Pemerintah kota memaksa Sekolah Ibaraki (khusus laki-laki) dan Sekolah Sakurai (khusus perempuan) untuk merger ke Academy Shirayuki yang megah. Siswi Sakurai sudah terbiasa dengan fasilitas modern akademi, sementara siswa Ibaraki yang terbiasa hidup dalam sistem fraksi dan pertarungan merasa sangat asing.
Uniknya, meski keras, tidak ada siswa Ibaraki yang merokok/vape; mereka justru penggila jajanan dan minuman manis. Sebaliknya, siswi Sakurai adalah petarung tangguh yang pintar dan tegas di balik penampilan manis mereka.
Ketua Ibaraki (kaku, panikan pada perempuan) harus bekerja sama dengan Ketua OSIS Sakurai (anggun, kompetitif, ahli bela diri). Mereka harus menjaga ego sekolah sambil menyembunyikan benih cinta yang tumbuh. Kekacauan tak terelakkan saat murid laki-laki yang canggung berinteraksi dengan siswi yang menganggap mereka makhluk asing aneh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AUDITORIUM
Di dalam auditorium yang luas dan penuh sesak, suasana pertarungan semakin membara. Suara hantaman, jeritan kesakitan, dan deru napas memburu bergemuruh di setiap sudut ruangan. Para Kitsune bertarung dengan semangat luar biasa, bergerak lincah bagai bayangan di antara kerumunan ratusan siswa-siswi Jigoku Academy.
Tomoki sendiri sedang sibuk menangkis serangan bertubi-tubi dari dua orang siswa bertubuh besar. Di tengah sengitnya perkelahian itu, salah satu anggota OSIS yang berambut pendek mendadak merogoh saku seragamnya. Sebuah ponsel berdering nyaring di tengah kebisingan auditorium. Tanpa menghentikan gerakannya, gadis itu mengangkat panggilan tersebut dengan satu tangan, sementara tangan yang lain sukses membanting seorang musuh ke lantai.
"Halo? Ya, ada apa?" seru gadis itu dengan suara lantang dan napas tersengal, masih menggunakan gaya bicara banchou yang garang.
Di ujung sambungan, terdengar suara panik dari salah satu rekan mereka yang tertinggal di Shirayuki Academy. "Hei! Maafkan kami! Kami berdua tidak bisa ikut menyusul ke sana karena tiba-tiba guru meminta bantuan darurat untuk membereskan dokumen penting dan urusan administrasi mendadak di akademi! Sialan, kami jadi tidak bisa ikut meramaikan suasana!"
Mendengar laporan itu, sang gadis OSIS justru terkekeh renyah di tengah baku hantam. Ia menepis pukulan seorang musuh, lalu membalas dengan tendangan telak ke arah perut lawan.
"Hahaha! Jangan dipikirkan, bodoh! Kalau urusannya dengan guru, itu sudah kewajiban kalian sebagai siswi teladan di markas," jawab gadis itu dengan santai tanpa beban, suaranya terdengar jelas di tengah riuhnya ruangan. "Sudah, serahkan saja kekacauan yang ada di sini kepada kami berlima belas! Kalian lanjutkan saja kewajiban kalian di sana dengan benar, jangan sampai dimarahi guru piket!"
"Baiklah! Hati-hati di sana, buat mereka babak belur untuk kami!" balas suara di seberang sebelum sambungan telepon ditutup.
Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, gadis berambut pendek itu berteriak lantang ke arah rekan-rekan sesama Kitsune di seluruh penjuru auditorium, memastikan semuanya mendengar pengumuman penting tersebut.
"Woi, dengar-dengar! Dua orang teman kita yang tertinggal tidak bisa ikut bergabung ke sini karena harus membantu para guru di akademi!" teriaknya dengan suara menggelegar.
Mendengar teriakan itu, para Kitsune lainnya sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan. Mereka justru bersorak penuh semangat sambil terus melumpuhkan lawan-lawan di sekitar mereka.
"Baguslah kalau begitu! Biar mereka melaksanakan tugas mulia di sana!" sahut anggota OSIS berkacamata sambil memutar lengan lawannya hingga terdengar bunyi kertakan pelan. "Dengan lima belas orang di sini, itu sudah lebih dari cukup untuk meratakan tempat ini tanpa sisa!"
"Betul! Jangan biarkan mereka mengambil jatah kemenangan kita!" timpal yang lain dengan seringai lebar.
Tomoki, yang sedang setengah mati menangkis pukulan dan melayangkan bantingan terpaksa pada siswi yang menyerangnya, spontan menghentikan gerakannya sejenak. Ia tertegun, menatap ke arah para gadis berambut seragam itu dengan kening berkerut dalam dan mata membelalak tak percaya.
"Tunggu dulu...!" gumam Tomoki dengan napas terengah-engah, berbicara pada dirinya sendiri di tengah kepungan musuh. "Tadi mereka bilang apa? Sisa dua orang di akademi karena membantu guru... Berarti, kalau dihitung-hitung... jumlah total anggota Kitsune itu sebenarnya ada tujuh belas orang?!"
Tomoki menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merasa akalnya hampir copot. Sekelompok gadis berandalan elit dengan total tujuh belas orang, di mana dua orang menjaga benteng sekolah, dan limabelas orang lainnya datang menyerbu markas musuh yang jumlahnya ratusan tanpa rasa takut sedikit pun.
"Sekelompok perempuan ini... mereka sebenarnya manusia atau monster berkedok siswi teladan sih?!" keluh Tomoki dengan frustrasi, sebelum akhirnya kembali diserang oleh tiga orang siswa Jigoku secara bersamaan dan terpaksa melanjutkan pertarungannya.
Tomoki menangkis tinju dari seorang siswa bertubuh besar dengan napas yang terengah-engah dan peluh bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling auditorium, mendapati gelombang musuh yang seolah tidak ada habisnya berdatangan dari berbagai sudut ruangan.
"Sialan... kenapa jumlah mereka tidak berkurang sama sekali?!" keluh Tomoki dengan suara frustrasi, menghempaskan seorang musuh ke lantai dengan sisa-sisa tenaganya. "Bahkan setelah dihajar habis-habisan oleh para Kitsune itu, mereka malah terus berdatangan seperti kecoa! Apa markas ini punya mesin kloning manusia atau bagaimana?!"
Di tengah lautan musuh yang kacau, kelima belas anggota OSIS Shirayuki Academy itu justru sama sekali tidak menunjukkan kelelahan. Sebaliknya, teriakan putus asa Tomoki disambut dengan gelak tawa penuh semangat dari para Kitsune. Semangat bertarung mereka justru semakin membara melihat musuh yang melimpah ruah.
"Hahaha! Jangan menyerah begitu, Tomoki-kun!" seru salah satu anggota Kitsune berambut pendek sambil melompat dan melakukan tendangan berputar yang menjatuhkan dua orang sekaligus. "Semakin banyak mereka, semakin seru taruhannya! Kalau musuhnya cepat habis, kita malah tidak bisa menghitung siapa yang paling banyak mengumpulkan poin!"
Anggota OSIS berkacamata di dekatnya menyeringai tajam, lalu mendorong seorang lawan hingga menubruk tumpokan kursi. "Benar sekali! Dengar baik-baik, aku baru saja menjatuhkan tiga orang dalam satu gerakan! Itu artinya poin tambahanku melesat jauh di atas kalian!" teriaknya memancing emosi rekan-rekannya.
"Jangan sombong dulu, megane-san!" balas anggota lainnya dengan intonasi pria berandalan yang kental. "Barusan aku meratakan empat orang sekaligus di sudut barat! Poin tertinggi hari ini pasti jadi milikku, jadi bersiaplah mentraktir kue nanti!"
Suara gelak tawa, teriakan penuh tantangan, dan bunyi hantaman tubuh berpadu menjadi satu di dalam auditorium yang luas itu, membuat pertarungan tersebut lebih terlihat seperti arena permainan bagi para Kitsune ketimbang sebuah invasi berbahaya.
Sementara itu, jauh di atas lantai dua gedung utama, suasana tegang di medan pertempuran sama sekali tidak menyentuh ruangan tersebut.
Dari balik jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah auditorium, Ninaya dan Fuyuki berdiri bersidekap dengan santai. Mereka menonton jalannya kekacauan di bawah sana layaknya sedang menikmati pertunjukan teater akhir pekan di bioskop.
Ninaya menyesap minuman kaleng di tangannya, matanya menyipit penuh minat memperhatikan bagaimana para gadis berambut seragam Shirayuki itu membantai anak buah mereka dengan teknik judo dan kuncian maut.
"Wah, wah... lihatlah ke bawah sana, Fuyuki," ucap Ninaya dengan nada santai dan senyuman penuh seringai mengejek di bibirnya. "Anak-anak buah kita yang dibanggakan itu ternyata benar-benar tidak berguna. Hanya dalam beberapa menit, mereka sudah diratakan begitu rupa oleh sekelompok siswi perempuan dari Shirayuki."
Mendengar komentar itu, Fuyuki terkekeh kecil. Suara tawanya terdengar berderak di udara yang sunyi, memancarkan aura dingin yang mengerikan. Ia menyandarkan bahunya pada bingkai jendela, menikmati pemandangan kekalahan di lantai bawah tanpa ada secercah pun rasa panik di wajahnya.
"Biarkan saja mereka bersenang-senang untuk sementara waktu, Ninaya," balas Fuyuki di sela-sela terkekehannya, matanya menatap tajam ke arah Tomoki yang terlihat kewalahan di tengah kerumunan. "Semakin jauh mereka masuk ke dalam perangkap kita, semakin menarik pula akhir dari pertunjukan ini. Lagi pula, mangsa utama kita sudah menunggu di dalam gudang, dan sebentar lagi... panggung sesungguhnya akan segera dimulai."