutup rapat kedua matanya, dan buru-buru mengeluarkan dengkuran halus yang teratur agar aktingnya terlihat meyakinkan dan tidak terbongkar.
Erlangga sempat melirik ke arah Kara, menatap siluet tubuh istrinya itu sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya ia melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Ceklek!
Begitu Kara mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup rapat, ia langsung membuang nafas lega. Matanya kembali terbuka lebar, dan ia langsung bangkit dari ranjang, dan melangkah cepat sambil mengendap-endap ke arah meja rias untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Rencananya malam ini, ia akan menghubungi Anya. Ia ingin menceritakan semua kejadian yang ia alami hari ini.
Namun, nasib sial tampaknya sedang memihak kepada Kara. Saat ia baru berjalan beberapa langkah dari ranjang, tiba-tiba knop pintu kamar mandi bergerak.
Ceklek!
Deg!
"Mati gue!" batin Kara menjerit histeris.
Belum sempat Kara memutar tubuh untuk kembali ke ranjang, Erlangga sudah lebih dulu melangkah keluar. Pria itu masih mengenakan pakaiannya yang tadi, hanya saja kini kancing kemeja teratasnya sudah terbuka dan lengan kemejanya yang digulung hingga ke siku.
Erlangga langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap bingung ke arah Kara yang tengah berdiri mematung di tengah ruangan.
"Lo... udah bangun?" tanya Erlangga sambil mengangkat sebelah alisnya.
Tubuh Kara langsung tersentak, lalu dengan cepat ia langsung memaksakan sebuah senyuman lebar. "Eh, iya... kebangun tadi. Soalnya... digigit nyamuk!" jawabnya.
"Nyamuk?" Erlangga langsung melipat kedua tangannya di depan dada.
"I-iya, nyamuk! Kayaknya kamar lo ini banyak nyamuknya deh, makanya gue langsung kebangun tadi," sahut Kara cepat.
Erlangga langsung terdiam sejenak. Perlahan, gurat curiga di wajahnya memudar, digantikan dengan senyum miring yang menyebalkan. "Hmm. Bagus deh kalau lo udah bangun."
Kara langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Maksud lo apa?"
Erlangga langsung melangkah maju satu demi satu ke arah Kara, mengikis jarak di antara mereka sambil menatap wanita itu lekat-lekat.
"Ya bagus," bisik Erlangga sambil memamerkan senyum penuh kemenangan yang kini telah berpindah ke wajahnya. "Kita bisa mandi bareng."
Kara langsung membulatkan matanya. "Sialan!" batin Kara mengumpat habis-habisan.
Karena rasa panik yang mulai menyerang, Kara buru-buru mengubah taktiknya. Ia memasang wajah semelas mungkin, lalu mengerucutkan bibirnya kesal. "Gue nggak bisa, Erlangga! Lo tahu sendiri kan kalau gue kemarin baru aja datang bulan."
"Gue nggak bakal apa-apain lo, Kara. Kita hanya mandi bareng."
Kara langsung mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Ia mencoba menahan rasa kesalnya yang mulai memuncak. "Tapi... Tapi gue malu, gue nggak mau. Tunggu gue selesai dulu, oke!"
"Gue nggak mau!" sahut Erlangga dingin dan tak terbantahkan.
Kara langsung menghentakkan kakinya ke lantai, ia merasa frustrasi sekali saat menghadapi tingkah suaminya yang keras kepala ini. "Erlangga, kalau lo lihat, lo bakal jijik nantinya."
Erlangga langsung mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Gue nggak jijik."
"Erlangga... Kenapa lo keras kepala banget sih?"
"Lo yang keras kepala, Kara. Kenapa lo selalu nolak permintaan gue?"
Kara langsung mendengus sambil membuang mukanya ke samping. "Gue nggak nolak. Cuma... Cuma gue belum bisa ngelayanin lo."
Erlangga langsung menghela nafas, lalu meraih dagu Kara pelan agar wanita itu kembali menatapnya. "Gue cuma mau mandi bareng, itu aja. Gue janji nggak bakal apa-apain lo, Lengkara."
Sentuhan dan tatapan intens dari Erlangga itu sukses membuat jantung Kara berdegup lebih kencang. Isi kepalanya langsung berputar cepat mencari jalan keluar dari situasi ini.
"Sialan! Kenapa Erlangga ngotot banget sih? Kalau kita sampai mandi bareng, bakal ketahuan dong kalau gue cuma pura-pura datang bulan," batin Kara yang menjerit panik, merutuki nasib sialnya malam ini.
"Erlangga, dengerin gue dulu! Gue..."
Belum sempat Kara menyelesaikan kalimatnya, Erlangga sudah lebih dulu bergerak cepat menyergap pinggangnya. Dalam satu gerakan yang tak terduga, Erlangga langsung mengangkat tubuh Kara ke dalam gendongannya.
"Erlangga sialan! Turunin gue! Lo mau bawa gue ke mana sih?!" teriak Kara histeris, kedua tangannya memukul-mukul bahu bidang Erlangga dengan brutal. "Dibilangin gue nggak mau mandi bareng, ya nggak mau! Kenapa lo maksa banget?!"
Erlangga sama sekali tidak bergeming. Alih-alih meringis kesakitan akibat pukulan Kara, ia justru mempererat dekapannya, mengunci pergerakan wanita itu agar tidak terjatuh.
Mata Kara langsung membelalak saat menyadari mereka telah mencapai ambang pintu kamar mandi.
"Erlangga! Awas ya lo! Gue bakal aduin ke mama lo, kalau lo berani maksa gue kayak gini!" ancam Kara dengan suara yang melengking. Ia sangat berharap Erlangga akan luluh atau takut dengan ancaman itu.
Namun bukannya takut, Erlangga malah menaikkan sebelah alisnya, sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan tersebut.
"Terserah," balas Erlangga santai.
Dengan gerakan cepat, Erlangga langsung memutar tubuhnya, lalu menggunakan tumit kakinya untuk menendang pintu di belakang mereka hingga tertutup rapat.
Brak!
thor tolong kasih pelajaran ke kara🤣🤣🤣
yg ada kara takut kehilangan erlangga
lanjut double up kak
lanjut kak
lanjut kak
lanjut kak