Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Ujung Cakrawala

Di Ujung Cakrawala

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Anak Genius / Anak Yatim Piatu / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi ke Dalam Novel / Tamat
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Di balik tawa yang menghiasi hari-hari, selalu ada luka yang diam-diam disimpan. Tak semua cinta datang di waktu yang tepat. Ada yang datang saat hati belum siap. Ada pula yang tumbuh di antara luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Namaku Cakra.
Aku anak dari seorang perempuan yang terlalu kuat untuk mengeluh dan terlalu sabar untuk marah. Aku juga anak dari seorang pria yang namanya selalu disebut dengan kebanggaan, namun hanya hidup dalam kenangan.

Sejak kecil aku tumbuh dalam bayang-bayang ayahku yang gugur sebelum sempat menggendongku. Ibuku membesarkanku sendiri, menyematkan namanya dan kenangan tentang ayah dalam setiap langkahku. Aku tumbuh dengan satu tujuan—menjadi seperti dia. Seorang perwira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Buku-Buku dan Kenangan

Malam hari, hujan sudah berhenti sejak satu jam lalu. Udara terasa segar, aroma tanah basah samar masuk lewat jendela yang sedikit terbuka. Di ruang tamu rumah Cakra, lampu kuning temaram menyala redup, menambah suasana nyaman.

Shifa duduk bersila di karpet ruang tamu, di depan rak buku milik Cakra dan ibunya. Tangannya dengan santai menarik beberapa judul yang menarik perhatian, membolak-balik lembarannya sambil mengayun-ayunkan kaki pelan. Ia mengenakan piyama bergaris biru muda, rambutnya dibiarkan lepas ke belakang. Raut wajahnya damai namun belum bisa melupakan kejadian semalam yang memalukan.

Di sudut lain, Dita—ibu Cakra—terlihat duduk santai di sofa ruang TV, menonton acara masak sambil sesekali mengunyah keripik singkong. Suara TV tidak terlalu keras, tapi cukup mengisi keheningan rumah.

Sementara itu, suara air dari kamar mandi terdengar di kejauhan. Cakra sedang mandi. Shifa menggumam sambil membuka buku “Hmm... Sejarah Nusantara Dalam Narasi Perempuan... Wah, ini bagus juga ya. Koleksinya lumayan.”

Ia memiringkan tubuhnya, menyandarkan punggung ke kaki meja, lalu mengambil satu buku lain berjudul Psikologi Keluarga Modern. Jari-jarinya bermain di tepi halaman, dan sesekali ia menggoyangkan kaki seperti anak kecil yang sedang bosan namun penasaran.

Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. Cakra keluar dengan kaus abu-abu dan celana pendek santai, rambutnya masih basah, handuk menggantung di pundaknya.

Begitu melihat istrinya duduk dengan buku tebal di tangan dan kaki terayun-ayun, Cakra terkekeh. sambil mengusap rambut dengan handuk

“Dasar kutu buku.”

Shifa menatapnya sinis. “Biarin, daripada Abang... nggak pernah buka buku. Masak malam pertama gagal total.” Cakra membelalakkan mata, hampir tersedak udara sendiri. Ia langsung menoleh cepat ke arah ruang TV, memastikan ibunya tidak mendengar.

Cakra bergegas menghampiri Shifa, berbisik

“Eh eh... sst! Jangan keras-keras, napa sih!”

Shifa setengah berbisik tapi sengaja meledek “Lho, salah sendiri. Malam pertama kayak uji nyali. Mana ada yang romantis...”

Cakra meletakkan telunjuk di bibir istrinya “Shhh! Ibu masih di ruang TV, halo! Gila ya, kamu mau kita cerai dini gara-gara malu?”

Narasi Shifa hanya tertawa pelan, menutup buku di pangkuannya, lalu berdiri dan mencubit lengan suaminya. “Yah, siapa suruh jadi prajurit tangguh di lapangan, tapi cupu di kasur.”

Cakra merengut, pura-pura kesal “Kamu nyindir ya? Hati-hati, nanti malam aku buktikan.” Shifa mengangkat alis sambil tersenyum sinis. Namun sebelum bisa membalas, dari ruang TV terdengar suara Dita:

Dita yg mendengar perdebatan dua orang itu “Kalian ngobrol apa sih dari tadi? Gak tidur-tidur?” Cakra refleks menjawab “Ini, Bu… Shifa lagi ngajarin aku psikologi” Dita tertawa kecil “Baguslah. Biar kamu bisa jadi suami yang ngerti perasaan istri.”

Cakra menoleh ke Shifa dengan wajah kalah. Shifa tersenyum puas, lalu kembali duduk dan membuka buku baru, kali ini berjudul Etika Komunikasi Pasutri Modern.

Shifa nadanya menggoda pelan “Nah, ini... buku penting buat Abang. Nanti aku tandain halamannya, ya.” Cakra menepuk dahinya sendiri, lalu tertawa pelan. Malam yang tadinya ingin ia lalui dengan tenang, justru menjadi medan candaan istri cerdasnya. Tapi di balik itu, ia bersyukur—karena tawa kecil seperti inilah yang akan membangun hari-hari mereka selanjutnya.

Pagi hari yang cerah. Sinar matahari menembus tirai tipis kamar mereka. Burung-burung di luar jendela berkicau pelan. Aroma kopi hangat dan tanah basah sisa hujan semalam terasa samar dari dapur.

Shifa baru saja selesai mandi. Ia melangkah pelan dari kamar mandi menuju kamar tidur, dengan handuk melilit tubuh dan rambut yang masih basah menjuntai ke bahu. Namun langkahnya tampak agak goyah, sedikit pincang dan pelan. Ia meringis kecil, lalu menghela napas... lalu tersenyum geli.

Shifa gumam dalam hati

“Baru juga malam pertama yang bener... langsung kayak habis ikut lomba panjat pinang.”

Ia tertawa pelan sendiri, duduk perlahan di tepi ranjang sambil memijat pahanya. Di sisi ranjang, handuk kecil yang biasa dipakai Cakra setelah lari pagi tergantung di ujung tempat tidur.

Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki. Cakra muncul dari pintu depan kamar, kausnya basah oleh keringat, rambut acak-acakan, dan handuk melingkar di leher. Wajahnya segar, penuh semangat pagi.

Begitu melihat Shifa duduk dengan gerakan lemah-lembut sambil mengusap paha, mata Cakra langsung menyipit penuh curiga... lalu senyum jahilnya mengembang.

Cakra mendekat sambil bersiul kecil

“Hmm... sepertinya ada korban semalam yang belum pulih yaa…”

Shifa melirik tajam “Abang rese…”

Cakra mendekat, mengelap keringat dengan handuk sambil cengar-cengir “Loh, salah sendiri ngajak perang. Aku cuma bela negara, loh.”

Shifa berdiri pelan, memukul pelan lengan Cakra

“Ngaku aja, emang dendam karena aku ledek semalam.”

Cakra nadanya menggoda, matanya menyipit

“Bisa jadi. Tapi kan sekarang terbukti... siapa yang akhirnya minta ampun?”

Shifa membalas dengan senyum sinis, lalu jalan pincang pelan ke meja rias

“Kalau semalam aku kalah, pagi ini giliran kamu yang disiksa.itu sprei dan ini sabun cuci,jangan lupa setrikaan besok kerja.”

Cakra pura-pura takut, lalu tiba-tiba berdiri di belakang Shifa

“Aku rela disiksa... asal kamu tetap jalannya kayak anak kuda baru belajar.”

Shifa menahan tawa, menoleh ke arah Cakra di cermin

“Ih, abang nggak ada sopan-sopannya…”

Cakra terkekeh, lalu memeluk Shifa dari belakang sambil menaruh dagunya di pundak istrinya. Aroma segar sabun dan tubuh basah dari Shifa membuatnya enggan melepas.

Cakra berbisik “Tapi serius... kamu cantik banget pagi ini. Bahkan waktu jalannya aneh begitu pun tetap manis.”

Shifa menunduk malu, tapi pura-pura marah

“Berisik... sana mandi, bau keringat.” Cakra terkikik pelan, mencium pelipis istrinya sebelum akhirnya menuju kamar mandi. Tapi sebelum masuk, ia sempat melirik ke arah Shifa sekali lagi. “Nanti malam babak kedua ya.”

Shifa melempar bantal ke arahnya “ABAAANGG!!!” Bantal melayang, Cakra tertawa keras sambil berlari masuk ke kamar mandi. Sementara Shifa hanya bisa menggeleng dengan senyum malu dan pipi merona. Di antara nyeri otot dan lelah, ia tahu—pagi ini adalah pagi paling bahagia sejak mereka menikah.

Cakra keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Udara pagi yang masih sejuk menyelinap masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Kaos tipis abu-abu yang menempel di tubuhnya masih menyisakan uap hangat dari air pancuran, namun matanya langsung tertuju pada satu sosok yang sedang bersandar santai di kasur mereka.

Shifa.

Istrinya.

Perempuan yang semalam berhasil membuatnya kehabisan napas karena rengekannya, sekaligus sekarang terlihat begitu tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

Shifa duduk bersandar dengan bantal di punggungnya, rambut masih setengah basah, wajah segar setelah mandi, dan jemarinya sibuk menggulir layar ponsel. Sesekali ia senyum-senyum sendiri, entah membaca apa.

Cakra berjalan pelan, melemparkan handuknya ke gantungan, lalu dengan gaya iseng langsung naik ke kasur dan merangkak ke arah Shifa.

“Hmm… enaknya duduk-duduk aja, ya?” gumamnya sambil memiringkan badan dan menatap wajah Shifa dari dekat.

Shifa tidak menjawab, hanya melirik sebentar dan kembali ke layar ponsel. “Daripada ngelamun abis mandi, mending scroll T*k t*k, Bang.”

Cakra menyipitkan mata, lalu langsung menyandarkan kepalanya di perut Shifa, membuat perempuan itu refleks mendorong kepalanya sambil tertawa geli.

“Abang!” serunya setengah tertawa, “rambutnya masih basah, dingin tahu!”

“Biarin,” sahut Cakra santai. “Lagi butuh sandaran hidup.”

Shifa memutar matanya malas, tapi senyumnya tetap bertahan. “Dasar kutu air.”

Cakra langsung menegakkan tubuhnya. “Eh, ngomong-ngomong soal kutu…”

Tatapannya berubah nakal. “Kayaknya kamu semalam jadi kutu buku deh.”

Shifa menoleh cepat, menatap tajam. “Maksudnya?”

Cakra menyeringai. “Ya karena semalam kamu ‘dibuka’ sampe habis kayak buku pelajaran.”

Shifa melempar bantal ke wajahnya. “Abang!”

Namun sebelum sempat mengatakan apapun lagi, Cakra langsung menutup mulutnya dengan tangan. “Ssstt… jangan keras-keras. Mama masih di bawah, kan?”

Shifa menatapnya tajam sambil bicara dari balik telapak tangannya. “Salah sendiri tadi malam semangat banget, sekarang takut ketahuan.”

Cakra hanya terkekeh dan menarik tangannya. “Lagian kamu juga, jangan godain abang duluan dong.”

Shifa menghela napas panjang, lalu menggoda, “Aku yang godain? Yang mancing dari jam sembilan siapa coba?”

“Mataku emang begini dari lahir,” elaknya, lalu kembali berbaring di sebelah Shifa, menatap langit-langit kamar. “Tapi serius, Fi… aku suka momen kayak gini. Bangun pagi, kamu di sini, kita ketawa. Rasanya kayak rumah beneran.”

Shifa menatapnya dari samping, lalu meletakkan ponselnya. Ia membenamkan wajah sebentar di bahu suaminya, mencium aroma sabun yang masih tertinggal.

“Kalau gitu, jangan buat aku berhenti merasa kayak rumah, ya, Bang.”

Cakra memalingkan wajahnya, menatap Shifa dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. “Nggak akan. Selama kamu di sisiku, aku nggak akan pergi ke mana-mana.”

Hening sebentar.

Lalu suara ponsel Shifa kembali berbunyi, notifikasi pesan masuk. Ia mengangkat ponsel dan mendesah.

“Bang, Ibu chat. Katanya kita nanti bantuin jaga toko dulu bentar, Bu Lastri mau masak spesial siang ini.”

Cakra mengangguk. “Siap. Tapi sebelum ke toko…”

Ia tiba-tiba menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka berdua.

Shifa terkekeh. “Abang, jangan aneh-aneh… udah siang!”

Cakra hanya tersenyum misterius. “Tenang, kali ini bukan ‘buku pelajaran’, cuma pelajaran hidup aja.”

Shifa memukul dadanya pelan sambil terus tertawa. Sementara di luar, sinar matahari pagi mulai meninggi, menandakan hari baru penuh cerita sedang menunggu mereka.

1
Night Watcher
coba intip, kalo cocok dgn selera yaa lanjut..🤭
🇮🇩 SaNTy 🇵🇸
Laaaaaaaaaah... Muter2 BABnya.
cenil
so sweet, seorang perwira dan dokter pasangan ideal..
cenil
semangat berkarya teman...maaf baru berikan komen....dr awal blm begitu tertarik dan akhirnya terimakasih alurnya meninggalkan jejak dan menghibur ...
Siyantin Soebianto
ceritanya jadi penisirin gini ya😇
Nanang
SEMANGAT Thor berkarya nya ya 😇
kaka_21: siap kakak,terimakasih udah mampir
total 1 replies
piyo lika pelicia
semangat ☺️
perhatikan lagi huruf kapital di awal paragraf
kaka_21: baik kak, terimakasih
total 1 replies
piyo lika pelicia
Assalamualaikum, paman pulang! waduh ... makan apa nih?"
piyo lika pelicia
Tiba-tiba pintu terbuka
piyo lika pelicia
Rama
piyo lika pelicia
"Ee.. kamu mau kemana" pake nanya. Virza tertawa kecil. "Aku mau
piyo lika pelicia
"Terimakasih, sepertinya tidak pernah."
piyo lika pelicia
ibu dan juga bapaknya kemana
piyo lika pelicia
"Ma, dengarkan aku
piyo lika pelicia
tidak boleh berkata kasar pada anak mu sendiri 😒
kaka_21: sabar kak, sabar
total 1 replies
piyo lika pelicia
"Ma, dengarkan aku
piyo lika pelicia
iklan untuk kakak ☺️
piyo lika pelicia
dasar ibu yang buruk
piyo lika pelicia
adik yang baik ☺️
piyo lika pelicia
"Eh, Riz. Ada apa?"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!