Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33.Diabaikan.

Tiga hari berlalu, namun rasanya seperti tiga tahun bagi Raisa. Setiap sudut rumah tua yang dulu terasa hangat dan penuh kehidupan, kini terasa sunyi dan dingin seketika. Dimanapun ia melangkah, tak ada lagi suara langkah kaki yang berirama berat namun tenang, tak ada lagi sosok tinggi berbalut mantel gelap yang selalu mengawasinya dari kejauhan, tak ada lagi tatapan tajam namun lembut yang seolah selalu tahu apa yang sedang ia rasakan. Arya menghilang. Bukan benar-benar pergi meninggalkan rumah ini, melainkan menghindari keberadaannya dengan cara yang begitu teliti hingga tak pernah sekalipun mereka berpapasan, tak pernah sekalipun terdengar suaranya menyapa, bahkan menegur sedikit saja.

Pagi itu, saat latihan dimulai di ruang tengah yang luas, Raisa sudah siap dengan pakaian latihan sederhananya, napasnya teratur menanti sosok yang selalu memimpinnya. Namun yang muncul hanyalah Jatmika, berdiri tegak di ambang pintu dengan wajah datar yang tak bisa dibaca emosinya sama sekali.

“Tuan Arya memerintahkan saya untuk mengawasi latihan Nona hari ini,” ucapnya singkat, lalu langsung memberi aba-aba untuk memulai gerakan tanpa menunggu pertanyaan Raisa.

Raisa sempat menahan diri, berpikir mungkin Arya sedang menangani urusan penting yang tak bisa ditinggalkan. Mungkin ada bahaya yang mengintai dari dalam hutan, atau ada hal lain yang harus ia selesaikan demi keamanan mereka semua. Namun hari berganti hari, hal yang sama terus berulang. Saat makan siang, piring Arya sudah kosong terlebih dahulu sebelum Raisa duduk di meja makan. Saat ia berjalan melewati lorong lantai dua, suara langkah kaki yang ia kenal itu akan berhenti seketika, seolah sosok di baliknya sengaja menunggu hingga ia pergi jauh baru melanjutkan perjalanannya. Bahkan sekali waktu, saat ia tak sengaja berbelok di tikungan tangga dan hampir berpapasan, Arya hanya melirik sekilas dengan tatapan yang begitu dingin, lalu berjalan melewatinya seolah mereka adalah orang asing yang tak pernah saling mengenal.

Hati Raisa terasa seperti diremas perlahan namun pasti. Setiap kali ia mencoba bertanya pada Jatmika, jawaban yang ia dapat selalu sama: “Tuan sedang sibuk, Nona.” Atau “Tuan ingin menyendiri sejenak.” Tak ada penjelasan lebih lanjut, tak ada alasan yang masuk akal. Dan semakin lama keheningan itu berlanjut, semakin banyak keraguan yang merayap masuk ke dalam benaknya. Apa yang salah? Apa kata-kataku waktu itu terlalu menyakitkan baginya? Apa aku yang terlalu berlebihan saat menganggapnya sekadar pelindung dan keluarga? Atau... apakah dia akhirnya merasa keberatan dengan keberadaanku di rumah ini?

Perasaan itu membuatnya tak tenang seharian. Ia tak bisa berkonsentrasi saat latihan, sering kali salah mengatur napas hingga Jatmika berkali-kali mengingatkannya dengan nada sedikit tegas. Saat makan pun rasanya hambar, seolah segala rasa di dunia ini ikut hilang bersama sosok yang selalu menjadi pusat dunianya di rumah tua ini. Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat menyisakan semburat jingga pucat di langit, Raisa duduk sendirian di bangku kayu tua di halaman belakang. Matanya menatap kosong ke arah hamparan tanaman sayur dan buah yang mulai berbuah lebat, namun pikirannya melayang jauh kembali ke masa-masa awal ia datang ke sini.

Saat itu ia takut setengah mati pada rumah ini, pada bayangan-bayangan hitam yang muncul di tengah malam, pada suara-suara aneh yang terdengar dari balik dinding. Namun Arya lah yang pertama kali berdiri di hadapannya, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberitahunya bahwa ia aman di sini. Arya lah yang melindunginya dari ancaman yang tak ia ketahui, yang mengajarinya cara bertahan hidup, yang sabar meskipun ia sering kali ketakutan dan merajuk. Dan sekarang, sosok yang menjadi satu-satunya tempat ia pulang itu seolah menarik kembali tangannya, meninggalkannya kembali dalam kesendirian yang sama seperti dulu, namun dengan rasa sakit yang jauh lebih dalam.

Langkah kaki pelan memecah kesunyian halaman belakang. Raisa mengangkat wajah perlahan, melihat Alif berjalan mendekat sambil memikul sekeranjang besar buah-buahan segar yang masih meneteskan embun pagi. Wajah pemuda itu tampak berseri, sedikit berkeringat namun tersenyum ramah saat melihatnya.

“Nona sedang apa sendirian di sini?” tanyanya lembut, menurunkan keranjang itu perlahan ke tanah.

Raisa tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kesedihan yang masih membekap hatinya. “Kau sedang membantu Pak Budi memanen ya?”

“Benar, Nona. Panen hari ini sungguh melimpah ruah,” jawab Alif sambil menatap bangga pada buah-buahan di dalam keranjang. “Sebagian akan kami jual ke pasar kota besok pagi, sebagian lagi untuk persediaan kita di sini dan dibagikan kepada penduduk desa yang membutuhkan.” Ia menatap Raisa sejenak, lalu bertanya sopan, “Bolehkah saya duduk di samping Nona?”

“Silakan saja,” jawab Raisa pelan.

Alif pun duduk di tempat yang agak jauh sedikit darinya, dengan sopan tak ingin melanggar batas. Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya terdengar suara angin yang berdesir di antara dedaunan dan kicauan burung yang bersiap kembali ke sarangnya. Raisa menghela napas panjang, begitu panjang hingga bahunya ikut turun perlahan, seolah melepaskan beban yang selama ini ia tahan sendirian.

Alif memperhatikannya dengan tatapan penuh perhatian. “Nona tampak sedang memikul beban yang berat.”

Raisa mengangguk pelan. “Kau benar sekali.”

“Bolehkah saya tahu apa yang membuat Nona begitu cemas dan sedih?” tanyanya hati-hati, tak ingin memaksakan namun ingin membantu sebisa yang ia mampu.

Raisa memandang ke arah hutan yang mulai menggelap di kejauhan, suaranya terdengar penuh kebingungan. “Arya... aku sungguh bingung dengan sikapnya beberapa hari ini. Dia seolah menghindariku, seolah sedang marah padaku. Entah apa kesalahanku, entah apa yang salah dari ucapanku atau perbuatanku. Rasanya sungguh menyiksa, Alif.”

Alif terdiam sejenak, merangkai kata yang tepat di dalam hatinya. “Ini bukanlah Raisa yang saya kenal.”

Raisa menoleh padanya. “Maksudmu?”

“Saya menyukai sikap Nona yang apa adanya, yang berani bicara blak-blakan jika ada sesuatu yang mengganjal di hati,” ucap Alif tulus. “Itu justru daya tarik tersendiri bagi Nona. Namun belakangan ini, setiap kali berurusan dengan Tuan Arya, Nona seolah ragu, seolah takut salah bicara, takut membuatnya semakin marah. Padahal bukankah Nona lebih tahu siapa sosok yang sebenarnya di balik rumah ini? Mengapa tidak Nona tanyakan saja langsung pada Tuan Arya apa yang sebenarnya terjadi?”

Kata-kata itu begitu sederhana, namun seolah menyadarkan Raisa dari segala keraguannya. Ia menatap Alif sejenak, lalu tiba-tiba tersenyum kecil sambil memukul pelan bahu pemuda itu. “Kau benar, Alif. Terima kasih... terima kasih sudah mengingatkanku pada diriku sendiri. Kau benar sekali, aku tak seharusnya diam saja dan membiarkan keraguan ini merusak semuanya.”

Tanpa menunggu lebih lama, Raisa langsung berdiri tegak, menatap lurus ke arah pintu belakang rumah. “Aku harus bicara padanya sekarang juga.”

Ia pun berlari masuk ke dalam rumah, melangkah cepat menaiki tangga menuju lantai dua, meninggalkan Alif yang hanya bisa tersenyum tipis melihat punggungnya yang menjauh. Pemuda itu menatap ke arah langkah Raisa yang hilang di balik pintu, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri yang tak terdengar siapa pun.Nona... kau sungguh gadis yang polos. Kau belum sadar bahwa kekhawatiran, rasa takut kehilangan, dan keinginan untuk selalu ada di sampingnya itu bukan sekadar rasa sayang pada pelindung atau keluarga. Itu adalah perasaan yang jauh lebih dalam, yang bahkan kau sendiri belum mengerti sepenuhnya.

Di lantai dua, Raisa berjalan cepat menyusuri lorong yang panjang. Hatinya berdebar kencang, campuran antara rasa takut dan tekad yang kuat. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar Arya yang selalu tertutup rapat, lalu mengetuknya beberapa kali cukup keras.

“Arya! Keluarlah, aku ingin bicara denganmu!” serunya lantang.

Belum lama berselang, pintu itu terbuka sedikit, dan Jatmika muncul di baliknya dengan wajah sedikit terkejut. “Apa yang sedang Nona lakukan di sini?”

“Di mana tuanmu?” tanya Raisa tegas, tak mau berputar-putar.

“Tuan Arya tidak ada di dalam kamar saat ini,” jawab Jatmika tenang namun meyakinkan.

“Kau berbohong!” Raisa mencoba mendorong pintu itu lebih lebar, namun Jatmika dengan sigap menahannya.

“Saya sudah katakan, Tuan tidak ada di sini, Nona. Mohon mengerti,” ucap Jatmika mulai menegaskan.

Rasa cemas yang sudah lama ia tahan perlahan berubah menjadi amarah yang bercampur takut. “Minggir! Biarkan aku masuk, atau kau akan tahu apa yang akan kulakukan padamu!”

“Apa maksud Nona?” Jatmika sedikit terbelalak mendengar nada bicara Raisa yang begitu tajam.

“Aku tahu kau adalah siluman ular yang dulu pernah menakutiku!” bentak Raisa tanpa ragu. “Aku memang takut pada reptil, tapi jika kau terus menghalangiku, aku tak segan-segan mencari Alif dan Pak Budi untuk membantuku! Katakan pada mereka bahwa dagingmu konon berkhasiat untuk mempercepat latihanku, lalu kita lihat apakah mereka akan menolak untuk menguliti kulitmu yang indah itu dan memotong bagian berhargamu untuk dijadikan obat penambah tenaga!”

Jatmika ternganga mendengarnya, matanya membelalak tak percaya. “Nona... sungguh keterlaluan. Nona... sungguh kejam.”

“Minggir sekarang juga!” tegas Raisa sekali lagi, matanya menatap tajam ke manik mata Jatmika.

Melihat ketegasan yang tak pernah ia lihat sebelumnya pada gadis itu, Jatmika perlahan menurunkan tangannya dan memberi jalan. Raisa langsung melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun. Pintu kamar kembali tertutup perlahan di belakangnya, dan Jatmika bergumam pelan sambil menggelengkan kepala.Maafkan saya, Tuan. Nona Raisa... ternyata jauh lebih berani dan lebih kejam daripada Tuan sendiri.

Di dalam kamar yang remang itu, keheningan menyambutnya. Ruangan itu luas, dengan perabotan kayu yang sederhana namun kokoh, dan aroma dupa yang samar. Raisa tahu betul bahwa Arya ada di sana. Ia bisa merasakan hawa hangat yang khas milik makhluk Ba nas pati itu, getaran tenaga yang begitu ia kenal.

“Aku tahu kau ada di sini!” serunya lantang, suaranya sedikit bergetar namun tak mau mundur. “Keluarlah, Arya! Aku hanya ingin bicara denganmu!”

Hening. Tak ada jawaban. Padahal tepat di hadapannya, tak jauh dari tempatnya berdiri, sosok Arya berdiri diam dalam wujud samar yang tak kasat mata. Ia menatap Raisa dengan perasaan yang berkecamuk, tangannya terangkat perlahan seolah ingin menyentuh wajah gadis itu, namun kembali terkulai lemah di sisi tubuhnya. Rasa sakit saat mendengar kata-kata Raisa tempo hari masih terasa nyata, namun melihat gadis itu begitu cemas dan nekat mencarinya membuat hatinya semakin teriris perih.

“Keluar, Arya! Jangan terus menghindariku!” teriak Raisa lagi, kini air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku tak tahu apa kesalahanku, tak tahu apa yang membuatmu begitu marah padaku hingga tak mau menatapku sedikit pun. Tapi kau harus tahu... bagiku kau adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki di dunia ini. Dulu saat aku tak punya tempat berteduh, saat semua orang mengusirku, tak ada yang mau menerima keberadaanku... kau lah yang membukakan pintu rumah ini untukku. Kau lah yang melindungiku, mengajariku, dan membuatku merasa berharga kembali. Aku tak peduli kau Ba nas pati, aku tak peduli kau makhluk dari dunia lain atau apa pun orang bilang tentangmu. Yang aku tahu, kau adalah Arya yang selalu ada untukku.”

Air mata mulai menetes membasahi pipi pucatnya, suaranya kini terdengar memohon dengan sangat. “Jika aku salah bicara, jika aku salah bertindak... katakan padaku, aku akan meminta maaf. Tapi kumohon... jangan menghindariku lagi. Rasanya seperti aku ditinggalkan sendirian sekali lagi.”

Seketika itu juga, hawa hangat di ruangan itu terasa semakin pekat. Wujud samar perlahan menjadi nyata, dan Arya berdiri tepat di hadapan Raisa. Wajahnya masih tampak dingin, namun matanya memancarkan pergolakan yang begitu dalam.

“Jangan menangis,” ucapnya pelan, suaranya sedikit serak. “Kau terlihat jelek saat menangis.”

Tanpa menunggu kata-kata lain, Raisa langsung melangkah maju dan memeluk erat tubuh Arya. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang yang terasa hangat, menangis sepuasnya sambil meremas jubah hitam yang dikenakan pria itu. Awalnya tangan Arya kaku, ragu untuk membalas pelukan itu, namun saat mendengar suara isak tangis yang begitu tulus, dan ucapan Raisa yang terdengar lirih namun tegas: “Biarkan seluruh dunia mengabaikanku, tapi kau... kau tak boleh melakukan hal yang sama,” keraguannya runtuh seketika.

Lengan kekar itu perlahan melingkar erat di pinggang Raisa, menariknya semakin dekat seolah tak ingin melepaskannya lagi. “Maafkan aku,” bisiknya lembut di telinga gadis itu. “Maafkan aku yang bersikap kekanak-kanakan dan membuatmu bersedih.”

Di dalam hatinya, Arya tahu ia tak bisa lagi membohongi perasaannya sendiri. Kata-kata Raisa tempo hari yang menyakitkan itu kini tergantikan oleh rasa sayang yang jauh lebih besar.

Ini semua salahmu, Raisa, batinnya. Kau lah yang membuatku tak bisa lagi menganggapmu sekadar manusia yang harus kulindungi. Kau lah yang membuatku jatuh cinta sedalam ini, hingga rasanya tak mungkin lagi melepaskanmu.​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!