Syahna Waladhipa, sangat bahagia ketika mendapat lamaran dari kekasihnya, Erdogan. Akan tetapi, kebahagiaan itu hanya ada dalam angan-angannya.
Sampai sesaat sebelum pernikahan Syahna, sebuah keadaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya datang dan menghancurkan seluruh harapannya tentang 'rumah tangga bahagia'. Meluluh lantakkan kepercayaannya tentang cinta.
Dan demi menjaga nama baik keluarga, Syahna memaksakan dirinya untuk dinikahi oleh pria yang sama sekali tidak pernah masuk kedalam rencananya.
Follow:
ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamit Lian.
Natta terkekeh sambil menutup pintu apartemen. Sepertinya menggoda Syahna adalah mood boosternya hari ini.
“Ngapain lo senyum-senyum aneh gitu?”
Sebuah suara mengejutkan Natta. Iapun segera berbalik dan melihat siapa itu.
“Ian. Ngapain lo kesini? Jangan bilang kalau lo udah kangen sama gue..” Seloroh Natta kemudian.
“Pe de lo. Gue mau pamit ama Nana kok. Dia didalem kan?” Tanya Lian yang langsung ngeloyor begitu saja melewati Natta.
“Eh,, eh.. Tunggu dulu. Hati-hati. Nana lagi bertransformasi jadi thanos. Nanti kaget lo.” Ujar Natta lagi.
“Oleng nih bocah. Malam pertama diapain lo sama Nana? Kok otak lo tambah parah gitu.”
“Dibiarin tidur sendiri. Sedih gak tuh.” Jawab Natta sambil terkekeh. “Gue berangkat dulu ya. Hampir telat nih.” Ujar Natta kemudian. Ia lantas berlalu dengan menepuk pundak Lian sebeumnya.
Lian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah konyol sahabatnya itu yang seperti biasanya. Sepertinya keadan pengantin baru itu memang baik-baik saja. Lian lega membayangkannya.
Ting teng...
Lian memencet bel yang ada di samping pintu. Tapi belum ada jawaban.
Kemudian Lian memencetnya sekali lagi.
Di dalam, Syahna menggerutu. Ia fikir itu adalah Natta yang masih belum puas mengerjainya pagi ini. Tapi setelah Lian berteriak dan memberitahu kalau itu adalah dirinya, Syahna segera berlari menuju ke pintu dan membukanya untuk Lian.
“Abang?” Sambut Syahna dengan antusias. Ia memasang senyum di bibir jontornya.
“Astaga. Siapa lo?!” Tanya Lian dengan menahan senyum di bibirnya.
“Ish.!”
“Hahahaha... Bener ternyata kata si Natta de coco. Lo lagi berubah jadi thanos.” Seloroh Lian lagi. Ia merasa lega. Ia tahu, dibalik wajah aneh adiknya itu, berarti Syahna sudah bisa menangis. Dan itu melegakan.
“Jadi kalian gosipin gue?” Dengus Syahna.
Sambil terkekeh, Lian langsung menyelonong masuk dan duduk di sofa. Begitu juga dengan Syahna, dengan susah payah ia mengekori Lian dan ikut duduk disamping pria itu.
“Tangan lo kenapa Na?” tanya lian yang mendadak khawatir melihat perban di tangan kanan adiknya.
“Lecet sedikit.” jawab syahna santai. “Bunda sama Ayah baik kan Bang?” Syahna membuka percakapan setelah mereka terdiam untuk beberapa saat.
“Baik. Cuma Bunda yang mewek terus. Katanya kangen sama lo.”
“Yaelah, baru juga semalam ditinggal. Dulu aja waktu gue study tour ke luar gak dikangenin.” Seloroh Syahna.
“Ye kan beda, dudul. Dulu tu gak ada kisahnya. Beda sama sekarang.”
Ya, benar. Sekarang adalah hari-hari menyedihkan bagi mereka.
Lian sengaja tidak menanyakan perihal wajah adiknya yang seperti ikan buntal itu. Ia tidak ingin membuat Syahna kembali bersedih. Karna kalau dilihat, sekarang Syahna sudah lebih tenang.
“Nanti siang Abang mau balik ke Banda. Kamu jaga diri baik-baik ya disini. Jangan banyak ngrepotin Natta. Tuh anak udah berkorban banyak buat kita.” Pesan Lian sekaligus pamit.
“Iya, gue juga tau diri kali.”
“Sering-sering telfon gue kalau ada apa-apa.”
“Memangnya bakalan ada apa sih Bang? Kok semua orang nyuruh gue nelfon kalau ada apa-apa.”
“Ya, buat jaga-jaga aja.”
“Pengen deh ikut abang ke Banda.”
“Kemarin ditawarin, malah milih nikah sama Natta de coco. “
“Ya.. Gue fikir itu adalah solusi terbaik buat keluarga kita Bang. Gue gak berani kabur kayak gitu.”
“Dasar lo. Nanti bisa diatur waktu supaya lo sama Natta bisa maen kesana. Natta kan belom pernah tuh main ke Aceh.”
“Iihh,, ngapain juga pakek ngajak si sari kelapa. Gue sendiri aja kalo mau kesana.” Protes Syahna.
“Ya gak bisa gitu dong. Lo itu udah jadi istrinya. Wajib pergi sama dia.” Titah Lian.
“Nyebelin.!” Dengus Syahna tidak terima.
“Abang mau diaterin gak?” Bujuk Syahna dengan ekspresi yang aneh.
Lian tau kalau Syahna sedang meminta pajak padanya.
“Ihh,, ogah gue dianterin sama ikan buntal. Ntar dikira gue dianterin duyung lagi. Bisa diketawain sama orang satu bandara gue. Ahahahha.” Lian dan Natta sama saja. Selalu saja tidak pernah puas mengejek Syahna.
“Sebagai gantinya, nih, buat lo. Tapi jangan sampe ketahuan Natta ya. Bisa diomelin berbulan-bulan gue.” Seru Lian kemudian dengan menyerahkan sebuah kartu ATM platinum miliknya kepada Syahna.
Karna Lian tahu bagaimana sifat Natta. Sahabatnya itu punya rasa tanggung jawab yang tinggi. Jadi dia sudah bisa menebak, Natta tidak akan suka jika tahu ia memberikan uang kepada Syahna yang sekarang diposisi sebagai istrinya.
Syahna menatap pias kartu yang sekarang berada ditangannya itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Sepertinya, walaupun ia sudah menikah, tapi masih menjadi beban keluarganya.
“Gak usah mewek gitu, gue cuma gak mau lo ngerepotin Natta. Gue ngerasa gak enak aja. Lo ngerti kan?”
“Iya, gue ngerti kok. Makasih Bang..” Kata Syahna lagi kemudian memeluk Abangnya itu dengan erat.
Statusnya sebagai istri tidak membuat kemanjaan Syahna hilang begitu saja. Ia malah jadi semakin manja.
“Bang. Kira-kira kenapa Natta mau nikahin gue ya? Gue gak yakin kalau alasannya cuma kasihan sama gue.” Tiba-tiba terlintas sebuah fikiran aneh di benak Syahna.
Kalau difikir-fikir, memang benar. Kenapa Natta menyetujui pernikahan itu dengan mudahnya? Padahal malam itu Syahna hanya spontan mengajak Natta menikah. Tidak mungkin jika Natta langsung menyetujuinya begitu saja. Bahkan Natta yang kemudian mengajukan diri.
Apa yang sedang direncanakan oleh pria itu?
“Dia sukak kali sama lo..” Jawab Lian sekenanya.
“Hah? Sukak? Sama gue? Natta de coco sukak sama gue? Jan ngadi-ngadi deh bang.”
“Ya kalau gak, apa dong.”
“Alasannya adalah simpati. Tapi itu terlalu berlebihan kalau sampai dia mau nikah sama gue. Alasan klasik. Toh dia bisa aja biarin keluarga kita kena malu, ya kan?” Ujar Syahna lagi dengan ekspresi berfikir keras.
“Kenapa gak lo tanya aja sendiri ama tu orang. Kalau lo tanya sama gue, trus gue mau tanya sama siapa?”
“Ya kali aja abang tau gitu. Abang kan sa ha bat nya.” Gurau Syahna sambil mencibir.
“Sahabat belum tentu tau segalanya kali. Contohnya lo, pacaran empat tahun tapi gak tau apa-apa tentang calon sua......”
Ups.!
Lian langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Sadar telah membuka kotak kematiannya sendiri.
“Kenapa gak dilanjutin? Ya emang gue bod*h. Gak tau apa-apa. Makanya jadi bikin kalian malu.” Ujar Syahna dengan nada suara berat. Kesedihan itu kembali muncul di wajahnya.
“Na,, bukan gitu maksud gue,, mmm...” Lian jadi salah tingkah.
Plak.!
Sebuah pukulan di punggung Lian membuatnya meringis perih.
“Udah. Buruan pergi gih.. Buruan.. Buruan..” Ujar Syahna lagi sambil terus mendorong tubuh Lian agar keluar dari apartemen itu.
Lian pasrah. Ia merasa bersalah karna tidak hati-hati dalam berbicara. Padahal ia tahu kalau itu adalah luka bagi Syahna.
Duar.!
Syahna sengaja menutup pintu dengan keras. Membuat Lian menggigit bibir dengan ngeri. Pasalnya, kakinya hampir saja terjepit pintu kalau ia tidak segera menariknya.
“Ya maaf.” Ujar Lian dari balik pintu. “Gue balik dulu. Jaga diri baik-baik.” Ujar Lian kemudian tersenyum dan melangkah pergi.
sukses
semangat thor
mksh thor
keren