Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 : Benang merah yang saling terhubung
Kepergian Victoria meninggalkan ruang itu dalam keheningan yang begitu pekat, seolah udara menolak untuk bergerak.
Alexander masih berdiri di tempat yang sama, punggungnya bersandar pada dinding dingin rumah sakit. Kepalanya sedikit tertunduk, helai rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, menutupi ekspresi yang campur aduk antara marah, takut, dan bingung.
Suara detik jam di dinding terdengar nyaring di telinganya.
Satu… dua… tiga…
Setiap detak terasa seperti menghitung waktu mundur yang baru saja dimulai.
Di ujung lorong, suara langkah tergesa memecah sunyi. Rico muncul dengan napas terengah, keringat menetes di pelipisnya, namun langkahnya mendadak melambat ketika melihat atasannya.
Alexander berdiri diam bagai patung, tanpa gerak, matanya terpaku pada satu titik di lantai.
“T–Tuan Reed…” panggil Rico pelan, suaranya bergetar.
Ia menatap sekeliling, tapi tidak ada siapapun selain pria itu. “Anda baik-baik saja?” tanyanya hati-hati, setengah takut jawabannya tak datang dari dunia yang sama.
Tak ada jawaban.
Alexander tetap terdiam, tatapannya seperti kehilangan fokus. Pikirannya berputar di antara ucapan Victoria yang menggantung di udara.
“Tiga hari…” bisiknya pelan, hampir seperti mengulang mantra yang tak bisa ia pahami.
Rico menatapnya khawatir. “Tiga hari apa, Tuan?”
Alexander menoleh perlahan ke arah lorong tempat Victoria menghilang. Hanya ada bayangan samar di ujung jalan dan suara AC yang mendesis lembut. Tapi di pikirannya, suara Victoria masih terdengar jelas—dan terasa terlalu nyata untuk diabaikan.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tapi tubuhnya tetap tegang.
Tatapan matanya tajam, namun kosong di waktu yang sama.
“Tiga hari,” gumamnya lagi, lirih dan getir. “
Lorong itu tiba-tiba terasa lebih panjang, dan lebih gelap, padahal matahari cukup terang di luar sana. Dan untuk pertama kalinya, Alexander merasa waktu benar-benar mulai berjalan melawannya.
Udara di lorong rumah sakit terasa dingin dan menekan, seperti ada sesuatu yang bersembunyi di balik setiap helaan napas.
“Tuan…”
Suara Rico terdengar hati-hati, bergetar di antara ketegangan. Ia masih berdiri di depan Alexander yang tak bergeming sejak tadi, matanya kosong menatap ujung koridor tempat Victoria menghilang.
Rico melangkah mendekat, dan ketika tangannya hampir menyentuh bahu sang detektif, Alexander tiba-tiba menoleh cepat.
Tatapannya tajam, tapi redup. Seolah antara sadar dan tidak.
“Di jalan tadi, kamu bertemu Victoria?” tanyanya pelan, suaranya serak seperti baru bangun dari lamunan panjang. Jemarinya menyisir rambutnya sendiri, berusaha memusatkan pikiran yang masih kacau.
“Nona Victoria?” Rico mengulang, sedikit ragu. Ia ikut menoleh ke arah lorong itu, mencoba memastikan yang dimaksud. “Ya, aku sempat bertemu dengannya saat kembali ke sini. Dia bahkan sempat tersenyum.”
Alexander menegakkan tubuhnya.
“Tersenyum?” ulangnya pelan, nada suaranya berubah menjadi curiga. Keningnya berkerut dalam.
Beberapa menit yang lalu, gadis itu menatapnya dengan tatapan tajam, penuh tekanan, lalu menghilang dengan kata-kata aneh yang menggantung di udara. Tapi… bagaimana mungkin ia masih bisa tersenyum pada Rico sesudah itu?
“Mungkin mood-nya sudah jauh lebih baik, Tuan,” ujar Rico mencoba menenangkan suasana. “Biasalah, perempuan kadang emosinya naik turun. Mungkin dia cuma butuh waktu sendiri.”
Alexander menatapnya datar.
“Waktu sendiri?” gumamnya pelan. Lalu kepalanya menunduk sedikit, suaranya menurun menjadi bisikan. “Atau mungkin… dia hanya mempermainkanku.”
Ia menghela napas panjang, menatap lantai putih di bawahnya. Dada kirinya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Setelah beberapa detik diam, ia mengangkat wajahnya, menatap Rico dengan pandangan yang kembali tajam dan tenang seperti biasanya.
“Bagaimana laporan dari rumah sakit tentang hasil otopsi anak itu?” suaranya tegas kembali, profesional, seperti berusaha menutup pintu pikirannya yang sempat terbuka.
Rico cepat mengeluarkan ponselnya, membuka berkas digital. “Hasilnya persis seperti yang Tuan prediksi. Anak itu tidak hanya terluka di bagian luar karena tikaman di dada, tapi juga mengalami kerusakan di bagian otaknya.”
Alexander mengangkat alis. “Kerusakan otak?”
Nada herannya terdengar jelas. Ia tidak mengingat laporan awal yang menyebutkan hal itu.
Rico mengangguk cepat. “Ya, Tuan. Awalnya tim forensik mengira luka itu murni akibat senjata tajam. Tapi setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, ditemukan kerusakan parah di bagian otak yang tidak disebabkan oleh trauma fisik. Dan…” ia berhenti sejenak, menelan ludah, “mereka menemukan semacam alat kecil di dalamnya. Namanya BCI.”
“BCI?” Alexander mengulang, nadanya berubah sedikit lebih keras. “Apa lagi itu?”
“Brain-Computer Interface, Tuan. Para dokter menyebutnya NeuroLinker System,” jelas Rico tanpa mengangkat pandangannya dari layar. “Alat itu digunakan untuk menghubungkan otak manusia dengan sistem komputer. Tapi—” ia menatap Alexander cepat, “—ini bukan teknologi yang seharusnya dimiliki masyarakat biasa.”
Alexander terdiam. Matanya memandangi sesuatu yang tak terlihat di belakang bahu Rico, seolah mencoba merangkai benang merah dari potongan yang baru ia dengar.
“BCI… di otak anak kecil?” gumamnya pelan. “Itu bukan hal yang bisa dilakukan tanpa izin atau fasilitas penelitian besar.”
Rico mengangguk. “Itu dia. Tapi anehnya, pelaku yang menyerahkan diri… tidak punya latar belakang di dunia medis. Bukan ilmuwan, bukan teknisi, bahkan bukan orang berpendidikan tinggi. Dari data kepolisian, dia hanya pekerja pabrik biasa.”
Suasana di antara mereka menegang.
Alexander memejamkan mata sejenak, lalu menghembuskan napas berat. “Sudah jelas. Dia hanya kambing hitam.”
Rico mengangkat wajah, menatapnya tak mengerti. “Kambing hitam?”
“Ya,” jawab Alexander cepat, menatap tajam ke arah jendela besar di belakang Rico. Bayangan sinar matahari menembus tirai, menimpa wajahnya yang tegas namun letih. “Pelaku asli ingin mengubur kasus ini dengan mengorbankan satu orang bodoh. Mereka tahu, begitu ada yang menyerahkan diri, media akan diam, penyelidikan berhenti, dan publik akan lupa.”
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Rico menelan ludahnya, lalu berusaha memecahnya. “Tuan, maksud Anda… ini direncanakan?”
Alexander menatapnya lurus, matanya memantulkan cahaya dingin dari lampu di atas. “Kau masih ingat, kan, lambang yang ditemukan di belakang leher korban pertama?”
Rico mengangguk cepat. “Ya, saya ingat. Simbol aneh berbentuk lingkaran dengan garis melintang. Tim forensik bilang itu mungkin tanda luka, tapi sayang—”
“Bukan luka,” potong Alexander tajam. “Itu tanda.”
Ia melangkah menjauh dari dinding, suaranya merendah namun sarat tekanan. “Logo itu muncul juga di beberapa korban kecelakaan dalam lima tahun terakhir. Semuanya mati dengan cara yang sama.”
Rico membeku. “Maksud Tuan… semua korban itu saling terhubung?”
Alexander memejamkan mata, menunduk sedikit. “Mereka semua mati mengenaskan, Rico. Dan aku rasa… semuanya terkait dengan alat yang sama.”
Keheningan kembali menguasai ruang itu. Hanya suara AC yang berdesis pelan, mengiringi dua pria yang berdiri di tengah ketegangan yang tak bisa mereka pahami sepenuhnya.
Namun dibalik semua itu kata-kata Victoria tiba-tiba kembali menggema di kepala Alexander, seperti bisikan dari tempat yang jauh.
“Tiga hari, Alexander...”
Dan untuk alasan yang tak bisa ia jelaskan, tubuhnya tiba-tiba terasa dingin.