"Aku menikah dengan mu bukan berdasarkan cinta! " Dania mengangguk pelan apa yang di bicarakan suaminya memang benar dia bukan siapa-siapa.
" Jangan berharap aku mencintai mu Dania! " Vian memberi batas pada Dania agar tidak terlewat batas.
" Beri aku waktu 100 hari mas. " Bukan mendengarkan, Vian berlalu tanpa berbalik. Air mata Dania tak sengaja lolos, mengapa hatinya bisa sakit seperti ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
..
Area 21++ bijak dalam membaca 😄 yang belum cukup umur skip aja🙃
" Kamu enggak ninggalin aku kan?" Kali ini keduanya saling berhadapan, Vian berharap Diana tetap tinggal dan tak meninggalkan nya lagi, semoga kali ini ia tak mimpi.
" Enggak mas, enggak.. " Vian berharap kali ini benar.
Vian memegang lengan Diana, ia tersenyum simpul mimpinya malam ini seperti nyata.
" Mas kamu kenapa?" Diana menghapus air mata Vian yang jatuh berlinangan. Tatapannya begitu berharap jika yang ia lihat adalah Diana.
" Sudah jangan nangis dong, biasanya kamu loh yang buat aku nangis. " Vian menggerutuki kebodohan nya dulu.
" Aku janji, enggak akan seperti itu lagi. " Diana tersebut simpul setidaknya pria ini berubah untuk nya. Diana tak berharap hanya jika ini nyata ia akan sangat beruntung bisa di sayangi Vian.
" Diana kamu kemana, kenapa kamu ninggalin mas? " Diana menggaruk kepala nya yang tak gatal, haruskah ia jujur pada Vian soal hal itu??
" Bukan kah kita seharusnya bercerai? " Raut wajah Vian seketika berubah. Ia tak suka. Diana berbicara seperti itu.
" Mas sudah bilang, kita tidak akan bercerai Diana, tidak akan bercerai kenapa kamu tak percaya sama mas? " Diana bingung, ia bukan tak percaya hanya saja ia tak mau berharap lebih cinta Vian hanya untuk Monica. Mereka berdua saling mencintai jika ada Diana bagaimana dengan cinta mereka?
" Mas sayang sama kamu... "
Deg
Apakah Diana bermimpi?? Vian mengutarakan perasaannya, tapi tinggu apakah dia serius???
" Mas, enggak salah? "
" Mas serius Diana, mas, mas enggak bisa tanpa kamu, mas enggak bisa sayang.. " Vian memeluk Diana lagi.
" Mas, "
" Jika ini hanya mimpi biarkan mas memeluk kamu lama Diana. " Diana merasakan apa yang Vian rasakan.
Diana juga sama jika Vian bermimpi setidaknya ia tak akan dimarahi gegara hal ini.
Tak berselang lama Vian kembali terlelap bahkan dengkuran halus terdengar.
" Semoga yang kamu katakan benar mas. " Diana berbaring bersebelahan dengan Vian. Mereka suami istri namun ini kali ke tiga mereka tidur bersama.
.
.
Vian terkejut bahkan tak percaya, seseorang yang tengah terlelap di samping nya adalah orang yang ia cari jadi tadi malam itu tidak mimpi.
Vian meyakinkan dirinya, awalnya menyentuh pipi Diana lembut, ternyata ini bukan mimpi.
Vian berbinar, ia tak boleh melepaskan Diana lagi.
Vian mencium Diana. Sangat kurang ajar jika mereka bukan suami istri.
Vian melumat bibir Diana, Diana masih terlelap dalam tidurnya.
" Jika orang lain yang melakukannya bagaimana dia saja tidur bahkan tak merasakan aku mengganggu nya. "
Vian mulai usil dengan menggerayangi dua gunung kembar Diana. Diana bahkan tak terganggu.
" Jika bukan suami ku dan sedang sakit sudah ku hajar kau... " batin Diana kesal, Diana sudah bangun sejak ada sesuatu yang melumat bibirnya.
Diana pasrah kali ini biarkan sajalah toh ia juga mengharapkan hal ini.
" Diana kenapa kamu begitu menggoda.. "
" Lel@ki mesum!!!!! " Ia ingin memberontak namun tubuhnya mengharapkan lebih.
" Kau mau apa? " Diana yang tak tahan lagi akhirnya terbangun.
" Ah maaf.. "
" Kenapa wajah mu itu? Seperti sudah mencuri sesuatu dari ku saja. " Pertanyaan menyelidiki membuat Vian gelagapan apa yang harus ia katakan.
" Kamu ingin sarapan tapi bukan nasi, seharusnya jika ingin langsung saja kenapa harus berhenti di tengah jalan. " Bola mata Vian ingin lepas ternyata Diana sudah bangun dari tadi.
" Tapi bolehkan? " tanya Vian ragu.