Indonesia
NovelToon NovelToon
Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Chicklit / Tamat
Popularitas:34.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Sebuah kisah sederhana tentang dua orang yang menjalin hubungan virtual. Ketikan demi ketikan membuat mereka jatuh pada rasa yang sama, berjanji untuk memperjuangkan cinta dan mengikis jarak yang ada. Namun, di tengah jalan sang pria justru menghilang tanpa kata.

.....

Entah sudah berapa purnama Bulan tak ditemani Bintangnya. Dia sudah terlalu lama melewati malam seorang diri.

Bulan! Panggilan indah yang diberikan oleh seorang cinta virtual yang Meysa temui di sepertiga malam beberapa tahun lalu kala ia berada pada titik terberat dalam hidupnya. Malam perpisahan orang tuanya membuat dunianya hancur seketika. Merasa sendiri dan tak memiliki tempat berkeluh kesah membuat Meysa mencoba menggunakan fitur chat random dan mempertemukannya dengan Bintang! Ya, Nama panggilan yang juga ia sematkan karena pria itu memanggilnya dengan sebutan Bulan.

“Aku boleh panggil kamu Bulan?”

“Kenapa gitu?"

“Karena aku menemukanmu di tengah malam, kamu membuat malam kelamku jadi terang.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

“Mau pakai nasi ndak?" tanya Meysa pada Kai saat laki-laki itu mulai menyantap mie yang dibuatkan olehnya.

“Kalau ada, boleh deh, bee."

Meysa lalu berdiri mengambilkan nasi untuk Kai. Meletakkannya di piring, tak lupa membawakan sambal udang yang masih ada.

“Nih!"

Meysa meletakkan dua piring berisi nasi dan udang tersebut di hadapan Kai. Lelaki itu tersenyum, senang diperlakukan seperti ini oleh Meysa. Jika dulu mereka hanya bisa makan sambil saling menemani dari balik layar virtual, kini keduanya bisa merasakan yang namanya makan bersama.

Mereka terlihat bahagia satu sama lain, apa yang sejak lama diimpikan kini satu persatu mulai terwujud.

“Makasih bee bee." Kai tersenyum, Meysa begitu melayaninya dengan baik.

“Sama-sama, bee." Meysa balas tersenyum, matanya kelihatan sipit dengan pipi yang kembung karena mengunyah.

Mereka terlihat seperti sepasang keluarga yang menikmati makan bersama, sangat harmonis.

Sambil makan, Kai tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Meysa. Sang Bulan hanya makan semangkuk mie, tidak seperti dirinya yang makan mie dicampur nasi plus sambal udang.

“Kamu gak pakai nasi?" tanya Kai.

Meysa menggeleng, sambil terus menyuapkan sesendok mie ke dalam mulutnya.

“Aku ambilin ya!"

Kai hendak beranjak, tapi Meysa mencegah dengan gelengan.

“Gak usah, aku makan ini aja udah kenyang kok," kata Meysa menunjuk mie kuah yang disantap.

“Lagi pula nasinya udah habis."

Mendengar itu Kai kembali duduk.

“Yaudah, kita bagi dua aja nasinya, biar kamu juga kenyang!" Kai mengangkat piring nasi, bersiap memberikannya untuk Meysa, tapi lagi-lagi Meysa menggoyangkan tangannya tanda tak mau.

“Udah, kamu saja yang makan."

“Indonesia kali lah bang, belum makan kalau gak pake nasi." Meysa menertawai Kai.

“Ih, bee!"

Ucapan Meysa membuat Kai langsung meletakkan piringnya kembali. Ia ikut menertawakan dirinya yang makan mie pakai nasi. Sangat menunjukkan ciri khas orang Indonesia.

“Gak gitu ya, aku gak Indonesia-Indonesia banget kok. Cuma kebetulan lagi lapar aja, makanya double gini." Kai berkilah, membuat Meysa makin terkekeh karena ia begitu pandai membuat jawaban yang tepat.

“Itu mah doyan, bukan lapar!" ejek Meysa. Lalu keduanya tertawa bersama.

Kedatangan Kai benar-benar membuat hidupnya seperti terisi kembali. Dulu ia begitu merasakan kekosongan sejak Kai tak mengabarinya. Namun, kini kekosongan itu seakan lenyap entah kemana. Apalagi Kai langsung datang menemuinya seperti ini.

Begitu selesai makan, Kai yang ceritanya tahu diri ingin mencuci piring. Tapi dilarang oleh Meysa.

“Udah, gak usah dicuci, biar aku aja besok. Sok rajin banget abang ini!" cegah Meysa saat Kai ingin beranjak.

“Ck, sebagai tamu yang baik aku harus tahu diri dikitlah, bee. Udah dikasih makan gratis, tempat tinggal gratis, berarti aku juga harus ngelakuin sesuatu. Paling nggak bisa bantu apa gitu."

“Minimal cuci piring lah, ya.”

Rasanya Meysa ingin sekali terkekeh melihat ekspresi Kai ketika mengatakan hal barusan Tidak banyak yang berubah dari Bintangya, hanya pipinya agak lebih tirus, tak seberisi dulu. Bahkan cara berbicaranya sama persis saat mereka sering teleponan dulu.

“Kalau gak ngelakuin apa-apa nanti cintraku sebagai anak baik bisa runtuh." Selorohnya lagi sambil menahan senyum.

Meysa makin dibuat terkekeh. Kata-kata anak baik membuat ia teringat pada caption yang dilihat pada saat Meysa menstalking facebook Kai. Unggahan itu berisi postingan Kai ketika masih berseragam abu-abu yang ditulis dengan caption “Anak baik pada masanya." Tentu itu merupakan flashback moment dimana mereka baru pertama kenal dulu. Setelah melihat unggahan itu Meysa sering mengejek Kai persis dengan mengatakan seperti caption tersebut.

“Iya si paling anak baik!" seloroh Meysa. Keduanya mulai beranjak dari duduk. Kai yang melihat itu pun ikut-ikutan berdiri dan mengikuti kemana Meysa akan melangkah.

“Aku emang anak baik loh, bee."

“Iya, saking baiknya Kak Faza sampai suka juga sama kamu."

Mendengar itu Kai langsung menampakkan wajah sombong, sembari memainkan alisnya. Bangga bisa menaklukkan hati kakak ipar, padahal ia sama sekali belum melakukan apapun.

“Eh tapi Abangmu baik banget loh, bee!"

“Udah welcome dengan kedatanganku, bahkan sampai dikasih tempat nginep, gratis pulak." Kai merasa bersyukur dengan kebaikan Faza.

Padahal saat mengukuhkan niat untuk berangkat menemui Meysa, hal yang paling Kai takuti adalah bertemu dengan calon kakak iparnya itu. Apalagi Kai tahu jika Meysa memang tinggal dengan sang kakak sejak beberapa bulan setelah perkenalan mereka dulu. Namun, nyatanya yang ditakutkan malah menyambutnya dengan tangan terbuka. Memperlakukannya dengan sangat baik. Kai merasa beruntung.

“Tapi Kak Faza itu aslinya galak loh," ucap Meysa mengadu, siap menceritakan kegalakan sang Kakak.

“Gak apa, yang penting dia baik samaku!" seloroh Kai dengan percaya diri.

“Ntah pelet apa yang kamu pakai sampai dia bisa luluh gitu."

“Mana ada pulak aku pake pelet, bee. Ada-ada aja kamu!" Protes Kai yang merasa ternistakan.

“Emang bener loh, biasanya tuh dia kalau ada cowok yang datang deketin aku mukanya suka berubah jadi hulk." Meysa menceritakan bagaimana galaknya Faza. Membuat Kai yang tertarik mendengar hanya diam, ingin tahu kelanjutan cerita soal calon kaka ipar.

“Suka ngelarang dan marahin anak orang seenaknya, tapi kamu malah diterima aja. Harusnya kan diusir!"

Kai memutar mata malas mendengar ucapan jahat Meysa.

Tapi apa yang dikatakan Meysa benar adanya, biasanya Faza selalu begitu setiap kali melihat gelagat tidak baik dari laki-laki yang mendekati sang adik, dia seakan bisa membaca pikiran mana laki-laki yang serius dan mana yang tidak. Sebagaimana Faza yang menerima baik kedatangan Kai karena menurutnya Kai bertanggung jawab.

“Nggak apalah dia galak di orang lain, yang penting di aku nggak!" Kai masih mengatakan hal yang sama.

“Menurutku abangmu tuh baik! Baiknya makin perfect lagi, kalau izinin adeknya buat hidup samaku." Kai tersenyum penuh harap sambil melangkah mengikuti Meysa yang hendak keluar dari dapur.

“Udah diizinkan!"

“Serius?" tanya Kai tak percaya, saking tak percayanya ia langsung maju untuk menatap wajah Meysa. Memastikan kebenaran akan ucapan barusan.

“Serius lah," sahut Meysa meyakinkan.

“Kok bisa? Kamu ngasih tahu? Kapan?" Kai terus bertanya dengan antusias. Tak menyangka jika calon kakak ipar benar-benar sudah merestui.

“Dikasih tahu Rena, keknya si Rena keceplosan, terus Kak Faza maksa aku buat cerita, makanya aku ceritain sampai akar-akarnya. Soalnya dia suka mengancam."

“Mana abis itu aku diejeknya juga!"

Mendengar itu Kai merasa greget sendiri, saking gemasnya ia ingin memeluk Meysa tapi tak bisa. Jadinya Kai hanya berlagak seperti ingin meremas pipi Meysa, tapi yang diremas hanya angin.

“Ih jadi pengen peluk!"

“Eits, No!" Meysa menyilangkan tangan. Membuat Kai tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala.

“Kalau udah sah baru boleh peluk."

Tangan Kai tergerak mengusap kepala Meysa dengan penuh sayang.

“Sabar ya, sayang. Tunggu aku bentar lagi, aku siapin duitnya dulu ya buat ngehalalinmu,” ucapan Kai yang kedengaran begitu lembut, menatapnya dengan tatapan dalam membuat hati Meysa seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu. Bahagia sekali!

“Aku selalu berdo'a supaya apa yang kita harapkan bisa tercapai ya, bee. Semoga semua langkah dan usahamu untuk menghalalkanku Allah permudah." Meysa mengusap lengan Kai dengan lembut. Menyalurkan kekuatan untuk menggapai angan bersama.

Keduanya masih berdiri dipintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah.

“Makasih ya, bee." Kai menatap Meysa. Tatapan itu menunjukkan betapa besar perasaannya pada gadis itu.

Meysa mengangguk. Tak ingin membahas hal yang memicu kesedihan, ia mencoba mengalihkan. Meski hal itu merupakan topik yang sangat ingin Meysa bahas, tapi ia tahan. Kali ini ia tak ingin bersedih, Meysa hanya ingin menikmati kebahagiaan sampai beberapa hari ke depan. Meysa ingin mengunakan sisa waktu bersama Kai sebaik mungkin.

“Tidur gih, udah malam!" pinta Meysa pada Kai.

“Yuk!" Melihat sikap Kai yang malah mencoba menariknya memasuki salah satu kamar membuat Meysa terkekeh gemas.

“Eh, btw kamar calon istriku dimana?" tanya Kai bingung saat melihat ada dua kamar yang bersampingan. Sementara satu kamar lagi ada di dekat ruang tamu.

“Ini kamar Ka Faza!" bisik Meysa.

Membuat Kai langsung melepaskan genggamannya, lalu berjalan lebih dulu ke ruang tamu. Tawa Meysa pecah seketika melihat Kai, tapi ia segera memelankan suara ketika menyadari penghuni rumah sudah tidur semua.

“Terus kamarmu dimana, bee?" Kai masih penasaran.

Meysa menunjuk Kamar paling ujung yang ada di ruang tengah, dekat jalan ke dapur.

Kai menganggukkan kepala, ber-oh ria dan tanpa aba Kai mencuri satu kecupan dari bibir Meysa saat mereka sudah berada tepat di ruang tamu. Yang mana hal itu seketika membuat Meysa terpaku.

First kiss with the favorit stranger. Demikianlah judul yang tepat untuk menggambarkan situasi mereka saat ini.

Sentuhan pertama.

Kecupan pertama

Debaran pertama yang rasanya sangat menggebu. Ah....

Napas keduanya kelihatan berhembus kencang karena ulah Kai yang tiba-tiba mengecupnya tanpa aba.

Ternyata memang benar jika ada dua lawan jenis yang berduaan maka yang ketiganya adalah setan. Sepertinya Meysa dan Kai tak bisa lolos dari godaan setan. Bagaimana tidak demikian? Di tengah malam larut begini–hanya mereka berdua saat semua orang di rumah itu sudah mengarungi mimpi, tentu godaan untuk melakukan hal lebih jelas tak bisa dihindarkan.

Dan setelahnya sentuhan sesaat yang melenakan itu seakan meminta untuk diteruskan, membuat bibir kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu kembali bersatu saling menjelajahi satu sama lain.

“Love you, bee!” lirih Kai dengan suara berat, napas yang seakan saling beradu kala wajah mereka berada begitu dekat dengan hidung keduanya yang nyaris bersentuhan, membuat sejoli itu bisa merasakan deru napas satu sama lain.

Meysa sama sekali tak bisa menjawab pernyataan Kai di saat ia sibuk menetralisir debaran yang terus berpacu membuat tubuhnya bergetar, apalagi saat Kai dengan sentuhan selembut sutra menariknya hingga ke sudut ruang tamu yang tak mudah dilihat oleh seseorang dari ruang keluarga apabila kemungkinan ada yang bangun..

Tubuh Kai sudah bersandar mentok di dinding, sementara tangannya yang melingkar di tubuh Meysa seakan menarik hingga tubuh Meysa benar-benar terkunci menindih tubuhnya, lalu perlahan wajah keduanya semakin dekat dan bibir itu saling melumat, dari yang awalnya pelan hingga perlahan intens kian menggebu. Kai, bahkan Meysa sama-sama memegang kendali, tak ada yang lebih dominan atau pun memegan kendali.

Apalagi saat Kai semakin tak terkontrol, di saat tangan pria itu mulai meremas dada wanitanya sehingga membuat Meysa hampir kelepasan melenguh tapi dengan cepat ditahannya dengan menc*ubu bibir Meysa.

Situasi itu benar-benar membuat hasrat semakin memuncak, bergelora menuntut saling dituntaskan dan berharap bisa semakin saling menjamah jauh. Namun, saat tangan Kai mulai tak terkontrol, Meysa yang setengah kesadarannya masih ada, dengan cepat menahan tangan Kai yang seakan siap mengoyak tubuhnya.

Keduanya bersitatap dengan napas yang masih memburu. Dalam diam Meysa hanya mampu menggekng, seakan berkata “Ini gak seharusnya bee. Kita gak boleh lakuin ini sekarang. Di sini?”

Beruntung Kai berhasil mengalahkan hasratnya. Ia lantas mendorong Meysa pelan, melepaskannya. Dengan kondisi kacau dan setengah sadar Kai melangkah mendekati pintu utama. Mencoba mengingat apa hal yang mereka bicarakan sebelum akhirnya kelepasan hingga hampir tak terkontrol seperti ini.

Kai menoleh pada Meysa yang nampak terpaku di belakangnya, masih pada posisi di mana ia membawa gadisnya itu.

“Btw, abangmu emang baik beneran loh, bee."

sambung Kai yang berusaha mengusir kecanggungan saat ia berhasil mengingat apa yang sebelumnya mereka bahas sesaat sebelum sentuhan intens pertama mereka.

Kai yang benar-benar merasa beruntung atas kebaikan dan kepercayaan yang Faza berikan sangat merasa berdosa dan bersalah karena harus melanggar kepercayaan yang diberikan hanya lantaran tak bisa menahan diri. itu sebabnya Kai kembali membahas hal itu.

“Aku pikir aku bakalan diusir, tahunya malah disambut dengan baik,” sambung Kai dengan penuh penyesalan.

Meysa yang mendengar itu pun sama merasa bersalahnya, tapi yang bisa ia lakukan hanya diam sambil terus menunduk.

“Apalagi waktu itu kamu agak cuek, tapi untungnya masih memperlakukanku kayak manusia."

“Kalau nggak, pasti aku udah milih pulang aja." Jujur, sebenarnya Kai mengatakan semua itu hanya untuk mencari cara mengusir kecanggungan dan rasa bersalah yang menerpa.

“Lemah!" cibir Meysa mengetahui isi pikiran Kai. Air matanya menetes tiba-tiba saat pikirannya dipenuhi dengan hal yang barus saja terjadi dan menyadari jika Kai masih begitu mudah menyerah seperti perkataannya barusan.

Dalam hati Meysa sangat bersykur kakaknya menerima Kai dengan baik, waktu itu dirinya pun masih mencoba bersikap baik. Walau setelah Kai mengatakan niatnya, Meysa mulai menunjukkan kekesalnnya sedikit demi sedikit. Jika tidak, mungkin Kai sudah benar-benar kabur dan bahkan mungkin mereka tak akan bisa seperti sekarang ini. Sudah dipastikan ia akan makan hati berulang jantung hingga akhir hayat nanti. Itu sangat mengenaskan.

Namun, apa yang barus saja mereka perbuat? Mereka nyaris berbuat dosa dan mengingkari kepercayaan Faza.

“Belum juga berjuang udah mau nyerah!" protes Meysa tak suka, ia pun sama berusahanya seperti Kai agar seolah tak ada yang terjadi.

“Tapi buktinya aku gak nyerah kan." Kai mencebik membela diri.

“Iya, tapi kalau seandainya kak Faza nunjukin kegalakannya pada saat itu, kamu bilang mau langsung pulang." Meysa menatap menuntut jawaban. Kai mengangguk sambil nyengir. Sebenarnya ia memang tak segentel itu, tapi karena Faza bersikap welcome pada saat itu jadinya ia mencoba memberanikan diri dan jadi percaya diri.

“Itu artinya kamu gak sungguh-sungguh buat minta maaf. Masih ragu!"

“Sungguh-sungguhlah bee, ni buktinya udah."

Hmmmnt, Meysa memutar mata malas. Berbicara dengan Kai yang juga agak kadang-kadang memang sedikit menyebalkan.

“Dahlah, sana tidur!" Meysa mendorong tubuh Kai agar segera pergi ke kostan. Sebenarnya ia masih bergetar, takut karena hampir berbuat dosa, juga takut karena kalau saja ada yang memergoki apa yang mereka perbuat.

“Nggak mau kiss dulu?" Kai menoleh sambil tersenyum penuh harap sambil menunjuk bibirnya.

Membuat Meysa kembali terkekeh, tak hanis pikir Kai masih bisa mengatakan hal itu di saat ia tahu persis jika Kai pun baru saja merasa bersalah karena kelakuan mereka barusan. Namun, perkataan Kai ini lagi-lagi membuat ingatannya tertuju pada saat dimana mereka dulu selalu melakukan kiss by phone, katanya untuk melepas kangen. Sekarang Meysa malah dibuat tergelitik jika mengingat hal yang selalu mereka lakukan dulu.

“Sini! cium kalau mau diterkam singa tidur."

Kai menggeleng, ia paham singa tidur mana yang Meysa maksud Selain itu Kai memang tak berani bertindak sejauh itu pada Meysa.

“Gak deh, belum siap mati, aku masih mau wujudtin banyak mimpi ke Bulan." Ucapnya yang lebih memilih aman.

Lagi-lagi Meysa hanya terkekeh, ia paham apa yang Kai maksud. Jika hari sebelum ini dipenuh dengan ai mata, sepertinya malam ini dan beberapa malam lagi akan dipenuhi dengan gelak tawa dan bahagia.

“Masuklah bee, tidur! Udah jam 12!"

“Maaf ya, soal yang tadi.”

“aku benar-benar gak bermaksud kurang ajar, bee. Sumpah!” Kai menatap Meysa dengan wajah serius dan penuh penyesalan.

“Aku ...”

Namun, belum sempat Kai menyelesaikan ucapannya, Meysa sudah lebih dulu memotong.

“Kamu gak salah, kok.”

“Kita cuma sama-sama terbawa suasan.”

Kai tersenyum mendengar kalimat Meysa. Sebenarnya ia masih ingin mengatakan suatu hal, tapi ia tak ingin mereka terlalu lama bersama, takut kalau-kalau tak bisa menahan diri lagi dan mereka bisa saja melakukan yang lebih.

“Tapi aku janji, aku akan berusaha jaga kamu. Gak akan nodain cinta kita dengan hal yang seharusnya hanya boleh kita lakukan nanti setelah nikah.”

“Sekali lagi maaf untuk hal tadi. Salahku yang gak bisa ngontrol diri.”

“Masuklah, bee!”

Dan Meysa pun menurut.

“Aku masuk ya, daa ...."

Kai balas melambaikan tangannya.

“Sampai ketemu besok, bul!" ucap Kai setengah berteriak.

“Mimpi indah!"

“Love you!"

Meysa yang sudah hampir menutup pintu tak menyahut apapun, ia hanya tersenyum sambil berdada ria. Setelah pintu tertutup, dengan senyum mengembang, penuh bahagia Kai melangkah ke kostan. Sepertinya malam ini tidak akan bisa tidur nyenyak, apalagi tubuhnya masih meremang karena suatu hal yang hampir membuat mereka kelepasan tadi.

1
Kimmy Geral
lanjut
Kimmy Geral
lanjutkan
Kimmy Geral
mantap
Kimmy Geral
lanjut
Oktavia
Erza cowok idaman banget ya😁
Andariya 💖
otw dik👍🥰
Andariya 💖
sama² dik....mkasih Uda menuangkan ide kamu dalam tulisan yg bisa membuat kita terinspirasi dan dapat nilai² penting 👍😘😘😘😘
Andariya 💖: jangan merendah, tetap semangat untuk menciptakan karya karya yg lain
.. sukses selalu buat adikkku 😘... Aamiin 🤲
total 2 replies
Andariya 💖
akhirnya,d lamar juga .semoga kedepannya acara nikahan nya lancar aamiin 🤲
Andariya 💖
anca .anca kamu ini bikin Meysa 🤣🤣😀
Andariya 💖
Meysa..kamu ini masih cinta banget dgn kai😇😇
Andariya 💖
wah..ternyata Rena dan erza hubungan gak semulus jalan tol...
wkkkkk 😀😀🤪
Andariya 💖
kai...kai kejarlah klau kamu cintaati dgn Meysa🤣🤣🤣
Andariya 💖
ya Allah, Meysa ini beneran ya..dia gak mau menerima barang apapun dari kai😅🤗😂
Andariya 💖
vote, buat yg semangat up date😘😘😘🥰
Andariya 💖
Faza...mulai curiga dengan hubungan adiknya dan kai😇😇😇
Andariya 💖: wah...jadi takut klau ktmu Faza🤣🤣🤣🤭
total 2 replies
Andariya 💖
oh..oh anca ini saudara nya Meysa...dia orang yg status sosial nya tinggi..tajir dong☺️☺️🤭
PanggilsajaKanjengRatu: Anca jones🤣
total 1 replies
Andariya 💖
wah..wah sedih nie..mereka berdua harus putus😭😭😭

semoga mereka tetap berjodoh meskipun berpisah nanti bersatu kembali 🤗😍
PanggilsajaKanjengRatu: Aamiin ya Kak 🥰🤧
total 1 replies
Andariya 💖
ya Alhamdulillah, kai sadar..bahwa Meysa Uda dalam titik terendah dia😇😇😇
Sun_Lee
uhuuuuu goodjob Mey💪
Sun_Lee
😆😆😆 emotnya ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!