Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily yang telah melahirkan bocah laki-laki yang pintar tak mengingat Leon. Akankah keduanya dapat kembali bersatu lagi untuk merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Diharapkan tidak menabung bab. Terima kasih 🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Emily telah kembali ke rumah. Caroline dan Belinda menyambutnya dengan senyuman. Tanpa basa-basi, Emily lantas bertanya, "Ma, Kak, kapan kalian pulang ke Marrow?"
"Kamu mengusir kami?" Belinda balik bertanya.
"Kalian di sini juga buat apa? Tak ada pekerjaan. Daripada terlalu lama di kota ini memang lebih baik Mama dan Kak Belinda pulang saja!" saran Emily.
"Kami belum mau pulang sebelum Leon juga meninggalkan negara ini. Apalagi dia terus saja mengejar kamu dan kami tak ingin dia kembali padamu," kata Caroline.
"Tetapi, aku dan Zayn mau tinggal bersama Leon," ucap Emily.
Belinda dan Caroline tercekat.
"Kami tidak salah dengar, Emily? Kamu mau balikan lagi dengan suami kejam seperti dia?" Caroline memastikannya.
"Dia tak kejam. Aku hanya termakan hasutan oleh orang-orang yang licik dan jahat seperti kalian!" cetus Emily.
"Kamu menuduh kami licik dan jahat?" Caroline tersinggung.
"Ma, sepertinya ingatan Emily kembali normal!" bisik Belinda.
"Pasti selama di rumah sakit, ibumu sudah mempengaruhi kamu!" tuding Caroline melirik Jenni.
"Tidak. Sama sekali Ibu tak mempengaruhiku," kata Emily membantah.
"Aku tak seperti kalian. Emily dapat melihat yang benar-benar tulus menyayanginya," sahut Jenni bangga.
"Emily, kami tidak akan pergi dari negara ini jika kamu tak ikut juga!" kata Caroline.
"Aku kembali ke sana bersama Leon," ujar Emily.
"Emily, kenapa kamu terus membela suamimu yang kejam itu?" tanya Caroline.
"Dia tak kejam. Sudah berapa kali aku katakan!" jawab Emily kesal dan tegas.
"Emily, kami tetap akan di sini!" kata Belinda.
"Ini rumahku dan aku berencana ingin menyewakan rumah ini. Aku mau ikut tinggal dengan Emily," ujar Jenni.
Lagi-lagi membuat Belinda dan Caroline saling melemparkan pandangan.
"Emily, apa Leon dan kedua orang tuanya yang menekan kamu?" tanya Caroline.
"Tidak ada yang menekan atau mempengaruhi aku. Jadi, sebelum kami pindah dari sini maka silakan Mama dan Kak Belinda pulang ke Marrow!" jawab Emily kemudian berlalu menyusul putranya ke kamar.
Selepas Emily dan Jenni berlalu, Caroline dan Belinda mendekat. Mereka heran dengan sikap Emily yang mendadak berubah.
"Jika ingatan Emily kembali, pasti dia sudah mengusir kita dan menjebloskan kita ke penjara!" kata Caroline.
"Kita harus memberitahu Jason, biar dia yang bantu kita menyelidikinya!" usul Belinda.
"Boleh juga!" Caroline setuju dengan usulan putrinya.
-
Mendengar bahwa Emily akan tinggal bersama Leon tentunya membuat Jason tak terima. Dia tak ingin Emily kembali bersatu dengan Leon.
"Emily tidak boleh dimiliki siapapun. Jika aku tidak berhasil memilikinya maka orang lain pun juga!" geram Jason.
"Kau mau melenyapkan Emily?" tanya Belinda serius.
"Ya," jawab Jason.
"Apa kau sudah gila?" Belinda meninggikan suaranya.
"Jason, walaupun Emily bukan putri kandung Bibi tapi dia adalah aset kami!" sahut Caroline.
"Aku tak peduli, aku sudah pernah membayarnya mahal agar dia lepas dari pecundang itu tapi dia tetap memilihnya maka sekarang aku tak punya pilihan lain selain menculik dan membawa kabur Emily!" Jason berkata mengenai rencananya.
"Kami tidak setuju dengan ide gila kau itu!" tegas Belinda.
"Terserah kalian, aku tetap akan menjalani rencana ini!" ucap Jason.
-
Dalam perjalanan pulang kembali ke rumah Emily, kedua wanita itu terus membahas obrolan mereka dengan Jason.
"Apa menurut Mama, dia benar-benar melakukannya?" tanya Belinda.
"Mama juga tak tau. Jason sangat mengerikan kalau keinginannya tak berhasil," jawab Caroline.
"Apa kita beritahu Emily saja agar berhati-hati?" tanya Belinda meminta pendapat.
"Sepertinya tidak usah. Emily malah makin mencurigai kita," jawab Caroline menolak.
"Bagaimana kalau Jason melakukan ide gilanya itu, Ma?" Belinda tampak khawatir.
"Itu takkan mungkin. Leon pasti melindunginya!" Caroline begitu yakin.
"Sepertinya kita memang harus benar-benar meninggalkan negara ini, Ma!" kata Belinda.
"Ya. Mama juga tak mau terlibat lagi," ujar Caroline.
***
Besok sore sebelum Emily berniat pindah serumah dengan Leon. Ibu dan anak itu pamit pulang secara mendadak. Emily pun menjadi curiga.
"Jaga dirimu baik-baik, Emily. Kamu harus tetap waspada!" Belinda memeluknya dengan erat.
Emily menautkan alisnya.
Belinda melepaskan pelukannya dan tersenyum singkat.
"Seringlah memberikan kabar kepada Mama dan kami tunggu juga kamu pulang ke Marrow!" kata Caroline.
"Aku pasti kembali ke Marrow!" ucap Emily yakin.
Belinda dan Caroline lalu berangkat ke bandara menggunakan taksi. Ia tak sempat mengantarkannya.
"Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan, Emily!" kata Jenni seraya menatap kendaraan yang ditumpangi Caroline dan putrinya perlahan melaju.
"Aku merasa juga begitu, Bu!" ucap Emily.
"Kamu tetap harus berhati-hati!" saran Jenni.
"Iya, Bu."