Indonesia
NovelToon NovelToon
Mr. Cool 1990

Mr. Cool 1990

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:126.7k
Nilai: 5
Nama Author: ria aisyah

Kisah ini mengenai kehidupan disekitar tahun 1990an yach..
Masa - masa indah waktu itu.

Di mulai dari kisah cinta antara Arga dan Vina yang bermula sejak remaja.

Kehidupan Arga berubah drastis ketika dia mewarisi harta kakeknya. Arga harus meninggalkan Vina untuk waktu yang lama.

Mampukah cinta mereka bertahan..

Mungkin di awal - awal ceritanya sedikit membosankan karena belum ada konflik. Tapi itu juga penting di baca sebagai pengenalan karakter. Pokoknya akan ada banyak kejutan di bab - bab berikutnya.

Yukk ikutin kisah selengkapnya ya..

Baca hingga akhir ya... 💗

Mohon dukungannya.. Terima kasih..

Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DITERIMA NGGAK YA?

Diki ikut bergabung bersama Doni dan Vina di teras setelah menyelesaikan tugasnya.

"Dik, tadi mbakmu ditawari main film sama produser. Kamu setuju nggak mbakmu jadi artis?" Doni berbicara serius pada Diki, tapi Diki malah tertawa dia kira Doni bercanda.

"Produser dari Hongkong. Mana ada produser masuk desa, Mas." Diki tidak percaya.

"Dibilangin juga. Aku serius, ya Dik. Tadi dia beneran kesini, besok mau balik lagi." Doni terlihat kesal.

"Serius, Mas?"

"Dua rius malahan. Iya kan, Vin?" Doni menoleh ke arah Vina.

"Iya." Vina mengangguk.

"Wah, hebat dong. Bisa muncul di TV. Mbak tadi bilang mau apa nggak?" tanya Diki penasaran.

"Belum mbak jawab. Mbak mau bilang dulu sama bapak sama ibu, diijinin nggak. Doni tadi juga ditawari." jelas Vina.

"Bagus dong, ada temennya yang kenal pas main filmnya. Mas Doni gimana?"

"Aku ikut keputusannya Vina. Kalau Vina nggak terima ya, aku juga nggak mau."

"Jangan pikirin mbak Vina lah, Mas! Sayang banget punya kesempatan kalau tidak diambil."

"Bukan gitu, Dik. Aku nggak pede lah main sama orang yang nggak aku kenal."

"Iya juga sih, ya." Diki menyangga dagunya.

"Vin, udah sore banget, aku pulang dulu ya. Besok aku ke sini lagi." Doni berpamitan.

"Iya, Don. Beneran lho, besok kamu harus kesini pagi - pagi." ucap Vina.

"Iya, beres. Pulang dulu ya, Dik. Nitip Vina kamu jagain."

"Nggak perlu kamu suruh, Mas. Dia kan mbakku satu - satunya di dunia ini." tumben Diki bener ngomongnya.

"Bener juga, ya. Ya udah, daahh semuanya." Doni meninggalkan Vina dan Diki.

Diki masih penasaran dengan keputusan kakaknya mengenai tawaran main film yang dibilang barusan.

"Mbak, kalau misalnya bapak ibu ngijinin, mbak mau menerima tawaran itu?" tanya Diki.

"Mbak masih bingung, Dik. Kira - kira susah nggak ya, kalau berakting itu?"

"Kalau belum dicoba siapa yang tahu, Mbak - mbak. Kalau menurut Diki nih ya, ini kesempatan langka lho, Mbak. Banyak calon artis yang harus rela antri buat casting dulu untuk mendapatkan peran. Lha kamu, udah nggak pakai casting langsung dapet peran utama lagi." jelas Diki panjang lebar.

"Gitu ya." jawab Vina singkat.

"Diki kan juga bisa numpang tenar kalau Mbak jadi artis." Diki cengengesan.

"Dasar adek durhaka, selalu aja nyari keuntungan sama Mbaknya." Vina mengacak - acak rambut Diki.

"Aduh, Mbak, bisa berkurang kegantengan adek kalau di acak - acak rambutnya." Diki membetulkan rambutnya ala model pomade.

"Rambut model tarangan ayam aja di piara. Ganti model dong makanya!"

"Suka - suka adek dong. Ini kan udah model masa kini." Diki masih merapikan rambutnya yang sudah rapi.

"Terserah deh. Mbak mau mandi." Vina masuk ke dalam rumah mengambil peralatan mandi dan baju ganti.

•••••

Di Jakarta

Arga sudah terlelap saat memasuki halaman rumah pak Surya. Pak Sapto membangunkannya dengan lembut. Arga berjalan sempoyongan sambil menormalkan pandangannya. Mereka masuk ke dalam rumah besar itu yang terlihat sepi karena hari masih malam.

Pak Sapto dan yang lain beristirahat di kamar tamu karena mereka juga sangat lelah menempuh perjalanan jauh.

Tidak ada kata malas - malasan bagi Arga dan yang lainnya. Pak Sapto dan yang lain sarapan di ruangan khusus karyawan, sedangkan Arga bergabung bersama keluarganya di meja makan.

"Ga, kapan kamu pulang?" tanya Bu Wita.

"Tadi sebelum subuh, Bun. Arga ada oleh - oleh di taruh di ruang tamu sama pak Sapto." jawab Arga.

"Gimana urusannya di sana? Udah beres kan?" tanya pak Indra.

"Sudah, Yah. Tinggal mengontrol sesekali aja beberapa bulan lagi."

"Kamu nggak mampir ke rumah, Ga?" tanya Bu Wita.

Arga keselek makanan lalu terbatuk - batuk. Dia segera mengambil minum dan meneguknya. Rupanya pertanyaan bundanya membuatnya terkejut. Jujur nggak ya?

"Pelan - pelan, Ga! Bunda sih anaknya lagi makan di ajak ngobrol terus." ucap pak Indra.

"Iya Wit, sabar sedikit dong. Biar kita selesai sarapan dulu. Habis itu kita ngobrol di ruang keluarga." kata pak Surya.

"Iya deh, iya. Habisnya Bunda kangen sama Arga." ucap Bu Wita.

Setelah selesai sarapan mereka menuju ruang keluarga. Berbagai camilan khas Jogja dan kaos distro lokal oleh - oleh Arga masih terbungkus rapi. Sebelum ke kantor pak Indra ikut unboxing dulu. Arga tidak ke kantor hari ini, dia meminta pak Deni untuk membawa pekerjaan yang harus dia selesaikan ke rumah.

"Ini apa, Ga?" bu Wita membuka kardus berisi rengginan dan krupuk opak.

"Itu oleh - oleh dari bi Siti." jawab Arga tak bisa menghindar kalau dia mampir ke Wonogiri.

"Jadi kamu mampir ke rumah?" tanya bu Wita.

"Iya, Bun."

"Tau gitu bunda mau nitip sesuatu buat Surti sama Vina. Bunda udah beliin beberapa baju untuk mereka walaupun nggak tahu kapan ngasihnya."

"Kalau Arga ke sana lagi aja." jawab Arga.

"Kamu mampir ke rumah mereka, kan?" bu Wita penasaran.

"Iya, Bun."

"Mereka siapa, Wit?" tanya pak Surya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.

"Itu, Kek, Surti itu temen Wita, sedangkan Vina itu anak gadisnya yang juga temennya Arga." jelas bu Wita.

"Apa dia cantik?" pak Surya melirik Arga yang mukanya sudah terlihat malu - malu.

"Cantik aja pake banget, Kek. Anaknya juga pinter, rajin, sopan. Paket lengkap pokoknya, menantu idaman Wita, Kek." Wita mengangkat jempolnya.

"Arga, jangan lama - lama, nanti diambil orang. Apa kamu punya fotonya? Boleh kakek lihat?" pak Surya mendesak Arga.

"Pak Surya masuk aja ke kamarnya. Kapan hari aku lihat berjajar - jajar fotonya." bu Asna ikut ambil bagian menggoda Arga.

"Wah, kakek ketinggalan info. Ndra, buruan lamar gadis itu untuk Arga." pak Surya ganti menyebut pak Indra.

"Ha.. ha.. ha.. lihat Kek, wajah cicitmu itu sudah seperti kepiting rebus." pak Indra tertawa diikuti yang lainnya.

Arga tak berkutik. Dia memang sangat senang keluarganya mendukungnya, tapi apa iya dia harus segera melamar Vina secepatnya. Vina kan masih sekolah.

"Habis Vina ujian kita lamar dia ya, Ga?" bu Wita seperti tahu apa yang Arga pikirkan.

Baru juga Arga kemarin berpikir begitu. Jangan - jangan bunda bisa baca pikiran.

"Dari tadi kamu diem aja, Ga. Diem berarti kamu setuju." ucap bu Asna.

"Arga belum berani bilang sama orang tuanya Vina." ucap Arga.

"Yang gentle dong, Ga. Ayah umur 20 udah nikah sama bunda kamu. Masak ngomong aja nggak berani. Ntar kamu dikira cuma mau mainin anaknya." ucap pak Indra.

"Bener, Ga. Kalau ketemu lagi, ikat dia biar nggak bisa lepas." ucap pak Surya.

"Apa boleh, Yah, Bun?" tanya Arga.

"Boleh banget. Nanti bunda pilihin cincin yang cocok buat Vina." bu Wita terlihat sangat antusias.

"Siapin semuanya sebelum Arga ke Jogja lagi, Wit." ucap bu Asna.

"Ke Jogja masih lama." ucap Arga.

"Apa kita yang terlalu bersemangat ya?" ucap bu Wita sontak mengundang tawa seisi rumah.

Pak Indra sebenarnya masih ingin bercengkerama bersama keluarganya tetapi dia harus bertemu klien hari ini. Pak Indra berpamitan lalu pergi ke kantornya untuk bekerja.

Arga kembali ke kamarnya untuk kembali beristirahat sambil menunggu pak Deni mengantarkan berkas. Dia sudah meminta pak Bimo untuk membangunkannya nanti.

Tokk... tokk.. tokk..

Baru juga Arga sampai di kamarnya, tapi sudah ada yang mengetuk pintu. Arga bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah pintu.

"Kakek?" Arga mengernyitkan dahinya merasa heran.

"Kakek boleh masuk. Kakek cuma mau lihat fotonya Vina." pak Surya tersenyum kikuk.

Arga menepuk jidatnya melihat kakek buyutnya sudah menyelonong masuk begitu saja. Apa sebegitu penasarannya ya? Sudahlah biarin aja asal kakek senang.

*****

Bersambung...

1
Bumi Nusantara
wih cantik authornya
Bumi Nusantara
semangat
abdan syakura
kok gitu sih,kak akhirnya..
Aq mewek nihhh😭😭😭😭
abdan syakura
Doni....😭😭😭
abdan syakura
kenangan terindah
abdan syakura
Aq suka tokoh Arga.
tegas,teguh pendirian,gk mudah terpesona ma cewek lain..cukup Vina aj ya,Ga...
abdan syakura
aiiisssshhhhh
Arga..Devan...
abdan syakura
Doni,Devan,Ardyan ayo ngumpul sini,kita reuni🤭🤣
abdan syakura
terimakasih babang Doni ..
smg bg Doni dpt jodoh yg Lbh baik
abdan syakura
aiisssh kak Author
itu asli Vina anak Wonogiri??
🤭🤣🤣
abdan syakura
batalkan adegan kissing itu Arga
atoo..
Arga aj jd pemeran pengganti Doni hny tuk adegan itu?
🤣🤣
abdan syakura
ada saingan ni ,Ga..
cpt halalkan Vina...
abdan syakura
aissshhhh
lagu Bang Dewa 19 mah....
tembang lawas....
kangen...
abdan syakura
ya Allah lucu bgt...
🤣🤣🤣🤣
abdan syakura
isssh baperrrrr aqu ...
abdan syakura
i Miss u too,Argaaa
abdan syakura
Argaaaaaa
aku padamu....
abdan syakura
isssh jd baper...
kakek pengertian...🤭
abdan syakura
😭😭😭
abdan syakura
aissshhhh
ada Wawan nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!