Novel ini menceritakan tentang kisah kesabaran Herra menghadapi sifat egois suaminya Dimas. Karena Herra tidak bisa melupakan cinta pertama nya. Ibunya menjodohkan Herra dengan teman sang adik.
Dan menceritakan tentang perjuangan Raffa untuk mengambil istri Dimas yang merupakan cinta pertama Raffa.
Mampu kah Raffa mengambil Herra dari hidup Dimas?
Tidak perlu banyak basa basi yuk langsung ke cerita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamsia Heriyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja Bareng Camer
Raffa bersiap memajukan kepala dengan bibir seksi kemerahan sedikit di monyong kan tinggal beberapa centi dengan gesit dan lincah Herra meletakkan kaca kecil di bibir Raffa akhirnya Raffa mencium bayangan sendiri.
" Ha ha ha ha ." Suara Herra tertawa mengejek Raffa sambil berjalan keluar dari kamar milik sang kekasih hati yang tak bisa mengkondisikan situasi dan kondisi.
Saat hampir sampai di depan pintu Herra berbalik badan.
" Jangan lama turunnya kita sarapan bersama!" Pinta Herra dengan tegas tidak ada wajah ramah atau senyuman manis khas Herra yang biasa dia berikan.
Setelah berbicara singkat Herra pergi menjauh dari kamar Raffa menuju meja makan.
Membuat Raffa kelimpungan sendiri takut tambatan hati merajuk mempercepat pulang ke Lahat.
" Oh tidak bisa." Raffa berkata dalam hati dengan kepala menggeleng geleng seolah Herra melihat dan mendengar.
Dengan langkah cepat dan bersemangat Raffa menyusul sang pujaan hati pergi meninggalkan Dia sendiri.
Karena terlalu bersemangat dan kurang konsentrasi waktu melangkah di tangga terakhir disangka Raffa anak tangga sudah habis ternyata tersisa satu.
"Buk....A a a a." Suara Raffa menggelegar mengalahkan suara petir dan guntur di malam hari.
Membuat semua orang yang ada di meja makan di sekitar Raffa tidak bisa menahan tawa.
" Ha ha ha ha ha." Mereka serentak mentertawakan Raffa tanpa komando yang membuat Raffa sedih termasuk bibi pelayan. Mamang tukang kebun kompak tertawa semua melihat penderitaan yang dialami Raffa Sorang Pimpinan Perusahaan ternama bisa ceroboh juga.
Melihat sang pujaan hati terkena masalah dan musibah , Herra beranjak dari kursi miliknya. Herra berjalan mendekati sang kekasih yang paling Herra sayangi sepenuh hati. Diulurkan tangan kanan ke arah Raffa yang mukanya mencium lantai keramik mahal orang tuanya .
Melihat ada tangan putih bersih dan wangi mengulur ke arah mukanya , membuat Raffa melihat ke atas. Herra mengulurkan tangan menyambut sang kekasih hati dari kemaren sial terus.
Tentu dengan semangat empat lima Raffa menerima uluran tangan pujaan hati. Herra tersenyum manis mengalahkan manisnya madu murni kepada Raffa.
" Abang tidak apa apa ?" Herra bertanya dengan lembut yang membuat hati Raffa berdesir tak karuan. Andaikan sudah halal ingin rasanya Raffa menarik Herra ke dalam kamar dan menguncinya.
" Tidak apa sayang. " Jawab Raffa dengan lembut dan manja.
Herra melihat kening sang kekasih pujaan hati benjol lumayan besar.
" Ya Allah bang kamu diberi tanda cinta oleh lantai keramik." Herra berbicara dengan tangan mengelus lembut benjolan di kening Raffa. Sesekali Herra meniup benjolan maksud hati meringankan rasa sakit yang dirasakan pujaan hati.
Berbeda dengan reaksi tubuh Raffa mendapatkan tiupan halus nan lembut dari orang terkasih membuat pedang pusaka berdiri tegak tapi bukan keadilan. Pusaka Raffa siap bertempur di atas kasur menciptakan Raffa junior. Siapa bilang senjata nya lemah tak bertenaga nyatanya baru terkena tiupan halus nan lembut sudah berdiri tegak seperti tiang listrik.
" Ayo Bang, sarapan habis itu baru Herra obati benjolan nya!" Ajak Herra lembut dengan tangan tidak melepaskan pegangan tangan Raffa. Raffa berjalan mengekori Herra menuju meja makan.
" Krek....." suara Herra menarik kursi untuk tempat duduk Raffa.
Raffa menurut tidak banyak komentar, Dia duduk dengan tenang.
Setelah Raffa duduk, Herra mengambilkan sarapan untuk Raffa.
" Abang sementara sarapan yang lembut dulu, tadi Herra masak bubur ayam spesial untuk Abang. Abang baru keluar dari rumah sakit belom boleh makan yang keras mungkin usus Abang belum kuat.
Untuk minum nya Abang minum bandrek dulu ya!" Herra berbicara dengan lembut penuh perhatian dan kasih sayang.
Lagi lagi Raffa menurut tidak ada kata protes atau sangkalan keluar dari mulut manis nya.
Semua interaksi Raffa dan Herra, bagaimana Herra memperlakukan Raffa semua tidak luput dari Mama , Papa dan Zaky yang selama ini penasaran akan sosok Herra yang membuat anak dan Abang mereka gagal move on walau sudah lama.
Mama mengangguk kan kepalanya ke arah sang Suami. Maksudnya apa hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu.
Setelah Sarapan
" Nak , jangan lupa kita hari ini belanja untuk oleh oleh kamu besok!. Mama ingin merasakan belanja, ke salon, makan berdua dengan anak perempuan." Mama Raffa mengingatkan Herra sebelum beranjak dari tempat duduknya.
" Baik Ma, dengan senang hati." Jawab Herra.
" Bang dimana kotak P 3 K ?"
" Ini nak, Herra." Belum sempat Raffa menjawab seorang bibi pelayan yang sangat menyayangi Raffa memberikan kotak obatnya.
" Makasih ya bik."
" Sama nak, " Jawab bibi langsung melangkah meninggalkan tuan muda mereka yang masih di meja makan.
Herra memberikan obat pereda nyeri , langsung di minum Raffa tanpa membantah. Kemudian Herra memberikan salaf di daerah benjolan.
" Nah selesai." Melihat pergerakan Herra yang akan berangkat dengan cepat dan gesit .
" Cup" Raffa mencuri ciuman di bibir Herra sekilas. Sebelum mendengar kata kata merdu bernada Omelan dari sang pujaan hati. Raffa beranjak dari tempat duduk sambil tersenyum manis.
" Makasih sayang semuanya, muach ." Raffa berjalan sambil mengirim ciuman jarak jauh untuk sang kekasih pujaan hati.
langsung Herra menangkap kiriman ciuman yang diberikan Raffa pada nya, kemudian diletakannya di bawah ketek. Membuat wajah Raffa di tekuk dengan kaki di hentakan ke lantai.
Membuat sang Papa yang tidak sengaja melihat geleng geleng kepala.
Papa tidak habis pikir melihat tingkah laku putranya yang sudah dewasa seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
Selesai berpamitan Dengan keluarga dan kekasih hati Raffa berangkat menuju Kantor Perusahaan yang dia pimpinannya dengan Zaky sebagai sopir.
Sesuai rencana Mama Raffa dan Herra bersiap pergi bersama.
Setelah mendapat izin dari sang suami Mama Raffa pergi berdua dengan calon mantu tercinta diantar oleh sopir.
" Kemana dulu kita Nya?" Sang supir bertanya ke Nyonya nya.
" Ke mal dulu pak" Jawab Mama Raffa.
Setelah sampai di mal terdekat mereka berdua turun dari mobil .
" Pak, bapak silakan pulang dulu. Kami soalnya mungkin sore baru pulang. Setelah selesai saya akan menghubungi bapak kembali q." Perintah Nyonya besar.
Setelah sopir pergi tak terlihat lagi baru ca men dan camer masuk berjalan bergandengan tangan seperti anak dan ibu. Nampak sekali wajah bahagia di wajah wanita paru baya Mamanya Raffa.
Mama Raffa menggandeng tangan ca men ( calon menantu) . Memasuki toko baju, sepatu, tas sampai toko kosmetik. Mama Raffa seperti kalap mata berbelanja dengan seorang anak perempuan. Maklum punya anak satu laki laki. Raffa masa remaja ingin tinggal dengan sang nenek dan kakek di Lahat . Anak adiknya dua orang lelaki semua.
Papa nya Raffa anak tunggal.
Jadi harap dimaklumi, semua pakaian menurut nya bagus diambil diberikan ke kasir.
" Ma sudah, ini sudah cukup!" Herra bingung melihat belanjaan mama Raffa begitu banyak tetapi tidak ada satupun punya dia semua punya Herra dan keluarga nya di Lahat.
" Mbak semua belanjaan kami dikirim ke alamat ini!" perintah Mama Raffa ke kasir.
" Baik Buk, terimakasih." jawab sang kasir.
Mama Raffa pegi menggandeng tangan Herra menuju salon kecantikan yang ada di dalam mal.
"Selamat siang Nyonya, ada yang bisa dibantu?" Seorang pegawai salon menghampiri Mamanya Raffa. Seperti nya pegawai baru soalnya tidak mengenal Mamanya Raffa padahal sudah langganan.
" Berikan semua nya yang lengkap ke calon mantu saya!" perintah mama Raffa.
" Baik" jawab pegawai salon
Bersambung......
Tunggu kejutan dari emak Kam episode selanjutnya 🙏
besok aku lanjut lagi ya❤️