Indonesia
NovelToon NovelToon
Sejuta Rasa Di Hati

Sejuta Rasa Di Hati

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: inge

Dinamika kisah percintaan seorang wanita sholeha yang bernama Maryam Izzatunisa Pandjaitan. Maryam yang baru berusia 23 tahun memutuskan ingin menikah muda dengan lelaki idamannya yang bernama Ibrahim Scott Kusuma.

Dia kenal pria itu dari sebuah wasiat perjodohan yang telah dilakukan oleh almarhumah ibunya. Namun kenyataan pahit harus dihadapi ketika sebuah tragedi kehidupan telah menimpanya.

Seperti apakah tragedi yang telah menghancurleburkan masa depan dan impiannya?

Apakah Maryam menemukan sebuah kebahagiaan yang hakiki setelah kejadian itu telah menimpanya?

Ayo ikuti cerita novel ini yang isi dengan intrik dan juga jebakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulau Ini

Di like ya guys 😁

Di vote ya guys 😁

Di komen ya guys 😁

Happy reading 🤗

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Kelopak mata milik seorang pria yang bernama Edgar terbuka secara perlahan. Dia mengerjapkan kedua matanya agar bisa menyesuaikan bias sinar matahari yang menyeruak masuk menembus kornea kedua matanya. Edgar menegakkan badannya untuk merubah posisi badannya dari tidur telentang ke posisi duduk.

Sedetik kemudian Edgar mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Terkejut reaksi pertama ketika melihat hamparan pasir putih di pinggir pantai dan pantai dengan kombinasi air warna hijau dan warna biru yang membuatnya terpana. Edward mengucek - ngucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya. Menatap lagi hamparan pemandangan alam yang sangat indah.

"Alhamdulillah aku masih hidup. Apakah Maryam masih hidup?" ucap Edgar bermonolog.

Edgar beranjak berdiri sambil menatap ke laut. Pakaiannya yang basah kuyup sehingga badannya menggigil ketika angin laut bertiup. Memikirkan nyawanya Maryam. Berjalan pelan menyusuri bibir pantai untuk mencari Maryam sambil mengedarkan pandangannya. Mencari ke sekeliling tepian pantai. Tak sengaja Edward melihat seseorang terbaring lemas di pinggir pantai.

"Semoga orang itu Maryam," ujar Edgar bermonolog.

Tak lama kemudian Edgar berlari menghampiri seseorang yang yang sedang terbaring lemas di pinggir pantai. Edgar menghentikan langkahnya setelah menempuh jarak sekitar dua belas meter. Ternyata orang itu adalah Maryam. Edward terpana melihat wajah cantik alami milik Maryam yang terlihat pucat yang sebagian ketutup oleh rambut hitam legam milik Maryam. Lambat laun getaran halus menelusuri setiap aliran darahnya Edgar.

Pandangan matanya Edgar beralih ke tubuhnya Maryam yang telentang. Edgar menelan salivanya berulang kali ketika melihat tubuhnya Maryam dalam postur yang sangat menggoda bagi Edgar. Menelisik tubuhnya Maryam yang telentang dari ujung kaki sampai ujung kepala. Karena seretan ombak laut, pakaian yang dipakai oleh Agni basah kuyup hingga membuat gamis Jersey longgar itu menempel erat di tubuhnya Maryam.

Gamis putih yang dipakai oleh Agni lebih seperti kasa putih yang tipis sehingga memperlihatkan cetakan bra dan bentuk badannya Agni yang ideal di mata Edgar. Maryam terlihat sangat memikat dan menggoda jiwa lelakinya Edgar. Tapi segera mungkin Edward menyadarkan diri dari hawa nafsunya. Edgar menduduki dirinya di samping kanannya Maryam. Memperhatikan lagi wajah cantiknya Maryam yang mempunyai magnet tersendiri untuk hatinya Edgar.

"Aku harus menolongnya.

Waktu mengikuti organisasi palang merah di kampusnya, Edgar pernah mempelajari tindakan dasar untuk pertolongan pertama korban tenggelam, yaitu resusitasi jantung dan nafas buatan. Tanpa berfikir panjang lagi, Edgar menekan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya di bagian leher dekat belakang telinga Maryam untuk memeriksa denyut nadinya Maryam. Edgar merasakan denyut nadinya Maryam sangat lemah. Edgar langsung menekan kedua telapak tangannya langsung ke dada Maryam.

Sesaat setelah menyentuh dadanya Maryam, Edgar merasa bergairah lagi karena kedua balon milik Maryam kenyal. Edgar segera membuang pikiran kotornya karena dia harus menolong Maryam. Di tengah upaya Edgar menolong Maryam, Edgar mengetahui bahwa kedua balon milik Maryam seperti spons. Setiap kali Edgar menekannya, kedua balon itu akan kembali ke bentuk aslinya ketika Edgar melepasnya.

Tidak adanya reaksi dari Maryam setelah Edgar melakukan resusitasi jantung beberapa saat. Akhirnya Edgar berinisiatif untuk melakukan nafas buatan untuk menolong Maryam. Ketika melihat bibir pinknya Maryam, Edgar merasakan tangan kanannya yang sedang memegang dagunya Edgar sedikit gemetar. Sedetik kemudian Edgar menjepit hidung mancungnya Maryam dengan pelan dan menarik dagunya Maryam dengan pelan.

Edgar mendekatkan mulutnya dengan mulutnya Maryam. Mencium bibirnya Maryam yang terbuka karena ditarik oleh tangan kanannya Edgar. Ketika mencium bibirnya Maryam, Edgar merasakan sensasi dingin. Tak mau membuang waktu lagi, Edgar meniup dengan liar. Setelah beberapa saat, Edgar pun merasa sedikit kekurangan oksigen ketika Maryam membuka kedua matanya.

Kedua matanya Maryam mendelik kesal melihat seseorang sedang menciumnya. Sontak Agni mendorong bahunya Edgar dengan sekuat tenaga sehingga Edgar melepaskan ciumannya, jepitan tangannya dan cengkeraman tangannya di dagu Maryam. Tiba-tiba Maryam memuntahkan air. Setelah puas memuntahkan air, Maryam mengangkat badannya sehingga dia duduk di atas pasir putih. Dia menatap tajam ke Edgar.

"Kamu jangan salah paham dulu, aku tadi bukan ingin menjamah dirimu, tapi hanya ingin menyelamatkan dirimu," ujar Edgar lembut sambil menatap intens ke Maryam.

"Terima kasih, Alhamdulillah dikasih umur panjang," ucap Maryam sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. "Ke mana jilbabku?" lanjut Maryam sambil meraba-raba kepalanya.

"Kamu tenang saja, di sini cuma ada kita berdua," ujar Edgar.

"Kamu yakin?"

"Iya, tadi sebelum menemukan kamu, aku sudah menyusuri pantai ini."

"Memangnya kita berada di mana?"

"Aku tidak tahu persisnya, sepertinya kita berada di sebuah pulau yang tak berpenghuni."

"Kita harus cari pertolongan supaya bisa keluar dari pulau ini," ucap Maryam sambil beranjak berdiri.

"Berarti kita harus kayu untuk membuat api," samber Edgar sambil beranjak berdiri.

"Ayo kita cari kayu!" ajak Maryam bersemangat.

"Apakah kamu sudah biasa jalan tanpa mengenakan alas kaki?" ucap Edgar lembut.

Maryam hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ucapan Edgar. Tak lama kemudian mereka berjalan menyusuri pantai yang masih belum disentuh. Mereka melangkahkan kakinya secara beriringan ke pesisir pantai. Edgar me merasakan getaran lembut di relung hatinya.

Melewati beberapa semak - semak, pohon pandan pantai, cemara laut, ketapang, kelapa, stigi dan waru laut sehingga mereka berada di wilayah pesisir pantai. Maryam tidak bisa menahan rasa laparnya lagi karena sejak dari tadi Maryam sudah lapar. Maryam menghentikan langkahnya sehingga membuat Edgar menghentikan langkahnya, lalu Edgar menoleh ke Maryam.

"Ada apa Maryam? Apakah telapak kakimu sakit?" tanya Edgar lembut.

"Nggak Pak, aku hanya lapar banget," ucap Maryam malu - malu.

Edgar tertawa kecil melihat ekspresi Agni yang sedang malu - malu sehingga menjadi imut di hatinya Edgar, lalu berkata dengan lembut, "Jangan panggil Pak, kita kan sudah sah menjadi suami istri, panggil Mas aja. Tahan sebentar lagi ya, aku belum menemukan alat untuk membuka kelapa. Kita jalan lagi ya?"

Maryam hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Edgar. Mereka melanjutkan langkahnya melewati kebun liar sehingga mereka berada di dataran tanah yang lebih keras. Edgar menghentikan langkahnya ketika melihat pohon pisang yang sedang berbuah dengan tatapan mata yang lapar di hadapannya. Sedetik kemudian memetik lima buah pisang. Memberikan buah - buah itu ke Maryam.

"Itu untukmu," ucap Edgar lembut.

"Terima kasih Mas," ucap Maryam senang, lalu dia membuka salah satu kulit pisang dan memakannya dengan rakus.

"Tolong dipegang dulu buahnya," ucap Edgar sambil memberikan dua setengah sisir buah pisang lagi ke Maryam.

"Mas mau ke mana?" ucap Maryam sedikit panik karena dia takut ditinggali.

"Aku mau ambil golok di sana dan mau memotong kayu," ucap Edgar sambil menunjuk sebuah golok yang berada dua meter dari mereka.

"Pasti ada orang lain di sini," ucap Maryam panik.

"Bisa jadi," ucap Edgar.

Sontak Maryam melempar beberapa pisang ke tanah. Memposisikan dirinya di belakang Edgar. Menyingkap kaos yang dipakai oleh Edgar. Memasuki kepalanya di balik kaos itu. Edgar tersenyum senang karena dirinya bisa diandalkan oleh Maryam. Sebuah ide muncul untuk mengerjai Maryam. Edgar menarik pergelangan tangannya Maryam, lalu disatukan di pinggangnya Edgar.

"Kenapa kamu memaksa aku memelukmu?" tanya Maryam pelan.

"Sepertinya ada orang jahat. Kamu bisa kan berkelahi dengan berpasangan?"

"Bisa, aku biasanya berduet sama Kak Armstrong, tapi posisinya tidak seperti ini. Kalau seperti ini bagaimana aku bisa bergerak?" ucap Maryam polos yang membuat Edgar menahan tawanya.

"Kamu ikuti aja gerakan diriku," ujar Edgar.

"Sebenarnya kamu bisa menguasai olahraga bela diri?"

"Bisa, aku menguasai bela diri karate dan kungfu."

"Penjahatnya udah muncul?" tanya Maryam polos.

"Aku masih memperhatikan sekeliling kita," ucap Edgar menyakinkan sambil mengedarkan pandangannya.

Tiba-tiba suasana hening. Edgar tertawa di dalam hatinya melihat kepolosan sang istri. Edgar dan Maryam berjalan menghampiri golok. Edgar mengambil golok, lalu memotong beberapa batang kayu pohon untuk dijadikan api unggun. Tak sengaja Edward melihat korek gas, lalu dia mengambilnya dan menaruhnya di kantong celananya.

"Kamu lagi motong apa sich?" tanya Maryam penasaran.

"Kayu."

"Kayu untuk memukul penjahat?"

"Nggak, buat bikin api unggun," jawab Edgar spontan.

"Berarti nggak ada penjahat. dong."

"Iya," ucap Edgar cengengesan.

"Huh, dasar menyebalkan!" gerutu Maryam sambil melepaskan tangannya. "Sebenarnya ada orang lain nggak di sekitar kita?" lanjut Maryam.

"Nggak ada," jawab Edgar lembut.

"Kamu yakin nggak ada orang lain di sekitar kita?"

"Yakin, aku sudah menelisik sekitar kita."

Maryam mengeluarkan kepalanya. Mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dengan Edgar. Setelah Edgar merasa cukup memotong batang pohon untuk dijadikan api unggun, Edgar menoleh ke Maryam yang sedang menelisik pandangannya ke sekitar kebun. Edgar tersenyum senang melihat Maryam yang bisa menjaga dirinya dengan baik dan benar.

"Ayo kita balik ke pantai! Kita buat api unggun untuk mendapatkan pertolongan supaya kita bisa keluar dari pulau ini."

1
Inge Gustiyanti
Ada teka-teki dibalik ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!