Lynelle Cheverly, Wanita tangguh. Yatim piatu saat umur 10 tahun. Sejak saat itu dia harus menghidupi dirinya. Tak sengaja dia bertemu dengan Evrard Kenneth orang paling berpengaruh di Prancis, Siapa yang tak kenal dengan pria tampan itu.
Kehidupan Lynelle pun berubah sejak Evrard membawa dirinya ke mansion milik Evrard, kemewahan dan perlakuan khusus mengelilingi dirinya, tetapi sejak kemunculan Dio, sahabat kecil Lynelle semuanya berubah. Pria itu membawa Lynelle pergi dari sangkar emas Evrard. Sejak saat itu kesialan mulai menimpa dirinya, perlahan masalalu Lynelle berdatangan menggoncang mentalnya. Serta penghianat dirasakan oleh Lynelle
Tetapi Evard dengan sigap kembali merengkuh Lynelle, menariknya dari lorong gelap. Menghapus semua luka yang dirasakan oleh wanita cantik itu. Hingga dimana mereka berdua benar-benar meyakini bahwa Cinta telah tumbuh dihati keduanya
Lynelle pun akhirnya dipersunting oleh Evrard, berhasil kah dirinya menghadapi semua masalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaTiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapuh
"Lepas, aku juga tahu ini rumah sakit, siapa bilang ini kuburan hah" bentak Evrard
"Maaf tuan" Pierre menunduk, sedangkan Evrard menjambak rambut frustrasi.
Tap
Tap
Suara langkah terdengar, Evrard melirik sekilas lalu tersenyum sinis
"Lho tuan Kenneth" tegur Aideen Evrard pun bergeming
"Halo tuan Aideen" sapa Pierre ramah
"Sedang apa" tanya Aideen lagi
"Menemui wanitaku" ucap Evrard dingin
"Maksud anda Lynelle?" Evrard pun menaikan sebelah alisnya.
"Oh, dia baik-baik saja ingatnnya pun sepertinya sudah kembali" Evrard pun memasih diam membisu, ia pun marah pada Aideen lalu mendekati pria itu dan melayangkan bogem mentah.
Bugh
"Gara-gara kalian wanitaku terbaring seperti itu" ucapnya dingin
"Ya, ini memang salahku" ucap Aideen
"Pergi" usir Evrard, Aideeb pun mengangguk dan beranjak
"Dio, urusan kita belum selesai" ucapnya seraya menatap tajam lalu melangkah menjauhi mereka.
"Kau juga kenapa disini, sana pergi dasar pengecut menjaga wanitaku pun tak bisa" Dio pun beranjak dan meninggalkan Evrard.
Huft, Evrard menghembuskan nafas kasar ia kesal dan marah tak seharusnya membiarkan Lynelle begitu saja.
"Maafkan aku Cheri, aku janji akan melindungi kamu"gumamnya
Evrard pun duduk di kursi koridor, ia menyenderkan tubuhnya disandaran kursi pikirannya melayang jauh. Tak lama dokter menghampirinya.
"Keluarga nyonya Lynelle"
"Ya, saya calon suaminya"
"Bisa ikut saya sebentar?" Evrard pun mengangguk.
**
Evrard termenung di samping ranjang Lynelle, ia menunggu wanita itu membuka matanya pria itu bersyukur karena tidak ada masalah serius terhadap pisikis wanitanya.
"Tuan, ini saya bawakan makanan anda belum makan sama sekali"
"Taruh saja, aku tak lapar" ucap Evrard tanpa mengalihkan pandangan pada wajah Lynelle, Pierre pun menghela nafas lalu meletakkan makanan diatas meja kecil dan ia pun berlalu.
"Cepat sadar Cheri, aku merindukanmu" lirih Evrard sembari menggenggam tangan wanitanya.
Jam menunjukkan pukul setengah 4 sore, tetapi belum ada tanda-tanda Lynelle akan sadar, Evrard pun masih setia menemani Wanitanya.
"Apakah sangat berat untukmu, hingga kau tak kunjung membuka mata?" gumam Evrard pelan.
"Aku akan melindungimu sayang, aku janji" tetap setelah mengatakan itu tangan Lynelle bergerak kecil, Evrard pun tersentak dan menatap lekat kearah Lynelle. Perlahan mata indah itu terbuka dan mengerjap pelan menyesuaikan cahaya.
"Sayang" ucap Evrard, Lynelle pun lantas menoleh ke arahnya.
"Kak, aku ternoda.." lirinya dengan suara serak, lalu Lynelle menangis meraung keras.
"Aku ternoda, aku sudah tidak perawan huhuhu.." pekiknya sembari berontak, dengan sigap Evrard memeluk tubuh Lynelle dengan erat, membiarkan wanita itu meraung dipeluknya merelakan tubuhnya dipukul dan digigit beberapa kali.
"Lepas, aku sudah kotor lepas" teriak Lynelle memberontak dipelukan pria itu, tanpa sadar pria itu pun menangis ikut merasakan penderitaan wanitanya.
"Menangislah sepuasmu, aku takkan meninggalkan kamu Cheri" gumam Evrard. Lynelle pun semakin tergugu dipelukan Evrard.
Wanita itu menumpahkan semua air matanya didada bidang pria itu, meluapkan sakit hati dan perasaan hina didalam hatinya.
Diluar Pierre dan Karl pun ikut meneteskan air matanya, mereka pun turut merasakan kesedihan nyonya muda itu. Setelah keadaan kondusif mereka memanggil dokter.
"Hiks, aku benci Chaca, aku benci Dio"
"Aku benci mereka" lirih Lynelle
"Ya sayang, akan kuberi mereka pelajaran" bisik Evrard.
Tok tok
"Permisi Tuan Kenneth, Nyonya biar saya periksa dulu" ucap Dokter seraya mendekati mereka, didampingi oleh dua orang suster.
"Ya, silahkan" Evrard pun melepaskan pelukannya, lalu membiarkan Lynelle diperiksa tetapi tak meninggalkan wanita itu.
Sang dokter pun mulai menjalankan tugasnya, ia dengan hati-hati memeriksa wanita milik pria nomor 1 di Prancis, salah-salah malah dirinya yang terancam. Mereka mulai menanyakan sesi tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana ingatan Lynelle pulih.
"Baik, tidak ada masalah serius. Ingatan nyonya pun sudah kembali sepenuhnya" ucap Dokter seraya merapihkan peralatan yang dia bawa.
"Dok, apa saya masih perawan?" Ucap Lynelle, dokter itu pun tersenyum.
"Kalau nyonya ingin hasil lebih akurat, bisa melakukan tes keperawanan"
"Nyonya harus menjaga pola makannya ya, jika ada keluhan seperti sakit kepala atau pun nyeri bisa langsung hubungi kami" ucap Dokter
"Ya, apa boleh saya pulang?"
"Boleh, tetapi bila terjadi keluhan segeralah periksa lagi"
"Baik, saya tinggal dulu nyonya, Tuan saya permisi"
"Hum" ucap Evrard
Setelah dokter dan perawat pergi, pria itu mulai mendekati Lynelle.
"Kenapa tidak dirawat saja" ucap Evrsrd
"Tidak mau, aku tak betah disini"
"Kak, aku ingin tes keperawanan" Evrard pun menatap lekat.
"Jika ingin tes keperawanan, menikah lah denganku" ucap pria itu enteng.
"Aku serius ka, aku malu jika sudah tak perawan" mata wanita itu kembali berair, Evrard pun menghela nafas kasar.
"Dengar, aku yakin kau masih perawan. Tak peduli kau perawan atau tidak aku akan selalu mencintaimu" ucap Evrard, Lynelle pun semakin mengencangkan tangisnya.
"Kau tak mengerti" bentak Lynelle
"Pergi, aku ingin sendiri' teriak nya.
"Cheri" Lynelle pun memunggungi Evrard, bahunya pun naik turun
"Baiklah, aku mengalah jika merasakan sesuatu panggil aku" ucap Evrard lalu pria itu angkat kaki dari ruangan Lynelle, sedangkan Lynelle pun masih terisak.
"Kau tak mengerti, itu sangat berharga untukku" gumam Lynelle.
Evrard pun terduduk lemas di kursi panjang, ia memijit pangkal hidungnya dengan kuat pria itu berteriak kencang.
"Pierre, beri pelajaran pada Chaca dan brengsek Dio" bentak Evrard
"Baik tuan" Pierre pun gegas menjalankan tugasnya. Sedangkan Karl jadi merinding melihat kemarahan tuannya itu.
"Karl" panggil Evrard
"Iya, tuan" ucapnya sembari gemetar
"Jaga disini, jangan biarkan orang lain masuk selain aku" ucap Evrard tegas
"Siap, laksanakan" ucap Karl, lantas Evrard pun berjalan menjauhi ruang itu. Karl pun menghela nafas lega, pria itu mengusap dadanya.
"Dimana kalian" ucap Evrard
"Kami dimansion tuan"
"Ke markas! ada barang untuk kalian" ucap Evrard sembari menyeringai.
"Baik tuan" Evrard pun segera mematikan telpon, masuk kedalam mobil mewahnya dan menyuruh bodyguard untuk menjaga ruang Lynelle bersama karl
Pria itu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, ia dengan lihai menyalip beberapa mobil dihadapnya tak sampai disitu ia pun menyenggol siapa saja yang berani menghalang-halangi jalannya.
Ciitt, 20 menit berlalu ia telah sampai di markas miliknya letak markas itu ditengah hutan sangat sulit untuk orang lain jangkau
Tungkai panjang mulai memasuki bangunan tua itu, langkah kakinya seperti musik kematian bagi para tawanan dibangunan itu, sorot matanya menajam wajahnya pun memerah, tangannya mengepal kuat. Ia pun masuk ke satu ruangan, menendang pintu itu hingga tampaklah Pierre, dan dua cucunguk sudah terikat di kursi, cucunguk yang telah berani menyakiti wanitanya lantas pria itu menyeringai.