Indonesia
NovelToon NovelToon
Ku Jual Harga Diriku Demi Kesembuhan Mama

Ku Jual Harga Diriku Demi Kesembuhan Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mumpuni Putri

"To the poin aja, lo mau ngomong apa?", Andra menatap tajam kearah Kinan.
"Maaf sebelumnya, kalau dari semalem aku WA kamu. Langsung ke intinya saja ndra, aku mau minta tolong", Kinan menunduk dengan tangan memainkan ujung bajunya. Kinan tak berani menatap Andra.
"To-to-tolong pinjemi aku uang", ucap Kinan dengan terbata.
"Tolong pinjemi aku uang ndra, aku akan lakuin apapun asal kamu mau pinjemi aku uang. Ka-kamu bilang kapan hari di kafe, mending aku jadi pembantumu dan akan membayarku".
Andra masih belum bisa mencerna perkataan Kinan, realita yang diucapkan Kinan tidak sesuai ekspektasinya, ia pikir Kinan akan mengumpatnya gara-gara perlakuannya kemarin bersama Abi dan Nando.
"Gue gak salah denger kan?".
"Gak ndra, pinjemi aku uang, aku bakal lakuin apa aja asal kamu pinjemi aku uang", Kinan benar-benar sudah berada dijalan buntu, ia teringat ucapan Andra kapan hari di kafe.
"Setelah lo mempermalukan gue didepan mahasiswa yang lain, sekarang lo minta tolong, cuma gara-gara gue iseng

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumpuni Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melayang di Atas Awan

"Ting tong"

"Ting Tong"

Bel pintu rumah Andra berbunyi, sontak mata Kinan memandang Andra yang beranjak dari tempat duduknya.

"A-aku harus sembunyi dimana?", Kinan mengambil tas bergegas untuk bersembunyi dan menunggu arahan dari Andra.

"Tenanglah, duduk saja aku akan buka pintu", Andra sedikit berlari kearah pintu utama. Dan sepuluh menit kemudian ia kembali dengan dua kresek makanan, satu kotak besar pizza dan satu kresek lagi berisi dua minuman soft drink.

"Duduklah di sofa", perintah Andra sembari membuka pizza yang ia pesan melalu gofood.

Kinan hanya menatap tanpa suara kearah pizza didepannya.

"Ini makanlah", Andra memberikan satu iris pizza kepada Kinan.

"A-aku sudah kenyang", tolak Kinan halus.

"Makan!!", ucap Andra tak mau ada penolakan.

Sorot mata Andra terlihat tajam, "Ma-maaf aku beneran kenyang".

Andra melempar irisan pizza yang ia pegang ketempat semula. Tak ingin membuat amarah Andra memuncak Kinan langsung meralat omongannya, "Selain kenyang, aku tidak bisa makan udang dan jamur. Aku lihat pizza itu ada komposisi udang jamur pada box nya. Aku ada alergi".

"Ohhhh alergi makanan murah? Lo gak level makan makanan kayak gini?", nada Andra sedikit meninggi.

"Bu-bukan begitu maksut ku ....", Kinan merasa serba salah. Entah kenapa setiap kata yang ia ucap selalu disalah artikan oleh Andra.

"Udahlah, gue buang aja makanan ini", memasukkan pizza kembali kekresek dan berniat untuk membuangnya.

"I-iya aku makan, jangan dibuang", Kinan bergegas menahan tangan Andra, dan mengambil pizza untuk ia makan.

Dengan ragu ia mulai memasukkan pizza kedalam mulut

"Please please tolong jangan kambuh", gumam Kinan. Sementara Andra kembali duduk satu meter disofa sebelah Kinan.

Sepotong demi sepotong Kinan berusaha menikmati makanan yang sudah Andra pesan. Sesekali ia meneguk soft drink untuk menetralkan lidahnya, berbeda dengan Kinan yang berusaha menikmati makanannya, Andra hanya meminum soft drink dan menyesap satu batang rokok. Karena niat awal memang ia memesan pizza hanya untuk Kinan.

Satu iris pizza sudah masuk kedalam perut Kinan. Ia berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak fokus dengan alerginya. Lima menit, sepuluh menit berlalu tak ada tanda alergi Kinan kambuh. Hingga pada menit ke lima belas, Kinan merasakan keringat dingin ditubuhnya, nafasnya mulai terasa berat, ia memegang dadanya berusaha untuk mengatur nafas. Dan apa yang dialami Kinan itu pun, mengganggu fokus Andra yang sedang melihat film barat diruang TV.

"Haaah...hahhh...hah", nafas Kinan mulai memburu, ia mulai merasakan dadanya yang sesak. Andra yang melihat kondisi Kinan terlalu gengsi untuk bertanya, hingga akhirnya Kinan memutuskan menuju toilet. Ia berlari dengan tangan yang menahan sesak didadanya.

Kinan yang tak tahan dengan efek yang ditimbulkan akibat memaksa makan jamur dan udang, segera memasukkan jari kemulutnya. Satu-satunya cara adalah dengan mengeluarkan apa yang sudah ia makan, dengan berjongkok, ia memuntahkan semua isi perutnya di closet.

"Hoeeek....hoekk...", keringat bercucuran dari pelipisnya. Sensasi makanan yang dipaksa keluar membuatnya merasa lemas.

"Hoeeekk..hoek",

Kinan terus berupaya mengeluarkan isi perutnya. Sementara itu, Andra menatap Kinan dari pintu kamar mandi yang tidak sempat Kinan tutup.

Merasa sesak nya sudah berkurang, Kinan bersandar pada tembok kamar mandi dengan posisi duduk, ia terdiam dengan badan lemas.

"Uhukk uhukkk" Kinan terbatuk.

Hingga ia sadar ada sepasang mata melihatnya dari pintu. "Maaf...nanti aku bersihin", ucap Kinan pelan.

Tak ada jawaban dari Andra, ia justru meghampiri Kinan dan membantunya berdiri.

"Kamu bisa jalan sendiri?"

"Ya..."

Tangan Andra melingkar dipinggang Kinan, ia berusaha membantu mempah Kinan sampai ke kamar tamu.

"Berbaringlah, aku akan buatkan teh hangat".

Kembali perasaan bersalah menyelimuti Andra, dia pikir Kinan hanya asal bicara tentang alerginya. Ia beraggapan alergi itu hanya alibi Kinan untuk menolak makanan yang ia tawarkan.

Andra membuatkan teh hangat, dan kembali ke kamar untuk memberikan kepada Kinan.

"Minumlah!!!", meletakkan teh diatas meja sebelah tempat tidur.

Tak mendengar jawaban dan pergerakan Kinan, Andra menatap kearah Kinan dan ia mendapati wajah teduh Kinan yang tertidur pulas. Dia meringkuk menghadap kanan tanpa selimut yang menutupi tubuhnya

"Hmmmmm", Andra menarik nafas dalam, dan duduk dipinggir kasur.

"Maafkan aku, seharusnya aku percaya kalau kamu benar-benar alergi jamur dan udang", entah ada dorongan apa, Andra membelai rambut Kinan, disana ia melihat bekas luka dikening Kinan yang mulai memudar.

Andra mengambil selimut dari dalam lemari dan memastikan tubuh Kinan tertutup sempurna. Lampu kamar ia rubah ke mode remang, agar tak terlalu silau. Kemudian ia naik keatas tempat tidur, dan melingkarkan tangannya ke perut Kinan.

Entah perasaan apa yang Andra rasakan, saat ini ia hanya merasakan damai saat berada disisi Kinan. Bahkan karena perasaan ini, matanya tak kunjung terpejam. Sementara itu, Kinan masih terlelap dalam tidurnya, ia belum menyadari mereka berada didalam satu selimut yang sama.

Bahkan, saat Kinan merubah posisi pun, matanya tak kunjung menyadari bahwa kini yang sedang ia peluk bukan guling tapi Andra. Wajah mereka begitu dekat, posisi Kinan meghadap kearah Andra. Dan anehnya, Andra tidak merasa terganggu ia malah memposisikan tangan Kinan agar lebih erat melingkar ketubuhnya.

Malam berlalu, sayup-sayup Kinan mulai membuka mata, nyawa nya belum terkumpul sempurna hingga bau khas minyak wangi dari pria yang ia kenal tercium oleh hidungnya.

Kinan mendongak keatas. Ya, dia mendapati Andra yang tertidur pulas dengan tangan melingkar dipinggangnya, begitu pula dengan tangannya yang dengan lancangnya memeluk perut Andra.

"Astaga....!"gumam Kinan dengan mata terpejam, "Aku harus segera pergi dari kamar ini, kalau sampai Andra bangun bisa-bisa ia salah paham".

Dengan perlahan Kinan menggeser tangan Andra, ia berharap Andra tidak akan bangun dan menemukan dirinya disini.

Seperti pencuri yang berharap tidak ketahuan pemilik rumah, Kinan mengendap-endap keluar dari kamar. Ia terus menyalahkan diri sendiri, "Bisa-bisanya aku tidur disana", sambil mencoba megingat-ingat kejadian semalam. Tapi yang Kinan ingat hanyalah kejadian saat alerginya kambuh dan badannya lemas karena memuntahkan pizza yang ia makan.

Kinan sudah berhasil keluar kamar tanpa membangunkan Andra saat jam menunjukkan pukul 05.15 WIB. Sembari menunggu Andra bangun, Kinan mulai membersihkan rumah yang sepertinya tidak terjamah sejak kejadian malam itu.

"Hallo bik", ucap Kinan dari balik sambungan telfon seluler.

"Halo mbak. Tadi malam mbak gak pulang ya?, apa mbak Kinan berangkat pagi hari ini?"

"Kinan ada kerjaan bik, jadi gak pulang semalem".

"Oh yasudah, yang penting mbak Kinan jangan lupa makan, istirahat"

"I-iya bik", ucap Kinan dengan gugup karena melihat Andra yang menuju kearahnya. Tanpa berpamitan, Kinan langsung menutup telfon dan memasukkan HP kedalam saku celananya.

Mata Andra menatap sekeliling, dan ia mendapati ruangan sudah terlihat lebih rapi dan bersih.

"Kamu sudah sarapan?", berdiri didepan pintu tempat cucian dimana Kinan sedang megeringkan pakaian.

"Belum", jawabnya sembari mengalihkan pandangan, tatapan intens Andra membuatnya risih dan canggung.

"Pilih menu yang kamu suka, pesan dua", meyodorkan HP dengan layar aplikasi go food yang sudah terbuka.

Entah kenapa Andra bahkan merubah gaya bicaranya yang dulunya lo gue, sekarang menjadi aku kamu.

"Kamu saja yang pesan, aku ikut"

"Aku hanya gak mau peristiwa semalam terulang lagi"

Akhirnya Kinan berjalan tiga langkah dan mengambil Handphone Andra.

"Apa yang kamu suka?".

"Yang penting tidak bubur ayam", ucapnya berlalu pergi.

Kinan memilih makanan yang menurutnya familiar dilidah mereka, ia kemudian meninggalkan tempat cucian menuju lantai dua untuk melanjutkan bersih-bersih dan ia tak mendapati Andra, "Mungkin dia sedang mandi", batinnya lirih.

*Beberapa saat kemudian diruang TV*

Kini mereka berdua duduk lesehan diruang TV, dengan dua makanan yang siap disantap diatas meja. Semerbak wangi maskulin jelas dapat tercium dari tubuh Andra yang sudah berpenampilan klimis sehabis mandi. Begitupun Kinan yang sudah berganti dengan pakaiannya sendiri semalam.

Tak ada pembahasan apapun diantara mereka berdua, hanya suara TV dari para pemeran drama korea yang tak sengaja Andra putar.

"Semua pekerjaan rumah sudah selesai, setelah sarapan aku pulang", Kinan memulai pembicaraan.

"Siapa yang mengijinkanmu pulang?", ucap Andra yang masih asyik dengan nasi uduk yang ia kunyah dimulut.

Perubahan sifat Andra, bukannya membuat Kinan senang, tapi malah membuatnya khawatir. Ya, Andra adalah pria yang sulit ditebak.

Tak ada lagi obrolan diantara mereka berdua. Kinan tak tau apa yang akan dia lakukan setelah sarapan ini selesai karena semua pekerjaan rumah sudah selesai.

Kinan meninggalkan ruang TV, ia menuju dapur untuk mencuci piring, dan beberapa menit kemudian diikuti Andra menuju kulkas untuk mengambil air dingin. Kinan yang sedang menutup kulkas tak melihat Andra ada dibelakangnya saat akan berbalik badan, hingga menyebabkan tubuhnya menabrak dada bidang Andra. Suasana hening sesaat, Andra meraih botol dingin yang dibawa Kinan, dan meminumnya.

Kinan berjalan menjauhi Andra, tapi tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik, sontak langkah Kinan terhenti. Kinan menatap Andra, hingga tatapan mereka bertemu. Kembali Andra menarik tangan Kinan hingga ia bersandar pada pintu kulkas.

Kini wajah mereka hanya berjarak tak lebih tiga cm, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. Kinan tak berani menatap Andra, pandangan matanya justru megarah kedada bidang Andra.

Jempol tangan Andra mengusap bibir pink Kinan, ia mendekatkan bibirnya pada bibir wanita didepannya Tangannya kini memegang rahang Kinan agar lebih leluasa menikmati.

Kinan hanya terdiam membiarkan bibirnya dijamah Andra.

"Balas...balas ciumanku", bisik Andra ditelinga Kinan dengan nafas yang berat, "Buka bibirmu", tambahnya.

Kinan mulai membuka bibir, ia membalas ciuman Andra, gigitan kecil dan sesapan penuh gairah berhasil membuat Kinan megimbangi apa yang dilakukan Andra. Lidah merekapun beradu, sesekali terdengar desahan lirih. Suasana semakin panas saat Andra mulai memegang kendali, ia memiringkan kepala Kinan dan mulai menciumi telinga dan leher Kinan.

Kinan berusaha untuk menahan desahan saat Andra menjamah tiap inci telinga, tengkuk dan lehernya. Melihat reaksi Kinan yang datar, Andra kembali berbisik, "Jangan menahannya, nikmati, ungkapkan apa yang kamu rasakan".

Kalimat Andra seakan menjadi sebuah perintah agar Kinan mengekspresikan apa yang ia rasakan.

Sapuan lidah, ciuman penuh nafsu, dan gigitan kecil pada tengkuk Kinan berhasil membuat Kinan melayang, "Seharusnya ini salah, kenapa aku menikmatinya", gumam Kinan saat tangan Andra mulai membuka satu persatu kancing baju milik Kinan.

"Ehmmm....akhhhh", rintih Kinan lirih saat hidung Andra menyapu leher dan gigitan kecil.

Andra berhasil meloloskan baju Kinan, Ia mulai melepas kaitan bra milik Andra dan mulai menyesap bukit kembar, dengan salah satu tangan memilin pelan ujung bukit kembar Kinan yang lain.

Mata Kinan terpejam menahan sensasi seperti sengatan listrik dari ujung kaki sampai ubun-ubun.

Sementara Andra yang sudah dikuasai nafsu, segera mengangkat tubuh Kinan bak pengantin baru menuju kamar. Andra menjatuhkan tubuh Kinan yang hanya berbalut celana dalam hitam model hipster diranjang. Ia yang sedang berdiri di pinggir tempat tidur segera melepas kaos putih miliknya, dan seketika tubuh tegap dengan perut kotak terpampang nyata. Tak lupa ia meloloskan celana pendek dan celana dalamnya, seketika barang berurat milik Andra berdiri kokoh siap mencari liang kenikmatan.

Andra mulai merangkak naik ketampat tidur dan menindih tubuh Kinan. Kembali ia melahap bibir ranum Kinan, dan kini jemari tangannya sudah menelusup kedalam celana dalam dan mencari daging kecil milik Kinan dan mulai menggosoknya pelan.

Kinan memejamkan mata, ia seperti dihajar kenikmatan oleh Andra, karena sesekali bibir Andra turun menikmati ujung bukit kembarnya sedangakan tangannya tak henti bergerak diliang kenikmatan miliknya.

"Apa kamu menikmatinya?", bisik Andra. Entah ada angin apa, bahkan Kinanpun heran, apakah ia salah dengar saat Andra bertanya seperti itu. Ini pertama kalinya Andra menanyakan hal itu kepada Kinan.

"Apa kamu menikmatinya?", bisiknya lagi.

"Hmmmm.....", jawab Kinan dengan terpaksa.

"Jawab, apa kamu menikmatinya?"

"Iya, aku menikmatinya".

"Kau suka?"

"I-iya".

"Apa kamu ingin lebih?"

"Hmmmmm....mmmm", Kinan masih merasa canggung dengan pertanyaan tak biasa Andra .

"Katakan kalau kamu ingin lebih".

"I-iya aku ingin lebih".

"Memohonlah, mohon agar aku menjamahmu".

"Apa?", ucap Kinan yang masih berada dibawah kungkungan Andra, sementara tangannya masih terus bergerak aktif didaging kecil miliknya.

"Aku rasa aku sudah cukup jelas berkata, memohonlah agar aku menjamahmu".

"Tolong, jamah aku. Jamah tubuhku".

"Oke..."

Andra bangun dan mulai meloloskan celana dalam hitam milik Kinan, Andra membuka lebar kaki Kinan dan mulai berjongkok didepan bagian intim yang aromanya masih sama, wangi segar tanpa ada aroma tak sedap, khas milik Kinan.

Lidahnya mulai menyapu area intim Kinan, sesekali ia menyesap dan mengigit kecil bagian yang dibilang sensitif untuk wanita.

Kembali Kinan merasakan sengatan listrik dari ujung kaki menjalar ke ubun-ubun. Kepalanya menggeleng tak baraturan menahan nikmat, bahkan Kinan sampai mendesah saat kedua tangan Andra memilin ujung bukit kembar miliknya.

"Ehmmmm....hmmmm",

"aakkkhhhh"

"Cukuppp ndraaaa, sudah", teriak Kinan memelas menahan nikmat. Semakin Kinan mendesah, sapuan lidah Andra semakin ia percepat, hingga tibalah puncak kenikmatan dari Kinan.

Cairan kenikmata keluar bersama desahan panjang dari Kinan, tangannya mencengkram keras seprei, sementara kepalanya mendongak merasakan sensasi yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

*Bersambung Part 2

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!