Indonesia
NovelToon NovelToon
NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA

Status: tamat
Genre:Masalah Pertumbuhan / Teen School/College / Bad Boy / Tamat
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: typ

Ini cerita pertama Typ yang asli malu-maluin. Wkwk.

"Dia tidak baik untuk kau perjuangkan dan dia bukan orang yang tepat untuk kau menaruh kepercayaan. Kau perlu banyak belajar tentang rasa. Bahwa seseorang yang benar-benar diperuntungkan untuk diri, tidak akan mengubah kau menjadi lebih buruk, walaupun dia sudah pergi sekalipun. Kau akan terus menjadi diri yang baik."

"Maksudnya yang terbaik buat gue itu, lo?" tanya Bara refleks. Tidak salah bukan? Itu yang Bara tangkap dari penjelasan Spica. Gadis itu hadir memang berusaha membuatnya jadi lebih baik.

Spica tersenyum sinis. "Yang perlu kau tahu ... Saya hadir di kehidupan seorang Aldebaran El Nath karena di bayar."
....

Spica adalah penjara, untuk kehidupan Bara yang bebas. Sedangkan bagi Spica, Bara itu ujian, mengporandakan hidupnya yang tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXXIV synkratiménos

..."Semua orang benci terkekang, dan tidak lagi sampai pada akhirnya hal itu membuatnya tersadar." ...

......................

"Lo tahu nggak Bar? Ini kali keempat gue bolos bareng sama lo." Sena duduk dengan bertopang dagu, menatap Bara yang sedang makan spageti.

Bara menoleh setelah menelan spageti di mulutnya. Cowok itu menatap Sena, kemudain beralih melirik barang belanjaan Sena yang dibeli dengan uangnya. Totalnya ada lima paperbag, dan tergeletak di lantai dekat dengan kursi Sena. "Dan lo selalu maksa buat ke mall. Padahal gue pengen ngajakin lo ke tempat balapan."

"Lo tahu Sen? Gue bela-belain nggak ikut balapan demi lo." Sambung Bara.

Sena cemberut, "kalo nggak ikhlas bilang dong. Bara mah gitu!"

"Kalo gue nggak ikhlas, gue bakal nolak. Nggak akan pernah ada kata kita."

"Ish...." Sena mendesis mendengar ucapan Bara yang menyebalkan.

Drttttt

Layar ponsel Sena menyala, seseorang dengan nama Luv terpampang jelas di sana. Bara melihatnya, namun dengan cepat Sena mengambil ponselnya.

"Bentar dulu, ada telepon masuk." Sena menatap Bara dengan kikuk sebelum akhirnya pergi menjauh.

Bara terus memperhatikan kepergian Sena. Hatinya sedikit curiga dengan tingkah gadisnya yang sepeti itu. Harusnya Sena tidak perlu menjauh jika hanya mengangkat telepon, Bara tidak akan berisik ataupun peduli dengan itu.

Pun dengan nama Luv yang tertera di layar ponsel Sena. Karena setahu Bara, Sena tidak penah memiliki teman bernama Luv, kecuali jika gadisnya itu tidak bercerita.

Sekembalinya Sena, Bara menatap Sena dengan wajah datanya.

"Sorry Bar," Sena terkekeh di akhir kalimatnya, seakan tidak menyadari situasi.

"Jadi, siapa itu Luv?" tanya Bara to the point.

Sena tergelak, cewek itu tidak menduga kalau Bara melihat nama seseorang yang menelponnya dan me jadi sepenasaran itu. Sebisa mungkin Sena bersikap biasa saja. "Temen cewek gue."

"Aneh."

"Lo tau sendiri kan Bar? Temen gue itu alay-alay. Itu sendiri dia yang namain Luv di ponsel gue. Mau diganti males, ya udahlah biarin aja." Sena membuat alesan. Dalam hati merasa cemas karena Bara tidak kunjung merespons kalimatnya. Sena takut kalau Bara masih tetap curiga dengannya.

"Oh." Bara mengangguk setelah terdiam cukup lama. Cowok itu mengambil gelas lemon tea-nya dan meminumnya sampai tandas. "Nanti malem temenin gue jalan," pinta Bara sambil meletakan kembali gelas di atas meja.

Belum sempat menghela napas lega, Sena kembali di risaukan dengan permintaan Bara.

"Sorry Bar, gue nggak bisa." Sena menolah, wajahnya terlihat murung. Sama dengan Bara, cowok itu juga sedikit kecewa. Padahal Bara ingin sekali mengajak Sena ke tempat balapan. Karena sudah lama sekali Sean tidak ikut menyaksikan dirinya bertanding.

"Kenapa?"

"Temen gue yang tadi ... ngajakin belajar bareng, di rumah dia."

Rasa kecewa Bara berkurang, cowok itu tidak mungkin kecewa karena Sena belajar. "Belajar aja kalo gitu. Tapi jangan sampai lupa waktu. Jangan kemalaman, kalau perlu nanti gue jemput kalau lo mau pulang." Bara mengacak puncak kepala Sena, membuat cewek itu blushing seketika.

"Iya-iya, gue inget waktu kok ... Oh iya, abis ini kita mau kemana?" tanya Sena.

"Nganterin lo pulang. Gue ada urusan di bengkel Babeh."

Sena mengangguk paham. Bengkel Babeh merupakan bengkel langganan Bara dan temannya. Bengkel yang juga merangkap menjadi markas dadakan saat Bara dan teman-temannya berunding atau merencanakan sesuatu.

......................

Sedangkan di waktu yang sama, suasana sepi di area belakang sekolah membuat perasaan Samudra tidak menentu, ditambah lagi dengan posisinya yang duduk menghadap Spica. Walaupun Spica tidak menatapnya balik dan malah menatap jalan, tapi Samudra merasa begitu diperhatikan. Katakanlah jika Samudra gila sekarang! Bukan tanpa sebab, ini adalah pertama kalinya Samudra duduk bersama Spica, hanya berdua setelah berpisah kurang lebih enam tahun.

"Cepat katakan, ada apa?" tanya Spica tidak sabaran.

Samudra mengatur napasnya sebelum berucap. Cowok itu berusaha mungkin bersikap biasa saja. "Gue Samudra, lo lupa sama gue Ka?"

Dahi Spica mengerut, kepalanya menoleh pada Samudra yang sedang menatapnya intens. Spica tidak suka ditatap sepeti itu! Terlalu membahayakan, akhrinya Spica memilih membuang muka. "Tidak."

Melihat respons Spica yang seperti itu, membuat perasaannya sebagai cowok terlukai. Apa begitu besar keinginan Spica untuk menghindarinya? Tapi kenapa? Samudra bahkan tidak tahu kesalahan apa yang pernah dilalukannya!

"Jadi, kenapa lo bertingkah seolah nggak ada hubungan di antara kita? Gue ngerasa kita kaya orang asing."

"Memangnya kita punya hubungan?"

Deg

Kalimat sederhana itu entah mengapa mampu membuat hati Samudra tercekik. Sepertinya Samudra benar-benar menjadi sadboy sejati.

Samudra mentap Spica sendu, terdiam cukup lama.

"Aku suka kamu!" sentak Samudra kecil. Di depannya berdiri seorang gadis dengan wajah datarnya. Gadis yang sukses membuat hari-hari Samudra kecil menjadi lebih kuat dan berani melawan saat dirinya di bully teman-teman sekolahnya. Gadis yang selalu berkata padanya, bahwa anak lelaki itu harus kuat dan tahan banting.

"Anak kecil tidak pantas membicarakan perasaan layaknya orang dewasa."

Momen memalukan itu tiba-tiba terlintas di pikiran Samudra, diakan dia menyatakan rasa sukanya pada Spica. Hey! Padahal mereka baru kelas lima SD, untung saja saat itu mereka masih kecil. Dan semoga saja Spica melupakan masa-masa itu.

"Sam?"

Samudra tersentak, cowok itu menatap Spica yang juga tengah menatapnya. Namun tidak berlangsung lama, sebab Spica kembali membuang pandangan.

"Kita teman Ka." Samudra menjawab pertanyaan Spica sebelumnya.

"Sejak kapan? Saya tidak pernah merasa punya teman." Spica me. gerakan dahi bingung. Gadis itu sama sekali tidak merasa mempunyai teman selama hidupnya. Tidak ada orang asing yang benar-benar di percaya Spica untuk menjadi temannya. Spica menganggap semuanya asing. Orang asing yang saling dekat dan saling membutuhkan.

"Kita pernah dekat waktu kecil Ka, apa itu bukan teman?" Samudra masih terus mencari penjelasan.

"Apa jika ada musuh yang mendekat, kau akan menganggapnya teman juga?" Jeda, "saya tidak ingin membicarakan ini sebenarnya, tapi supaya kau paham, maka akan saya jelaskan."

Sena berdiri dari tempatnya. Kali ini gadis itu berani menatap wajah Samudra dengan tatapan dinginnya. "Yang perlu kau tahu Sam, saya malas berteman dengan siapapun itu. Bagi saya, lingkar pertemanan itu perihal yang cukup rumit. Kita harus menjaga perasaan mereka jika sedang bersama. Akan menjadi bahan pembicaraan jika salah satu di antaranya tidak ada. Dan yang paling saya hindari, teman akan menjadi musuh jika salah satunya mulai egois dan dihampiri rasa dengki."

Samudra hanya bisa diam mendengar segala penjelasan Spica. Cowok itu bahkan tidak bisa menyanggah, karena yang dikatakan Spica memang sesuai fakta yang ada.

"Sepertinya saya berbicara terlalu banyak hari ini. Jadi Sam, kau tahu dimana keberadaan Bara?" Spica lega, akhrinya kalimat itu keluar juga dari mulutnya. Kalimat yang merupakan pertanyaan, yang jika terjawab dari tadi, makan tidak akan ada perbincangan antara dirinya dan Samudra.

Samudra menggeleng, cowok itu juga ikutan berdiri. "Gue suka sama lo, Nefertari Spica." Pernyataan itu keluar dari mulut Samudra dengan gamblangnya, ketika Spica bertanya mengenai keberadaan Bara. Cowok itu merasa sedikit cemburu.

"Tapi saya tidak." Dengan entengnya tiga kata itu keluar dari mulut Spica.

1
Siti Yuliatin
othor sering pake bahasa asing ngerti sy
Siti Yuliatin
biar yg liat TAU dg jelas bedanya BAIK dan BURUK thor
Siti Yuliatin
seru kayaknya kl bara akhirnya jatuh cinta ma spica... lagi haid thor? kok g mandi 2 hari...
bintang: astaga, kalo kamu enggak komen kayaknya Typ lupa deh pernah bikin cerita seabsurd ini😅. terimakasih sudah membuatku ingat.

Typ, penulis amatir yang akhir² ini sibuk cari cuan.
total 1 replies
Siti Yuliatin
iya ntar dikira belok
Siti Yuliatin
othor cewek pa cowok kok suka kucing tp profile.ny srigala?🤔
bintang: hermafrodit, itu gambar musang, aku suka musang
total 2 replies
✨Susanti✨
ga sabar nungguin lanjutnya
bintang: hey kak sekuel nyctophilia sudah update yaa, judulnya redamancy. terimakasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
✨Susanti✨
demi apa coba, jam segini masih mantengin hape baca karyamu kak
bintang: ya ampunnn😭. jadi terharu aku tuh, jangan lupa jaga kesehatan. Jangan tidur larut malam 🍂🍂🍂
total 1 replies
✨Susanti✨
👍
✨Susanti✨
qm kuat spica
✨Susanti✨
like.. like...
✨Susanti✨
next..
✨Susanti✨
next...
✨Susanti✨
lanjuttt
✨Susanti✨
next
✨Susanti✨
lanjut
✨Susanti✨
next
✨Susanti✨
nexttt
✨Susanti✨
next
✨Susanti✨
lanjut
✨Susanti✨
gimana nasib si Spica 😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!