Lima belas tahun, bukanlah waktu yang singkat. Lusi adalah seorang perempuan yang sabar dan tulus mencintai Yudi yang mempunyai sifat cemburu dan rasa curiga yang berlebihan, namun seiring dengan berjalannya waktu, kesabaran yang dimiliki oleh Lusi pun perlahan mulai luntur. Apakah Lusi masih bisa mempertahankan cintanya? Apakah Yudi bisa merubah sifatnya? Akankah cinta mereka langgeng hingga maut yang memisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ludia Tola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Mencari Alamat
Satu bulan telah berlalu dan pagi ini Lusi telah bersiap untuk berangkat ke Makassar. Semalam ia dapat telepon dari Luna bahwa mereka punya usaha di Makassar dan Lusi diberi kepercayaan untuk mengelolah usaha tersebut.
Dari hasil jualan kue selama satu bulan, Lusi dapat menyewa kendaraan yang akan ditumpanginya ke Makassar.
"Jangan lupa kirim info tentang perkembangan anak saya!" ucap Lusi dengan mata berkaca-kaca.
"Tenang, saya akan selalu menghubungi Ibu," jawab Rosa dengan mantap.
"Terima kasih buat kebaikan kalian yang telah memberikan tumpangan kepadaku selama ini dan saya yakin Tuhan yang akan membalas!"
"Sama-sama, Bu,"
Lusi dan Rosa berpelukan untuk beberapa saat. Ia juga memeluk ibu Ara, ibu mertuanya Rosa. Keduanya pun menangis dengan sedih. Ibu Ara merasa sedih karena akan kehilangan teman. Selama sebulan ini ia merasa sangat terhibur karena ada teman di rumah bahkan ibu Ara selalu membantu Lusi untuk membuat kue saat cucunya sedang tidur.
Tak lupa juga Lusi memeluk dan mencium pipi Rafa sebelum ia benar-benar pamit karena mobil yang akan membawanya ke Makassar sudah ada di depan rumah.
"Salam buat Anto dan sampaikan ucapan terima kasihku kepadanya!" ucapnya lagi dengan suara serak. Tadi, ia tidak sempat berpamitan kepada Anto karena ia sudah berangkat kerja.
Ibu Ara dan Rosa menganggukkan kepala, keduanya juga sudah bersimbah dengan air mata.
Sesekali Lusi menatap ke luar jendela mobil dengan hati yang pedih mengingat perjalanan hidupnya yang suram. Cinta yang tulus dalam hatinya telah disia-siakan oleh suaminya dan rasa itu pun perlahan hilang tergantikan dengan perasaan yang selalu was-was. Salah sedikit saja, suaminya akan langsung menuduhnya. Ngomong saja harus serba hati-hati karena sering juga dari omongan yang sifatnya memuji seseorang, apalagi kalau seorang laki-laki, maka wajah Yudi akan langsung cemberut dan mengambil kesimpulan bahwa istrinya suka sama pria yang sedang diomongin.
"Selamat tinggal semuanya... saya adalah wanita yang sabar tapi kesabaran itu ada batasnya. Rasa sakit rasa cinta yang hilang membuatku harus pergi menjauh. Semoga suatu saat ketika Dhey sudah dewasa, ia akan mencari mamanya." guman Lusi dalam hati. Air mata kembali mengalir di pipinya.
Tak lama kemudian Lusi pun tertidur. Mungkin karena ia sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata.
Ia terbangun karena kaget mendengar pintu mobil yang ditutup dengan keras. Rupanya sopir dan penumpang yang lain akan makan siang karena tepat di depan ada rumah makan.
Lusi mengucek matanya dan memandang ke sekitar tempat mereka berhenti.
"Ayo kita pergi makan dulu, Mbak!" ajak salah seorang penumpang.
"Terima kasih, Bu! Saya makan di mobil aja, kebetulan ada sedikit bekal," sahut Lusi dengan ramah.
Lusi mengambil bekalnya dari tas. Tadi ibu Ara yang menyiapakan semua ini. Sungguh, mereka sekeluarga berhati emas.
Hanya sedikit saja makanan yang bisa turun ke perutnya. Setelah itu ia minum dan turun dari mobil karena hendak masuk ke toilet.
Perjalanan belum setengahnya membuat mereka merasa letih dan perlu istirahat sejenak.
***
Mereka tiba adi Makasar pada pukul tujuh malam. Lusi merasa sangat beruntung karena sopir yang membawanya mau mengantar untuk mencari alamat yang sudah diberikan oleh Luna.
"Permisi Mbak!" kata Lusi dengan sopan setelah mencocokkan alamat yang ada di layar ponselnya dengan tempat ia berada sekarang.
"Iya, ada yang bi..., kamu... !" sahut perempuan itu dengan gagap karena kaget. Tadi ia membelakangi arah datangnya suara karena ia sedang memperbaiki letak mainan anaknya yang di taruh dengan sembarangan.
"Kak Yani...!" Lusi langsung menghambur ke pelukan sang kakak dan kembali menumpahkan air matanya.
Sopir yang mengantar Lusi hanya terkesima dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Ia lalu menurunkan tas milik Lusi dari mobil dan meneruskan perjalanannya setelah menerima uang sewa mobilnya.
Lusi masih belum percaya bisa dipertemukan dengan kakaknya di tengah situasi yang pelik. Ia melepaskan pelukannya dan sekilas memandangi rumah kakaknya lalu pandangan matanya berpindah ke bangunan yang ada di sebelahnya dan di situ ada tertulis "Toko Obat". Dalam hati ia sudah memastikan bahwa ia sudah tidak salah alamat.
"Kenapa kamu tiba-tiba ke sini tanpa memberitahuku sebelumnya?" tanya Yani dengan heran apalagi setelah melihat wajah sembab adiknya. Ia langsung menerka bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Bukannya menjawab, Lusi malah kembali terisak. Melihat hal itu, Yani menuntun adiknya masuk ke dalam rumah.
"Sebenarnya tujuan saya ke sini bukan ke rumah kakak tapi saya mau kerja di toko sebelah. Ini alamat yang diberikan oleh teman!" ujar Lusi setelah merasa agak tenang.
"Maksudnya? Bagaimana dengan suami dan anakmu?" tanya Yani bingung.
Lusi pun menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan kemudian mulai menceritakkan keadaan rumah tangganya kepada kakaknya. Sesekali ia menyeka bulir-bulir bening di pipinya.
"Apakah ayah dan ibu tahu tentang masalah ini?"
Lusi menggeleng.
"Tttrrr...tttrrr...tttrrr! ponsel Lusi bergetar.
Lusi mengusap layar ponselnya tapi ia ragu untuk menjawab karena nomor yang memanggil adalah nomor baru.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Yani penasaran.
Lusi belum sempat menjawab, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Ada pesan yang masuk di aplikasi WhatApp.
"Saya orang suruhan pak Heri dan ibu Luna untuk menyerahkan kunci toko kepada Mbak. Posisi Mbak sekarang di mana? Saya sudah menunggu di depan toko karena menurut ibu Luna, Mbak akan segera tiba di sini,"
Lusi memperlihatkan chat tersebut kepada kakaknya. Setelah membacanya, Yani pun menemani adiknya untuk bertemu dengan orang tersebut.
Di depan toko yang baru saja dibangun tampak seorang laki-laki yang memakai jaket berwarna coklat dan kepalanya tertutup helm. Ia sedang sibuk memandangi layar ponselnya dan ketika ia menoleh ke arah suara yang mendekat ia kembali melihat layar ponselnya dan benar saja foto ang dikirim oleh Luna sama persis dengan salah satu perempuan yang sedang berjalan ke arahnya.
"Lusi yah! Kenalin saya Anas, kerabat Luna! Kebetulan saya yang dipercayakan untuk mengawasi pembangunan toko obat ini dan semuanya sudah selesai bahkan toko ini pun sudah diisi kemarin. Ini Kuncinya!" kata Anas sambil menyodorkan beberapa anak kunci pintu kepada Lusi.
"Terima kasih, Pak! ucap Lusi dengan ramah.
"Sama-sama, saya permisi dulu!" Anas berlalu dari hadapan mereka dan menghampiri motornya yang terparkir di pinggir jalan.
Lusi membuka pintu toko itu dan benar saja bahwa semua obat-obat yang akan dijual sudah tersusun dengan rapi di dalam ruangan tersebut. Di bagian dalam terdapat sebuah kamar dengan ukuran sedang dan lengkap dengan kamar mandi. Dapur juga sudah dilengkapi dengan perabot membuat Lusi merasa terharu. Ia tak menyangkah bahwa Luna akan sebaik ini kepadanya.