Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 33
"Bos, bisa ke markas sebentar."
Tengah malam itu Maheswara atau kerap dipanggil Mahes, menghubungi Jexen. Bawahan setia sekaligus tangan kanan Jexen tersebut sudah diberi catatan oleh Jexen, jika menemukan sesuatu yang mencurigakan pada mobil Rinda, maka harus segera memberitahu.
Jexen melihat ke arah jam dinding, sekarang waktu masih menunjuk pada angka 01.00 tengah malam. Tapi Jexen harus tahu apa yang ingin Mahes laporkan. Sehingga ia pun bergegas untuk pergi.
"Ingat, jangan biarkan siapapun masuk."
Jexen berpesan kepda anak buahnya yang menjaga rumah Rinda. Ia tak bisa sebenarnya meninggalkan Rinda saat seperti ini. Namun apa yang tengah diselidiknya sekarang juga tak kalah pentingnya.
"Siap Bos. Kami akan selalu berhati-hati."
Pintu gerbang dibuka. Jexen mengemudikan mobilnya dengan cepat agar tak membuang waktu.
Sebuah rumah biasa merupakan tampilan dari markas Geng Wang. Namun siapa yang tahu di dalamnya terdapat banyak alat canggih guna melakukan tugas yang mereka miliki.
Geng Wang adalah gengster warisan dari Jeremy. Namun Jexen tidak menggunakan itu untuk hal buruk. Dia mencontoh Wild Eagle yang menggunakan nama organisasi mantan mafia sebagai jasa penyedia keamanan dan juga pusat informasi.
"Jadi, apa temuan mu?"
Tanpa sapa dan salam, Jexen yang masuk ke markas langsung mengajukan pertanyaan.
"Sabotase, bukan kecelakaan murni," ucap Mahes cepat.
"Jelaskan."
Jexen menarik kursi untuk duduk. Diikuti Mahes dengan sebuah tab yang ada di tangannya.
"Awalnya team mengira penyebabnya sederhana, seperti yang sudah kita tahu yakni tumpahan oli. Mobil mengalami oleng, kehilangan traksi sehingga pengemudi kehilangan kendali."
Jexen menganggukkan kepala. Dia paham dengan apa yang Mahes ucapkan, "Lalu?"
Mahes menghembuskan nafasnya. Dia lalu membuka tabletnya dan menunjukkan sebuah foto hasil pemeriksaan.
"Ada masalah pada sistem pengereman."
"Rusak karena benturan?" tukas Jexen.
"Bukan."
Mahes menggelengkan kepalanya.
Jexen terdiam. Otaknya langsung berpikir. Ia sudah membuat kesimpulan namun Jexen memilih menunggu Mahes untuk menyelesaikan laporannya.
Mahes menatap bosnya dengan serius. Bibirnya terkatup rapat tapi Jexen tahu bahwa Mahes hendak bicara lagi.
"Lanjutkan."
Satu kata, yang membuat Mahes mengerti.
"Kerusakan itu sudah terjadi sebelum mobil terjun. Dan tumpahan oli hanyalah sebuah pemicu."
Kedua alis Jexen terangkat, "Kau yakin?"
Mahes menganggukkan kepala, "Kalau hanya kecelakaan biasa, pola kerusakannya tidak akan seperti ini, Bos."
Jexen mengerti. Ia tahu bahwa Mahes tidak akan pernah berbohong. Mahes adalah anak yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun. Dia cerdas bahkan lulus kuliah dengan beberapa gelar. Karena sekali lagi, Mahes memang dipersiapkan untuk berada di sisi Jexen.
Teknik mesin, Bisnis dan Manajemen, lalu Hubungan Internasional. Itu adalah jurusan yang diselesaikan Mahes.
"Baiklah, simpan itu. Cetak buktinya. Lalu untuk yang satu bagaimana?"
"Siap. Kamu masih menelaah. Pasalnya beberapa kamera pengawas ada yang tidak berfungsi."
Jawaban Mahes yang ini adalah untuk melacak keberadaan Gani dan Teani di waktu satu minggu sebelum kecelakaan terjadi.
"Baik lanjutkan. Aku ingin ini semua selesai, sebelum kita kembali sepenuhnya ke SJ," ujar Jexen.
Mahes mengeri. Wajahnya menjadi lebih serius dari pada tadi.
Jexen sudah berkata demikian. 'Kembali ke SJ' maka dengan itu Mahes merasa bahwa sang tuan sudah siap untuk menggantikan posisi sang ayah.
"Lalu Bos, apa akan segera memberitahu Nona tentang siapa Bos sebenarnya?" tanya Mahes dengan sangat penasaran.
"Pasti, tapi tidak sekarang. Kalau waktunya sudah tepat aku akan memberitahunya siapa diriku," jawab Jexen sambil tersenyum.
Degh!
Mahes membulatkan matanya dan dia hampir saja menjatuhkan tab yang ada di tangan saat melihat tuannya tersenyum.
Ya senyum Jexen sangat mahal. Selama berada di sisi Jexen, hanya beberapa kali saja tuannya itu tersenyum. Dan itu pun saat berada di tengah-tengah keluarganya.
Tapi Mahes senang, hatinya juga tenang. Semenjak mengenal Rinda, banyak sekali perubahan dalam hidup Jexen. Lebih berwarna, begitulah kata Mahes.
"Aku pulang dulu," ucapnya.
"Siap Bos."
Tak ada lagi yang ingn Jexen bahas. Sehingga memutuskan untuk segera pulang. Paling tidak sebuah informasi sudah didapatkannya yakni sesuai dugaan bahwa kecelakaan yang dialami Rinda bukanlah sebuah kebetulan dan kemalangan semata. Melainkan ada campur tangan seseorang.
Kini Jexen tinggal menunggu, untuk mendapatkan petunjuk berikutnya. Ada dua kandidat utama dalam peristiwa ini yang muncul di otak Jexen sejak lama. Gani dan Teani.
Dua orang itu memilik alibi besar dalam menyingkirkan Rinda. Mengingat bahwa keduanya telah menjalin asmara sejak sebelum kecelakaan terjadi.
"Tapi kenapa Gani sangat ngotot kembali kepada Rinda?"
Sepanjang jalan dari markas ke rumah Rinda, Jexen memikirkan tentang semua perilaku Gani. Menurut Jexen, Gani hanya terlihat seperti seorang suami yang kehilangan penopangnya.
Tapi Jexen tak akan mencoret Gani dari daftar tersangka dalam buku catatannya.
"Kita amati saja dulu," ucapnya lirih. Sekarang semua yang mencurigakan dari dua orang itu akan selalu menjadi petunjuk.
Ckiiit
Gerbang rumah Rinda dibuka lebar, Jexen masuk dan berhenti sejenak di sana.
"Tidak ada yang datang?"
Jexen menurunkan jendela mobil untk bertanya kepada anak buahnya.
"Aman Bos."
"Good."
Mobil kembali di jalankannya. Ia memarkirkan mobilnya asal, dan bergegas masuk.
Awalnya Jexen ingin langsung masuk ke kamarnya. Namun suara Rinda membuatnya urung membuka pintu kamar.
Ia lalu berjalan menaiki tangga dengan sedikit lebih cepat.
"Tolong ... tolong aku."
Mata Jexen membulat sempurna ketika mendengar suara Rinda yang merintih.
Tanpa berpikir panjang, Jexen menyerbu masuk. Dia berlari menghampiri Rinda yang matanya masih terpejam rupanya. Namun dia meronta dan berteriak.
"Mbak, bangun. Buka matamu Mbak!"
Jexen naik ke atas ranjang. Mencoba membangunkan Rinda melalui panggilannya. Akan tetapi Rinda masih belum juga membuka mata. Malah yang ada dia semakin ketakutan.
"Tolong, jangan tinggalkan aku. Di sini gelap. Aku takut. Aku mohon."
Jexen mengatupkan bibirnya, rahangnya mengeras.
Ia bergeser maju. Menangkap kedua tangan Rinda, menariknya hingga wanita itu berubah posisi dari tidur ke duduk.
"Rinda!" pekik Jexen keras.
Hah hah hah
Rinda langsung membuka matanya. Wajah dan rambutnya basah karena keringat. Matanya berkedip cepat saat melihat Jexen tepat di depan matanya.
"Jex," ucapnya
"Iya ini aku, Jexen."
"Oh Jex."
Tangis Rinda pecah, dia secara spontan memeluk Jexen lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Menangislah Mbak. Aku di sini."
Jexen mengusap lembut kepala Rinda. Dia masih bisa merasakan tubuh Rinda yang bergetar hebat. Tapi lambat laun, nafas yang tersengal itu menjadi lebih teratur.
"Sudah tenang?"
Rinda mengangguk mendengar pertanyaan Jexen.
"Apa yang kamu impikan?
Rinda diam, bibirnya terasa sangat berat untuk menjawab pertanyaan kedua itu.
"Baiklah, tak perlu terburu-buru. Ceritakan padaku saat nanti kamu sudah siap. Jangan takut, aku akan di sini bersama mu."
TBC
Ayo Jexen selidiki lagi