Aku bermimpi memiliki banyak istri yang cantik, tapi mereka adalah hantu. Dan ada kotak biru yang menyebut dirinya sistem. Hanya ada satu pertanyaan di benakku…
Apa aku sudah gila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ancilarry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Keluar zona nyaman
Tidak Ryu sangka kalau Xi Mo dapat membuat ilusi dirinya sendiri. Sekarang ia tidak ada bedanya dengan melawan lima orang Xi Mo. Kelima orang tersebut bersama sama langsung menyerang Ryu.
Trang trang trang
Suara gemericik pedang beradu dengan kerasnya suara petir. Xi Mo menyerang ke kanan, tapi yang terserang adalah sebelah kiri. Datang lagi serangan yang seharusnya menebas ke atas, tapi sebenarnya menebas bawah. 'Aku harus menghafal pola serangan dan memecahkannya.' pikir Ryu.
"Tuan muda, lebih baik kau menyerah dan aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit." ujar Xi Mo.
"Cuih!? Dalam mimpimu!?" sentak Ryu sambil meludah ke arah Xi Mo. Pria itu semakin marah dengan sikap kurang ajar Ryu.
"Hmph, kalau begitu MATILAH!?" teriaknya di akhir. Kelima orang Xi Mo membentuk masing masing teknik pedang. Di atas masing masing kepala mereka ada naga merah kehitaman yang besar. Xi Mo mengarahkan semua naga itu untuk membunuh Ryu.
Tanpa pikir panjang Ryu langsung menggunakan teknik pedang yang baru saja ia pelajari. Tidak ada waktu untuk berpikir ini itu karena sekarang nyawanya terancam. Ryu memasang kuda kuda depan dan memulai gerakan untuk teknik pedang Hua.
Putaran angin mulai mengelilingi mereka. Qi merah muda menjadi semakin tajam.
Slash Slash Slash Slash
Badai tebasan pedang menyayat tubuh Ximo dengan kejam dan tanpa henti. Bahkan menghempaskan serangan lima naga darinya. Seakan tidak membiarkan pria itu untuk mengambil langkah perlawanan. Sebagai serangan akhir, Ryu menebas vertikal dada Ximo.
"Ugh!? Uhuk uhuk!?" Ximo memegangi dadanya yang tertebas cukup dalam. Dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Ryu berdiri di hadapan Ximo yang berlutut memegangi dadanya yang tersayat dalam. Ia memandangnya dengan dingin tanpa perasaan.
"Sungai hitam, pasti tidak akan melepaskanmu_"
Jleb
Pedang Yin menembus leher Ximo hingga ke belakang tulang lehernya.
Bruk
Tubuh Ximo jatuh ke tanah. Pria itu mati dengan mata terbuka lebar.
Tangan Ryu bergetar pelan. Ini adalah pembunuhan pertamanya. Melihat mayat Ximo dengan tatapan bergetar dan cemas. 'Tidak, cepat atau lambat aku juga akan membunuh seseorang. Buat apa merasa takut membunuh baj*ngan sepertinya. Aku… tidak akan hidup dalam ketakutan lagi.' pikirnya sembari memejamkan mata.
"Syukurlah hari ini hujan."
...***...
Ryu memasuki kamarnya sembari mengganti pakaiannya. Tidak ia sangka kalau hari ini dirinya telah membunuh seseorang. "Yah, lagi pula di perang wilayah nanti aku juga akan membunuh orang orang keluarga Wei, tidak ada bedanya. Aku hanya membunuh lebih cepat sebagai latihan mental." ujarnya. Yang entah kenapa ia merasa dirinya seperti mencari cari alasan pembenaran saja.
Setelah selesai berganti baju Ryu berbaring di kasurnya. 'Xie Yun sudah pasti mati di tangan mereka. Apalagi orang itu mengaku dari Sungai hitam. Organisasi pembunuh yang akhir akhir ini sedang naik daun. Kalau mereka tahu salah satu pembunuh mereka dibunuh olehku, mereka pasti akan balas dendam. Aku beruntung hari ini hujan, semua jejak pertarungan jadi tak begitu terlihat.
Aku juga telah membuang mayatnya didekat kediaman utama. Membuat sedikit bekas bekas pertarungan di sekitarnya. Dengan begitu rekan rekan pembunuhnya pasti mengira dia dibunuh orang orang dari kediaman utama. Aku ingin lihat apa mereka berani membuat masalah dengan Ji Lanwei.' pikir Ryu dengan smirk di wajahnya.
"Hoam, sudahlah… aku ingin segera tidur dan bermimpi saja." ujar Ryu sembari menutup matanya.
...***...
Mata Ryu terbuka lebar kembali menjadi Zimei Ryu si pemuda gila.
Ting
...[Selamat datang kembali di dunia Duanji. Hari ini akan diadakan pertandingan persahabatan antar penjaga kuil. Tapi sebenarnya hanyalah kedok untuk unjuk kekuatan kuil mana yang lebih kuat.]...
...[Misi sampingan: Menangkan pertandingan persahabatan dan penuhi satu keinginan Zimei Ryu.]...
...[Hadiah: Satu kali putaran takdir mimpi.]...
Terlihat smirk di wajah Ryu. Dia melipat tangan didepan dadanya, "Lumayan~ kurasa sistem ini tidak seburuk yang kupikirkan. Karena pertandingannya akan di mulai dari penjaga tingkat rendah kurasa aku yang akan maju pertama. Tapi sebentar, keinginan Zimei Ryu? Apa keinginannya?" tanya Ryu.
'Oh, benar. Seingatku Zimei Ryu memiliki buku catatan harian. Dia pasti menulis keinginannya di buku itu.' Ryu merogoh balik jubahnya dan mengambil buku catatan kecil. Bahkan dari luarnya saja sudah terlihat aura hitam. Sampai ia merasa ragu apa perlu membukanya, "Instingku bilang untuk tidak membukanya. Tapi…" bagaimanapun ia harus. Dia melihat tulisan Zimei Ryu didalamnya. Dengan bacaan…
'Aku ingin menjadi pemenang… aku ingin membalasnya… aku ingin membunuhnya…aku ingin segalanya menjadi hancur…aku ingin dunia ini hancur… aku ingin_'
Ryu menutup perlahan buku catatan kecil itu. Keinginan keinginan gelap dan penuh kebencian. Ia merasa akan ikutan gila jika membacanya sampai akhir. "K kurasa aku hanya perlu mengabulkan satu keinginannya saja. Aku tidak perlu menghancurkan dunia ini." ujar Ryu.
Ryu berganti pakaian setelah selesai membersihkan diri. Mau dilihat berapa kali-pun Ryu akan selalu takjub melihat wajah tampan Zimei Ryu. Sudah pasti akan ada banyak wanita yang meliriknya hanya dengan berjalan. Sayang sekali pemuda ini gila, jadi ketampanannya sia sia. "Kalau begitu aku harus segera menuju ke lapangan." ujar Ryu selesai memakai cadar koin.
Tapi sebelum itu…" Ryu memegang lehernya yang terpasang segel suara. Meskipun mungkin para tetua tidak akan mempercayai kata katanya tapi setidaknya ia sudah melepas segel suara di lehernya. "Aku harus melepas segel suara si*lan ini dulu." ujarnya bercampur kesal. "Kita lihat apa ada barang bagus di toko mimpi." lanjutnya.
Tapi jarinya berhenti bergerak saat mengingat berapa poin yang ia miliki saat ini. Ryu menggeleng gelengkan kepalanya mengurungkan niat untuk membuka toko sistem. "Tidak tidak tidak, aku tidak boleh boros. Dasar, kurasa aku memiliki kebiasaan buruk sekarang." ujarnya.
"Hmm, kurasa aku harus menggunakan cara kuno." Ryu duduk bersila menutup kedua matanya. Ia terlihat sedang berkuktivasi, namun sebenarnya sedang memfokuskan Qi-nya untuk menghancurkan mantra tutup mulut yang di pasang pada lehernya.
Wuzz
Qi-nya berhasil membakar mantra yang dipasangkan pada lehernya. "Ugh!?" Ryu meraba lehernya yang memerah akibat penghapusan mantra. "Lan Wu sialan, kau harus memberiku kompensasi untuk ini." gerutunya.
...***...
Ryu berdiri di atas lapangan pertarungan dengan tangan menyilang menunggu siapa yang akan menjadi lawannya.
"Waah~ bukankah senior Zimei Ryu sangat tampan hari ini?" ujar seorang penjaga kuil wanita tingkat rendah.
"Iya iya, meskipun dia memakai cadar tapi dari matanya saja sudah terlihat ketampanannya."
Senyum senang akan pujian pujian itu, Ryu tidak bisa untuk tidak tersenyum. 'Ayo puji aku lagi, kenapa kalian berhenti?' pikirnya senang mendapatkan pujian kagum dari para gadis.
"E eh, tapi setelah dipikir pikir senior Zimei Ryu tidak setampan itu."
"H hm benar benar!?"
Tiba tiba pujian itu berhenti dan berubah jadi kritikan. Sepertinya ia tahu kenapa para gadis berhenti memujinya. Itu karena Su Yao terus memberi mereka pelototan mautnya. 'Su Yao!? Wanita ini, awas saja kalau kau tidak memberiku seribu poin, aku benar benar akan membuat Zimei Ryu yang asli mengabaikanmu.' pikir jengkel Ryu.
"Melihat kemana kau, Zimei Ryu?" tanya seseorang yang menjadi lawan Ryu, yaitu Ge Fuji.
Mata Ryu terbelalak melihat lawannya, "Umm, nak? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ryu heran ada anak kecil setengah badannya yang berdiri di atas podium lapangan pertarungan.
Mendengar panggilan 'nak' untuk dirinya Ge Fuji menjadi sangat kesal dan marah, "Aku akan membunuhmu baj*ngan!?"
...****************...