Alisya adalah seorang gadis berhati lembut yang disukai oleh banyak orang. Dia adalah pemeran utama dalam sebuah novel yang mengisahkan tentang cinta yang berawal dari dare atau tepatnya tantangan.
Sedangkan Risa adalah gadis tertutup dan hidup dengan menyendiri. Bukan, bukan berarti dia bodoh dan miskin, tapi dia adalah seorang hackers terkenal diperkalangan Ahli IT..
Maka kenapa dia bisa masuk kedalam tubuh gadis bernama Alisya itu?
Kenzie lardfiez :"kau membuat aku tergila-gila kepadamu"ucapnya dengan seringai yang menjengkelkan
Yak!. itu bukan dialoqnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen
*PLAK!
Ghena menolehkan kepalanya kearah samping saat pukulan yang tiba-tiba itu mengenainya. Raut tak percaya terpampang jelas diwajahnya saat melihat abangnya Zein berdiri dihadapannya yang otomatis pemukul pipinya adalah abangnya sendiri..
“Bang...?”
Senyuman yang biasa Zein tunjukkan kini lenyap berganti dengan tatapan tajam yang hanya ditujukan kepada adik kandungnya itu. Dia mengusap wajahnya kasar dan menunjuk Ghena dengan tidak senang “Aku tidak percaya ini!, Apa benar rumor tentang kau yang ada disekolah itu Ghena!”bentak Zein.
“Apa maksudmu!”teriak Ghena tak terima langsung ditampar begitu saja.
“Lihat!.. kau bahkan tidak mengetahui kesalahanmu apa?, Kau sangat berubah Ghena..”Zein mengerutkan kening kesal “Aku merasa hina sebagai kakak kandungmu”
“Hei!, Aku juga tidak mau punya kakak sepertimu!”teriak Ghena ikut kesal.
“Kau bahkan teriak?!, Ada dimana sopan santunmu hah!”Bentak Zein.
“Kau yang tidak ada sopan santun!, Datang-datang langsung menamparku?!, Kau pikir kau ini siapa!”
“Ghena!”
“Cuihhh!”Decih Ghena sinis “sekarang aku tau..”dia terkekeh “Yang kau maksud tentang Rumor aku selalu mencari gara-gara kepada Alisya itu bukan!, Heh.. begini saja kau sudah menamparku!.., Apa baiknya Alisya dimatamu!”
Zein mencengkram lengan Adiknya itu erat “begini saja.. kau bilang?”ucap Zein dengan suara Sarkasme
“Lepas!... Ma!”Teriak Ghena memanggil Rhena lalu melotot ke-arah Zein “Emangnya apa yang aku lakukan!”pekik Ghena merasa Frustasi melihat wajah menyeramkan Zein.
“Kaulah yang membuat Alisya mengidap Traumatik bukan!, Katakan Ghena!, Jika kau tidak jujur.. aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu lagi”Ancam Zein penuh intimidasi.
Trauma?.. Ghena mengerutkan Keningnya, sebelum dia bisa menjawab perkataan Zein., Ibunya turun dari tangga dengan tergopoh-gopoh menghampirinya “Apa yang terjadi?!, Zein apa ini!?”tanya Rhena setelah sampai ke-tempat Ghena dan Zein berada.
Keduanya terdiam. Zein melirik Ghena sebentar lalu pergi berlalu tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan ibunya sendiri. Tatapannya menjadi sangat tajam ketika mengingat apa saja yang dikatakan ayah tirinya tentang kondisi Alisya saat ini.
Zein tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa Adik tirinya itu sempat dilecehkan dan tidak mau mengatakannya kepada keluarga sendiri?. Apakah dia terlalu se-tertutup itu?.
Ruangan yang Selalu dingin di-apartemen milik Hanaya kini menjadi hangat hanya untuk membuat Alisya nyaman. Jovan dan Hanaya tak pernah sedikitpun meninggalkan Apartemen selepas mengetahui penyebab penyakit Alisya. Tapi bukannya merasa senang, Alisya malah terlihat risih.. tatapan datarnya menjadi sangat datar ketika melihat kedua orang tua-nya berdiri disamping kasurnya selama berjam-jam.
“Aku lapar”ucap Alisya pada akhirnya. Apa mereka tidak tau bahwa dia itu membutuhkan makanan bukan keberadaan mereka disini?. Alisya menarik nafas dalam kemudian dihembuskan. Begitu, berulang kali melakukannya sampai jengah sendiri:)
“lapar?”ulang Hanaya bertanya lembut yang dibalas tatapan datar dari Alisya. Hanaya tidak sama sekali tersinggung, dia beranjak berdiri menghampiri Jovan yang tertidur disofa “Ovan”bisik Hanaya ditelinga Jovan.
Jovan yang masi dalam mode tidur antara sadar dan tidak sadar segera membuka matanya “hmmh?”Dehem Jovan sebagai jawaban.
“Aku akan membuat bubur dulu untuk Alisya. bangunlah, ajak Alisya berbicara. Aku takut tenggorokannya menjadi sakit karena terlalu banyak diam”pinta Hanaya Masi dengan berbisik. Tapi diujung sana, Alisya tetap dapat mendengarnya sehingga bola mata gadis itu kembali berputar jengah.
“Tidak perlu”Kata Alisya melihat Jovan yang hendak berdiri “Aku tidak butuh teman obrolan”
“hah?, Benarkah?”tanya Hanaya.
Alisya menarik nafas dalam-dalam kemudian dibuangnya “Iya Mama”tekan Alisya pada kalimat akhirnya.
Senyuman tertahan Hanaya terlihat ketika mendengar kata mama yang keluar dari bibir Alisya. Sambil tersenyum kikuk, dia bergegas ke-dapur untuk membuatkan Bubur untuk Alisya.
Jovan Tidak memperdulikan Argumen Alisya, dia tetap Beranjak menghampiri Anak gadisnya itu “Jadi kau tidak membutuhkan Dedy honey ?”
“tidak”jawab Alisya tanpa berpikir.
“haha”tawa Jovan canggung. dia menduduki dirinya tepat disamping kasur Alisya yang telah disediakan tempat duduk single “hm.. jadi, kau membutuhkan kekasihmu?”tanya Jovan ketika mengingat Kekasih anaknya itu ada disebelah apartemen Hanaya.
“tidak”ulang Alisya lagi
“sungguh?”ucap Jovan spontan. Dia berpikir Kenzie adalah sosok yang berarti untuk anaknya ini, hm.. tapi ternyata.., sepertinya dia terlalu banyak berpikir. Batin Jovan sambil menganggukkan kepalanya setuju.
“Aku mendengarnya Babe..”
Kedua anak dan ayah itu mengalihkan pandangan mereka. Disana terdapat Kenzie yang membawa bingkisan berupa buah-buahan., serta kaca mata hitam mengkilat Dimata pria itu. Terlihat seperti monyet.. eh?
Tidak ada rasa bersalah sedikitpun yang Alisya rasakan. Dia hanya melirik Kenzie sekilas lalu lanjut menatap jari-jarinya yang lebih menarik “heungh.. kau mendengarnya”ucap Alisya menganggukkan kepala setuju.
Kenzie mengerucutkan bibirnya tak Senang. dia menghampiri Alisya yang berada dikasur dengan kedua tangan terentang “Ayo peluk aku”pinta Kenzie dengan suara diimut-imutkan.
Gaada lagi image Kenzie didepan Alisya:)
Yang tak terduga, Alisya memeluk Kenzie sambil mengambil buah-buahan yang berada ditangan kekasihnya itu lalu menarik diri dan menyodorkan buah itu ke-hadapan Jovan “Potongkan”perintah Alisya.
Jovan menatap buah yang ada didepannya lalu menatap anaknya itu dengan ragu. Baru saja dia diperintah?
Saat akan menolak, Jovan teringat akan nasehat Hanaya. Segera dia mengambil buah Apel yang berada ditangan Alisya dan memotongnya.
Kenzie yang menerima adegan klise itu mendengus. Sorot Matanya mendingin “alisya..”
“hn..?”gumam Alisya
“Kau baru saja memelukku atau apa?”
Alisya menarik kaca mata hitam yang setia bertengger Dikedua mata Kenzie dengan cepat dan menarik lengan pria itu untuk menduduki dirinya sendiri di-kasur tepat dimana dia berbaring. “Diam. Aku tidak menerima keluhanmu oke?, Kau tau siapa aku bukan?”ucap Alisya sambil tersenyum profesional.
Kenzie terduduk dengan wajah termangu. Mencerna apa yang baru saja Alisya katakan. Ia segera melorot menumbangkan dirinya di-paha Alisya yang diselimuti. “hum. Humm, aku pasti diam. Beri aku pelukaaaaan”pinta Kenzie menatap Alisya yang telah menjadi langit-langitnya sekarang dikarenakan wajah Alisya yang telah menunduk sepenuhnya.
Jovan yang melihat kelakuan Kenzie tak dapat untuk tidak berkomentar “Dasar bocah bau kencur”ucapnya hampir tidak terdengar. Dia segera berdiri tegak dengan telapak tangan menyentuh pucuk kepala Alisya “Dedy kebelakang dulu, urus rumah tangga kalian. Dan oh, suruh Kekasihmu saja yang mengupas Apelmu ya. Goodbye”pamit Jovan segera beranjak pergi dari kasur Alisya.
Tangan Alisya terangkat mengelus Surai rambut Kenzie yang ber-cat putih itu. Dia menggulum bibirnya “Kau dibilang bocah kencur oleh Ayahku ken”
Kenzie mengambil tangan Alisya yang berada di-kepalanya dan mengecup lembut telapak tangan cantik itu. dia sama sekali tidak memperdulikan apa yang baru saja Alisya katakan. Dia lebih memilih bermanja bersama Alisya saat ini, mumpung gadis itu dalam keadaan lemah pikir jahatnya.
“Kenapa baru sekarang aku berjumpa denganmu Alisya?”tanya Kenzie menerawang waktu yang telah berlalu. Kenapa baru sekarang mereka diperkenalkan, kenapa tidak hari dimana dia dengan Alisya berada dalam satu sekolah.
Alisya menyipitkan mata mendengar pertanyaan Kenzie “kenapa kau bertanya denganku?. Tanyakan saja pada dirimu sendiri, kenapa baru melihatku setelah sekian lamanya. Kau tau sendiri, aku ini terkenal”kata Alisya sedikit membanggakan namanya yang dipuja oleh mahasiswa/i sekolah.
“Tujuanku bukan untuk Belajar dan cinta melainkan suatu hal yang susah untuk dijelaskan”Ucap Kenzie.
Alisya mendengus “apa yang tidak aku tau?. Aku tau sekali, termasuk suatu hal yang tak dapat kau jelaskan”perkataan Alisya segera mengundang tatapan penuh arti dari Menik hitam Kenzie, pria itu menatap penuh bangga pada Alisya.
“we ?”tanya Alisya dengan logat Korea.
“tidak. Kau ingin aku melakukan sesuatu?”tanya Kenzie mengalihkan pembicaraan sambil melirik apel setengah potong yang berada dinakas.
“kupas sana”perintah Alisya ikut menatap apel yang telah menguning itu.
“Beri aku senyuman”pinta kenzie.
“hn ?”gumam Alisya heran.
“senyumlah. Itu sebagian pengobatan. Aku ingin menjadi yang pertama melihat senyumanmu yang terbaik”
Alisya tertegun sesaat sebelum dia tersenyum manis dengan kedua lesung pipi yang terlihat jelas. Percayalah, Alisya sebenarnya adalah gadis yang manis dan menggemaskan, namun itu semua menjadi sirna karena watak Risa dengan Alisya yang berbeda.
Tanpa sadar bibir Kenzie yang selama ini datar ikut tersenyum, seakan senyuman milik kekasihnya menular secara kilat kepada dirinya. Dia menduduki diri dan mengacak rambut Alisya “Teruslah begitu, sampai Aku bosan”
Alisya memperbaiki rambutnya dengan santai lalu berkata “Bosan saja sana!. Aku tidak peduli”ketus Alisya menarik Selimut tebalnya.
Kenzie terkekeh“nanti kita jalan-jalan ya?”ajaknya
“hn..”