"Buat gue..., gak punya keluarga itu lebih baik dari pada punya keluarga tapi berasa hidup sendiri"
~Raya Amandita
"Kalau seandainya lo belum siap jadi orang tua, lebih baik jangan dulu deh, kasian anak lo, terlahir hanya untuk jadi orang gila".
~Angkasa Dirgantara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 33
Kelas X.1 IPS sedang sibuk berkutat untuk mendekor kelas, semua orang dapat bagian, tak ada yang menganggur.
Acaranya berlangsung selama dua hari.
Di mulai pada hari Jumat, mereka akan penilaian dan siapa yang memiliki tema kreatif juga cukup menarik akan mendapatkan uang juga sertifikat.
Sedang puncak acaranya diadakan pada hari sabtu, mereka akan mengadakan konser juga akan ada bazar, setiap kelas akan di persilahkan menjual apapun yang berasal dari karya setiap murid di kelas.
Tak ada aturan, semua murid bebas mengeksplor imaginasinya di lomba dekorasi sekolah, bahkan boleh mengecat ulang temboknya, soal nanti akan ganti ruang kelas, di sekolah mereka setiap libur semester dua sekolah akan mengecat kembali seluruh ruang kelas sesuai warna sekolah.
Soal dana...
Murid tak ada yang tahu, tapi sekolah mereka adalah sekolah swasta.
"Aya!"
Raya yang sedang sibuk melukis di tembok menoleh.
"Apa?"
"Bisa bikinin astronot gak?" Tanya Rora yang berperan sebagai ketua kelas mereka.
Tema kelas mereka adalah ruang angkasa.
Oh iya!
Tak boleh ada tema yang sama, jadi setiap ada acara dekor ketua kelas akan berunding di ruang rapat osis untuk membicarakan tentang tema dekor kelas.
"Mau pake apa bego?!" Tanya Aya yang sudah pusing dengan tugasnya menggambar setengah bulan di tembok yang cukup besar untuknya.
"Kalo kita bikin pake kardus gimana ya?, bagus gak sih?" Tanyanya.
Raya diam sejenak, ia rasa itu akan sulit apalagi bagian kepalanya.
"Eh ada yang punya helm bulet gak yang bisa di relain?!"
Tanya Raya dengan lantang, sayangnya tak ada yang menjawab.
"Si Rio kayanya punya deh Ay" Ucap Gala.
"Rio mana?"
Tanya Rora yang baru sadar satu membernya tak ada di kelas.
"Kalo gak salah tadi mau ke wc dah"
"Berapa jam yang lalu?"
Tanya Raya yang sudah paham tabiat temannya yang bernama Rio itu.
"Samperin aja Ra, gue gak yakin tu anak ke wc, pacaran kayaknya tu anak"
Titah Raya pada Rora.
Ada beberapa murid yang terkekeh dan menyetujui apa yang Raya sarankan.
"Pacaran ama anak kelas mana dia?" Tanya Rora memastikan sebelum pergi.
"Kalau gak salah ceweknya sekelas ama kak Awan, coba lo samperin aja" Jawab Bulan yang tak sengaja pernah melihat Rio berada di dalam ruangan yang sama.
Rora mengangguk kemudian pergi.
Raya menghela nafas kemudian berniat untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah seperempat jadi, namun, tak lama ia melihat Angkasa lewat.
"Eh guys"
"Yo!" Jawab seisi kelas.
"Gue ada urusan dulu bentar ya, gue titip ini dulu, jangan ada yang apa-apain" pesannya pada yang lain.
Kemudian berlari menyusul yang lainnya.
"Kak Asa!!"
Raya berusaha untuk berjalan sejajar dengan Angkasa yang sama sekali tak tertarik padanya.
"Kak Asa, gue denger kak Nathan hari ini ulang tahun, gue ikut ya, katanya kalian mau ngasih kejutan"
Tak ada jawaban dari Angkasa.
Ia tak mau menyerah, ia terus memanggil Angkasa dan mengulang kata yang sama, namun...
Bruk!
"Aarh!"
Raya terselengkat menyebabkan ia terjatuh.
"Lo gakpapa?" Tanya Juna yang kebetulan lewat.
Raya melihat Angkasa berhenti sembari Juna membantunya berdiri.
Angkasa berbalik ke arahnya.
"Lain kali kalo jalan hati-hati"
Kemudian kembali melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Raya bersama Juna.
Raya berdecak sebal.
"Tu anak kenapa sih kak?!, gak kelas banget!"
Juna terkekeh.
"Biasa itu dia..., lagi tanggal merah kayaknya"
"Tanggal merah?!'
"Iya, lagi dapet biasa"
Plak!
Raya memukul pelan lengan Juna, ia tertawa kecil.
"Ada-ada aja lo!, mana ada cowo dapet, bego"
"Mulutnya!"
Omel Juna yang berniat ingin menyentil mulut Raya.
Raya menutup mulutnya, ia tertawa.
"Eh iya, kemaren pulang sekolah gimana?"
"Apanya yang gimana?"
Heran Raya yang tak mengerti maksud dari ucapan Juna.
"Iya..., kemaren si Asa bilang mau minta maaf sama lo pulang sekolah, diakan ke UKS"
Raya terdiam seketika, ia bahkan tak...
Tunggu?!
Jangan bilang kalau yang ia lihat kemarin itu tak salah.
"Kak?, lo serius?!"
"Ya serius lah!, jangan bilang si Asa gak jadi ke UKS, hahh kebiasaan dia mah, gengsinya gede"
"Kak..., jangan bercandalah..."
Juna yang melihat raut Raya panik membuatnya ikut terheran.
"Kenapa sih emangnya?, panik banget kayaknya, serius Ya, kemarin dia yang bilang sendiri mau ke UKS, malah gue yang lagi bareng sama dia kemarin"
Raya menghela nafas.
Kemarin...
Ia kelilipan dan meminta Gilang meniupnya, sebenarnya ia juga tak sadar kalau kedua tangan Gilang mengukungnya.
Tapi intinya ia sempat melihat seseorang lewat, seperti Angkasa, namun ia juga tak yakin.
Apa mungkin Angkasa cemburu?, tapi untuk apa?.
Sebuah tangan yang melambai menyadarkan lamunannya.
"Eh... malah bengong lagi anaknya"
"Kak"
"Ya, kenapa?"
"Menurut kakak, kak Asa suka gak sih sama gue"
Tanya Raya yang bingung akan sikap Angkasa.
Juna yang di tanya tersenyum.
"Eum...., sssh, susah sih ya"
"Serius bego"
"Kasar sih lo, males ah gue"
Raya tertawa kecil sambil mencegah Juna yang ingin pergi meninggalkannya.
"Eh iya maap"
"Jangan kasar makannya"
"Iya ih, maap, lagian gue kesel banget"
Juna berpikir sejenak.
"Gue juga gak tau sih Ya, masalahnya tu anak tuh suka aneh, kadang nunjukin kalau dia suka dan bicara seolah tertarik, tapi padahal nganggepnya cuma sebagai teman"
"Terus gue harus gimana?!, bukannya gue gr kak, tapi gue sebel"
Juna berpikir, jika di lihat-lihat apa yang Angkasa lakukan, ia kalau jadi Raya juga akan merasakan hal yang sama.
"Gue ada ide nih!"
"Apa?"
"Eits!, gak ada yang gratis yah di dunia ini"
Raya tersenyum segaris, agak menyebalkan juga yah, namun apa boleh buat.
"Terserah lo deh, apa yang lo minta?"
Juna tersenyum lebar.
"Gampang aja, gue minta nomernya temen lo"
Raya mengerutkan keningnya.
"Siapa?!, Bulan, heh!, Bulan kan udah punya_"
"Ssst!!!, sotoy lo jadi orang"
"Lah terus siapa?"
Juna pun tak tahu tapi ia memiliki fotonya, ia mengeluarkan ponsel untuk menunjukkan fotonya.
"Dia anak klub basket, dia keren banget, agak gak jelas sih fotonya tapi lo liat aja"
Melihat foto yang di tunjukan Juna Raya langsung menutup mulutnya tak percaya.
Mengapa ia terkejut.
Pasalnya karna yang Juna tunjukan adalah foto Rora, ketua kelas di kelasnya, Rora terkenal sebagai murid yang ambisius, dan sulit untuk di dekati.
Pengecualian untuk murid di kelasnya ya, anak itu cukup friendly sebenarnya.
Ia menunjuk Juna.
"Lo suka sam_"
Juna refleks menutup mulut Raya dengan tangannya.
"Ssst!, jangan berisik"
Raya menyingkirkan tangan Juna, ia tertawa.
"Wuah!!!, gak percaya gue, lo serius?!, hahhh ternyata oh ternyata"
Juna mengusap tengkuknya, ia bingung harus bereaksi apa, ia sudah menyukai gadis itu dari lama.
"Dari kapan lo suka sama dia hah?!" Tanya Raya berkacak pinggang.
"Dah dari orientasi"
"Trus kenapa gak minta sendiri?"
"Gue gak berani, dan gue juga takut ganggu dia"
Raya tertawa sambil menepuk tangannya.
"Gaya doang lo anak motor, deletin anak orang gak berani"
Raya menepuk-nepuk pundak Juna.
"Tapi gakpapa, nanti gue kasih nomornya, bahkan gue bisa bantu lo deket ama dia"
"Widih... yang bener nih?!"
"Iya!, masih single dia, tenang aja, tapi jangan lupa kasih tau idenya"
"Oke!, tenang aja itu mah urusan gampang"
Juna menyuruh Raya untuk mendekat.
Raya tersenyum puas saat mengetahui apa yang Juna sarankan untuknya, ia mengangguk paham.
"Tapi lo yakin gue bakal dapet jawabannya?"
Tanya Raya, sebab yang ingin ia ketahui hanyalah perkara Angkasa menyukainya atau tidak.
"Lo harus yakin, oh iya, ini hp gue, masukin nomornya"
Raya mengangguk, kemudian mulai mengetik nomor yang Juna minta.
ㄱㄱㄱ
"Aya"
Raya menoleh, terlihat Gilang yang berjalan ke arahnya.
"Lo gak mau pulang?, anak-anak dah pada mutusin buat balik loh"
Raya menoleh ke arah lukisannya yang sudah setengah jadi.
"Nanti aja deh, gue mau nyelesain ini sampe tuntas.
Tiba-tiba Bulan menghampiri.
"Ay, lo malem ini ikut ke acaranya suprise kak Nathan gak?"
Raya menoleh ke arah Gilang sejenak.
"Eum..., kayaknya nggak deh Lan"
"Loh kenapa?, lo belum bilang kak Asa?" Tanya Gilang.
Bulan menoleh ke arah Gilang, ia sedikit bingung harus apa.
Raya menggeleng.
"Kalau gitu lo ikut gue aja gimana?"
Raya berpikir sejenak.
"Gak usah Lang, dia ikut bareng gue sama kak Awan aja, kebetulan kita naik mobil"
Sela Bulan saat Raya baru saja ingin bersuara.
Raya menoleh ke arah Bulan, ada apa dengan anak itu?.
"Ah gak mau ah!, ntar gue bikin canggung, lagian gue gak mau jadi nyamuk"
"Ih....gakpapa, atau nggak nanti gue duduknya sama lo deh di belakang"
"Gak usah Lan, lagian gue juga gak mau jadi nyamuk kali, oh iya Lang, ntar malem jemput gue di tempat kemarin ya"
Gilang yang merasa tak enak pada Bulan melirik ke arah Bulan.
"Oh, oke kalau gitu"
"Sip".
ㄱㄱㄱ
Raya melambai saat melihat sosok yang ia kenali mengeendarai motor mendekat.
"Nunggu lama?" Tanya Gilang.
Raya menggeleng.
"Nggak elah, santai aja"
Gilang menyerahkan helm.
Selagi Raya memakai helm, Gilang memeperhatikan Raya yang mengenakan dress putih bercorak simple selutut, belum lagi tatanan rambut yang di gulung, sekarang Raya terlihat begitu feminim.
Ya....
Walau masih mengenakan sepatu, tapi... Ya kalian paham lah ya, seorang perempuan jika mengenakan dress pasti terkesan feminim jika dilihat, apalagi Raya mengenakan jepit rambut.
"Apa lo liat-liat?"
Gilang menggeleng.
"Aneh ya gue?"
Gilang tertawa kecil.
"Nggak Aya..., udah cepetan naik, nanti kita telat"
Raya mengangguk kemudian naik ke atas motor.
Acara suprise berlangsung di rumah David, tempat biasa mereka berkumpul
Raya langsung happy saat melihat Bulan sudah berada disana.
"Lo seriusan ternyata yah mau dateng sama Gilang"
Bisik Bulan.
Rayya mendesis.
"Emang kenapa coba gue tanya?, lagian cuma numpang aja kok"
"Ah lo mah mana ngerti, saran gue mah hati-hati aja, nanti kalau dah baper anaknya lo sendiri yang pusing"
"Ck!, bawel lo ah"
Saat sedang berbincang dengan Bulan, ia menoleh karna merasa ada seseorang yang memperhatikannya, sayangnya, itu hanya perasaannya.
"Eh-eeh!, dateng-dateng!"
Setelah Travis mengaakan hal tersebut, semua langsung bersiap, mematikan semua lampu, bahkan mereka sudah lebih dahulu memadamkan lampu luar.
Raya yang belum siap di tarik oleh Bulan untuk mejauh, sayangnya, tubuh seseorang menghalangi dan...
Prang!
Suara benda berbahan dasar kaca jatuh diiringi keluhan Raya.
Seketika semua yang ada panik.
"Eh itu Raya kenapa?"
"Nyalain lampu nyalain"
Saat lampu menyala, mereka terkejut karna Raya jatuh menyamping sedang pecahan kacanya berada di bawah Raya, jelas itu melukai lengannya.
Ntah sejak kapan ada gelas di sana dan dari mana sampai bisa tersenggol lalu jatuh.
Namun...
Raya merasa bersalah karna ternyata Gilang ikut jatuh bersamanya dan tangannya tertancap pecahan kaca.
"Lo gakpapa?"
Tanya Raya terbangun sambil melihat tangan Gilang panik.
Ini salahnya, mengapa bisa ia tak hati-hati.
"Kenapa ini?"
Tanya Nathan yang baru datang bingung mengapa semua orang berkumpul disana.
Tapi tiba-tiba...
"Aduh!"
Raya meringis ketika Angkasa datang mencengkram tangannya kuat, menariknya pergi dari sana.
ㄱㄱㄱ
Brak!
Angkasa mendorong Raya ke tembok.
Dan hal tersebut menimbulkan keluhan dari mulut Raya.
"Apa-apaan sih lo kak?!"
Kesalnya karna Angkasa bertindak seenaknya.
"Pantes lo kayak gitu sama Gilang?"
"Hah?!, apaansih?!, orang cuma liat tangan dia aja kok, apa yang salah?!"
"Salah!, semua itu salah!"
Raya tertawa.
"Aneh lo kak, bagian mana coba yang salah, bilang sama gue"
Di tanya seperti itu Angkasa diam, tak bisa menjawab, sejujurnya ia juga tak tahu mengapa bisa begitu kesal.
Ia berniat pergi.
"Lo cemburukan kak?"
Tanya Raya yang membuat langkah Angkasa terhenti.
"Gak usah kepedean deh lo"
Raya mengepal tangannya kuat, tak tahu mengapa ia kesal, ia tak suka di gantung, ia tak menyukai hal yang misteri.
"Cukup ya kak!!!"
Teriak Raya yang membuat Angkasa kembali berhenti, ia berbalik, terlihat wajah Raya yang sudah memerah, tangannya mengepal kuat.
"Kalau lo emang gak suka sama gue, jangan gantung gue!, jangan larang-larang dan menunjukan rasa cemburu lo ke gue!!!, gue gak suka di gantung" Bentaknya.
Angkasa terdiam kemudian tersenyum miring.
"Lo kalau suka sama gue bilang aja, jangan kepedean"
semangat thor nulisnya , ditunggu apdetnya