Indonesia
NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:936
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEMBILAN: Ruang Teduh (Bagian 2)

“Yakin nih nggak mau beli apa-apa? Masa kita jalan melulu dari tadi?” kusenggol Ara yang sibuk memperhatikan tiap stan yang kami lewati. Hari ini aku mengiyakan ajakan Ara untuk menemaninya jalan-jalan karena kupikir dia akan membeli sesuatu. Aku sudah menyiapkan dompetku untuk itu. Tapi sudah satu jam lebih kami berjalan dan dia hanya menengok ke kanan dan ke kiri tanpa ada minat sedikit pun untuk membeli. Aku melengos. Lebih baik aku menungguinya mencoba semua baju di satu toko daripada memutari mal tak tentu arah begini.

“Kenapa? Kamu capek? Muterin TSM sama Vanya aja kuat, masa muterin MOG doang udah keok sih?” Ara malah menggodaku.

“Chan!” kucubit pipinya gemas. Dia tertawa.

“Bercanda! Beli es krim, yuk! Abis itu kita makan,” Ara membelokkan langkahnya ke arah booth es krim di dekat eskalator. Tak butuh waktu lama sampai dua cone es krim vanila pesanan kami berpindah ke tangan kami berdua. Ketika aku akan mengeluarkan dompetku, Ara menggeleng cepat sembari memberikan uang pas dari sakunya. Dia menjulurkan lidahnya, mengejek. Kuputar bola mataku, aku kalah start.

Sudah jadi kebiasaan kami untuk tidak mempersoalkan siapa yang akan membayar. Tapi, aku selalu jengkel jika Ara yang berhasil membayar lebih dulu daripada aku. Harga diri, man! Aku boleh saja tidak kaya, namun di mataku persoalan membayar tetaplah jadi urusan pria. Asal kamu tahu, meskipun Ara sangat sayang dengan gajiku tapi dia bahkan tidak pernah meminta dibelikan sesuatu. Jika bukan aku yang memaksa, Ara pasti tidak akan pernah mau meminta ini dan itu padaku.

“Kita pesen paket aja ya? Lebih murah,” rengkuhan Ara menyadarkanku. Karena pertimbangan food court akan sangat ramai dan penuh di jam makan siang seperti sekarang, kami pun memutuskan untuk mengisi perut di salah satu tempat makan fast food di dalam mal. Kulihat beberapa orang di depan kami masih sibuk memilih menu yang ditawarkan oleh kasir.

“Kamu takut aku nggak bisa bayar?”

“Ih, bukan gitu. Uangnya biar bisa dipakai beli yang lain. Jangan ikut-ikut kebiasaannya Ian deh! Kamu kan baru tiga hari di sini. Masih ada 28 hari buat kamu makan,” karena kemampuannya dalam menghitung pemasukan dan pengeluaran seperti sekarang terkadang aku berpikir mungkin Ara seharusnya mengambil kuliah jurusan akuntansi daripada sastra Inggris.

“Iya, iya, nona pengatur keuangan,” aku mengacak-acak rambut Ara. Yah, setidaknya ekonomi rumah tangga kami nanti akan aman kalau di tangannya. Mm...mungkin terlalu aman.

“Ara?” kami baru saja duduk di kursi lantai dua ketika sapaan itu mampir di telinga. Aku dan Ara sama-sama menoleh. Ada dua gadis berperawakan agak tambun yang mendekati meja kami berdua.

“Oh, halo!” Ara memaksakan senyumnya. Keningku berkerut.

“Udah lama?” tanya salah satu gadis berlensa kontak coklat.

“Nggak kok, barusan juga. Ini makanannya masih pada utuh.”

“Kirain. Eh, ini siapa? Temennya Ara juga?” tanyanya lagi tapi kali ini lebih pada aku yang harus menjawab pertanyaannya.

“Bukan, saya pacarnya Ara,” jawabanku menyembulkan rona di pipi Ara. Oh. My. God! Sejak kapan dia jadi seimut ini?

“Pac...oh si Chan?” gadis itu membelalak seakan tak percaya.

“Nah, itu benar!”

“Oh, halo! Aku Nada! Ini Helga! Kita temennya Ara,” Nada menyodorkan tangannya mengajak bersalaman. Walaupun enggan, tak enak juga rasanya jika aku mengacuhkan tangan itu di udara. Kujabat keduanya sekilas.

“Temen sekelas?”

“Nggak sekelas sih, tapi satu angkatan,” entah kenapa aku merasa gadis di hadapanku ini jadi kelewat berbinar dalam menatapku. Jangan-jangan di mukaku ada sesuatu.

“Ah, I see. Ke sini mau makan juga?” sindirku mempertanyakan tujuan awalnya. Tiba-tiba saja dia gelagapan.

“Ah iya, tapi temen kami masih antre. Kami cari tempat duduk dulu ya?” Nada pamit.

“Okay!” jawab Ara bersamaan dengan anggukan kepalaku. Untungnya tempat duduk di sekitar kami semuanya penuh. Jadi, mau tidak mau mereka berdua duduk di bangku pojok dekat balkon, cukup jauh dari kami berdua. Meskipun begitu, aku masih bisa melihat mereka berbisik-bisik sesekali sambil memperhatikan ke arah aku dan Ara. Ara menghela napas panjang sepeninggal mereka.

“Kenapa kok mukanya gitu?” kukedikkan daguku penasaran. Ara mencomot kentang di piringnya dan melahapnya cepat-cepat.

“Dua anak itu, yang ngaku temenku dan pasang muka manis di depanmu tadi, adalah anak-anak yang nyebar rumor kalau aku ngarang soal pacaran sama kamu,” oh, pantas saja dia punya senyum pura-pura seperti tadi.

“Serius? Kenapa kamu baru bilang?” aku menyedot floatku.

“Pfft! Ya masa aku mau bilang ‘Chan, kenalin! Ini temenku yang nggak percaya kalau aku punya pacar ganteng’ gitu? Gila apa! Lagian juga mereka udah speechless sendiri waktu lihat mukamu tadi,” cetus Ara dongkol.

“Mereka juga masih curi-curi pandang ke sini tuh,” tuturku tanpa ada maksud untuk memanasi Ara.

“See? Dasar wanita! Selalu aja nggak suka kalau ada kaumnya yang dapet lebih dari dia!” gerutuan Ara malah menjadi. Kudongakkan dagunya dengan telunjukku.

“Udah, jangan cemberut! Yang penting kan sekarang mereka tahu pacarmu bukan imajiner. Be proud of it!”

“I am,” dia mengibaskan rambut hitamnya, menyombongkan diri. Aku terkikik geli melihatnya.

“Buruan dimakan! Abis ini kamu mau kuajak jalan lagi.”

“Mau kemana emangnya?” dengan mulut yang agak penuh, Ara bertanya.

“Pernah denger Harvest nggak? Tadi pagi aku browsing dan baru tahu kalau kafe itu juga buka di Malang. Di Bandung terkenal lho ini,” aku menjawab sambil mencocolkan ayamku ke sambal.

“Harvest? Itu kan kafe yang mahal banget. Kamu dengerin nggak sih tadi aku nyuruh kamu buat hemat? Nggak, ah! Nggak usah ke sana!” sudah kuduga dia akan mendebatku soal makanan mahal. Yes, guys! This is the kind of fight I have with my girlfriend.

“Duh! Kapan lagi sih aku manjain kamu kayak sekarang? Jarang-jarang juga. Kafe ini emang mahal but it’s worth the money. Langgananku sama Ian juga kalau di Bandung.” aku ngeyel.

“Tapi kan...”

“Please!!” aku menangkupkan tanganku di depan dada, memohon. Ara menatapku lamat-lamat sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Susah ya emang ngomong sama pacar yang udah berduit?”

“Biarin! Kayak kamu bakal kenyang aja makan ini doang. Lagian coklat di sana enak kok, seriously. Ada banyak pilihan cake sama makanan berat juga,” rayuku lagi.

“Cake?” Ara terdengar tertarik.

“Yup. Kamu pasti nggak nyesel,” kuiyakan pertanyaan Ara dengan meyakinkan. Aku tahu dia suka kue dan es krim, jadi seharusnya rayuanku akan berhasil kali ini. Kulihat Ara mengunyah kentangnya pelan-pelan. Lama.

“Ya udah, fine. Tapi awas aja kalau dompet tebalmu itu nggak bisa bayarin kita berdua.”

“Gampang! Kalau misalnya nggak kebayar, nanti aku pulang duluan sementara kamu kutinggal buat bantuin stafnya cuci piring. Nah, kalau udah impas, nanti malem baru aku jemput kamu lagi,” usulku asal. Terang saja Ara terkejut.

“Kamu ini!!” dia langsung menghujaniku dengan cubitan-cubitan kecil di lenganku. Bukannya menghindar, aku malah tertawa. Menyadari jika Ara sudah melupakan kejengkelannya beberapa menit lalu dengan dua gadis di bangku pojok, yang tengah memandangi kami dengan tatapan iri dan nyaris gigit jari.

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!